
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*** BONUS CHAPTER ***
(Wilayah Padang Pasir)
Hari sudah cukup larut, Theo dan rombongan yang hendak kembali ke desa Teria, akhirnya memutuskan untuk membuat kemah sederhana. Beristirahat di salah satu sudut padang pasir luas. Menghabiskan malam untuk kembali melanjutkan perjalanan keesokan paginya.
Api unggun yang tak terlalu besar, menyala di tengah lokasi tiga buah kemah. Theo, sedang duduk di depan api unggun semabari memegang sebuah buku. Sementara Gugio, terlihat sibuk menghitung ulang uang yang baru saja ia dapat dari Paviliun Harta. Untuk Gris, gadis tersebut berada dalam kemahnya. Entah sedang melakukan apa.
Lokasi tempat rombongan Theo mendirikan kemah, adalah lokasi yang dipilih langsung oleh Gugio.
Dengan pengalaman yang ia miliki sebagai pemimpin tim perburuan desa Teria selama puluhan tahun, Gugio cukup yakin bahwa lokasi mereka saat ini, cukup aman. Karena berjarak lumayan jauh dari sarang Demonic Beast paling dekat.
Theo sendiri, menyempatkan untuk melakukan pemindaian lokasi secara singkat, sekedar memastikan. Dan hasilnya, ternyata memang sama seperti apa yang di sampaikan oleh Gugio.
Hal ini membuat Theo mulai mempercayai kualitas dari pemetaan wilayah pria tua tersebut.
Bagaimanapun juga, Theo memang merasa perlu untuk memastikan. Karena kedepan, Gugio lah yang akan menjadi penduduk lokal Tartarus Land dimana berperan sebagai pemandu Theo dalam usaha menemukan lokasi Lembah Demonic Beast.
Namun, meskipun Gugio memiliki pengetahuan wilayah yang bagus, dapat mengetahui letak dari sarang Demonic Beast dengan melihat beberapa tanda tertentu, tetap saja, ada beberapa hal yang terlewat oleh pengamatannya.
Beberapa hal yang terlewat ini, tertangkap oleh Theo dalam pemindaian wilayah sekitar yang tadi sempat ia lakukan.
'Hmmmm… Akan cukup meriah!' Gumam Theo dalam hati. Seraya kemudian, melanjutkan untuk membaca buku usang, salah satu koleksi perpustakaan gelang ruang-waktu.
Suasana kemudian berkembang menjadi cukup tenang. Hanya suara bunyi jari-jari Gugio yang mengetuk Spacial Ring, terdengar disekitar api unggun.
"Hahaha…! Ini pas! Jadi memang aku saja yang terlalu khawatir! Atau hanya karena aku orang desa udik yang jarang melihat tumpukan uang sebanyak ini!" Ucap Gugio. Memecah ketenangan suasana.
"Hmmm… Itu akan konyol jika organisasi dagang besar seperti Paviliun Harta, sengaja membayar dengan jumlah yang tak sesuai kepada pelanggan atau mitra bisnisnya!" Tanggap Theo. Tanpa menoleh kearah Gugio. Masih membaca buku.
"Remah-remah roti, tak akan terlalu berharga jika dibandingkan dengan roti yang utuh! Tak ada alasan bagi mereka mencoreng reputasi hanya untuk recehan tak penting!" Lanjut Theo. Sembari membalik halaman buku usang. Melirik sekilas pada Gugio.
"Hahhaha…! Benar juga!" Balas Gugio canggung. Merasa telah bersikap konyol di usia tuanya. Hingga harus diberi wawasan oleh generasi muda.
"Ngomong-ngomong Tuan Muda, sebenarnya apa yang kau beli di lantai tiga? Sampai-sampai para petugas mengantar kita keluar bagai seorang bangsawan penting!" Tanya Gugio. Tampak berusaha mencari topik pembicaraan lain.
Mendengar itu, Theo untuk sekali lagi melirik singkat kearah Gugio.
"Aku hampir mengosongkan seluruh persediaan mereka dalam ruang display sumberdaya bahan obat, penempaan, dan daging Demonic Beast!" Jawab Theo.
"Jadi sikap balik mereka kepada kita, itu merupakan hal yang wajar! Cukup normal dalam dunia perdagangan!"
"Pelanggan dengan potensi profit tinggi, harus dilayani sebaik mungkin!" Tutup Theo.
Penjelasan Theo, segera membuat mulut Gugio tercekat. Ia hampir mengabaikan seluruh kata-kata Theo. Pendengaran dan pikirannya, terpaku pada kalimat awal.
"Mengosongkan?" Gumam Gugio.
"Lantai 3?" Tanya Gugio.
"Lantai 3 bisnis level 5! Bukankah kau sudah tahu!" Gumam Theo. Mulai merasa agak terganggu.
Gugio, kini kehabisan kata-kata. Tak tahu lagi harus memberi tanggapan seperti apa. Sosok Theo, sejak awal pertemuan, seperti memiliki stok bahan kejutan yang tak pernah ada habisnya.
Sampai kemudian, pandangan mata Gugio terarah pada buku yang sedang di baca oleh Theo.
"Tuan muda, kau sedang membaca buku tentang apa?" Tanya Gugio. Kembali untuk mengatasi situasi canggung yang terjadi.
"Hmmmm… Metode cara mengolah daging Demonic Beast!" Tanggap Theo.
Mendengar itu, Gugio akhirnya menemukan satu hal yang mungkin bisa ia bagi kepada Theo.
