
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Arc 4 - Simposium)
*Wuuunggg…!!!
Suara dengungan keras, terdengar begitu nyaring saat sebuah portal ruang, tercipta di dalam satu ruang kosong nan hampa.
*Woooshhhh…!!!
Dan tepat ketika portal ruang selesai terbentuk, satu sosok tubuh terlontar dalam hempasan keras dari dalam portal tersebut.
Itu adalah Theo yang terlempar keluar dari dalam portal, masih dalam kondisi tak sadarkan diri, tubuh Theo berakhir melayang di udara kosong saat laju hempasannya, secara perlahan mulai terhenti.
Mata Theo terpejam, tubuhnya penuh luka, sementara pakaian yang ia kenakan, benar-benar telah compang-camping, bercak darah yang masih belum sepenuhnya mengering, menjadi penghias tambahan pada tubuh dan pakaian rusak tersebut.
Dalam kondisi diam melayang di udara kosong, itu hanya Jubah Merah Darah milik Lord Satan yang kini tampak terus bergerak dalam ayunan lembut. Terus merekonstruksi sobekan-sobekan pada tiap inci jubah. Secara perlahan memperbaiki diri otomatis.
Bahkan sarung tangan dan sepatu kilat yang dikenakan Theo, saat ini terlihat menjadi beraura pudar. Ernesto telah kembali jatuh dalam situasi hibernasi. Memilih untuk segera memulihkan dan menyerap energi kehidupan pasca menemani Theo dalam pertempuran dahsyat tantangan Lembah Demonic Beast terkahir.
Tubuh Theo terus melayang dan melayang selama waktu yang tak lagi diketahui. Entah sudah berapa lama Theo berada dalam situasi tak sadarkan diri dalam ruang hampa, bisa satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun.
Sampai kemudian, setelah terus melayang, tubuh Theo mulai terhenti ketika mendarat pada sebuah areal tanah lapang yang dengan aneh melayang di udara hampa.
*****
"Hmmmm…." Gumam Theo, ketika mulai kembali sedikit mendapat kesadaran.
Theo yang masih dalam posisi terlentang pada areal tanah lapang, membuka mata hanya untuk mendapati bahwa dirinya berada di satu ruang hampa beraura aneh.
"Cukup familiar!" Gumam Theo sekali lagi. Teringat peristiwa ketika dirinya berada di dalam ruang hampa ciptaan Masternya pasca peristiwa perang besar Hutan Pinus Beku.
Gumaman lirih Theo, dilanjutkan dengan rintihan saat ia mulai merasakan seluruh garis Meridian dalam tubuhnya tiba-tiba berdenyut keras. Hujaman rasa sakit yang teramat sangat, segera mendera sekujur tubuh Theo. Menyebabkan ia berakhir kembali jatuh tak sadarkan diri. Tak kuasa menahan rasa sakit.
*****
Theo hanya kembali membuka mata setelah lewat beberapa periode waktu tertentu yang tak di ketahui.
"Sial…!!! Aku tak bisa terus-terusan kehilangan kesadaran!" Gumam Theo. Saat merasa rasa sakit kembali mendera seluruh tubuhnya imbas dari garis-garis Meridian yang tak henti berdenyut keras.
Tepat ketika Theo akan kembali jatuh tak sadarkan diri, ia secara paksa mempertahankan kesadaran. Kembali mendapatkan ketajaman visi yang telah memudar ketika dengan cukup keras, menggigit lidahnya sendiri.
*Taaappp…!!!
Dengan mata yang telah terbuka lebar, Theo melawan gejolak rasa sakit pada sekujur tubuh dengan memaksa tubuhnya mengambil posisi duduk bersila.
"Hmmmmm…!!!"
Theo yang telah dalam posisi duduk, menggertakkan gigi-gigi cukup keras beberapa saat, sebelum melakukan tindakan nekat ketika merasa rasa sakit dalam garis-garis Meridiannya ternyata benar-benar tak tertahan.
Theo mengambil resiko dengan mengaktifkan aliran Mana Mutasi Listrik Merah yang baru sedikit terkumpul pada sarung tangan kilat. Menyalurkan derak listrik merah menuju Ranah Jiwa. Menyengat Element Seednya sendiri.
*Bzzzzzttt…!!!
Derak Mana Mutasi Listrik Merah menyala terang pada Element Seed tipe Netral dalam ranah jiwa Theo.
"Hooooaaarrgggghhhh….!!!"
Satu kejadian yang tentu saja membuat Theo berteriak lantang kesakitan. Akan tetapi, sengatan Listrik Merah, ternyata cukup berhasil membuat tubuh Theo kembali bergejolak. Aliran-aliran Mana yang sebelumnya sempat tersumbat, segera mengalir deras dari dalam Element Seed, menuju garis-garis Meridian.
