Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
222 - Aura Medan Magnet


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Luar biasa!" Gumam Theo, saat melihat demonstrasi langsung dari Razak yang mengendalikan aura medan magnet.


"Kemampuan unikmu itu, jelas akan sangat berguna dalam situasi pertempuran! Kau bisa memanfaatkan untuk membuat teknik-teknik baru yang tak terduga dan tak bisa di baca oleh lawan!" Lanjut Theo.


"Karena bagaimanapun juga, jelas tak banyak yang tahu tentang aura medan magnet di atas Gaia Land ini! Bahkan mungkin hanya kau dan aku yang tahu tentang itu!" Tutup Theo.


Kata-kata Theo, disambut oleh Razak dengan anggukan singkat. Sebelum mulai kembali menyebar aura medan magnet. Dua telapak kaki Razak, kembali menyentuh lantai.


"Aku memang punya beberapa pemikiran tentang teknik baru Boss! Mungkin kedepan, kau bisa memanduku!" Ucap Razak.


"Hmmmm… Dahulukan Tuan Leluhur dan Sasi! Bagaimanapun juga, mereka adalah Mastermu secara resmi!" Balas Theo.


"Aku malah berpikiran sebaliknya! Kau harus memanduku untuk bisa merasakan lebih jelas aura medan magnet ini! Sejujurnya, aku benar-benar tertarik!" Lanjut Theo.


"Memandumu?" Gumam Razak. Segera memasang raut wajah tertegun.


"Yah! Tapi jika kau keberatan, itu juga tak masalah! Bagaimanapun juga, aura medan magnet, merupakan hal ekslusif milikmu diatas Gaia Land ini! Jadi, bila kau ingin mempertahankan agar itu tetap eksklusif hanya milikmu sendiri, aku akan mengerti!" Ucap Theo.


"Cukup bagus memiliki banyak hal tersimpan di balik lengan baju dimana tak dimiliki oleh orang lain! Itu akan membantumu lolos dari banyak hal tak terduga yang jelas akan merintangi jalan Knightmu di masa depan! Bagaimanapun juga, jalan Knightmu jelas masih cukup panjang dan terjal!" Lanjut Theo. Seraya kemudian, menggunakan Eye of Agamoto untuk melakukan pengamatan menyeluruh pada puluhan lorong yang kini membentuk cabang-cabang di hadapannya.


Theo kembali berjalan setelah menemukan lorong yang tepat. Sementara Razak, masih terdiam untuk sementara waktu dengan mempertahankan raut wajah tertegun.


Sebenarnya, yang membuat Razak tertegun, bukan karena ia ragu untuk berbagi aura medan magnet dengan Theo. Melainkan justru satu perasaan aneh dalam dadanya dimana berasal dari satu kata dari mulut Theo. Yakni -memandu-.


Tak pernah terbersit sekalipun dalam benak Razak, bahwa Theo akan memintanya untuk memandu sang Boss Besar dalam hal apapun.


"Boss…! Tentu saja aku bersedia! Aku akan memberitahu beberapa metode yang dapat digunakan untuk melatih kepekaan terhadap aura medan magnet!" Ucap Razak. Sedikit tergugup saat akhirnya terbangun dari ketertegunannya.


Mendengar kata-kata Razak, Theo menghentikan langkah untuk sesaat, menoleh kearah sang bocah sembari memasang senyum sederhana.


"Kita bahas itu nanti! Sebaiknya sekarang fokus untuk menemukan ujung dari tempat ini!" Ucap Theo.


"Jadi, berhenti memasang wajah canggung seperti itu! Atau kau akan tertinggal dan tersesat di tempat ini! Hahahhaa…!" Lanjut Theo. Seraya kembali berjalan menyusuri lorong.


Sementara Razak. Mengangguk singkat. Bergegas menyusul Theo.


Theo kini mulai bergerak dengan cara lebih hati-hati. Karena setelah melakukan pengamatan menggunakan Eye of Agamoto, ia bisa melihat bahwa wilayah lorong yang ada di depan, dimana merupakan satu-satunya jalur yang tepat, memiliki puluhan distorsi ruang sedang menanti.


**** 


(Sumur misterius lainnya. Lokasi Sinbad dan Dante)


"Hei Dante! Jika kau masih terus bergerak dengan langkah hati-hati seperti itu, maka aku benar-benar akan meninggalkanmu!" Dengus Sinbad.


"Hmmmm… Diam! Jika tak begini, kau akan terus sembrono! Baru beberapa menit yang lalu kita hampir tersedot masuk distorsi ruang yang muncul secara tiba-tiba!" Dengus Dante balik.


"Aku justru mulai meragukan apakah pendulum utara yang kau bangga-banggakan itu, benar-benar berfungsi!" Lanjut Dante.


"Hei! Sekarang kau malah dengan tak sopan menghina pendulum utaraku yang cantik ini!" Dengus Sinbad.


"Asal kau tahu, pendulum utara ini telah menjalankan perannya dengan baik! Bukankah sudah kubilang bahwa ia hanya akan menunjukkan arah yang benar-benar kuinginkan?" Lanjut Sinbad.


"Dan yang kuinginkan memang adalah jalur menantang untuk dapat menuju lokasi tujuan! Jalur aman hanya akan membosankan! Apa serunya!" Tutup Sinbad.


