Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
175 - Pilih Satu!


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Apakah ini adalah akhirnya?" Ucap Gugio. Merasa sudah tak ada harapan. Ia jelas akan segera mati dalam situasi menjadi mangsa para Tikus Tanah.


Sementara Gris yang berada tepat di sebelah Gugio, hanya bisa terdiam sembari memasang raut wajah ngeri, sepenuhnya memucat. Tubuhnya tak bisa untuk berhenti bergetar. Boss Kelompok Demonic Beast Tikus Tanah yang kini ada di hadapannya, benar-benar sosok monster dalam mimpi terburuk. Bahkan hanya dengan aura, itu sudah cukup membuat ia dan Gugio tak bisa bergerak.


"KIIIIIIIIIIIIIEEEEKKKK…..!!!!!!"


Gugio dan Gris masih menatap ngeri pada Boss Demonic Beast Tikus Tanah, sampai makhluk mengerikan tersebut, tiba-tiba mengeluarkan suara lantang yang terdengar begitu memekakkan telinga.


Seketika jantung Gris dan Gugio tenggelam. Keduanya bahkan sudah tak bisa merasakan kakinya lagi imbas perasaan takut begitu mecekam yang kini mereka rasakan.


Sementara itu, Pion pertama dan Pion kedua yang sebenarnya juga melihat situasi berbahaya Gris-Gugio, tak bisa berbuat banyak. Kedua Hunter kelas tinggi Paviliun Harta ini disibukkan dengan keselamatan nyawa mereka sendiri, karena saat ini juga sedang bertarung dalam situasi keras menghadapi kepungan puluhan Demonic Beast Tikus Tanah lain.


Keduanya bahkan merasa kesulitan untuk mempertahankan nyawa masing-masing. Mulai berfikir bahwa ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.


Sampai tiba-tiba, dalam situasi yang berkembang sangat genting, dimana Boss Demonic Beast Tikus Tanah sudah mulai akan mengayunkan dua tangan yang pada masing-masingnya terdapat bilah-bilah kuku tajam….


*Boooommmm…!!!!


Sesosok tiba-tiba mendaratkan sebuah tendangan keras dengan kaki kanan yang sepenuhnya berselimut Mana Cahaya intens, namun terkontrol dengan cukup baik pada sisi perut Boss Demonic Beast Tikus Tanah.


Sosok ini, tentu saja adalah Theo. Muncul tanpa membawa hawa keberadaan sedikitpun. Sembari mengontrol intensitas  Mana Cahaya dengan baik pada kaki kanan, Theo juga mengontrol dengan sempurna aliran Mana Kegelapan untuk menyelimuti seluruh tubuh. Menjadikan tubuh Theo, seolah tak memiliki energi kehidupan sama sekali.


Berkat pertempuran intens yang mendorong seluruh potensi tubuh, Meridian Theo telah berkembang naik ke level lebih tinggi, membuat ia kini memiliki kontrol yang cukup baik pada aliran Mana yang bergerak pada garis-garis Meridiannya.


Terutama Mana Cahaya yang terus-menerus ia gunakan dalam situasi pertempuran membantai ratusan Demonic Beast kelas tinggi. Juga Mana Kegelapan, dimana juga terus ia gunakan untuk membantu proses menyerap intisari daging-daging Demonic Beast yang ia makan.


"Tu-tuan muda Theo!" Gumam Gris. Akhirnya mampu mengucapkan sesuatu setelah dari tadi di dera perasaan takut nan mencekam.


Seperti kebanyakan manusia yang dinaungi oleh takdir tak biasa, terlahir seolah telah disiapkan untuk menjadi penyelamat bagi orang lain dimanapun ia berada, Theo datang di waktu yang sungguh sangat tepat, terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan.


"Hmmmm… Tak kusangka, akan ada beberapa yang lolos dari Lembah!" Gumam Theo. Mengambil posisi memunggungi Gugio dan Gris. Menatap untuk beberapa saat pada tubuh Boss Demonic Beast Tikus Tanah yang kini sedang menggeliat kesakitan. Sebelum ganti mengarahkan pandangan kepada situasi pertarungan sulit Pion pertama dan Pion kedua.


*Wuuungg…!!!!


*Sraaaakkkk…!!!


*Sraakkkk…!!!


*Sraaaakkkk…!!!


Dengan gerakan cepat, Theo mengaktifkan teknik rantai cahaya, melempar beberapa rantai untuk menerjang kedepan. Satu rantai dengan segera mengikat leher Boss Demonic Beast Tikus Tanah yang masih menggeliat menahan sakit pada perut imbas tendangan Theo.


Sementara empat rantai cahaya, melaju untuk mengikat leher empat Demonic Beast Tikus Tanah biasa secara acak. Melempar keempat Demonic Beast Tikus Tanah tersebut pada lokasi sama dengan Boss mereka.


Dan setelah lima rantai mengikat leher, rantai-rantai cahaya lain, mulai bergerak cepat membantai seluruh Demonic Beast Tikus Tanah yang masih tersisa.


Hanya dalam beberapa menit, Theo menyelesaikan untuk menghabisi hampir seluruh kelompok Demonic Beast kelas tinggi yang tadi sempat akan memangsa kelompoknya.


