Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
158 - Ayam Gurun Kematian


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


----------------


(2 jam kemudian)


Theo berjalan keluar dari wilayah sarang Demonic Beast dengan langkah santai, sementara Pion pertama dan Pion kedua, berada agak jauh di belakang. Dalam kondisi tubuh penuh luka, dua orang ini tampak tertatih-tatih berusaha mengejar langkah Theo.


"Tuan muda! Bagaimana?"


Begitu melihat sosok Theo dari jauh, Gris segera berlari untuk menyambut. Raut wajah gadis ini menjadi sangat khawatir saat menyadari kondisi tubuh penuh luka Pion pertama dan Pion kedua.


"Tuan muda! Kau baik-baik saja? Apakah kau mendapat luka?"


Belum sempat Theo bahkan menjawab pertanyaan pertama, Gris melanjutkan untuk memberi pertanyaan lain.


"Aku dalam kondisi sepenuhnya baik!" Jawab Theo singkat. Sebelum mengalihkan pandangan kearah Gugio yang mulai ikut berjalan mendekat.


"Gugio, aku sudah membereskan Demonic Beast yang ada di depan, jadi, jika kita beristirahat sejenak di tempat ini untuk satu malam, apakah itu akan memotong banyak waktu?" Tanya Theo.


Mendengar kata-kata Theo yang mengatakan sudah membereskan Demonic Beast, Gugio tentu saja segera memasang raut wajah terkejut. Tampak agak tak percaya. Melirik kearah Pion pertama dan Pion kedua yang kini sudah mulai mencapai lokasi dimana Theo berada.


Bagaimanapun juga, itu masih sekitar 2 jam sejak Theo memasuki sarang sebelum akhirnya keluar lagi. Ditambah dengan kondisi tubuh penuh luka parah Pion pertama dan Pion kedua yang ikut masuk kedalam sarang, Gugio sempat beranggapan bahwa kelompok Theo gagal mengalahkan Demonic Beast, sehingga memutuskan keluar dan hendak mengambil opsi jalan memutar.


"Tuan muda, jika yang kau katakan benar, dan Demonic Beast sudah di bereskan, itu seharusnya tak ada masalah jika kita menghabiskan satu malam disini untuk beristirahat!" Ucap Gugio.


"Mengambil jalan memutar akan memerlukan waktu 1 minggu sebelum kita sampai pada Lembah Demonic Beast! Namun jika wilayah depan sudah aman untuk di lewati, kita bisa sampai pada perbatasan Lembah Demonic Beast saat petang jika melanjutkan perjalanan tepat pagi hari!" Lanjut Gugio.


"Baiklah kalau begitu!" Ucap Theo. Seraya membuat gerakan mengayun tangan. Melempar dua butir Pill obat kepada Pion pertama dan Pion kedua.


"Makan Pill obat itu! Meskipun memang tak akan langsung memulihkan luka kalian, namun itu akan dapat meredam rasa sakit dan membantu pemulihan!" Ucap Theo. Saat Pion pertama dan Pion kedua, telah menangkap Pill obat.


"Baik! Terimakasih tuan!" Balas Pion pertama.


Sementara Pion kedua, tampak dengan cepat segera menelan Pill. Jelas sudah tak tahan dengan rasa sakit yang sedari tadi mendera tubuhnya.


Dua orang ini terlihat mulai memasang wajah tenang. Berusaha menikmati sensasi Pill obat pemberian Theo yang terasa bekerja dengan ajaib. Mengalir secara otomatis pada Meridian untuk menuju Ranah Jiwa. Memberi perawatan dalam prosesnya.


Namun, baru sejenak dua orang ini merasa kondisi tubuhnya agak baik…


"Jika sudah merasa cukup baik! Segera dirikan kemah!" Ucap Theo. Kembali membuat gerakan mengayun tangan. Kali ini mengeluarkan seperangkat peralatan kemah.


Dengan wajah agak cemberut, Pion pertama dan Pion kedua yang tak berani membantah, mulai mendirikan kemah.


"Selesaikan sebelum aku kembali!" Lanjut Theo. Menambah beban hati Pion pertama dan Pion kedua begitu mendengar intruksi tambahan tersebut.


"Gugio, Gris! Kalian bantu aku untuk mengurus sesuatu!"


Sembari berjalan meninggalkan tempat, Theo memberi arahan kepada Gugio dan Gris untuk mengikuti.


****


(Lokasi lain dari pendirian kemah)


Theo melakukan pemindaian singkat pada wilayah sekitar. Memastikan tak ada kawanan Demonic Beast berada dekat dengan lokasi.


"Tuan muda, sebenarnya bantuan macam apa yang kau ingin kami lakukan?" Tanya Gris.


Pertanyaan Gris, tak segera mendapat jawaban dari Theo, ia memastikan sekali lagi lokasi sekitar cukup sepi. Sebelum kemudian, melakukan gerakan mengayun tangan ringan.