"Kau gila!" Bentak Dante. Tepat setelah mendengar kalimat terakhir Sinbad. Benar-benar tak habis pikir dengan apa yang berproses dalam otak sahabat karib nya tersebut.


"Sejujurnya aku sudah bosan setengah mati terus-terusan menunggu langkah perlahanmu yang membosankan itu!" Lanjut Sinbad. Seraya mulai memasang senyum lebar. Sebuah senyuman yang segera disambut oleh Dante dengan memasang raut wajah buruk.


"Apa yang kau pikirkan!" Ucap Dante.


"Tentu saja memeriahkan suasana!" Jawab Sinbad. Sebelum dengan gerakan cepat, melaju kedepan.


"Jika tak mau tertinggal, kau harus mengikuti caraku dan bergabung dalam kemeriahan! Hahahahha…!" Seru Sinbad lantang.


"Sin…!" Bentak Dante. Tak punya pilihan selain dengan wajah marah, bergerak cepat mengikuti Sinbad.


Sinbad, melaju sembari menghindari puluhan distorsi ruang yang tercipta. Beberapa bahkan hampir menangkap tubuhnya, namun berhasil dihindari pada detik terakhir.


"Hahahhahahha…!"


Sinbad, tertawa lantang tiap kali berhasil lolos dari sergapan kemunculan tiba-tiba distorsi ruang.


"Kau maniak sialan!"


Sementara Dante, hanya bisa terus memaki serta memasang raut wajah khawatir tiap kali melihat aksi-aksi berbahaya Sinbad.


Kedua orang ini, meskipun melewati jalur yang terjal, berkat arahan pendulum utara, bergerak semakin dekat pada lokasi tujuan utama.


***** 


(Laut Merah. Pulau Serigala)


Deretan kapal perompak dengan lambang raksasa serigala menyalak pada tiap-tiap layar utamanya, tampak bersandar di pelabuhan-pelabuhan bibir pantai.


Deretan kapal ini, menjadi pemandangan yang menambah kemegahan Pulau Serigala. Dimana sebelumnya memang merupakan basecamp utama Kelompok Bandit Serigala di wilayah Thousand Island.


Pulau yang menjadi titik awal pergerakan Kelompok Bandit Serigala di wilayah Kepulauan. Sekaligus merupakan benteng pertama yang melindungi punggung Bandit Serigala dari kemungkinan serangan dadakan wilayah Gurun East Region. Khususnya Barbarian Tribe yang memang masih terus mengintai.


Deretan kapal yang memenuhi pelabuhan sendiri, merupakan armada perompak pimpinan San Juan.


Meskipun memang menerima keputusan Theo perihal pembentukan Aliansi Serigala, dimana dengan kata lain Bandit Serigala bersekutu dengan Kelompok Aliansi 7 Lautan, San Juan yang masih menyimpan dendam dengan Aliansi 7 Lautan, jelas belum bisa duduk satu meja dengan Kelompok pimpinan Sinbad tersebut.


Theo yang menyadari hal tersebut, akhirnya memutuskan agar armada perompak San Juan, kembali berlayar untuk menunggu di Pulau Serigala. Memperkuat keamanan Pulau Serigala sembari sedikit menenangkan kepala agar sepenuhnya bisa menerima keputusan yang ia ambil. Menunggu di tempat tersebut sampai nanti Theo menyelesaikan semua urusan di Laut Ungu.


San Juan, bergerak tangkas mengatur para anggota Bandit Serigala yang masih ditempatkan di Pulau Serigala, dimana sebagian besar adalah mantan Perompak Laut Merah.


Beberapa kali armada perompak San Juan, memukul balik atau menghancurkan armada kecil yang dikirim oleh Barbarian Tribe memasuki wilayah Thousand Island.


Armada-armada kecil yang jelas ditugaskan untuk mencari informasi tentang keberadaan kelompok besar pimpinan satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe Jongha yang sebelumnya melakukan sergapan dalam jalannya medan pertempuran Laut Ungu.


Sang Khan, jelas berada dalam situasi tertekan karena Kelompok yang bisa dikatakan merupakan salah satu kekuatan penting bagi Barbarian Tribe tersebut, tak diketahui nasibnya dalam beberapa hari terakhir. Sepenuhnya menghilang tanpa kabar atau informasi.


Sang Khan mungkin akan menjadi panik dan marah besar saat tahu satuan elite penjaga Khan miliknya, telah sepenuhnya di sapu habis tanpa sisa.


Hanya saja, informasi penting seperti itu, jelas harus tetap di jaga rapat sampai waktu yang tepat. Theo jelas tak ingin pihak Barbarian Tribe menyadari kehilangan besar mereka, sampai langkah-langkah penting awal dari pembentukan Aliansi Serigala, telah benar-benar rampung.


"Tuan, ada armada kapal kecil yang memasuki perbatasan!"


San Juan sedang melakukan patroli rutin, sampai salah satu anak buahnya memberi laporan.


Mendengar itu, San Juan segera melihat kearah yang dimaksud.


"Hmmmm… Apa yang mereka inginkan?" Gumam San Juan, saat menyadari armada kecil yang memasuki wilayah perbatasan Pulau Serigala kali ini, bukanlah armada Barbarian Tribe seperti biasanya.


Armada kecil tersebut, memiliki lambang Gaia Son Paviliun pada layar utama.