Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
214 - Hadiah Tangan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


(Dek Glory Land Warship)


Theo sedang sibuk memimpin divisi medis untuk melakukan perawatan pada seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang mengalami luka serius, sampai tiba-tiba, sosok Sasi muncul diatas tiang layar utama kapal perang. Menenteng tubuh penuh luka Jongha dengan tangan kiri.


*Baaammmm…!!!


Dengan raut wajah datar, Sang Goblin Kemudian melempar keras tubuh tak berdaya Jongha pada salah satu sudut dek Glory Land Warship yang masih kosong.


"Goooahhh….!!!"


Jongha yang kedua lututnya telah patah, segera memuntahkan banyak sekali darah segar begitu tubuhnya menghujam keras.


Hanya saja, meskipun Jongha jelas sudah berada dalam situasi tak ada harapan, tatapan matanya masih mempertahankan sorot tak kenal takut.


Dengan gerakan penuh amarah, salah satu sosok penting Barbarian Tribe tersebut, memaksa tubuhnya untuk melakukan gerakan menyentak dek kapal perang dengan tangan kanan, sementara tangan kiri, berniat melayangkan pukulan pada salah satu anggota kelompok Bandit Serigala yang kebetulan terkapar di dekat Jongha.


*Baaammmm…!!!


Hanya saja, Jongha bahkan belum menempuh setengah jarak sampai Sasi tiba-tiba muncul untuk memberi injakan yang mematahkan tangan kiri Jongha.


"Aarggghhh…!!!"


Jongha, mengerang kesakitan, namun menolak untuk berteriak. Justru secara putus asa mencoba menyerang Sasi dengan tangan kanan yang masih dalam kondisi baik.


Tindakan Jongha nyatanya bahkan tak mendapat reaksi apapun dari Sang Goblin. Sasi hanya diam menatap dengan wajah datar kearah pihak lawan.


*Slaaaassshhh…!!!


Sampai kemudian, satu tebasan tajam, melaju cepat hanya dalam hitungan sepersekian detik. Tanpa belas kasih memotong hingga putus lengan kanan Jongha.


*Baaammmm…!!!


Sasi, segera membuat gerakan tangan mengayun, menampis potongan tangan Jongha yang masih sempat melaju kearahnya. Menampis dengan gerakan seolah sedang menyingkirkan kotoran agar tak mengenai tubuhnya.


"Lebih baik kau diam disana sampai aku memutuskan bagaimana harus mengurusmu!"


Suara Theo, dimana membawa intonasi nada begitu dingin, tiba-tiba terdengar. Itu adalah Theo yang baru saja menebas tangan kanan Jongha hingga putus.


Hanya saja, meskipun Theo mengucapkan beberapa kata, ia sama sekali tak menoleh kearah Jongha. Sama sekali tak memberi penghormatan apapun pada pemimpin kelompok elite penjaga Khan Barbarian Tribe tersebut. Theo memunggungi Jongha, fokus memberi perawatan pada luka-luka serius di tubuh Gerel.


Bahkan dari nada bicaranya, terdengar seolah Theo sedang berbicara dengan sampah tak penting.


Situasi penuh penghinaan yang di terima Jongha, semakin bertambah parah saat sebagian besar sosok penting Kelompok Bandit Serigala, mulai berdatangan diatas dek Glory Land Warship. Telah menyelesaikan perburuan masing-masing.


Tiap-tiap anggota yang kini berada diatas dek Glory Land Warship, menatap rendah pada sosok Jongha yang sedang terjerembab dalam posisi tengkurap. Bersimbah darah segar yang terus mengalir pada luka tebasan tangan kanannya.


Dada Jongha, segera penuh sesak oleh amarah dan kebencian. Sebagai salah satu sosok terpenting Barbarian Tribe, Kelompok Knight yang merupakan satu dari 10 Biggest Knight Group, Jongha tentu belum pernah berada dalam situasi direndahkan sedemikian rupa.


Dengan wajah memerah, Jongha tampak beberapa kali berusaha keras membalik tubuhnya agar tak terus berada dalam posisi memalukan. Hanya saja, dengan segala luka yang ia terima, itu jelas merupakan tindakan penuh penyiksaan saat ia terus melakukan upaya membalik tubuh.


Jongha, ketua satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe yang terhormat, berakhir menggeliat penuh keputusaan dibawah injakan kaki Sasi.


"Kau jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan Boss Besar Bandit Serigala! Jadi, lebih baik diam! Atau sekalian kupatahkan juga tulang punggungmu!" Gumam Sasi. Masih dengan raut wajah datar.


Situasi kemudian berkembang menjadi sedikit tenang. Setiap orang, masih menunggu intruksi selanjutnya dari Boss Besar mereka. Hanya suara-suara tim medis yang kini terdengar diatas dek Glory Land Warship.


