
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
Menggunakan Demonic Beast Tikus Tanah sebagai sarana transportasi, kelompok Theo bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Secara alami, Demonic Beast Tikus Tanah, terutama sang Boss yang merupakan Demonic Beast kelas tinggi, setara dengan Emperor tahap Bumi, mampu menghalau berbagai kawanan Demonic Beast lain yang memiliki tingkatan lebih rendah hanya dengan menggunakan auranya.
Selain menghalau kawanan Demonic Beast berkelas lebih rendah, secara insting, Boss Tikus Tanah juga akan selalu memilih jalur yang aman dari sarang Demonic Beast dengan kelas lebih tinggi. Menyebabkan perjalanan Theo menuju lokasi Lembah Demonic Beast yang kedua, berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Gugio tinggal membaca peta, dan ketika tanpa sadar memasuki wilayah sarang Demonic Beast kelas tinggi, Boss Tikus Tanah akan bereaksi memilih jalur lain.
Laju pergerakan kelompok Theo, hanya akan berhenti untuk sekedar beristirahat ataupun saat hari mulai beranjak petang. Theo juga sempat beberapa kali mengintruksikan kelompoknya untuk berhenti ketika secara tak sengaja menemukan wilayah yang memiliki sumberdaya khusus. Kebanyakan sumberdaya khusus ini, adalah tanaman obat unik yang cukup langka. Bahan berharga dalam proses Alchemy.
Mengingat pengalaman dalam proses menaklukan tantangan di Lembah Demonic Beast pertama, dimana ternyata merupakan sebuah wilayah yang sangat berbahaya, Theo tentu tak ingin menyia-nyiakan sedikitpun waktu longgar yang ia miliki selama perjalanan.
Pada malam hari, saat hampir setiap orang beristirahat ataupun bergantian melakukan tugas jaga, Theo menghabiskan sebagian waktu istirahatnya di dalam kemah, dengan melakukan proses Alchemy, mengisi ulang suplai Pill obat yang sempat terkuras dalam pertempuran dahsyat melawan ratusan Demonic Beast kelas tinggi di Lembah Pertama.
Sementara untuk siang hari, selama perjalanan menunggang Boss Tikus, Theo menghabiskan waktu dengan berkultivasi, mencoba terus meningkatkan kualitas Meridian-nya.
Selain berkultivasi, Theo juga beberapa kali mengisi waktu luang dengan mencicil tugas yang sebelumnya sempat di wasiatkan oleh sang Master, yakni menyalin ribuan buku usang di perpustakaan gelang ruang-waktu pada lembaran-lembaran kertas baru.
Proses menyalin ini, selalu menjadi salah satu kegiatan favorit Theo. Karena dengan menyalin buku, otomatis Theo harus membaca buku tersebut, membaca buku-buku koleksi Tiankong setiap hari, selalu menambah wawasan Theo. Karena ia akan mendapat banyak pengetahuan baru selama prosesnya.
Satu hal yang memang menjadi salah satu tujuan utama Tiankong kenapa ia memerintahkan Theo menyalin seluruh buku usang perpustakaan gelang ruang-waktu. Itu agar Theo membaca semua buku koleksi-nya tanpa terkecuali, karena buku-buku tersebut, berisi pengetahuan-pengetahuan penting yang tersusun dari jaman ke jaman. Pengetahuan penting yang jelas lebih maju dan tidak seharusnya ada di jaman Theo sekarang hidup.
Wasiat Tiankong, adalah sebuah bekal sangat berharga bagi Theo dalam proses perjalanan-nya mengarungi dunia Knight. Hampir seluruh kesepakatan bisnis antara Theo dan Gaia Son Paviliun, adalah dari menjual informasi serta beberapa resep Alchemy ataupun Forging pada kelompok tersebut.
Meskipun memang tetap ada beberapa batasan yang tak akan di langkahi oleh Theo. Jika menurutnya informasi ataupun resep terlalu berharga, ia jelas tak akan membaginya, cukup untuk konsumsi pribadi, berguna dalam membantu orang-orang yang benar-benar berada dalam lingkaran kecil dimana saat ini tengah ia bangun dan rintis.
Hanya resep-resep umum yang tak terlalu berharga bagi Theo, namun tetap sangat berharga bagi Gaia Son Paviliun karena merupakan pengetahuan baru yang belum pernah mereka ketahui, akan di bagi oleh Theo. Sebagai imbal balik, Theo mendapat berbagai manfaat dari salah satu organisasi netral paling berpengaruh di Gaia Land tersebut. Manfaat yang kembali lagi bermuara untuk memenuhi kebutuhan jalan Knightnya, terutama dalam hal kultivasi.
Wasiat Tiankong yang sebenarnya terdengar cukup sederhana dan sedikit merepotkan bagi Theo ketika menerima-nya di awal, telah benar-benar memberi pengaruh besar dalam perjalanannya.
Membuat Theo tak henti untuk terus mengagumi sosok Tiankong sebagai Master. Sosok yang telah benar-benar membantu Theo membalik seluruh takdir hidupnya. Menarik Theo dari dalam kubangan lumpur pekat. Tanpa Tiankong, Theo hanya Tuan Muda sampah House Alknight yang bahkan tak mampu menumbuhkan Element Seed dalam ranah jiwa. Knight cacat.
