
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Lokasi Gugio)
Gugio beserta 3 orang lainnya yang menunggu Theo, saat ini berada di lokasi yang cukup jauh dari Lembah Demonic Beast. Tampak sudah mendirikan kemah, menyambut hari yang mulai beranjak petang.
"Ini benar-benar membuat frustasi!" Ucap Pion kedua, duduk menghadap api unggun.
"Peristiwa mengerikan terus menerus datang silih berganti!"
"Pertama, kawanan Demonic Beast yang bukan merupakan penghuni Lembah, secara tiba-tiba bergerak dalam gelombang besar memasuki wilayah Lembah. Itu adalah pemandangan yang sungguh mengerikan saat melihat gelombang ratusan Demonic Beast dimana jelas sedang sangat marah, lewat begitu dekat pada posisi kita!"
"Salah pergerakan sedikit saja, hanya kematian yang menanti!" Gumam Pion kedua.
"Seolah masih kurang, begitu lepas dari situsasi kacau tersebut, tiba-tiba satu sosok Demonic Beast dengan tingkat kekuatan yang benar-benar mengerikan, dengan aneh mulai mengamuk dan bergerak keluar Lembah, melakukan penyisiran, membuat kita harus kabur seolah dewa maut terus mengikuti ekor kita!" Lanjut Pion kedua. Seraya melembar keras potongan kayu kedalam derak api unggun.
"Yahhh… Jangan lupakan juga dua ledakan dahsyat yang terjadi setelahnya! Begitu dahsyat ledakan tersebut, sampai masih bisa dengan jelas kita rasakan getarannya di lokasi yang sangat jauh ini!" Sahut Pion pertama.
"Itulah masalahnya! Lembah Demonic Beast benar-benar adalah lokasi yang sangat berbahaya! Ditambah kekacauan pasca masuknya tuan kewilayah tersebut, aku menjadi benar-benar heran, apa sebenarnya yang sedang ia cari! Terlebih lagi, bagaimana sekarang nasibnya di dalam sana! Memikirkan itu, dimana tanpa ada yang bisa diperbuat untuk memeriksa, sungguh membuat frustasi saja!" Keluh Pion kedua.
"Hmmmm… Jangan terlalu khawatir, sejauh yang kutahu, Tuan Muda Theo bukan Hunter sembarangan!" Sahut Gugio, ikut masuk kedalam obrolan antara Pion pertama dan Pion kedua.
"Diam kau pak tua! Kalau masalah itu, aku juga tahu!" Dengus Pion kedua.
"Jika memang sudah paham, kenapa terus mengeluh! Cukup percaya saja kepadanya!" Tanggap Gugio. Memasang raut wajah heran.
"Pak tua, mudah bagimu mengatakan hal itu! Karena kau tak memiliki segel aneh yang mengikat ranah jiwa dimana terhubung langsung dengan Tuan muda! Jika dia mati, maka kami juga akan ikut mati!" Bentak Pion pertama, justru bertambah frustasi saat mendengar kata-kata Gugio.
"Tuan, jika kau begitu cemas, kenapa tak bergerak memeriksa saja? Aku akan ikut membantu dalam pencarian!" Sahut Gris tiba-tiba. Sedari tadi, gadis ini hanya diam mendengarkan sembari terus memasang wajah cemas.
"Gris…! Jangan bodoh!" Ucap Gugio. Menatap tajam pada Gris.
"Gadis muda, kalau kau ingin melakukan pencarian, maka silahkan! Namun tak akan ada yang pergi menemanimu!" Ucap Pion kedua.
"Tapi bukankah itu juga hal yang salah cuma menunggu disini? Kita bisa…"
Gris hendak kembali mengejar topik, sampai Pion kedua memotong dengan kalimat bernada bentakan.
"Hei…! Apakah kau tak mendengar semua obrolan kami tadi? Lembah itu merupakan tempat yang sangat berbahaya! Kau tak akan mendapat apapun disana selain cuma mengantar nyawa secara cuma-cuma! Berakhir menjadi makanan para Demonic Beast ganas!"
Mendengar kata-kata Pion kedua, Gris segera kembali terdiam. Disisi lain, Pion pertama dan Pion kedua, menjadi semakin kesal karena sikap sembrono gadis muda desa Teria ini.
"Pak tua, kenapa juga kau dan tuan muda membawa gadis tak berpengalaman ini dalam sebuah perjalanan yang jelas menuju lokasi sangat berbahaya!" Dengus Pion pertama, tak habis pikir dan begitu heran dengan fungsi Gris dalam kelompok Theo. Menurutnya, Gris sepenuhnya adalah beban.
"Hmmmm… Itu bukan urusanmu! Jika Tuan Muda Theo tak ada masalah, kenapa kau repot?" Dengus Gugio, meskipun sebenarnya ia cukup setuju dengan pernyataan Pion pertama, namun sebagai sesama penduduk desa Teria, ia jelas tak suka saat ada orang yang cenderung merendahkan Gris.
"Gris, sebaiknya kau ambil waktu istirahat! Siapkan tenaga karena kita tak tahu apa lagi yang akan menyambut esok hari!" Lanjut Gugio, memilih untuk memberi arahan pada Gris memasuki kemah agar tak lagi membuat panas suasana dengan saran-saran sembrono-nya.
