Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
196 - Gerel dan Nagini


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Boooommmm…!!!


*Booooommmm…!!!


*Booooommmm….!!!


"Tsaaaahhhh….!!!"


Nagini mengamuk, membawa kerusakan berat pada lingkungan sekitar. Puluhan Knight anggota Barbarian Tribe, terbantai dengan kejam. Beberapa mati tanpa anggota tubuh utuh. Darah segar serta ceceran daging, berserakan dimanapun sang Grey Snake bergerak.


Disisi lain, tak jauh dari lokasi Nagini mengamuk…


*Traaanggg…!!!


*Traaanggg…!!!


*Baaammmm…!!!


Gerel, bertarung sengit melawan Jongha. Hanya saja, nona muda Barbarian Tribe yang kini berbelok dalam panji Bandit Serigala tersebut, tampak sedikit berada pada situasi tersudut.


Bagaimanapun juga, Gerel adalah Emperor tahap awal, sementara lawan yang harus ia hadapi, adalah Emperor tahap Bumi. Kedalaman kultivasi Jongha bahkan sudah berada pada puncak Emperor tahap Bumi, tinggal selangkah untuk menerobos Emperor tahap Langit.


Dalam kondisi mulai tersudut, Gerel beberapa kali tampak melirik kearah dimana Nagini berada.


"Hmmmm…!"


Gerel saat ini menjadi bimbang. Sebelumnya di awal pertarungan melawan Jongha, Gerel bergerak bersama Nagini, bahu membahu dengan sang Guardian Beast, ia mampu mengimbangi, bahkan sedikit unggul terhadap pihak lawan.


Situasi berkembang menjadi tak menguntungkan ketika Gerel melihat gelombang pasukan Barbarian Tribe yang bergerak menyerang dari arah belakang pasukan Bandit Serigala, dengan cepat mulai merengsek masuk kedalam inti formasi medan pertempuran utama. Tak mampu di bendung oleh pasukan Bandit Serigala yang memang dalam situasi tak siap, terlebih lagi, banyak dari mereka juga sedang menderita luka, efek pertempuran sengit melawan pasukan Aliansi 7 Lautan.


Gerel yang merasa situasi akan berkembang semakin buruk bagi kelompok Bandit Serigala jika pasukan Barbarian Tribe terus bergerak masuk, akhirnya memutuskan untuk berusaha menghadang semampunya. Membagi kekuatan tempur dengan mengintruksikan Nagini bergerak sendiri untuk menghadang beberapa kelompok Barbarian Tribe.


Tindakan yang jelas menyebabkan ganti situasi Gerel yang berada dalam posisi tak menguntungkan. Tertekan balik oleh Jongha yang pada awalnya sempat ia ungguli.


*Slaaaassshhh…!!!


*Baaammmmm…!!!


Gerel yang sempat terbagi fokusnya untuk melihat kearah lokasi Nagini, berakhir terperangkap lengah, satu serangan menebas Jongha, mendarat pada lengan kanannya. Dilanjutkan dengan sebuah tinju berlapis atribut Mana Besi pekat, menghujam wajah.


"Goaaahhh…!!!"


Seteguk darah segar menyembur keluar dari dalam mulut Gerel. Sementara tubuhnya, sedikit terpental mundur.


"Hmmmm…!!!"


Gerel menatap tajam kearah pihak lawan setelah tubuh terpentalnya, kembali mendapat pijakan. Ia menyempatkan untuk mengusap sisa darah pada mulut, sebelum menekan erat luka tebasan di lengan.


"Nona muda, kenapa begitu keras kepala? Cukup diam dan perhatikan, dengan begitu, kau tak akan menerima luka apapun! Setelah semua urusan kami selesai, aku akan menjadi yang mengawalmu secara pribadi untuk pulang ke Tribe!" Ucap Jongha. Selepas mendaratkan serangan pada Gerel. Memasang senyum tipis nan licik.


"Pulang?" Gumam Gerel.


"Omong kosong macam apa yang kau katakan itu? Saat ini, aku sudah berada di rumah!" Lanjut Gerel.


"Katakan saja pada Sanghis sialan! Bahwa ia bisa mencoret namaku dalam silsilah keluarga! Mulai saat ini dan seterusnya, aku, Gerel, membuang nama Khan! Tak sudi lagi dianggap bagian dari Barbarian Tribe!"


"Kelompok Bandit Serigala, adalah tempat bagiku untuk pulang!" Tutup Gerel. Sembari menusuk beberapa garis Meridian pada sekitar luka lengan kanannya. Secara paksa menghentikan pendarahan yang terjadi pada luka tersebut.


Tindakan yang tentu saja menyebabkan Gerel harus menanggung rasa sakit teramat sangat.


Hanya saja, di bawah tatapan remeh Jongha, Gerel menolak untuk berteriak kesakitan. Ia hanya dengan keras menggertakkan gigi-giginya. Menahan sekuat mungkin rasa sakit yang mendera lengan kanan.


Setelah beberapa saat, ketika rasa sakit mulai mereda, Gerel melepas tekanan tangan kiri pada lengan kanan, ganti kembali mengeraskan genggamam pada dua senjata cakram kembar andalannya.


"Wahhh… Sungguh keteguhan yang patut mendapat apresiasi! Kulihat kau sekarang telah berkembang cukup baik dalam masalah mental!" Ucap Jongha, saat melihat tatapan penuh tekad dari sorot mata Gerel.