****


(Setelah pembantaian)


*Bammm…!!!


*Baaammm…!!!


"Kiiiii…!!!"


"Kiiii….!!!!"


"Kiiii…!!"


Saat Gugio, Gris, serta Pion pertama dan Pion kedua sedang sibuk untuk melakukan pemilahan pada mayat-mayat berserakan Demonic Beast Tikus Tanah, Theo sendiri terlihat menyibukkan diri dengan terus menghajar lima Demonic Beast Tikus Tanah yang masih hidup. Terutama Boss mereka.


Tak seperti empat Tikus Tanah berukuran biasa yang saat ini terlihat meringkuk ketakutan, Sang Boss tampak masih memasang wajah liar beberapa saat sampai akhirnya ikut meringkuk ketakutan setelah tanpa henti di hajar oleh Theo menggunakan tendangan-tendangan yang dialiri Mana Cahaya.


Melihat raut wajah ketakutan yang akhirnya ditampilkan Boss Tikus, serta mendengar lolongan lirih menahan sakit yang keluar dari mulut penuh taringnya yang mengerikan, Theo berinisiatif menarik rantai cahaya dari leher sang Boss.


"Bagus kalau kau sudah tahu siapa Boss-nya disini!" Ucap Theo. Seraya mulai memasang seringai lebar. Berjalan mendekat untuk menampar-nampar pelan pipi Boss Tikus. Tamparan pelan yang justru disambut oleh Boss Tikus dengan bergetar hebat seluruh bagian tubuhnya.


"Tuan, kenapa tak sekalian membunuh mereka?" Tanya Pion Pertama, setelah selesai dalam tugas memilah mayat. Dari sorot matanya, jelas sekali Pion pertama masih tampak takut dengan Demonic Beast Tikus Tanah. Terutama sang Boss yang memiliki ukuran tubuh serta aura menekan tak biasa. Cenderung mengerikan.


Disisi lain, mendengar pertanyaan Pion pertama, Theo tak segera menjawab, bahkan tak menoleh sedikitpun. Ia terlihat masih sibuk dengan Boss Tikus Tanah.


"Pion Pertama, aku membiarkan kau tetap hidup, tidak untuk banyak bertanya! Cukup lakukan semua intruksi yang kuberikan! Masalah lain, terutama tentang siapa dan apa yang boleh hidup, itu semua terserah padaku!" Jawab Theo pada akhirnya. Dengan intonasi nada dingin nan mencekam.


Mendengar jawaban Theo, hati Pion pertama segera tenggelam. Terlebih lagi, itu jelas sekali aliran hawa membunuh tipis, terpancar keluar bersama kata-kata yang di ucapkan Theo barusan.


Seketika Pion pertama merasa Boss Tikus Tanah tak lagi menakutkan. Sosok Theo yang berdiri di sebelah sang Demonic Beast kelas tinggi tersebut, seolah menyerap semua hawa menakutkan yang ada disekitar.


"Ba-baik tuan! Maaf!" Jawab Pion pertama pada akhirnya. Dengan nada terbata.


Tak lama kemudian, Gugio, Gris, dan Pion kedua berjalan mendekat. Tampak telah menyelesaikan tugas masing-masing.


"Tuan muda, daging?" Tanya Gris. Sembari memasang senyum yang dibuat semenawan mungkin.


"Benar! Berikan semua daging, untuk sumberdaya sisa tubuh lain, boleh kau dan Gugio ambil!" Jawab Theo.


"Jadi, Tuan Hunter Paviliun Harta akan menerima berapa persen jumlah bagian?" Tanya Gris.


"Tak perlu! Mereka tak mendapat bagian!" Jawab Theo singkat.


Jawaban yang tentu saja tak berani dibantah sama sekali oleh Pion Pertama dan Pion kedua.


"Baiklah, karena semua urusan telah selesai, sebaiknya kita segera melanjutkan untuk mencari lokasi beristirahat yang lebih aman! Keributan tadi pasti telah memancing beberapa Demonic Beast lain mulai bergerak mendekat!" Lanjut Theo.


"Tuan muda, kita bisa mengambil opsi berjalan menyusuri wilayah perbukitan yang ada di sebelah sana!" Ucap Gugio, memberi saran sembari menunjuk kesatu arah tertentu.


Theo melirik singkat kearah yang ditunjuk Gugio. Sebelum akhirnya menanggapi.


"Lokasi yang cukup menjanjikan!" Gumam Theo.


"Baiklah, kita akan kearah sana!" Tutup Theo.


Mendengar itu, setiap orang segera mulai akan berjalan menuju lokasi yang telah ditentukan, namun…


"Hei, kenapa kalian berjalan?" Tanya Theo.


"Masing-masing dari kalian, pilih satu Tikus-tikus ini! Kita akan melanjutkan perjalanan dengan menunggangi mereka!" Ucap Theo. Sembari melompat ke punggung Boss Tikus Tanah.


Kata-kata Theo, segera disambut oleh keempat orang yang berada dilokasi, dengan malah mematung, berpikir apakah mereka salah dengar. Keempat orang ini, mulai menatap ngeri pada empat Demonic Beast Tikus Tanah yang beberapa waktu lalu, masih berniat memangsa mereka.