Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
139 - Portal Keenam


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Sekarang, silahkan pilih takdir masing-masing!" Tutup Kung-Peng. Sebelum sosoknya seketika lenyap.


"Baiklah! Itu tandanya!" Ucap Sinbad. Kemudian menoleh kearah Dante.


"Aku duluan! Dan seperti biasa, tolong jangan mati! Itu akan membosankan tanpamu berada di sekitar! Hahahhaha…!" Sinbad menutup kata-kata dengan tawa lantang. Bersama dengan itu, tanpa menunda ia bergerak memasuki salah satu dari dua portal ruang yang berada pada posisi tengah diantara enam portal.


"Hmmmm… Sepertinya kawanmu itu memiliki obsesi berlebihan terhadap sebuah petualangan yang menantang!" Ucap Theo. Tepat ketika portal ruang yang di masuki oleh Sinbad, telah sepenuhnya menutup.


"Bukan berlebihan! Tapi maniak!" Jawab Dante. Seraya mulai melirik kearah Razak.


"Bocah, berhati-hatilah! Karena di dalam sana, senjata dengan roh Bunga Udumbara, tak bisa di pakai!" Ucap Dante.


Tanpa menunggu balasan dari Razak, ia segera melompat masuk kedalam portal ruang sebelah Sinbad. Menyisahkan kini masing-masing dua portal ruang pada sisi kanan dan kiri yang belum dipilih.


"Boss…! Sebaiknya aku ambil yang mana?" Tanya Razak.


"Terserah! Seperti kata Kung-Peng, biar takdir yang membimbing!" Jawab Theo.


"Namun, karena Gauntlet Ganda milikmu kehilangan fungsinya di dalam sana, aku akan memberi beberapa bekal yang mungkin bisa kau gunakan ketika sedang dalam situasi terdesak!" Lanjut Theo. Seraya melempar sebuah Spacial Ring kepada Razak.


"Hella! Kau juga!"


Theo melempar satu Spacial lain untuk Hella.


"Sumberdaya seperti Mutiara Mana dan juga Pill obat, bisa kalian gunakan kapan saja! Ada dalam jumlah cukup banyak! Selain itu, aku juga menambah item tambahan yang bisa dikatakan cukup curang! Hahhaha…!" Ucap Theo.


"Item?" Gumam Hella. Seraya memeriksa isi Spacial Ring.


"Ahhh… Apakah ini boleh?" Tanya Hella, memasang raut wajah terkejut sesaat setelah menemukan item yang di maksud oleh Theo.


Raut wajah yang sama, juga ditampilkan oleh razak.


"Mereka bukan dari abad kekosongan! Jadi seharusnya boleh!" Tanggap Theo. Mulai memasang senyum tipis.


Di dalam Spacial Ring milik Hella sendiri, Theo meletakkan Raja Naga Hitam. Sementara pada Razak, itu adalah Raja Serigala Hitam bersama seluruh Serigala Metalik kawanannya.


Entah kapan Theo menarik kembali para Boneka Bernyawa dari atas medan pertempuran. Yang jelas, untuk saat ini semua Boneka Bernyawa telah berada di dalam Spacial Ring yang di beri pada Hella dan Razak.


"Baiklah! Jika benar-benar sudah siap, kalian boleh memilih dan masuk terlebih dahulu!" Ucap Theo.


"Aku sudah siap dari tadi!" Ucap Razak. Meskipun tubuhnya saat ini memiliki banyak luka tebasan dari duel melawan Dante, bocah tersebut seperti tak sedang merasakan sakit. Begitu bersemangat untuk segera melompat masuk pada salah satu portal ruang sebelah kanan.


"White Fang!"


Sementara Hella, menyempatkan menstabilkan ranah jiwa untuk beberapa saat. Sebelum memanggil keluar White Fang.


Menggenggam erat tombak es, Hella menaiki White Fang, masuk pada portal ruang ujung paling kanan. Tepat disebelah Razak. Menyisahkan hanya dua portal ruang di sebelah kiri masih aktif.


"Kenapa kau dari tadi hanya diam?" Ucap Theo. Saat dalam ruangan, kini cuma dirinya dan Iris yang tinggal.


"Hmmmm…"


Mendengar pertanyaan Theo, Iris hanya mendengus pelan. Tak tahu harus bersikap atau menjawab seperti apa.


"Kau biasanya cukup banyak bicara!" Lanjut Theo.


"Aku tidak!" Ucap Iris lirih. Pada akhirnya menanggapi Theo.


"Beban seorang Nona muda Kelompok besar! Terlebih memiliki kakak seperti halnya Fairley!" Ucap Theo.


"Jangan menghinanya! Bagaimanapun juga, seperti apapun dia, Fairley tetap kakakku!" Tanggap Iris.


"Ohhh… Seandainya kau tau beberapa saat yang lalu, aku hanya terpisah dengan detik untuk memenggal kepalanya!" Ucap Theo. Seraya memasang satu senyum tipis.


"Kau… Beraninya!"


*Tap…!!


Namun, reaksi marah Iris, justru disambut oleh Theo dengan malah berjalan mendekat.


"Hella dan Gerel! Juga merupakan nona muda dari 10 Biggest Knight Group!" Ucap Theo. Masih berjalan mendekat.