Merasa kondisi tubuhnya telah sedikit pulih, Theo dengan tanggap mengeluarkan beberapa Pill obat simpanannya dari dalam Gelang ruang-waktu. Segera menelan seluruh Pill yang baru ia keluarkan.
Efek bahan obat yang tercampur dalam Pill, mulai bergerak dalam balutan Mana Cahaya dan Mana Air. Tubuh Theo pulih secara perlahan begitu khasiat obat, menyebar dari garis-garis Meridian, menuju ranah jiwa.
Bersama pulihnya Meridan dan Ranah Jiwa, luka-luka fisik pada sekujur tubuh Theo, juga mulai mengikuti. Perlahan pulih dengan sendirinya.
Proses pemulihan yang dilakukan Theo, berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Theo jatuh dalam kondisi kultivasi yang mendalam. Perlahan sedikit melayang di udara dalam situasi duduk bersila.
*****
(Lewat beberapa periode waktu tertentu)
Tubuh duduk bersila Theo yang melayang diudara, perlahan mulai turun kembali pada tanah lapang.
Dan tepat ketika tubuhnya telah kembali menyentuh tanah, Theo seketika membuka mata. Menyebarkan aura penuh dominasi intens yang diiringi juga dengan tatapan mata penuh ketajaman.
"Hmmmmm…!" Gumam Theo. Kini mulai berdiri. Telah selesai dalam proses pemulihan. Tubuhnya, berada dalam kondisi cukup bugar.
Theo yang telah berdiri, segera melakukan pengamatan singkat pada lokasi sekitar. Sampai tatapan matanya, berhenti menyapu lokasi ketika menemukan sebuah altar batu aneh yang berdiri tegak di salah satu sudut areal tanah lapang.
Tanpa keraguan sama sekali, Theo memutuskan untuk berjalan mendekat.
"Seharusnya item-item dan Sumberdaya itu adalah hadiahku!" Gumam Theo. Setelah sampai pada lokasi altar batu. Berdiri tepat di depan altar yang mana pada permukaannya, terdapat beberapa item dan Sumberdaya.
"Benar sekali! Yang ada diatas altar, adalah opsi hadiah milikmu!"
Sosok Kung-Peng, secara tiba-tiba muncul. Melayang di sisi lain altar batu. Menyebabkan ia kini berada dalam posisi saling berhadapan dengan Theo.
Mendengar kata-kata Kung-Peng, Theo tak segera memberi tanggapan, hanya memasang senyum tipis untuk beberapa waktu. Sebelum kemudian, akhirnya mulai berbicara setelah diam cukup lama.
"Hei Kung-Peng, tak bisakah kita berbicara secara langsung?" Ucap Theo.
"Setidaknya beri sedikit rasa sopan kepada orang yang telah menyelesaikan tantanganmu dengan berhenti melakukan komunikasi menggunakan proyeksi bayangan palsu!" Lanjut Theo.
Hening cukup lama saat Theo menyelesaikan kalimatnya. Sampai tiba-tiba…
*Woooshhhh…!!!
Sebuah aura intens yang begitu menekan, muncul di hadapan Theo. Sosok Kung-Peng yang sebelumnya berada di lokasi tersebut, mendadak lenyap. Digantikan sosok lain yang secara sekilas, masih terlihat seperti Kung-Peng, namun dalam kondisi tubuh sepenuhnya sangat kurus. Kurus kering hingga terlihat hanya menyisakan tulang dan kulit layu.
"Manusia muda! Hmmmm… Apakah kau masih layak dipanggil sebagai manusia muda? Mengingat usia mentalmu yang tak biasa!" Ucap sosok yang baru muncul dihadapan Theo.
"Hmmm… Salam Kung-Peng! Aku telah mencapai kondisi empat Anata, menaklukan empat pintu Gerbang Dosa!" Balas Theo.
"Gerbang Dosa ya, Ancient Thing jenis pertama! Awal mula dari roda takdir yang terus berputar dan terus berulang!" Tanggap Kung-Peng.
"Terimakasih karena telah bersedia melakukan obrolan dengan wujud asli!" Ucap Theo.
"Hahhahaha…! Sejujurnya, dari sekian banyak manusia bertakdir tak biasa di abad ini yang tertarik masuk kedalam Kastil Raja Dewa Air untuk melakukan tantangan, itu baru kau yang meminta hal macam ini! Sadar akan proyeksi palsu buatanku!" Gumam Kung-Peng. Seraya menatap dengan pandangan penuh ketertarikan kepada Theo.
"Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan kau sadar?" Tanya Kung-Peng.
"Sejak awal!" Jawab Theo singkat.
"Cukup mudah menyadari karena proyeksimu benar-benar telah usang dan tak stabil!" Lanjut Theo.
Sebuah jawaban yang segera disambut oleh Kung-Peng dengan melebarkan senyum. Memamerkan taring-taring tajam dibalik mulut keriputnya.
----
Note :
Yuk jempol-jempolnya. Yakali masak bab awal arc baru jempol ketinggalan.