
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Secara tak terduga, cukup longgar siang ini, jadi bonus chapter hasil dukungan berupa lemparan Mutiara Mana, saya up sekarang juga!)
*** BONUS CHAPTER ****
(Dunia Kecil Istana Emas)
"Ditempat ini, selain cocok untuk berlatih, kau juga bisa sekalian mencari Kristal Beast baru! Karena kulihat, Kristal Beast Belalang metalik yang sebelumnya kau serap, meskipun memang memiliki kelas lumayan tinggi, namun masih cukup standar dan biasa saja menurutku!" Ucap Theo.
Satu kalimat komentar yang hanya disambut dengan lirikan singkat oleh Shadex.
"Dibandingkan dengan para Demonic Beast yang ada disini, kualitas Kristal Beast Belalang Sembah Metalik, jelas masih tertinggal jauh!"
"Jadi, cari Demonic Beast yang cocok dengan teknikmu! Waktu yang kau punya, adalah seminggu dari sekarang, sebelum Kelompok kita kembali melakukan pergerakan!" Lanjut Theo. Sebelum tiba-tiba memberi tatapan tajam nan serius pada Shadex.
"Dan ingat, jangan pernah mendekati wilayah puncak gunung! Kau hanya akan mengantar nyawa jika tak mendengar saran terkahirku ini!" Tutup Theo.
"Boss…" Gumam Shadex, tepat ketika Theo menyelesaikan kalimatnya. Pertama kali ia memanggil Theo dengan sebutan Boss.
"Cukup pergi saja dari sini! Kau hanya menunda pelatihanku!" Lanjut Shadex. Dalam sekejap mengambil bentuk Soul Knight. Kemudian tanpa menoleh, menerjang cepat memasuki pedalaman gunung.
"Hmmmm…!!!" Gumam Theo. Melihat dengan tatapan ragu pada punggung Shadex.
"Sasi, tolong awasi orang liar cenderung konyol ini! Jangan biarkan dia melakukan hal sembrono! Jika memang merasa perlu, kau boleh melakukan tindakan keras untuk menyeretnya keluar bila ia berbuat sesuatu yang menurutmu tak baik!" Ucap Theo. Kepada Sasi yang secara tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Baik Tuan!" Jawab Sasi singkat.
***
(6 hari kemudian)
Theo baru saja selesai memimpin rapat rutin bersama para wakil pemimpin, mematangkan rencana penyerangan wilayah Laut Hijau. Berupaya menyingkirkan Aliansi 7 Lautan di wilayah laut tersebut.
Dalam situasi yang sudah sedikit longgar, Theo terlihat berjalan bersama Feizel dan Oscana, berniat untuk meninjau langsung Sumberdaya hasil rampasan milik para Perompak anggota Aliansi 7 Lautan di wilayah Laut Jingga dan Kuning yang telah berhasil ditaklukkan oleh Kelompok Bandit Serigala.
Oscana yang berjalan di sisi Theo, tampak sedang membuka buku catatan berdesain indah cenderung agak berlebihan yang selalu dengan bangga ia bawa kemanapun pergi.
Biasa dengan sengaja menempatkan buku catatan tersebut pada bagian depan pinggang agar setiap orang bisa melihatnya. Merasa menjadi orang yang sangat terpelajar saat anggota kelompok Bandit Serigala lain, melihat kearah buku catatannya itu.
Saat ini, dengan ekpsresi wajah yang jelas terlihat dibuat-buat, Oscana sembari berjalan, tengah serius menjelaskan detail catatan sumberdaya Kelompok Bandit Serigala kepada Theo.
*Tapp…!!!
Penjelasan Oscana, terpotong ketika Iris tiba-tiba melakukan pendaratan ringan di hadapan Theo.
"Ada apa?" Ucap Theo singkat. Saat Iris tiba-tiba muncul.
"Tuan muda, kenapa dalam beberapa hari ini kau seperti mengabaikanku?" Tanya Iris.
Satu pertanyaan yang disambut oleh Oscana dan Feizel, dengan cepat segera mengerutkan kening.
"Nona muda Eleanor Tribe ini, benar-benar orang yang langsung!" Gumam Feizel pelan. Sembari tak menyembunyikan tatapan mata takjubnya kearah Iris. Kagum dengan sifat terbuka Nona muda Elaenor Tribe tersebut yang terang-terangan menunjukkan bahwa ia tertarik pada Theo.
"Hmmmmm… Harus kuakui bahwa ia berada di level yang berbeda dari Gerel dan Hella jika itu menyangkut masalah keberanian dalam mengungkapkan ekspresi!" Tanggap Oscana. Juga dengan nada pelan saat mendengar komentar Feizel.
Sementara Theo, hanya diam untuk beberapa saat sembari menatap tajam kearah Iris.
"Nona Iris! Kau jelas tahu kenapa aku bersikap seperti ini padamu!" Ucap Theo pada akhirnya.
"Tuan muda, jika semua ini berkaitan dengan kedatangan kakakku, maka aku bisa memberi penjelasan!" Jawab Iris.
"Penjelasan? Kurasa itu tak perlu! Zota dan Razak sudah dengan cukup jelas menyampaikan apa yang di katakan kakakmu ketika pertama menginjakkan kaki di wilayah Pulau Serigala!" Sahut Theo.
