Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
166 - Menyentuh Batas


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Bammmm….!!!


*Bammmm….!!!!


*Bammmm….!!!


Menggunakan ratusan rantai cahaya yang kini telah di selimuti seluruhnya dengan derak Api Surgawi keemasan, Theo melanjutkan pembantain pada sekumpulan Demonic Beast kelas tinggi yang tanpa henti menerjang kearahnya dalam situasi penuh amarah.


Pembantaian yang dilakukan oleh Theo, sebenarnya tak juga sepenuhnya berjalan menguntungkan secara sepihak, karena Theo sendiri, juga menerima berbagai luka serius pada sekujur tubuh dalam prosesnya.


Beberapa Demonic Beast, berhasil mendaratkan serangan telak pada tubuh Theo.


*Sraaaakkkk….!!!


*Boooommmm…!!!


*Boooommmm….!!!


Theo masih melancarkan aksi serangan rantai cahaya berkobar nyala api emas. Sampai tiba-tiba, tanah yang ia pijak, secara tiba-tiba bergetar hebat untuk sesaat.


*Druut….!


Sebuah tanduk penuh duri tajam, muncul di hadapan Theo, menyeruak dari dalam tanah. Melihat kemunculan tiba-tiba tanduk tersebut, dimana juga membawa aliran Mana Tanah bercampur Kegelapan intens, Theo secara refleks segera melakukan langkah mundur. Sedikit mengambil jarak tertentu. Berniat melancarkan serangan pada sang Demonic Beast, tepat ketika nanti makhluk tersebut telah sepenuhnya keluar.


Namun…


*Druuutt…!!!


*Druuutt….!!!


*Druuutt….!!!


Ketika Theo sedang menyiapkan salah satu rantai cahaya, secara tiba-tiba, tanduk-tanduk berduri lain mulai bermunculan pada lokasi sekitar tempat ia berdiri. Telah sepenuhnya mengepung Theo dalam jarak yang lumayan luas.


"Sialan! Lagi-lagi aku kurang waspada!" Gumam Theo. Berubah buruk raut wajahnya. Sama sekali tak menduga akan datangkan serangan menyelinap dari bawah tanah.


*Blaaaarrrr…!!!


Bersama gumamam Theo, ledakan pertama terdengar saat salah satu tanduk, akhirnya menerjang keluar. Menampakkan sesosok Demonic Beast berbentuk tikus tanah.


*Blaaaarrrr….!!!


*Blaaaarrrr…!!!


*Blaaaarrrr….!!!


Ledakan-ledakan lain segera menyusul. Puluhan Demonic Beast Tikus tanah dengan tanduk berduri, melompat keluar sembari melepaskan ledakan Mana Tanah padat dari ujung tanduk masing-masing. Menimbulkan efek letupan gelombang kejut.


Jumlah Demonic Beast Tikus tanah yang cukup banyak, membuat Theo kini seperti sedang berada di dalam sebuah ladang ranjau. Kemanapun ia bergerak menghindar, tikus-tikus tanah lain melompat keluar mengikuti pijakan kakinya.


*Booommmm…!!!


*Booommmm…!!!


*Boooommmm…!!!


Satu, dua, tiga ledakan berhasil di hindari Theo, sampai konsentrasinya pecah begitu sesosok Demonic Beast tipe terbang, melancarkan serangan sabetan Mana Angin. Theo berhasil menghindari serangan Demonic Beast tipe terbang, akan tetapi, berakhir terkena ledakan Mana Tanah dari Demonic Beast tikus.


Satu ledakan yang mendarat pada tubuh Theo, menyebabkan pijakannya sedikit goyah, satu langkah goyah tersebut, menjadi titik balik bagi ledakan-ledakan tanduk berduri Demonic Beast tikus, ikut mendarat pada sekujur tubuh Theo.


Dalam situasi sepenuhnya terdesak, mendapat luka parah tambahan pada sekujur tubuh, Theo mulai menggertakkan gigi-giginya.


*Bzzzzzttt….!!!


Derak aliran Mana listrik merah, menyala terang pada tangan kanan Theo, sebelum dengan segenap tenaga, ia menghujamkan pukulan keras pada tanah yang ia pijak.


*BLAAAAAAAZZZZTTTT…!!!!


Mana listrik mutasi berwarna merah milik Ernesto, meledak dahsyat. Menghancurkan seluruh tanah bersama puluhan Demonic Beast tikus yang bersembunyi di dalamnya. Serangan dahsyat Theo, berakhir membuat sebuah lubang kawah raksasa penuh bebatuan hancur.


"Haahhhh… Hahhh… Hahhh…!"


Nafas Theo menderu setelah melancarkan serangan berdaya ledak dahsyat. Terlihat jelas sudah berada diambang batas mempertahankan kesadaran. Seluruh bagian tubuhnya, meronta dalam rasa sakit yang teramat sangat. Terutama Meridiannya.


Namun, tepat ketika Theo hendak jatuh kehilangan kesadaran….


*Bzzzzztttt….!


*Blaazzttttt….!!!


Derak listrik merah kembali menyala. Ernesto mengambil inisiatif untuk menyengat tubuh Theo agar tak sampai kehilangan kesadaran. Karena bagaimanapun juga, jika itu sampai terjadi, maka bisa dipastikan Theo akan mati di tempat ini. Menjadi mangsa para Demonic Beast liar nan ganas.


"Goooaaahhh…!!!"


Theo segera batuk banyak sekali darah segar ketika kembali mendapat kecerahan pada visinya.


'Sudah! Ini sudah cukup! Kau jelas tak akan mampu bertahan! Sekarang gunakan sepatu kilat untuk pergi dari tempat ini!' Balas Ernesto.


