
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Tuan, sel-sel dalam tubuhnya sudah mulai merespons! Aliran Serbuk Besi dari tangan dan kaki buatan yang terpasang pada lengan kanan dan paha kiri, juga mulai merasuk kedalam setiap otot tubuhnya!" Ucap Sasi. Dengan ekspresi wajah tenang. Tampak sama sekali tak terganggu dengan teriakkan parau Zota yang saat ini keras menggema diseluruh ruang medis.
"Yahhh… Aku bisa merasakannya!" Tanggap Theo. Menggunakan aura, kini melihat langsung kedalam tubuh Zota.
"Yang jadi masalah sebenarnya ada pada ranah jiwa! Ranah jiwa Zota menganggap bahwa aliran Serbuk Besi merupakan ancaman pada tubuhnya! Sehingga memberi respon perlawanan balik!" Tambah Theo.
"Sasi, tolong panggil Razak kemari! Kita perlu kehadirannya untuk berjaga-jaga jika aliran serbuk besi yang telah di siapkan, ternyata belum cukup kuat atau memadai untuk melawan balik ranah jiwa Zota yang sedang berusaha mengeluarkan serbuk besi dari dalam tubuhnya!" Tutup Theo.
"Baik!" Jawab Sasi singkat. Sebelum sosoknya menghilang.
'Hmmmm… Bocah! Apa yang sedang coba kau lakukan pada tubuh pria malang ini?'
Theo masih memandang dengan tatapan memeriksa kondisi tubuh serta ranah jiwa Zota, sampai suara Ernesto tiba-tiba terdengar.
'Ohhh…. Kau sudah bangun dari tidur panjangmu?' Tanya Theo. Dengan intonasi nada acuh. Tampak tak perduli.
'Hnmmm… Proses pengisian energi berjalan cukup lambat! Bisa kulihat, selama ini kau dengan sengaja jarang menggunakan Sepatu atau Sarung Tangan Kilat!' Jawab Ernesto.
'Sejujurnya memang aku tak suka dengan keberadaanmu! Oleh karena itu, semakin lama kau tak bangun, itu akan bagus!' Tanggap Theo.
'Seperti biasa! Mulut yang tajam!" Ucap Ernesto.
'Jika kau tak ada urusan lain, lebih baik kembali tidur atau pergi saja! Aku sedang akan melakukan hal yang cukup menguras konsentrasi! Jadi kehadiranmu yang mengganggu, jelas bukan hal bagus!' Tanggap Theo.
'Ohhh… Tentu aku akan tetap berada disini! Bagaimanapun juga, percobaan menggabungkan dua bidang hal, teknik medis Alchemy dan teknik mencipta dari Forging yang hendak kau lakukan, seharusnya akan menjadi tontonan yang menarik!' Jawab Ernesto. Menolak untuk pergi.
'Lagipula, kemana memang aku harus pergi? Sementara rohku tersegel dalam Sarung Tangan Kilat yang sedang kau kenakan!' Tambah Ernesto. Dengan nada sedikit menggoda.
'Begitu?' Gumam Theo. Kemudian dengan gerakan cepat, segera melepas sarung Tangan Kilat yang terpasang di kedua lengan. Sebelum melemparnya kedalam Gelang ruang-waktu.
'Bocah bi*adap! Aku hanya ingin sekedar melihat! Kenapa begitu kejam!' Bentak Ernesto. Saat Theo dengan sangat tak berperasaan, melepas Sarung Tangan Kilat. Terlebih melemparnya kedalam Gelang ruang-waktu. Membuat Ernesto tak lagi bisa melihat dunia luar.
*Tap….!!!
Tak memberi tanggapan apapun, Theo membuat gerakan menjentikkan jari. Menutup akses suara dari dalam gelang ruang-waktu. Seketika suara Ernesto tak lagi terdengar.
"Boss..! Kau memanggil?"
Bersamaan dengan Theo selesai membungkam dengan kejam Ernesto, suara Razak yang baru saja memasuki ruangan, terdengar dari arah belakang.
Bocah ini seketika memandang dengan tatapan sedikit bergetar kepada Zota yang terus berteriak lantang kesakitan sembari menggeliat keras. Secara tak sadar berusaha melepas belenggu rantai yang mengikat tubuhnya.
"Yah…! Aku memerlukanmu berada disini!" Ucap Theo.
"Tuan, aku mengambil inisiatif untuk memasang formasi segel penghadang yang melingkupi sekitar ruang medis, agar selama proses, tak ada siapapun yang mengganggu!" Ucap Sasi. Tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan.
"Bukan masalah berarti! Lagipula, aku juga cukup tertarik untuk melihat apa yang akan kau lakukan!" Ucap Sasi.
"Razak, setelah ini, aku perlu kau menyiapkan Serbuk besi dengan kualitas tinggi sebanyak yang kau bisa!" Ucap Theo. Seraya mulai mengaktifkan aliran Mana Cahaya, pada tangan kanan, serta aliran Mana Kegelapan pada tangan kiri.
"Bukan hanya ranah jiwa, sekarang bahkan Element Seed serta ranah mental Zota, mulai melakukan perlawanan balik!" Lanjut Theo. Dengan tatapan tajam. Menyapu setiap ruang yang ada di dalam tubuh Zota.