"Itu sudah cukup baik aku tak segera menendangnya pergi! Bahkan sampai hari ini, aku masih berkenan membiarkan ia tetap tinggal dan mendapat fasilitas perawatan!" Tambah Theo.
"Nona Iris, cukup! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak butuh penjelasan?" Potong Theo.
Tindakan yang segera membuat Iris memasang ekspresi wajah bergetar. Mulai menunduk.
"Boss sungguh kejam!" Gumam Feizel pelan.
"Bukan kejam, itu sadis!" Tanggap Oscana.
"Bisa kalian diam?" Tanya Theo. Tanpa menoleh kearah Feizel dan Oscana. Pertanyaan yang segera dijawab oleh kedua orang tersebut dengan keheningan total.
"Iris…!"
Keheningan hanya terpecah saat satu suara bentakan keras, terdengar dari arah belakang.
"Kakaak… Apa yang kau lakukan disini? Luka-lukamu masih belum sepenuhnya pulih!" Seru Iris, saat melihat sosok Fairley berjalan mendekat.
"Tutup mulutmu…! Bagaimana aku bisa hanya diam saat melihat adikku terus bersikap merendahkan dirinya sendiri di hadapan seorang pria! Terlebih itu adalah Bandit!" Bentak Fairley.
"Ingat siapa dirimu! Kau adalah Nona muda terhormat Eleanor Tribe! Satu dari 10 Biggest Knight Group! Sementara dia hanyalah Bandit! Kelompok kelas rendahan!" Lanjut Fairley. Kini ganti menatap tajam penuh kebencian kearah Theo.
"Ohhh… Masih memiliki mulut yang tajam!" Ucap Theo. Membalas tatapan penuh kebencian Fairley, dengan tatapan merendahkan.
"Jika kami adalah kelompok kelas rendahan, lalu apa sebutan yang pantas untuk kelompok yang meminta bantuan pada kami?" Tanya Theo. Sembari mulai memasang senyum tipis.
"Bahkan serendah apapun Kelompok Bandit Serigalaku di matamu, kami masih menjaga titik-titik batas tertentu saat melakukan sebuah kesepakatan!"
"Jadi, jika kau sudah merasa dalam kondisi baik, maka segera enyah! Katakan pada Khan Eleanor Tribe yang terhormat! Aku tak butuh ada sepasang mata tambahan yang mengawasi pergerakan kelompokku!" Lanjut Theo.
"Itu masih cukup bagus aku tak membunuhmu setelah mendengar kau ternyata sempat berniat menghabisi dua orangku, tepat ketika pertama kali menginjakkan kaki di depan rumahku!" Tutup Theo. Dengan intonasi nada dingin yang begitu menusuk tulang.
Senyum tipis di wajah Theo menghilang, diganti dengan tatapan tajam, bersama hawa membunuh juga sedikit bocor keluar dari dalam tubuhnya.
"Kau…!!"
Mendengar kata-kata serta ekspresi wajah Theo yang seolah menyatakan bahwa ia bisa menyingkirkan Fairley kapan saja, semudah menyingkirkan lalat, Fairley jelas segera merasa marah.
"Kakak…! Cukup…! Itu jelas memang kau yang salah!" Bentak Iris. Memotong kalimat yang hendak di ucapkan oleh Fairley.
"Dengarkan adikmu! Dan sebaiknya enyah dari hadapanku!" Ucap Theo. Seraya mulai berjalan meninggalkan tempat.
Diikuti Feizel dan Oscana di belakang. Melirik sekilas dengan penuh kepuasan kearah Fairley. Melihat orang sombong berkedudukan tinggi seperti Fairley dalam ekspresi wajah tertekan seperti saat ini, entah kenapa memberi kepuasan batin tersendiri bagi Feizel dan Oscana.
***
(Keesokan harinya)
Di pagi buta, kapal-kapal perang yang di sewa Theo dari Gaia Mercenaries, akhirnya tiba. Manajer Liang tampak benar-benar menepati kesanggupannya untuk menyediakan sisa kapal perang dalam waktu satu minggu.
Dengan kedatangan kapal-kapal perang tersebut, kepingan terkahir dari rencana penyerangan ke wilayah Laut Hijau, telah sepenuhnya terpenuhi.
Dan pada hari yang sama juga, tepatnya di malam terakhir menjelang Kelompok Bandit Serigala memulai pergerakan, Shadex melangkah keluar dari dalam dunia kecil Istana Emas.
Meskipun dalam kondisi tubuh penuh bekas luka, aura yang memancar dari dalam tubuh Shadex, menggeliat dengan liar.
Malam itu, Shadex, menjadi anggota Kelompok Bandit Serigala ketiga setelah Sasi dan Tuan Leluhur yang mencapai kelas Emperor.
Emperor tahap awal.
------
Note :
Bonus chapter kali ini saya persembahkan untuk dua kawan pembaca SDC :
- Pandhu Bahari
- I Ketut Satia Wira N
Terimakasih atas lemparan Mutiara Mana Emasnya. Semoga dikembalikan oleh Tuhan YME dengan dilancarkan segala urusan serta rezekinya.
Big Love...!!!
(Nanti malam akan tetap up 1 chapter sesuai jadwal rutin.)