Situasi tenang bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian, satu pendaratan keras menghujam dek Glory Land Warship.


*Bammmmm…!!!


Thomas, mendarat diatas dek kapal perang sembari memainkan beberapa Spacial Ring pada tangan kanannya.


"Ohhh, Thomas! Apa yang membuatmu begitu lama? Bahkan Darsa yang bergerak pada posisi paling luar Medan Pertempuran, sudah kembali sedari tadi!" Tanya Cassio. Sembari memasang raut wajah penuh minat pada Spacial Ring yang dimainkan si Gendut.


"Hanya menyempatkan untuk mengumpulkan beberapa hadiah tangan!" Jawab Thomas. Sebelum melempar beberapa Spacial Ring yang sedari tadi ia mainkan, pada laut beku di sebelah Glory Land Warship bersandar.


Dan bersama lemparan si Gendut, gunungan hal tak terduga, mencuat keluar dari dalam beberapa Spacial Ring yang ia lempar. Begitu banyak dan menggunungnya apa yang terlempar keluar dari dalam Spacial Ring, itu bahkan bisa dilihat oleh Jongha yang melirik diatas Glory Land Warship.


Jongha, segera memasang raut wajah terkejut, tampak semakin marah begitu melihat apa yang sebelumnya di sebut Thomas sebagai hadiah tangan.


Karena apa yang menggunung diatas laut beku, bukanlah hadiah tangan secara permainan kata, melainkan memang adalah hadiah tangan dalam arti yang sesungguhnya.


Ribuan lengan anggota kelompok Barbarian Tribe, tertumpuk dalam gunungan tinggi di hadapan Jongha.


"Yahh, bagaimanapun juga, kita adalah Bandit, jadi jelas aku tak akan membiarkan ribuan Spacial Ring dari mayat-mayat lawan yang berserakan, lepas begitu saja!" Ucap Thomas. Sama sekali tak perduli dengan raut wajah marah Jongha. Berjalan perlahan kearah salah satu sudut dek Glory Land Warship.


"Benar begitu?" Tanya Thomas kemudian, menatap kearah Cassio yang sempat bertanya. Sembari memungut sesuatu pada lantai dek di bawah kakinya.


"Hahahhahaha…! Harus kuakui, aku benar-benar terkesan! Kau sungguh menarik! Kita harus lebih sering menghabiskan waktu untuk minum-minum bersama!" Jawab Cassio.


Sementara Jongha, dimana sebelumnya masih memasang wajah marah, kini berubah kosong tatapan matanya begitu melihat apa yang dipungut si Gendut.


"Wahhh, yang ini pasti menyimpan banyak sekali Sumberdaya berharga!" Ucap Thomas. Seraya memainkan lengan kanan Jongha. Dimana terpasang dua buah Spacial Ring pada jari-jari nya.


Sebelum dengan raut wajah berubah bengis, Thomas melempar lengan Jongha, pada tumpukan menggunung lengan-lengan lain anggota Kelompok pasukan Barbarian Tribe.


"Gendut! Berhenti main-main!" Ucap Darsa. Segera memerintahkan para anggota Bandit Serigala yang ada di sekitar Glory Land Warship, untuk melepas tiap Spacial Ring pada lengan-lengan pasukan Barbarian Tribe.


"Hmmmm… Setelah selesai, bakar gunungan sampah itu! Kita buat api unggun raksasa untuk menghangatkan malam!" Seru Thomas lantang. Melirik tajam kearah Jongha. Jelas ingin semakin menambah beban mental pria malang tersebut.


**** 


(Malam hari)


Api unggun raksasa, membumbung tinggi, membawa aroma menyengat dari daging-daging yang terbakar.


Seluruh anggota biasa kelompok Bandit Serigala, ditambah dengan para Perompak Aliansi 7 Lautan, tampak berkumpul di sekitar api unggun.


Sosok-sosok penting dua kelompok sendiri, saat ini sedang berada diatas dek Glory Land Warship. Situasi cukup lenggang diatas dek karena anggota yang terluka, telah dipindahkan ke dalam ruang-ruang bagian dalam Glory Land Warship.


Sinbad, Dante, dan juga beberapa Naga Aliansi 7 Lautan yang masih hidup, mengambil satu sudut dek, bersebelahan dengan para wakil pemimpin divisi Kelompok Bandit Serigala.


Meskipun mereka tampak sedang minum bersama, tapi aura sedikit tegang, jelas terasa. Karena bagaimanapun juga, itu masih belum lewat satu hari dimana kedua kelompok, sebelumnya sedang bertempur satu sama lain. Mencoba saling bunuh.


Dalam diam, tiap orang menatap kearah punggung Theo yang saat ini berada di sisi lain dek. Sedang berdiri memandang dingin pada tubuh sekarat Jongha.