"Razak! Ini akan menyangkut hidup dan mati Zota, jika proses penyambungan gagal, maka ia akan mati! Namun jika berhasil, ia akan lahir kembali dengan kenaikan kekuatan yang sangat signifikan!"
"Jadi, aku ingin kau benar-benar serius dan berkonsentrasi penuh dalam membuat aliran Serbuk Besi kualitas terbaik!" Tutup Theo. Tanpa menunggu jawaban dari Razak. Mulai menyentuh dada Zota dengan tangan kiri. Mengalirkan Mana Kegelapan kedalam tubuh Zota. Secara perlahan menekan balik perlawanan yang dilakukan Ranah jiwa dan Element Seednya.
Disisi lain, Razak sendiri hanya memberi anggukan singkat, pertanda mengerti. Dengan ekspresi wajah teguh, ia mulai membuat gerakan memukul kedua ujung Gauntlet besi. Secara perlahan memulai proses pembuatan Serbuk Besi.
'Iron!' Gumam Razak dalam hati. Memanggil roh item bunga Udumbara Serbuk Besi yang bersemayam di dalam Gauntlet kembar.
Sementara Sasi yang juga berada di dalam ruang medis. Tak ingin menjadi pihak yang sepenuhnya tak melakukan apapun. Sehingga memutuskan untuk membantu Razak dengan mengalirkan Mana Besi pekat kedalam tubuh sang bocah. Memberi stimulan pada Element Seed Razak. Agar bisa mereproduksi Mana dengan lebih cepat. Sehingga proses membuat Serbuk Besi yang cukup memakan simpanan Mana, bisa berjalan lebih lancar.
"Master, terimakasih!" Ucap Razak. Sebelum mulai menutup mata. Sepenuhnya berkonsentrasi untuk memproduksi Serbuk Besi.
Sasi sendiri, hanya membalas dengan senyum tipis. Satu hal yang jarang ia tunjukkan. Karena selama ini, ia selalu tampak memasang ekspresi wajah serius dan datar. Entah kenapa setiap kali Razak memanggil Sasi dengan sebutan Master. Sang Goblin merasakan satu perasaan puas memenuhi hatinya.
"AAAAAARRRRRGGGG…..!!!!"
Razak baru saja memejamkan mata, sampai tiba-tiba, suara teriakan Zota, menjadi semakin keras. Benar-benar terdengar memilukan. Satu hal yang membuat ekspresi wajah Razak sedikit bergetar.
"Jangan kehilangan konsentrasi! Selain pada Tuan, nasib pria itu juga ada ditanganmu!" Ucap Sasi. Memberi petunjuk sekaligus peringatan pada Razak.
Mendengar kata-kata Sasi, ekspresi wajah Razak segera kembali penuh keteguhan. Aliran Serbuk Besi dengan kemilau keperakan yang tak seperti biasanya, kini mulai tercipta dan merembes keluar dari masing-masing ujung Gauntlet kembar yang saling bersentuhan.
Disisi lain, merasa aliran Mana Kegelapan yang ia masukkan kedalam tubuh Zota mulai sedikit diluar ambang batas yang mampu ditahan oleh Ranah jiwanya, satu hal yang menjadi alasan kenapa Zota kini berteriak semakin lantang kesakitan, Theo dengan gerakan cepat menaruh ujung jari telunjuk tangan kanan pada kening Zota. Kini juga mengalirkan Mana Cahaya, memasuki Ranah jiwanya.
Mana Cahaya segera menyelimuti Ranah jiwa untuk melindungi dari sergapan Mana Kegelapan. Tindakan melindungi dan mendorong yang di lakukan oleh Theo. Membuat satu keseimbangan sempurna dimana akhirnya mampu sedikit memberi efek reda pada perlawanan yang di lakukan oleh Ranah jiwa.
Degan meredanya perlawanan, Aliran Serbuk Besi secara bertahap ikut masuk menyelubungi sel-sel yang ada di dalam tubuh Zota.
"Sasi! Tambah serbuk besi sekarang!" Ucap Theo. Merasa kedua tangannya telah penuh, memutuskan untuk memberi intruksi kepada Sasi.
Tanpa menunda dan tanpa mempertanyakan apapun, Sasi segera melaksanakan intruksi. Membuat satu aliran Mana Besi untuk menyelubungi Serbuk Besi yang telah di ciptakan Razak, untuk diarahkan kepada tubuh Zota.
*Woooshhhh….!!!
"AAAAAARRRRRGGGG…..!!!"
Serbuk Besi tambahan yang memasuki tubuh Zota, membuat teriakannya yang tadi sempat mereda, kini kembali terdengar lantang. Bersamaan dengan itu, ekspresi wajah Theo juga berubah semakin serius. Berkonsentrasi penuh menjaga keseimbangan dari aliran Mana Kegelapan dan Cahaya yang saat ini sedang ia masukkan kedalam tubuh Zota.
"Bertahanlah sedikit lebih lama lagi! Aku tau kau adalah orang dengan tekad kuat!" Gumam Theo.
----
Note :
Informasi novel bagus dengan tema sejenis SDC, terlebih penulisan serta alur juga sangat rapi. Bisa kawan-kawan jadikan referensi bacaan sembari menunggu up rutin.
Karya author Arkan, judul Spatial Child.