"Hanya saja, keteguhan yang tak diiringi dengan logika, justru akan menjadi sebuah malapetaka! Kau jelas cukup bodoh jika menganggap itu akan cukup menghentikan kami hanya dengan mengandalkan semangat! Hahahaha…!" Lanjut Jongha. Kembali melontarkan kalimat bernada ejekan kepada Gerel.


"Lihatlah sekitar!" Tutup Jongha. Sembari membuat gerakan penuh kepercayaan diri, merentang kedua tangan.


Disisi lain, mendengar kata-kata Jongha, Gerel justru menyambut dengan semakin mempertajam tatapan matanya. Sosok tubuh tak bernyawa Meirin yang berada pada salah satu sudut medan pertempuran, semakin menambah adrenalin pada tubuh Gerel bergerak kencang. Percampuran antara keteguhan dan amarah, berkecamuk dalam tatapan mata Gerel.


"Aku mungkin tak bisa mengalahkanmu untuk saat ini. Namun, aku memang tak perlu untuk melakukannya!"


"Cukup menahan sampai orang itu kembali!" Dengus Gerel, seraya kemudian, melakukan gerakan menerjang cepat.


Derak aliran Mana Lumpur pekat, menderu liar pada tiap pijakan kaki menerjang Gerel. Menyebabkan satu fenomena janggal dimana setiap ia memijak tanah, Mana Lumpur akan menyiprat kesegala arah. Cipratan yang dengan aneh mengaburkan sosok keberadaan Gerel.


"Hmmmm… Teknik Gerakan Langkah Genangan Lumpur! Salah satu teknik eksklusif keluarga Khan Barbarian Tribe!" Gumam Jongha. Mulai menajamkan visi-nya. Tampak tak lagi memasang raut meremehkan.


Hanya saja, meski Jongha tak lagi meremehkan, kepercayaan diri, masih terpancar jelas pada sorot matanya.


"Datanglah!" Seru Jongha.


*Traaanggg…!!!


Seraya menggesek dua lengannya yang berlapis Mana Besi pekat.


*Tappp…!!!


*Pyaakkk…!!!


Bersama suara benturan antar logam yang baru di buat Jongha, langkah menerjang Gerel juga bergerak semakin cepat. Gadis itu terlihat dalam sekelebat cepat bergerak pada lokasi acak di sekitar Jongha berdiri.


Cipratan-cipratan Mana Lumpur yang mengiringi pergerakan Gerel, menciptakan efek seperti sosoknya muncul pada beberapa lokasi secara bersamaan. Mengaburkan lokasi dimana Gerel yang asli sedang berada.


*Taapp…!!!


*Taapp…!!!


*Taaappp…!!!


Beberapa suara pijakan terdengar saat beberapa sosok Gerel yang sempat bergerak acak di sekitar, akhirnya serentak menerjang kearah Jongha.


*Slaaaassshhh…!!!


*Slaaaassshhh…!!!


*Slaaaassshhh…!!!


Suara pijakan, dilanjutkan dengan suara beberapa tebasan.


*Dentang…!!!


Diakhiri dengan satu suara benturan keras antar logam saat senjata cakram Kembar Gerel, menebas sisi punggung Jongha. Hanya satu tebasan yang mendarat, karena beberapa tebasan lain yang menyasar leher, tangan, dan dada, sekedar pengalih perhatian, serangan kosong sosok palsu bayangan Gerel.


"Hmmmm…!!! Teknik Gerakanmu memang luar biasa, sejujurnya aku bahkan tak mampu menangkap kemana serangan yang sebenarnya akan mendarat!" Gumam Jongha.


"Hanya saja, itu akan percuma memiliki teknik gerakan hebat tapi tak diiringi dengan teknik serangan yang seimbang!" Lanjut Jongha, seraya membuat gerakan mengayun lengan siku kebelakang.


*Baaammmm…!!!


Serangan siku Jongha, mendarat tepat pada pelipis Gerel yang sempat berusaha meneruskan serangan tambahan, dengan tebasan pada leher.


Gerel kembali terpental, darah segar mengalir pada pelipisnya.


"Seranganmu yang bahkan tak bisa menembus tubuh fisikku, menjadikan teknik gerakan yang kau miliki menjadi sebuah kesia-siaan! Aku hanya cukup menunggu kau datang untuk melancarkan serangan! Sebelum membalas dengan serangan balik!" 


"Nona muda, kau tahu itu percuma jika pertarungan ini terus dilanjutkan! Berhenti menyiksa diri!" Ucap Jongha.


"TSAAAAHHHH…!!!"


Tepat ketika Jongha menyelesaikan kalimatnya, teriakan lantang Nagini tiba-tiba terdengar. Sebuah teriakan yang jelas mengandung keluhan rasa sakit.


Mendengar teriakan Nagini, Gerel tentu saja segera menoleh untuk melihat apa yang terjadi.


"Kalian…!" Gumam Gerel, dengan nada menekan saat melihat apa yang terjadi.


Pada lokasi dimana sebelumnya Nagini sedang mengamuk, beberapa Knight kelas tinggi anggota satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe, tampak sedang bekerjasama melakukan teknik segel. Merantai Sang Grey Snake dalam balutan rantai Mana Besi pekat yang terkombinasi dengan aura tak biasa.


"Hahahhaha…! Apa kau lupa, siapa yang selalu membereskan ketidak-kompetenanmu dalam mengendalikan Nagini?" Ucap Jongha.


"Itu adalah kami, satuan elite penjaga Khan yang selalu mendapat tugas menahan Nagini tiap kali ia mengamuk!" Tutup Jongha. Kembali memasang raut wajah percaya diri. Cenderung sombong.