Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
184 - Tantangan Akhir


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Tapp…!!!


*Tapp…!!!


*Tapp…!!!


Theo bergerak dalam langkah senyap, memasuki bagian dalam Lembah Demonic Beast kelima.


*Tapp…!!!


Sampai akhirnya, langkah Theo terhenti ketika merasa ada sesuatu yang tak beres di Lembah terakhir ini.


'Bocah! Kau harus terus menjaga kewaspadaan! Perasaanku benar-benar tak bagus!'


Saat Theo masih melakukan pemindaian pada lokasi sekitar, Ernesto tiba-tiba menyampaikan kalimat bernada cemas.


"Tak perlu untuk kau memberi peringatan! Aku jelas tahu ada yang tak beres dengan Lembah ini!" Tanggap Theo.


"Cukup lakukan peranmu, siapkan sebanyak mungkin suplai Mana Mutasi Listrik Merah! Aku akan menjalankan peranku sendiri dalam hal menjaga untuk tetap bisa bertahan hidup!" Lanjut Theo, seraya kembali bergerak. Melompat ke puncak sebuah tebing. Kali ini dengan mulai menyebarkan aura Mana Cahaya intens dari dalam tubuhnya.


"Ini tak wajar! Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Theo, saat kembali tak mendapatkan apapun dari pemindaian menyeluruh yang baru ia lakukan.


Theo dan Ernesto pantas menjadi waspada. Karena bagaimanapun juga, situasi di dalam Lembah terakhir, ternyata sangat berbeda dari empat Lembah lain yang telah di ubah Theo menjadi Kuburan massal Demonic Beast.


Jika pada keempat Lemah sebelumnya Theo akan selalu disambut dengan aura ratusan Demonic Beast ganas berkelas tinggi terkunci kearahnya tepat ketika ia pertama memasuki wilayah Lembah, itu ternyata berbeda dengan lembah kelima yang sekarang dikunjungi Theo.


Pada Lembah kelima, yang menyambut Theo sejak pertama kali masuk hanyalah kesunyian total. Theo masih bisa merasakan pancaran aura Kegelapan yang membekap seluruh area, hanya saja, ia sama sekali tak mendapati satupun keberadaan Demonic Beast penghuni Lembah.


Bahkan setelah Theo dengan sengaja menyebar aura Mana Cahaya intens, dimana biasanya akan efektif menarik perhatian serta kemarahan para Demonic Beast, itu ternyata tetap tak memberi perubahan apapun. Tak ada Demonic Beast kelas tinggi yang muncul.


Situasi keheningan total, tetap bertahan di sekitar wilayah Lembah. Sebuah situasi yang tentu saja membuat Theo justru merasa tak nyaman.


'Bocah! Apakah makhluk Kung-Peng itu belum memberi petunjuk apapun?' Tanya Ernesto sekali lagi. Memecah keheningan.


"Belum ada! Kung-Peng belum membuka tantangan apapun!" Tanggap Theo.


Theo sendiri, sedari tadi juga sedang menunggu suara Kung-Peng bergema di dalam kepalanya. Setidaknya memberi petunjuk tentang hal apa yang perlu ia lakukan di dalam Lembah Demonic Beast kelima ini. Karena dengan Kung-Peng membuka tantangan, Theo jelas akan mendapat petunjuk tentang apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kesunyian total yang cukup mencekam pada wilayah sekitar Lembah Demonic Beast terakhir.


"Sialan! Ini sungguh membuat tak nyaman!" Dengus Theo. Begitu tak menyukai situasi yang sedang ia hadapi saat ini.


Sampai tiba-tiba, ketika Theo masih mengamati lingkungan sekitar, berniat memperluas jangkauan dari sebaran aura pemindainya, satu pancaran aura Kegelapan pekat, mendadak muncul dan menyeruak dari suatu arah. 


"Hmmmm… Akhirnya!" Gumam Theo. Tanpa menunda segera bergerak menuju lokasi dimana aura pekat menyebar.


Lokasi itu sendiri, ternyata berada pada pusat Lembah, tepat di tengah Lembah, satu lokasi yang membuat Theo mengerutkan kening saat menyadari sesuatu.


"Bukankah lokasi ini biasanya…" 


*GRRRRRRR…..!!!!


Theo belum sempat menyelesaikan kalimat, sampai guncangan keras tiba-tiba menggetarkan area sekitar.


*Tapp…!!!


Memasang kewaspadaan penuh, Theo melompat mundur. Mengambil jarak cukup jauh dari lokasi semula ia berdiri.


*Booooommmm…!!!


Ledakan keras tiba-tiba terjadi. Dan bersama ledakan tersebut, luapan Mana Kegelapan yang sebelumnya sempat menyebar, berkembang menjadi semakin liar. Dalam gelombang besar memenuhi seluruh wilayah sekitar.


Peristiwa ledakan dahsyat Mana Kegelapan pekat, dilanjutkan dengan Menara misterius, mencuat keluar dari dalam tanah. Terus meninggi dengan kecepatan luar biasa. Hanya berhenti ketika sudah mencapai ketinggian yang bahkan menyentuh awan-awan diatas langit.


*Wuuungg….!!!!


Dengungan keras terdengar nyaring saat Menara misterius telah berhenti meninggi. Dengungan keras tersebut, menjadi pertanda dari sebuah portal ruang berukuran sangat besar, tercipta dipuncak menara. Terus memancarkan aura bertekanan tinggi dari dalamnya.


