
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Diluar Lembah Demonic Beast)
Wilayah lembah yang awalnya sangat tenang, namun dengan ketenangan yang mencekam, saat ini tiba-tiba berubah dalam gejolak hebat.
Raungan-raungan mengerikan terdengar saling sahut menyahut dengan liar. Dimana jelas berasal dari berbagai macam jenis Demonic Beast kelas tinggi yang tinggal di wilayah lembah. Para Demonic Beast ini, tampak menjadi marah di waktu yang hampir bersamaan.
Perubahan situasi yang berlangsung secara tiba-tiba diwilayah bagian dalam Lembah Demonic Beast sendiri, terjadi tepat beberapa menit setelah Theo bergerak masuk.
"Sebenarnya, apa tujuan Tuan muda datang ketempat ini?" Gumam Gris. Menatap ngeri sekaligus cemas kearah wilayah bagian dalam Lembah Demonic Beast.
"Entahlah! Yang jelas, Tuan muda Theo bukanlah seorang Hunter sembarangan!" Tanggap Gugio.
"Aku benar-benar sangat penasaran dengan identitas aslinya!" Tambah Gugio.
Obrolan yang terjadi antara Gris dan Gugio, ternyata berhasil menarik perhatian Pion pertama. Pria ini melirik Gugio sebentar, sebelum akhirnya ikut memberi tanggapan.
"Seorang pemuda yang masih berusia sekitar 20an tahun, telah berhasil mencapai Gerbang Merah dalam kultivasi! Hanya dari fakta itu saja, sudah cukup untuk mengetahui bahwa ia adalah seorang bakat monster dari salah satu kelompok besar! Entah itu Klan atau mungkin Guild!" Ucap Pion pertama.
"Hmmmm… Garis bawahi juga bahwa bakat seperti itu, jelas tidak berasal dari kelompok manapun Benua Azure ini!" Sahut Pion kedua.
"Ahhh… Kau mau bilang bahwa Tuan muda Theo berasal dari Benua Leluhur?" Tanya Gris cepat. Raut wajahnya berubah terkejut sekaligus antusias disaat bersamaan.
"Tidak ada penjelasan lain! Mungkin dia berasal dari Klan yang memiliki kemampuan khusus di bidang formasi segel!" Jawab Pion kedua. Jelas opininya merujuk pada Segel kontrak Tuan-hamba milik Theo yang kini terpasang dalam ranah jiwanya.
"Masuk akal! Aku sendiri bahkan tak pernah mendengar ada satu teknik formasi segel yang begitu kejam seperti yang telah ia pasang dalam ranah jiwa kita." Tanggap Pion pertama.
"Hmmm… Kurasa tak sesederhana itu!" Ucap Gugio, ikut menyahuti percakapan antara Pion pertama dan Pion kedua.
"Apa maksudmu? Kau punya kesimpulan lain dimana lebih masuk akal?" Tanya Pion kedua.
"Bukan begitu, hanya saja, kemampuan Tuan muda Theo, benar-benar diluar nalar! Tak masuk akal!" Jawab Gugio.
"Jika kalimatmu itu merujuk pada atribut Cahaya yang ia miliki, itu tetap akan berakhir pada kesimpulan yang sama. Orang dengan segala macam kemampuan khusus, hanya akan ditemukan di Benua Leluhur!" Tanggap Pion kedua.
Kata-kata Pion kedua, segera disambut oleh Gugio dengan memberi lirikan singkat. Sebelum akhirnya kembali menanggapi.
"Atribut Cahaya, hanya satu dari berbagai hal yang akan membuat kalian terus tercengang jika memiliki waktu lebih lama berada di sekitarnya!" Ucap Gugio.
"Katakan padaku, bahkan di Benua Leluhur, apa kalian pernah mendengar ada seorang Hunter yang mampu mengalahkan 10 Hunter lain dengan Kelas yang sama?" Tanya Gugio, jelas merujuk pada situasi pertarungan antara kelompok Pion pertama dan Pion kedua yang sempat menyergap Theo.
"Sebelumnya, mohon maaf, aku tak ada niat menyinggung kalian berdua sama sekali!" Lanjut Gugio, saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Pion pertama dan Pion kedua yang tampak tak senang mendengar Gugio kembali menyebut tentang peristiwa tersebut.
"Hanya saja, menurutku peristiwa tersebut yang paling mudah untuk kalian cerna, karena mengalami secara langsung!" Ucap Gugio. Meneruskan kalimatnya.
"Hmmmm… Beberapa isu mengatakan, bahwa di Benua Leluhur, memang ada kumpulan bakat monster yang juga mampu melakukannya! Mengalahkan sejumlah tertentu Hunter dengan kelas yang sama, dalam satu waktu sekaligus!" Sahut Pion pertama.
"Ohhhh… Bagaimana dengan mengalahkan Demonic Beast kelas A? Apakah di Benua Leluhur, ada bakat monster berkelas Gerbang Merah yang juga mampu melakukannya?" Tanya Gugio.
Pertanyaan tersebut, segera membuat Pion pertama dan Pion kedua tak mampu memberi sanggahan apapun. Karena memang di muka Tartarus Land, itu merupakan hal yang mustahil terjadi seorang Hunter mengalahkan Demonic Beast dengan kelas yang lebih tinggi dari kultivasi-nya.
