
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
"Hahhahha…! Apa-apaan tatapan mata serta kalimat kosongmu itu? Tidak sadarkah kau tentang situasi yang ada sekarang?" Tanya sang tetua, semakin mengeratkan genggaman tangan pada kepalan tinju Feizel yang ia tahan.
"Sangat sadar!" Gumam Feizel.
*Woooshhhh…!!
Tepat ketika Feizel selesai bergumam, satu aura kuat Emperor tahap awal, bergerak cepat mendekat sembari membawa gelombang berderak teknik serangan intens.
"Hmmmm…!!!"
Sang tetua yang tentu saja merasakan datangnya serangan, menyempatkan untuk melirik kearah sumber aura untuk sesaat, sebelum dengan tanggap segera akan melakukan aksi menghindar.
*Graakk…!!!
Akan tetapi, tepat ketika ia baru melepas genggaman pada kepalan tinju Feizel, dengan cepat ganti Feizel yang mencengkram pergelangan tangannya erat.
"Mau kemana?" Gumam Feizel. Dengan intonasi nada yang ditekan.
"Hmmmm… Kau cari mati!" Dengus sang tetua. Menghimpun aliran Mana Angin intens pada kepalan tangan.
*Woooshhhh…!!!
*Bammmm….!!!
Sang tetua, melepas pukulan berintensitas Mana Angin dahsyat tepat pada wajah Feizel.
"Goooahhh…!!!"
Feizel kembali memuntahkan darah segar, kepalanya terdorong kebelakang. Namun, raut wajah Feizel, sama sekali tak berubah. Menatap tajam penuh kebengisan kearah Tetua Eleanor Tribe. Justru semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Keras kepala!" Bentak Tetua Eleanor Tribe, terlihat akan kembali menghujamkan pukulan.
Namun….
*Booooommmm…!!!
Ledakan Mana yang terhempas setelahnya, bukan berasal dari hujaman Tetua Eleanor Tribe pada wajah Feizel. Melainkan ledakan Mana Api dahsyat yang mendarat pada punggung sang Tetua.
Sanir yang juga memasang ekspresi wajah marah. Berhasil melancarkan serangan telak. Menambah luka pada punggung sang Tetua yang sebelumnya juga sempat menerima serangan menyelinap dahsyat dari Feizel.
"Goooahhh…!!!"
Serangan Sanir, berhasil melukai Tetua Eleanor Tribe. Mengguncang ranah jiwanya. Sang tetua menyemburkan darah segar pada wajah Feizel.
Feizel sendiri, tampak sama sekali tak terganggu dengan semburan darah sang Tetua. Mempertahankan raut wajah bengisnya.
*Kraaakkk…!!!
Ia mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan Tetua Eleanor Tribe untuk beberapa saat. Meretakkan pergelangan tangan tersebut ketika Feizel menyebar aliran Mana Besi padat yang panas membara pada kepalan tangan.
Sampai akhirnya, menggunakan tangan kiri yang masih bebas. Feizel menghujam lengan Tetua Eleanor Tribe.
*Bammmm…!
*Kraaakkk…!!!
Tulang pada lengan tersebut segera remuk, tak berhenti hanya dengan meremukkan, Feizel melanjutkan aksi dengan menarik keras lengan. Merobek lengan hingga putus.
"Aaaarrgghhhhh….!!! Kau ba*jingan!"
Sang tetua, berteriak kesakitan, menjadi begitu marah dan berniat melancarkan serangan menggunakan tangan kiri.
*Woooshhhh…!!!
Sementara Feizel sendiri, justru mulai jatuh kehilangan kesadaran.
*Slaaaassshhh…!!!
Namun, lagi-lagi Sanir yang juga berada di lokasi, mendahului sang Tetua, wanita itu bergerak cepat, menggunakan salah satu senjata rahasia miliknya, menebas lengan lain Tetua Eleanor Tribe.
"Aaaarrgghhhhh….!!!"
Tetua Eleanor Tribe yang kedua lengannya terputus, berteriak keras menahan rasa sakit.
*Slaaaassshhh…!!!
Teriakan sang Tetua, hanya terhenti dan berubah menjadi erangan yang terdengar begitu memilukan saat Sanir melanjutkan aksi dengan menebas leher.
*Baaammmm…!!!
Sanir menutup aksi dengan melancarkan sebuah tendangan, melempar tubuh tragis Tetua Eleanor Tribe, kembali masuk kedalam formasi pertahanan Kelompok Bandit Serigala.
Sang Tetua, berakhir menjadi bulan-bulanan serangan serempak seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang berada pada posisi terhujam tubuhnya.
Sementara Sanir, segera memapah tubuh tak sadarkan diri Feizel. Berniat untuk membawanya masuk kedalam formasi pertahanan kelompok.
"Hati-hati…!!"
Namun, tepat ketika Sanir akan mulai bergerak, teriakan peringatan Guan Zifei kembali terdengar.
*Woooshhhh…!!!
*Baaammmm…!!!
*Bammmmmm…!!!
Bersama teriakan tersebut, dua Tetua Eleanor Tribe lain, bergerak menerjang. Mendaratkan pukulan serempak pada punggung Sanir. Menyebabkan Sanir bersama Feizel yang ia papah, terhujam keras membentur formasi pertahanan Bandit Serigala.
*Woooshhhh…!!!
Dua Tetua yang baru datang dengan memasang raut wajah marah karena sempat melihat bagaimana nasib salah satu kawannya, kembali menerjang. Berniat mengejar tubuh terlempar Sanir dan Feizel.
*Baaaammm…!!!
Namun, di tengah situasi mencekam bagi Sanir dan Feizel, Guan Zifei yang sebelumnya sempat tertahan karena harus mengkoordinir formasi pertahanan di lokasi lain, bergerak cepat menghalau. Berhasil menahan laju terjangan dua tetua Eleanor Tribe.