"ANAK MANUSIA!"


Sampai akhirnya, sebuah suara bentakan menggema dari dalam portal, membawa tekanan Mana Kegelapan begitu berat nan dahsyat pada tubuh Theo karena sosok yang menyerukan bentakan tersebut, tampak sedang sepenuhnya mengunci hawa keberadaan Theo.


"Sial! Kenapa makhluk ini sudah muncul? Aku belum mengalahkan Boss Lembah! Bahkan belum melakukan apapun!" Gumam Theo.


'Kau hanya akan membuang nyawa jika tantangan terakhir adalah harus mengalahkan makhluk ini!' Ucap Ernesto. Menyampaikan kalimat yang jelas semakin menambah rasa dingin di hati Theo.


"Diam kau roh mesum! Benar-benar tak membantu sama sekali!" Dengus Theo kesal. Seraya nenambah intensitas auranya. Berusaha menahan tekanan yang terbeban pada tubuh.


Begitu dahsyat aura milik Demonic Beast puncak yang ada di balik portal, itu bahkan membuat tubuh fisik Theo yang telah mencapai kelas Emperor tahap awal, masih merasakan tekanan begitu berat.


Theo masih menatap dengan sorot mata penuh ketajamam kearah portal, menunggu suara Kung-Peng untuk mengkonfirmasi tantangan selanjutnya, sampai Demonic Beast kelas puncak, kembali meneruskan kalimat.


"KAMI RAS DEMONIC BEAST DARI BENUA NERAKA ABADI, SUDAH MENYIAPKAN RENCANA SELAMA RATUSAN TAHUN, SAMPAI KAU, MUNCUL SECARA TIBA-TIBA, DENGAN BERANI MENGACAUKAN SEGALANYA!"


"TAK AKAN KUBIARKAN KAU MENGACAU LEBIH JAUH LAGI!"


*WOOOSHHHH….!!!!


Demonic Beast kelas puncak dibalik portal, menutup kalimat bentakan dengan menambah kepekatan aura. Kepekatan yang bahkan menyebabkan lingkungan sekitar mulai hancur berantakan. Sementara Theo yang menjadi target utama pancaran aura, saat ini mulai terhempas mundur. Meneteskan darah segar dari sela-sela mulut saat ranah jiwanya, mendapat goncangan cukup keras.


"Sial! Padahal ia hanya sekedar membentak!" Maki Theo. Segera menyebar aliran Mana Besi yang di tambah dalam selimut Mana Cahaya, untuk membekap seluruh tubuh. Berusaha mengurangi tekanan yang saat ini terbeban kearahnya.


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh…!!!


Theo masih berusaha menahan tekanan, sampai tiba-tiba, portal ruang dipuncak menara misterius, mulai bergetar hebat, diiringi dengan ratusan senjata aneh terlempar keluar dari dalam portal tersebut.


"Groooooaaaahhh…!!!"


"Kwaaakkk….!!!"


"Kiieeekkkkkk…!!!"


Terlemparnya ratusan senjata, disambut dengan suara raungan liar yang terdengar saling sahut menyahut diatas langit.


"Oe…! Kau bercanda bukan?" Gumam Theo. Saat melihat ratusan Demonic Beast kelas tinggi yang seluruhnya bertipe terbang, menerobos turun dari balik awan hitam pekat diatas Lembah.


Ratusan Demonic Beast berkelas Emperor tahap Bumi tersebut, segera meraih senjata-senjata yang terlempar keluar dari dalam portal. Dan bersama ratusan Demonic Beast tersebut menggenggam senjata, tingkatan kultivasi mereka seketika naik satu tingkat. Menjadi sekelas Emeperor tahap Langit.


Theo berakhir hanya bisa membelalakkan mata, tak mampu memberi komentar apapun. Bagaimana tidak, saat ini, tepat diatas langit, ia menatap ratusan Demonic Beast yang bisa dikatakan adalah Boss Lembah, sedang terjun menukik tajam. Seluruhnya mengunci kearah dimana Theo berada.


'Tantangan akhir Kastil Raja Dewa Air, kalahkan seluruh Boss Lembah, hancurkan menara portal terakhir. Dengan begitu, kau akan bisa mencegah Ras Demonic Beast puncak yang ada di Benua Neraka Abadi, menyebrang ke Benua Azure!"


'Selamatkan eksistensi Ras manusia di Benua Azure Tartarus Land, gagalkan rencana invasi Ras Demonic Beast puncak!'


Suara Kung-Peng, akhirnya terdengar menggema di dalam kepala Theo. Menyampaikan tantangan akhir.


"Kung-Peng! Kau benar-benar sesuatu!" Gumam Theo. Begitu mendengar detail dari tantangan pamungkas.


Theo yang awalnya tampak memasang raut tertegun menatap langit, seketika berubah tajam sorot matanya saat seringai lebar, mulai terpahat menghiasi wajah.


'Bocah! Apa tantangannya?' Tanya Ernesto, begitu mendengar Theo sempat menyebut nama Kung-Peng.


Ernesto tak bisa untuk tak menjadi cemas saat kini melihat Theo kembali memasang seringai lebar, dimana menurut Ernesto adalah sebuah seringai yang biasanya akan diiringi dengan tindakan ceroboh.