Theo yang saat ini tiba-tiba mengingat sosok sang Master ketika sedang melakukan proses menyalin buku, segera menghentikan kegiatan. Menatap langit dengan pandangan merenung.
'Master…' Gumam Theo dalam hati.
'Jadi pendendam ya?' Lanjut Theo.
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Tiankong sebelum sosoknya lenyap, selalu saja terngiang di kepala Theo. Karena bagaimanapun juga, kalimat tersebut memanglah cukup unik.
Seorang Master, biasanya memberi perintah kepada sang murid, untuk berlapang dada atau berdamai dengan dirinya sendiri, namun Tiankong, Master Theo, justru menyampaikan sebaliknya.
Tiankong, benar-benar adalah sosok eksentrik dengan metode pelatihan yang diluar nalar.
Theo masih dalam situasi merenung sembari menatap langit, sampai tiba-tiba Gugio melambatkan pergerakan Demonic Beast Tikus Tanah tunggangannya hingga berada pada sisi Theo. Menyampaikan bahwa lokasi Lembah Demonic Beast kedua, sudah dekat.
"Hmmmm… Seperti sebelumnya, kalian cukup tunggu disini! Cari lokasi aman untuk bersembunyi! Karena begitu aku masuk kedalam sana, keributan besar yang akan mengguncang wilayah sekitar, seperti yang terjadi di Lembah Demonic Beast pertama, akan terulang kembali!" Ucap Theo. Sebelum tanpa menoleh dan tak memberi kesempatan pada setiap orang untuk bertanya lebih lanjut, segera melompat dari punggung Boss Tikus Tanah tunggangannya. Bergerak cepat memasuki wilayah Lembah Demonic Beast.
Meninggalkan kelompok empat orang, kini tinggal bersama Boss Demonic Beast Tikus Tanah beserta kawanannya dimana sedang ditunggangi masing-masing dari mereka.
Kepergian Theo, segera membuat Gugio, Gris, Pion pertama, dan Pion kedua, kehilangan perasaan nyaman mereka dalam menunggangi Demonic Beast Tikus Tanah. Hati setiap orang tenggelam, terutama saat Boss Tikus Tanah, mulai melihat dengan tatapan mengerikan secara bergantian pada tiap-tiap dari mereka.
*Gleekkk…!!!
Gugio, Gris, serta duo Hunter Paviliun Harta, hanya bisa menelan ludah saat perasaan ngeri, mulai hinggap di dada masing-masing.
"KIIIIIIIIIIIIIEEEEKKKK….!!!"
Dibawah tatapan ngeri setiap orang, Boss Tikus Tanah, tiba-tiba mengeluarkan suara cicitan keras. Cicitan yang disambut oleh empat orang mulai bergetar ketakutan.
Sampai kemudian, Boss Tikus Tanah terlihat berjalan memimpin rombongan. Tak seperti yang di takutkan oleh semua orang, makhluk tersebut justru bergerak untuk mencarikan lokasi persembunyian aman bagi kelompok.
****
(Lembah Demonic Beast)
*Tappp…!!!
Theo melakukan pendaratan ringan pada salah satu puncak perbukitan. Sebelum mulai memindai lokasi sekitar dalam cakupan luas. Menyapu seluruh Lembah.
'Jadi, apa rencananya sekarang? Kembali membuat keributan untuk meningkatkan adrenalin seperti sebelumnya?' Tanya Ernesto.
Pertanyaan yang segera disambut oleh Theo dengan melebarkan senyumnya, seketika membentuk seringai lebar.
"Memangnya masih perlu ditanyakan lagi?" Ucap Theo, menjawab pertanyaan Ernesto, dengan melempar pertanyaan balik bernada heran.
'Hmmmm… Aku mulai berfikir, sebenarnya takdir apa yang mengikatku, apakah sebuah anugerah atau sebuah bencana saat perangkat kilat ciptaanku harus berakhir di tangan orang sepertimu, benar-benar membuat kesal!'
'Semoga dewa keberuntungan yang terus kau agung-agungkan itu, terus memberkatimu!' Dengus Ernesto. Seraya dengan cekatan dan tanpa mengeluarkan kalimat tambahan apapun lagi, segera melakukan proses mempercepat pengisian aliran Mana Listrik Mutasi dalam Sepatu dan Sarung Tangan Kilat.
"Hahhaahha…! Sebagai poin tambahan agar kau menjadi semakin kesal, kuberi tahu saja, tak seperti Lembah pertama, di dalam Lembah ini, itu bukan cuma memiliki 3 Boss Demonic Beast, melainkan 5!" Ucap Theo. Sebelum dengan tanpa menunggu tanggapan Ernesto, segera meledakkan aliran Mana Cahaya pekat dari dalam tubuhnya.
*Booooommmm….!!!
Kemilau terang Mana Cahaya, menyebar luas keseluruh wilayah Lembah. Bersama dengan ledakan tersebut pula, suara Kung-Peng menggema di dalam kepala Theo.
'Tantangan Kastil Raja Dewa Air tahap selanjutnya, kalahkan seluruh Boss Demonic Beast di dalam Lembah ini!'