Bersama ayunan tangan ringan Theo, 6 tubuh raksasa Demonic Beast yang telah mati, melayang keluar dari dalam gelang ruang-waktu. Mendarat pada lokasi tanah berpasir di depan ketiganya.


"Tu-tuan muda! Ini…" Gumam Gugio, dengan nada bergetar saat melihat wujud enam tubuh Demonic Beast yang baru di keluarkan oleh Theo.


"Ayam Gurun Kematian!" Gumam Gris. Melanjutkan kata-kata Gugio yang tak sempat diselesaikan.


"Demonic Beast kelas tinggi! Meskipun mereka adalah salah satu jenis paling rendah dari para Demonic Beast berkelas A, namun tetap saja! Satu dari makhluk ini, benar-benar setara dengan seorang Hunter Gerbang Hitam yang telah membuka satu pintu!" Lanjut Gris. Menatap dengan tatapan terpukau pada tubuh enam Demonic Beast Ayam Gurun Kematian. Sebelum berakhir menatap kearah Theo.


"Tuan muda! Kau sungguh luar biasa!" Ucap Gris. Dengan mata berbinar.


"Tak perlu terlalu berlebihan!" Tanggap Theo.


"Demonic Beast yang kau sebut Ayam Gurun Kematian ini, memang cukup merepotkan! Aku bahkan sampai perlu dua jam untuk membereskan kelimanya! Satu beres, lima lagi melompat keluar dari dalam sarang secara bersamaan!" Lanjut Theo.


"Tuan muda! Jangan terlalu merendah! Bahkan Hunter Gerbang Hitam, akan perlu lebih dari dua jam untuk mengalahkan satu! Kau bahkan mengalahkan enam sebagai Hunter Gerbang Merah!" Tanggap Gugio. Merasa sosok Theo, semakin lama semakin tak masuk akal dan di luar nalar akal sehat.


"Itu benar! Bahkan dua Hunter kelas tinggi Paviliun Harta yang membantumu, berakhir dengan kondisi luka parah! Itu sungguh luar biasa kau tak mendapat luka!" Sahut Gris.


"Ohhh… Dua orang tikus itu?" Tanggap Theo.


"Sejujurnya mereka hanya berguna sebagai umpan diawal! Selebihnya hanya diam menonton!" Tutup Theo. Memasang raut wajah datar seraya mulai berjalan kearah salah satu tubuh Ayam Gurun Kematian.


Kata-kata terkahir yang keluar dari mulut Theo, hanya disambut oleh Gugio dan Gris dengan membuka tutup mulutnya. Tak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Berakhir dua orang penduduk desa Teria ini, saling tatap satu sama lain.


*Slaaaassshhh…!!!


Menggunakan aliran Mana Angin nan tajam, Theo memotong bagian kaki Ayam Gurun Kematian dihadapannya.


*Slaaaassshhh…!!!


Melanjutkan memotong sekali lagi kaki yang telah terpotong untuk mendapat bagian-bagian lebih kecil daging segar. Sebelum memasukkan kedalam gelang ruang-waktu.


"Gugio, Gris, aku ingin kalian membantu untuk memilah tubuh dari 6 Ayam ini!" Ucap Theo.


"Seluruh bagian tubuh, boleh kalian ambil! Aku cuma meminta daging saja! Apa itu tak masalah merepotkan kalian?" Tanya Theo.


"Kami boleh mengambil seluruh bagian tubuh kecuali daging? Tuan muda, apa kau benar-benar serius?" Tanya Gugio balik. Dengan nada ragu.


Gugio pantas menjadi ragu dan bertanya memastikan. Karena bagaimanapun juga, seluruh bagian tubuh Ayam Gurun Kematian yang merupakan Demonic Beast kelas A, adalah harta. Bisa di jual dengan harga yang sangat mahal.


"Yah, kau tak salah dengar! Memang itu yang tadi kusampaikan! Lagipula, aku juga merepotkan kalian dalam prosesnya!" Jawab Theo.


"Tuan muda! Sama sekali tak merepotkan! Sama sekali tidak! Hahahhaa…!" Tanggap Gugio.


"Gris! Kua dengar? Mari segera laksanakan tugas!" Lanjut Gugio.


"Tuan muda Theo memang yang terbaik!" Ucap Gris. Memasang wajah takjub.


Gugio dan Gris, akhirnya memulai proses pemilahan. Tampak begitu bersemangat. Sementara Theo, mengambil posisi duduk agak jauh. Kembali melakukan percobaan dalam usaha mengolah daging Demonic Beast secara sempurna.


Tiap kali Theo kehabisan stok daging Demonic Beast, ia hanya perlu memberi tanda pada Gugio. Daging-daging tambahan, akan segera datang kepadanya.