"Amankan mereka berdua!" Seru Guan Zifei. Memberi intruksi agar anggota Bandit Serigala, melindungi Sanir dan Feizel yang kini berakhir tak sadarkan diri. Terluka parah.
"Sebagai orang yang sepertinya bertanggung jawab atas koordinasi seluruh pasukan, kau sepertinya tak terlalu kompeten!" Gumam salah satu Tetua Eleanor Tribe. Saat melihat Guan Zifei meninggalkan posisi untuk bergerak kesisi lain.
"Hmmmm…!!"
Kata-kata sang Tetua, hanya disambut oleh Guan Zifei dengan dengusan. Karena bagaimanapun juga, yang disampaikan oleh pihak lawan sebenarnya memang tepat. Pilihan Guan Zifei dimana memutuskan untuk bergerak melindungi Sanir dan Feizel, menyebabkan koordinasi formasi pertahanan disisi lain menjadi kacau. Formasi pertahanan Bandit Serigala, berhasil di tembus oleh gelombang besar pasukan Eleanor Tribe.
"BANDIT SERIGALA…!!!!"
Dalam situasi kacau, Guan Zifei yang sempat terdiam, tiba-tiba berseru lantang.
"KELUARKAN SEMUA YANG KALIAN PUNYA! HABISI MUSUH SEBANYAK MUNGKIN!"
"JIKA MEMANG HARUS MATI DISINI, KITA TUNJUKKAN APA ITU NERAKA PADA MUSUH YANG BERDIRI DI HADAPAN KITA! BAWA SEBANYAK YANG KALIAN BISA UNTUK IKUT BERTEMU DEWA KEMATIAN!" Seru Guan Zifei lantang. Dengan suara berapi-api.
Bersama dengan seruan tersebut, teriakan-teriakan perang segera membahana. Seluruh anggota kelompok Bandit Serigala, berubah menjadi seperti orang gila. Menerjang dan membunuh tiap lawan yang ada disekitar tanpa memperdulikan serangan balik yang menghujam tubuh masing-masing.
Sementara Guan Zifei sendiri, segera bergerak menerjang kedepan. Menghadapi dua orang Tetua Eleanor Tribe berkelas Emperor tahap awal, hanya seorang diri.
Guan Zifei yang tampak juga menjadi kesetanan, secara mengejutkan mampu mengimbangi dua lawan berkelas yang sama untuk beberapa waktu. Meskipun memang berakhir mendapat banyak luka. Situasi baru berubah ketika secara tiba-tiba, Tetua lain bergerak menerjang.
*Booooommmm…!!!
Guan Zifei meneteskan darah segar dari sela mulutnya saat berhasil menahan serangan tiba-tiba yang menghujam kepadanya. Menatap dengan sorot mata teguh tanpa rasa takut sama sekali ketika untuk saat ini, berakhir harus berhadapan dengan tiga Tetua Eleanor Tribe sekaligus.
"Jika memang harus mati, itu akan layak bagiku mati untuk kelompok ini!" Gumam Guan Zifei. Menajamkan tatapan matanya untuk beberapa saat. Mengeraskan genggaman pada senjata tombak ramping kesayangannya, sebelum akhirnya justru menjadi yang pertama mengambil inisiatif serangan. Menerjang kearah satu dari tiga Tetua Eleanor Tribe.
*****
(Lokasi lain, medan pertempuran utama)
*Tsaaaahhhh…!!!"
Nagini yang telah berubah kedalam mode Transformasi, saat ini sedang mengamuk. Menyerang siapapun pihak Barbarian Tribe yang berada dekat dengan lokasinya.
Sedangkan Gerel yang berada tak jauh dari lokasi, terlihat masih bertarung dengan intens melawan Jongha. Pemimpin satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe.
Dengan hanya Gerel dan Nagini yang memiliki kekuatan cukup untuk menahan pihak lawan, dimana jelas tak mampu menghadang pergerakan gelombang besar pasukan Barbarian Tribe, Kelompok Tribe tersebut yang melakukan serangan menyergap, akhirnya perlahan mulai berhasil merengsek masuk wilayah bagian dalam medan pertempuran utama. Membantai banyak anggota Bandit Serigala dalam prosesnya.
Pada wilayah pertempuran ini sendiri, yang memegang otoritas tertinggi Kelompok Bandit Serigala adalah Zhou Kang. Ia bergerak mengatur koordinasi pertahanan setelah menempatkan tubuh tak sadarkan diri Zota, pada dek kapal Glory Land Warship.
Hanya saja, meskipun Zhou Kang telah bekerja keras, itu masih belum cukup untuk menghadang gelombang pasukan pihak lawan. Anggota Bandit Serigala, mulai tersudut pada satu titik. Yakni sekitar Glory Land Warship.
"Habisi semua! Jangan sisakan satupun bertahan hidup!" Seru salah satu wakil pemimpin pasukan elite penjaga Khan Barbarian Tribe.
Bersama seruan tersebut, seluruh anggota Barbarian Tribe, bergerak semakin brutal melakukan pembantaian. Sampai kemudian, ketika situasi berkembang buruk bagi kelompok Bandit Serigala…
*Woooshhhh….!!!
Aliran hawa aura yang begitu menekan, tersebar luas dari arah Glory Land Warship.
"Aku sebenarnya tak ingin terlalu ikut campur, hanya saja, jika ada yang berani semakin mendekat pada Kapal Perang, bersiap untuk kehilangan kepala!"
Sosok Sasi, berdiri diatas tiang layar utama Glory Land Warship. Menatap tajam pada lautan musuh di sekitar, sembari terus memancarkan aura berat yang tak biasa dari dalam tubuhnya.