"Hmmmm…!!!"
Gris mendengus lirih, tampak agak enggan. Namun memilih mengikuti arahan Gugio. Berjalan menuju kemah.
Akan tetapi, baru setengah jalan Gris menuju kemah…
*Sraaaakkkk…!!!
Suara sedikit berisik, tiba-tiba terdengar dari dalam tanah yang baru dipijak gadis tersebut.
"Hei…!!"
*Taapp…!!!
Tak seperti Gugio dan Gris yang masih belum menyadari apapun, Pion pertama dan Pion kedua yang merupakan Hunter kelas tinggi Paviliun Harta, segera tanggap akan datangnya bahaya tertentu.
*Booooommmm….!!!
Pion kedua melompat cepat untuk menarik tubuh Gris menjauh, sementara Pion Pertama, mengeksekusi teknik tendangan yang dengan segera menghancurkan lokasi tanah dimana sebelumnya sempat menjadi tempat Gris memijakkan kaki.
Lokasi perkemahan sederhana yang didirikan oleh kelompok Gugio, segera hancur berantakan akibat teknik serangan Pion pertama. Bersama dengan itu pula, sesosok Demonic Beast melompat keluar dari dalam tanah.
"Sial! Kita benar-benar terperangkap lengah! Itu adalah Demonic Beast kelas tinggi!" Ucap Pion Pertama, segera memasang wajah buruk.
Sementara Gris yang sedang berada pada pundak Pion kedua, saat ini merasa dingin punggungnya. Bagaimana tidak, telat beberapa detik saja, ia pasti sudah mati.
Dihadapan semua orang, seekor Demonic Beast yang memiliki wujud Tikus bertanduk, dengan liar tengah memainkan kuku-kuku tajamnya. Menatap penuh nafsu membunuh kearah Gris yang sebelumnya telah ia targetkan.
*Woooshhhh…!!!
Pion kedua, segera berubah ke wujud Hunternya, seraya melempar tubuh Gris kearah Gugio.
"Pak tua! Cari tempat aman!" Ucap Pion kedua, tanpa menunda segera bergerak menerjang kedepan.
*Woooshhhh….!!!
Pion pertama ikut berubah ke wujud Hunternya.
"Masih ada harapan kita mengalahkannya dengan bekerjasama satu sama lain!" Seru Pion pertama. Merasa tindakan Pion kedua yang menerjang maju adalah hal yang tepat.
Karena bagaimanapun juga, bergerak untuk mencoba kabur dari Demonic Beast kelas tinggi di malam hari, bukanlah hal yang bijak. Selain akan sulit memahami medan, itu jelas juga akan memancing para Demonic Beast lain ikut bergerak tepat ketika mendengar keributan.
Pion Pertama dan Pion kedua, mulai bertarung melawan Demonic Beast Tikus tanah.
Disisi lain Gugio bersama Gris, segera mencari tempat persembunyian. Hanya bisa melihat jalannya pertarungan dari lokasi agak jauh.
"Sial! Pantas saja wilayah ini cukup sunyi dari para Demonic Beast! Jadi itu karena sudah ada Demonic Beast kelas tinggi yang bersembunyi di dalam tanah!" Ucap Gugio. Merasa kelompoknya salah perhitungan dalam mencari lokasi beristirahat. Sebuah kesalahan yang sebenarnya cukup konyol dilakukan oleh tim yang bergerak di alam bebas Tartarus Land.
Baik itu Gugio maupun duo Hunter kelas tinggi Paviliun Harta, Pion pertama dan Pion kedua, sepertinya sedang dalam situasi cukup frustasi dan tegang memikirkan kondisi Theo di dalam Lembah Demonic Beast, sehingga dengan konyol membuat kesalahan yang cukup mendasar untuk dilakukan oleh Hunter penghuni Tartarus Land.
Gugio masih mengamati dengan seksama jalannya pertempuran, dimana tampak jelas Pion pertama dan Pion kedua sedang dalam situasi kesulitan menghadapi sang Demonic Beast. Sampai tiba-tiba…
*Sraakkkk…!!!
*Sraakkkk…!!!
*Sraaaakkkk…!!!
Tanduk-tanduk berjumlah puluhan, mencuat keluar dari dalam tanah disekitar lokasi pertarungan.
*Blaaaarrrr…!!!
*Blaaaarrrr…!!!
*Blaaaarrrr…!!!!
Puluhan Demonic Beast berwujud Tikus Tanah tambahan, melompat keluar dari dalam tanah. Sepenuhnya mengepung Pion pertama dan Pion kedua.
*BOOOOMMM….!!!!
Kemunculan tiba-tiba puluhan Demonic Beast Tikus Tanah tersebut, diakhiri dengan satu sosok Demonic Beast Tikus Tanah lain yang memiliki ukuran tubuh 3 kali lebih besar dari sesamanya, melompat keluar dengan membawa aura menekan intens. Mengambil posisi tepat di belakang Gugio dan Gris sedang bersembunyi.
Dua orang anggota desa Teria itu, seketika menoleh, sebelum akhirnya jatuh terduduk kebelakang. Hanya bisa menatap ngeri pada makhluk yang kini tiba-tiba muncul tepat di hadapan mereka.