"Ohhh… Masih belum! Cuma tinggal beberapa lagi yang tersisa!" Jawab Theo. Menyapukan pandangan kesekitar. Dimana saat ini, ia bisa melihat lokasi Lembah Demonic Beast yang sebelumnya penuh akan Demonic Beast ganas, telah berubah menjadi layaknya kuburan Demonic Beast. Bangkai-bangkai para Demonic Beast, berceceran dimanapun mata memandang.


"Sepuluh, sebelas, dua belas! Tinggal dua belas tersisa disekitar!" Gumam Theo. Tampak justru memasang raut wajah bersemangat. Sama sekali mengabaikan peringatan Ernesto.


Dengan gerakan mengayun tangan, Theo kembali mengeluarkan Pill-Pill obat. Menelan sekaligus dalam sekali tegukan.


'Konyol! Kau gila!' Bentak Ernesto, saat melihat Theo kembali menelan Pill.


*Kraaakkk…!!!


*Kraaakkk….!!!


*Kraaakkk…!!!


Bersamaan dengan bentakan Ernesto, suara seperti retakan-retakan, mulai terdengar dari dalam tubuh Theo. Seluruh garis Meridiannya bergetar hebat. Menekan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.


"Aaaarrgghhhhh…!!!!"


Theo berteriak keras menahan rasa sakit untuk beberapa saat, sampai kemudian, setelah harus berada dalam situasi seperti tulang-tulang pada sekujur tubuhnya bagai sedang digerus, rasa sakit perlahan mereda ketika aliran Mana dari Pill yang ia makan, selesai melewati garis Meridian, sampai pada ranah jiwa. Mengisi ulang beberapa persen simpanan Mana Theo dalam Element Seednya.


"Lanjutkan!" Seru Theo lantang. Bersamaan dengan seruan tersebut, letupan enam atribut Mana, meledak dengan intens dari dalam tubuhnya.


Theo yang telah mengaktifkan teknik Rage buatan, segera membuat langkah menerjang kedepan. Menargetkan satu dari dua belas Demonic Beast tersisa yang berada dalam posisi paling dekat dengannya.


*Boooommmm….!!!!


Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, Theo kembali melakukan pembantaian. Bergerak membunuh satu persatu Demonic Beast yang masih tersisa.


Dua mati….


Tiga mati….


Empat mati…


Sampai pada akhirnya, ketika tersisa 2 Demonic Beast, Theo membuat gerakan menarik dua lengan kebelakang.


*Bzzzzzttt….!!!


*Bzzzzzttt….!!!


Derak listrik merah, menyala terang pada dua kepalan tangan Theo.


*BLAAZZTTTTT…!!!


*BLAAZZTTTTT…!!!


Aksi Theo, ditutup dengan ia melempar dua gelombang Mana Listrik mutasi pada dua terget terkahir. Dalam sekejap membunuh dua Demonic secara bersamaan.


"Haaahhhh….!!! Hahhhh…!!! Hahhhh….!!!"


Theo kembali mengambil nafas berat. Mode Rage buatan lenyap bersama dengan tubuh Theo jatuh kebelakang. Ia berakhir dalam posisi menatap langit. Penuh simbahan darah dari luka-luka yang ia terima dalam pertarungan melawan ratusan Demonic Beast kelas tinggi.


'Kau tahu bahwa ini masih bukan akhir kan?' Tanya Ernesto tiba-tiba.


*Wuuungg….!!!!


*Boooommmm….!!!


"Sial…!" Maki Theo.


Bersama dengan Ernesto mengucapkan kata-kata, sesosok Demonic Beast melakukan pendaratan keras di lokasi tak jauh dari tubuh Theo sedang terlentang.


Demonic Beast yang baru saja mendarat, tak henti memancarkan aura ganas yang sangat menekan. Sepenuhnya mengunci Theo.


"Satu dari tiga Demonic Beast terkuat Lembah ini, benar-benar cukup cerdas dalam memilih waktu tepat untuk muncul!" Gumam Theo.


"Grrrr….!!!"


Sang Demonic Beast sendiri, tampak mulai mengerang, menampilkan gigi-gigi tajam di balik mulutnya. Tampilan Demonic Beast yang memiliki kekuatan layaknya Knight berkelas Emeperor tahap Langit ini sendiri, tampak benar-benar berbeda dari Demonic Beast pada umumnya.


Seekor Banteng raksasa dengan bulu tebal berwarna hitam pekat menyelimuti seluruh bagian tubuh, berdiri tegak dengan kedua kaki, sementara pada tangan, mengenggam sebuah senjata berupa gada.


'Oe…!!! Demonic Beast satu ini sudah selangkah untuk mencapai kondisi memiliki kecerdasan!' Ucap Ernesto. Dengan nada bercampur antara cemas dan takjub disaat bersamaan.


'Dan sialnya, jumlah dari mereka, ada tiga!' Lanjut Ernesto.


'Kau sudah membersihkan hampir seluruh Demonic Beast yang ada di tempat ini! Apa itu belum cukup untuk menyelesaikan tantangan?' Ernesto, menutup dengan pertanyaan.


"Jelas belum cukup, karena tantangan yang sebenarnya, adalah mengalahkan tiga mahluk ini! Membersihkan Demonic Beast, hanya langkah spontan yang sengaja kulakukan sebagai sarana menempa tubuh fisik!" Jawab Theo.


'Kau tolol gila….!' Bentak Ernesto, begitu mendengar jawaban Theo.


-----


Note :


Besok masih satu chapter, kembali normal hari selasa. Mohon pengertiannya. Terimakasih.


Big Love...!!!!