"Tuan muda! Kalau hanya mengolah daging Demonic Beast, aku punya beberapa…"
Belum sempat Gugio menyelesaikan kalimatnya…
"G-garis darah purba?" Gumam Gugio. Untuk kesekian kalinya, tak mampu memberi tanggapan. Berakhir mengerjapkan mata beberapa kali seperti pria dungu.
Pria tua itu kini mulai merasa bahwa ia sebaiknya berhenti untuk terus mencoba membuka obrolan dengan Theo, satu hal yang ternyata benar-benar tak baik bagi kesehatan jantung tua-nya.
"Emmm…" Gugio bergumam lirih. Merasa situasi sangat canggung karena Theo hanya mengabaikan. Sibuk membaca buku. Dalam situasi canggung, ia tampak beberapa kali menoleh kearah kemah Gris. Berharap gadis itu keluar dari dalam kemah. Sehingga bisa menyelamatkan Gugio dari situasi canggung.
Sampai kemudian, ketika Gugio melihat untuk kesekian kalinya kearah kemah Gris, Theo yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba mengangkat kepala sembari menutup buku.
"Tuan muda?" Tanya Gugio, saat menyadari perubahan sikap Theo.
"Panggil Gris keluar! Bersiap untuk situasi pertempuran!" Ucap Theo. Tanpa melihat kearah Gugio. Tatapan matanya, terfokus kesalah satu sudut gelap padang pasir.
"Serangan? Apa tak salah? Lokasi ini, sepenuhnya aman dari Demonic Beast!" Tanggap Gugio.
"Hmmmm… Kau benar dalam hal tersebut! Tapi aku tak pernah bilang bahwa kita akan bertempur melawan Demonic Beast!" Jawab Theo.
"Ahhh… Sialan!"
Gugio yang segera bisa menangkap maksud kata-kata Theo. Dengan tanggap pergi untuk memanggil Gris.
***
(Beberapa menit kemudian)
"Tuan muda! Berapa orang?" Tanya Gris, yang kini telah berada di belakang punggung Theo bersama Gugio.
"10 orang!" Jawab Theo singkat.
Jawaban yang segera membuat raut wajah Gris dan Gugio, berubah menjadi buruk.
"3 lawan 10 ya, cukup berat!" Gumam Gugio.
"Persiapkan diri kalian! Mereka telah selesai mengambil formasi mengepung!" Ucap Theo.
"Dan sebagai informasi tambahan, sebaiknya kalian berdua jangan terlalu banyak bergerak jika tak ada intruksi dariku!"
"Biar aku urus sendiri!" Tambah Theo.
"Tuan muda! 10 lawan 3 sudah terlalu buruk! Sekarang kau justru mau menghadapi seorang diri?" Tanggap Gris. Tampak kurang sepakat.
"Cukup ikuti saja intruksiku! Seluruh penyergap, adalah Hunter dengan tingkat kultivasi Gerbang Merah! Kalian hanya akan menjadi pengganggu jika ikut bergerak!" Jawab Theo. Dengan intonasi nada dingin.
Bersama dengan kalimat terakhir yang disampaikan oleh Theo, dari berbagai sudut arah, aura yang sangat menekan tiba-tiba meledak dengan liar. Terkunci sepenuhnya pada kelompok Theo.
Ledakan aura ini, segera membuat lutut Gris dan Gugio bergetar hebat. Tampak tak akan mampu menahan tubuh keduanya untuk jatuh pada tanah.
Namun…
*Wuuungg…!!!
Tepat ketika Gris dan Gugio sudah akan jatuh berlutut, ledakan aura dahsyat, memancar keluar dari dalam tubuh Theo. Menghalau balik terjangan aura yang saat ini diarahkan pada kelompoknya.
"Apa kalian tak lelah terus bergerak dengan cara mengendap-endap seperti itu?"
"Cukup keluar saja dan coba lakukan apapun itu yang sedang kalian rencanakan! Dengan begitu, akan menghemat waktu bagi kedua kelompok!" Ucap Theo. Dengan intonasi nada tenang nan santai.
"Hahhahaha…! Kawan-kawan, untuk kesekian kalinya, kita kembali berhadapan dengan target yang merupakan seorang tuan muda congkak!" Ucap satu sosok. Melangkah keluar dari balik kegelapan.
"Target dengan jenis sepertimu, adalah satu kesenangan tersendiri! Kita lihat setelah ini, apa kau masih bisa mempertahankan raut wajah sok tenangmu itu!" Tambah sosok tersebut. Kini wajahnya, telah sepenuhnya terlihat.
"Wah, setiap organisasi, sepertinya akan memiliki tikusnya sendiri!" Ucap Theo. Mengenali wajah pria dihadapannya. Dimana tak lain adalah pegawai Paviliun Harta yang tadi siang, sempat menjadi pemandu bagi rombongan-nya naik ke lantai 3.
"Sederhana saja! Serahkan seluruh uang dan sumberdaya yang baru saja kalian beli! Terutama daging Chimera!" Ucap sang penyergap. Memasang raut wajah menyeramkan. Bersama dengan itu, dari berbagai arah berbeda, sembilan orang lain, yang sepertinya adalah Hunter kelas tinggi Paviliun Harta, melangkah keluar dari balik kegelapan.
---
Note :
Seperti biasa, bonus chapter kali ini saya persembahkan kepada kawan-kawan pembaca yang telah berkenan memberi dukungan berupa lemparan Mutiara Mana.
Semoga dikembalikan oleh Tuhan YME dalam bentuk kelancaran segala hal yang hendak atau sedang di kerjakan. Terimakasih banyak.
Salam hangat. Big Love...!
Heri Kiswanto.