"Tak seperti dirimu, keduanya memutuskan untuk lepas dari bayangan Kelompok masing-masing! Gerel meninggalkan Barbarian Tribe! Sementara Hella, House of Asgard! Mereka berpetualang untuk pada akhirnya, memilih dengan hati menjadi bagian dari kelompok Bandit Serigala!"


"Dan kau tahu? Apa yang di dapat dari dua orang ini yang telah membebaskan dirinya? Memerdekakan diri dari kungkungan belenggu satu hal yang disebut kedudukan feodal warisan keluarga?" Tanya Theo. Kini telah sampai tepat dihadapan Iris. Menatap tajam pada dua mata Iris dalam jarak sangat dekat.


"Gerel dan Hella, mulai mengukir legenda mereka sendiri! Hanya nama mereka yang kelak akan diingat! Orang tak akan mempertanyakan lagi dari keluarga mana mereka berasal! Legenda mereka, akan diukir sepenuhnya dengan kedua kepalan tangan milik sendiri!"


"Sementara kau, dan orang-orang seperti Fairley, sejauh apapun kalian terbang, itu tetap Eleanor Tribe yang akan di kenal! Kelompok-kelompok besar dibelakang kalian yang akan dianggap berperan atas pencapaian tersebut!"


"Kami, para Serigala liar, mengukir legenda masing-masing!" Tutup Theo. Dengan tatapan mata penuh ketajaman yang mempesona.


Kata-kata Theo, seketika menyebabkan Iris tertegun. Ia tampak ingin membuat satu langkah mundur kebelakang. Tapi, kedua kakinya, seolah tertancap pada lantai ruangan. Iris tak mampu menarik tatapan matanya untuk terus melihat sorot mata Theo. Benar-benar terpesona. Kemarahannya seketika lenyap. Diganti dengan detak jantung yang berdebar kencang oleh perasaan lain.


Sampai kemudian…


*Tap…


Secara tiba-tiba, Theo menarik tangan Iris.


"A-apa…"


Tindakan yang tentu saja membuat gadis tersebut semakin salah tingkah. Rona wajahnya memerah.


"Hanya memberi hadiah dan beberapa item pinjaman!" Ucap Theo. Menaruh Spacial Ring di telapak tangan Iris. Seraya kembali melepas tangan gadis tersebut.


Tindakan Theo, kembali membuat Iris tertegun. Raut wajah gadis itu terlihat antara malu dan sedikit kecewa. Tampaknya, yang tadi dilakukan oleh Theo tak sesuai dengan ekspektasi-nya.


"Ini…"


Iris terlihat ragu menerima Spacial Ring. Ingin mengembalikan, namun dilain sisi juga ingin menyimpan hadiah tersebut.


"Jangan menolak! Di dalam Spacial Ring itu, aku meletakkan satu item khusus yang cukup kuat! Kau boleh memanggilnya Panglima Cinta-Kasih! Ia akan menuruti semua perintahmu untuk sementara waktu!" Ucap Theo. Seraya mulai membalikkan badan untuk melihat kearah portal ruang.


"Bagaimanapun juga, dari keenam orang, kau adalah yang paling lemah!" Tutup Theo. Bergerak cepat memasuki portal ruang di ujung paling kiri. Meninggalkan Iris yang untuk sekali lagi tak memberi tanggapan apapun.


Iris, hanya terdiam memandangi Spacial Ring. Sebelum ganti melihat kearah punggung Theo.


Gadis itu masih tertegun menatap portal ruang Theo yang mulai menutup untuk beberapa saat. Sampai kemudian, ia mengambil nafas panjang. Memasang raut wajah tegas, Iris bergerak memasuki portal ruang tersisa.


***


(Dimensi ruang misterius)


Theo yang baru memasuki portal ruang, saat ini merasa tubuhnya seperti sedang tercabik-cabik. Begitu sakit.


"Sialan! Kemana ujung portal ruang ini mengarah? Kenapa sensasi tarikan Mana Ruang-nya begitu dahsyat!" Gumam Theo. Yang sebenarnya sudah berpengalaman memasuki portal ruang beberapa kali. Namun tak merasakan hal sama seperti yang ia alami sekarang.


*Woooshhhh…!!!


Theo mulai memejamkan mata, benar-benar tak kuasa menahan rasa sakit. Sampai tiba-tiba, sebuah sentakan keras, melempar tubuhnya.


*Baaammmm…!!!


Tubuh Theo, terhujam pada sebuah area tebing.


"Uhuuukkk…!!"


Theo membuka mata, hanya untuk menyadari bahwa dirinya kini berada di dunia yang sepenuhnya asing.


Dunia yang begitu pekat dengan aliran Mana Kegelapan tersebar dilokasi manapun sepanjang mata memandang.


'Sosok pilihan takdir yang mengambil portal ke-enam! Selamat datang di Tartarus Land!' Ucap suara Kung-Peng. Menggema di dalam kepala Theo.


"Tartarus Land?" Gumam Theo.


-----


Note :


Cuma mengingatkan, besok hari minggu, jadi update chapter terbaru hanya ada pada pukul 23.00 WIB.