Gugio, lagi-lagi hanya memakai fakta kejadian yang memang dialami secara langsung oleh Pion pertama dan Pion kedua. Ia bahkan belum menyebut tentang item ruang penyimpanan berbentuk cincin milik Theo. Dimana juga belum pernah sama sekali di jumpai manusia penghuni Tartarus Land.
"Itu…"
Pion pertama dan Pion kedua, benar-benar tak mampu memberi sanggahan apapun. Karena bagaimanapun juga, keduanya memang hanya melihat dan tak melakukan apapun ketika Theo beraksi menghabisi enam Ayam Gurun Kematian. Theo yang hanya seorang diri, menghabisi enam Demonic Beast tersebut hanya dalam waktu kurang lebih dua jam.
"Pertanyaan terakhir!" Ucap Gugio, memecah keheningan singkat yang sempat terjadi akibat tercekatnya mulut Pion pertama dan Pion kedua.
"Apakah di Benua Leluhur, ada seorang Hunter yang mampu mengendalikan segala macam jenis atribut Chi?" Lanjut Gugio.
Pertanyaan lanjutan Gugio, segera membuat raut wajah Pion pertama dan Pion kedua, berubah heran. Sementara Gris yang dari tadi hanya mendengarkan, kini memasang raut wajah yang terlihat seperti sadar akan sesuatu.
"Jelas tidak ada! Jangankan Benua Leluhur, bahkan di seluruh Tartarus Land ini, tidak akan ada Hunter yang bisa melakukan itu! Kendali akan segala macam atribut Chi? Itu adalah ketidak-masukakalan yang sepenuhnya menentang segala macam teori alam!" Ucap Pion pertama.
"Hmmm… Bersiaplah untuk terkejut sekali lagi! Karena Tuan muda Theo, mampu melakukannya!" Tutup Gugio. Memasang raut wajah puas. Entah kenapa begitu menikmati setiap kali Pion pertama dan Pion kedua yang merupakan dua orang Hunter kelas tinggi, memasang raut wajah terkejut.
"Omong kosong!" Dengus Pion kedua, menolak untuk percaya.
"Yah…! Itu tak mungkin terjadi!" Sahut Pion pertama.
"Tapi tuan, yang di katakan senior Gugio memang benar adanya! Aku melihat dengan mata kepala sendiri saat Tuan muda Theo, mengeksekusi beberapa teknik dengan atribut berbeda-beda! Listrik, Es, Besi!" Sahut Gris. Mengingat kejadian dimana Theo menyelamatkan Desa Teria dari serangan para Kalajengking Haus Darah.
"Tetap saja! Itu adalah hal yang…"
Pion pertama hendak menyampaikan bahwa ia menolak untuk percaya, sampai tiba-tiba…
*Boooommmm…!!!!
Ledakan dahsyat dari semburat aliran Chi Cahaya pekat yang memancar dalam kilau gemilang, terhempas keluar dari dalam wilayah Lembah Demonic Beast.
*Wuuungg…!!!
Bersama ledakan dahsyat tersebut, suara dengungan yang memekakkan telinga, terdengar nyaring saat luapan Chi Cahaya, akhirnya sampai di lokasi keempat orang sedang berdiri. Terus menyebar dalam radius cukup jauh di luar wilayah Lembah Demonic Beast.
"Ini gawat! Kita sebaiknya segera pergi dari tempat ini!" Ucap Pion pertama. Tatapan matanya, memandang jauh pada lokasi sebaran Chi Cahaya.
"Apa maksudmu?" Bentak Gris. Tepat setelah mendengar kata-kata Pion pertama.
"Tuan muda Theo belum kembali! Aku jelas tak akan meninggalkan tempat ini!" Lanjut Gris.
"Gadis muda! Itu terserah kau! Tapi jika benar-benar bertahan di tempat ini, kupastikan beberapa menit lagi kau akan kehilangan nyawa!" Ucap Pion pertama. Tanpa menunda lebih lama, segera bergerak dengan langkah terburu meninggalkan tempat. Diikuti oleh Pion kedua di belakang.
"Hmmm… Gris, kita juga pergi!" Ucap Gugio.
"Tidak!" Jawab Gris singkat.
"Jangan keras kepala! Pasti ada alasan kenapa dua Hunter kelas tinggi itu menjadi sangat panik!" Bentak Gugio.
"Lagipula, tugas kita hanya menunggu di luar wilayah Lembah Demonic Beast! Jadi, menunggu dimanapun bukankah sama saja?" Tambah Gugio, mulai melangkah pergi. Menuju arah Pion pertama dan Pion kedua.
Gris yang melihat Gugio pergi, melirik untuk sesaat pada Lembah Demonic Beast. Sebelum dengan berat, akhirnya ikut menyusul Gugio.
Dan beberapa menit setelah perginya Kelompok yang menunggu di wilayah perbatasan, ratusan Demonic Beast, bergerak dalam gelombang besar memasuki Lembah.
Aliran Chi Cahaya yang sebelumnya meledak dengan dahsyat, ternyata menarik perhatian ratusan jenis Demonic Beast yang hidup di sekitar wilayah perbatasan Lembah Demonic Beast. Digerakkan oleh insting, kawanan ini menjadi marah, mulai mendekati sumber ledakan cahaya.