Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
171 - Seringai Lebar


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Goooaaahhh…!!!"


Tepat ketika Gada raksasa Banteng Hitam menghujam, Theo seketika muntah darah segar. Sementara tangan kirinya bergetar dengan sangat hebat. Jelas mengalami retak tulang di beberapa bagian.


Namun, setelah memuntahkan seteguk darah segar, Theo malah kembali memasang seringai lebar.


Serangan Banteng Hitam, nyatanya tak sedahsyat sebelumnya. Karena memang senjata Gada dari sang Boss Demonic Beast penguasa Lembah tersebut, masih dalam kondisi belum sepenuhnya stabil.


Masih mempertahankan seringai lebar di wajahnya, Theo membuat gerakan menarik pada tangan kanannya yang masih bebas.


*Sraaaakkkk….!!!


Dalam sekejap, puluhan rantai emas yang sebelumnya telah ia siapkan, bergerak menerjang. Kali ini bukan kearah ujung gada, namun mengetuk keras jari-jari Banteng Hitam yang menggenggam gagang tulang senjata Gada-nya.


"Groooooaaaahhh…!!!!"


Ketukan pada jari-jari tersebut, seketika membuat Banteng Hitam berteriak liar menahan sakit. Genggaman pada gagang yang sebenarnya masih bergetar hebat imbas belum sempat menstabilkan gejolak Mana Kegelapan liar dari senjata miliknya, seketika terlepas.


Seringai Theo semakin lebar saat melihat Banteng Hitam akhirnya tak mampu mempertahankan genggaman. Untuk kedua kalinya, ia melakukan gerakan mengayunan tangan kanan, melempar gelombang rantai emas lain, kali ini menghujam keras sisi tubuh bagian kiri Banteng Hitam. Menyebabkan sang Demonic Beast, terdorong agak jauh dari posisi semula.


Hanya dalam waktu sepersekian detik setelah Banteng Hitam terlempar dari posisi awal, Theo menggunakan pergelangan tangan kiri untuk mendorong Gada Raksasa sedikit menjauh, dilanjutkan kembali membuat gerakan mengayun dengan tangan kanan.


*Sraaaakkkk….!!!!


*Baaammmm…!!!


Gelombang rantai emas, untuk kesekian kalinya melaju, membentur keras Gada Raksasa. Melempar senjata tersebut ke sisi  kanan, dimana berlawanan dari posisi Banteng Hitam.


"Groooooaaaahhh…!!!!"


Banteng Hitam berteriak marah, menatap tajam kearah Theo dengan sorot mata memerah untuk beberapa saat. Sebelum dengan agak panik, bergerak cepat akan kembali mengambil Gada Raksasa.


Namun, Banteng Hitam baru mengambil beberapa langkah sampai Theo kembali membuat gerakan mengayun tangan. Kali ini menggunakan tangan kanan dan kiri sekaligus.


*Sraaaakkkk…!!!!


*Sraaaakkkk…!!!


Dua gelombang puluhan Rantai Emas menerjang cepat. Dalam sekejap membelenggu Banteng Hitam. Satu gelombang mengikat leher, sementara gelombang lain mengikat dada. Menahan pergerakan sang Demonic Beast.


"Groooooaaaahhh….!!!!"


Banteng Hitam yang kini tertahan, kembali berteriak lantang penuh amarah. Tampak semakin marah. Menatap penuh kebencian kearah Theo. Namun juga beberapa kali melirik kearah dimana senjata Gada Raksasa tergeletak.


"Groooooaaaahhh…!!!!"


Menggunakan dua tangan yang masih bebas, Banteng Hitam berusaha melepas ikatan rantai emas.


*Woooshhhh…!!!


Tindakan yang disambut oleh Theo dengan menambah intensitas aliran Api Surgawi yang menyelimuti rantai cahaya.


"Groooooaaaahhh…!!!"


Bertambahnya intensitas Api Surgawi, menyebabkan bagian-bagian tubuh dari Banteng Hitam yang tersentuh rantai, mulai terbakar. Hangus dalam luka bakar yang cukup serius. Bagaimanapun juga, Api Surgawi bukanlah jenis api biasa.


Namun begitu, Banteng Hitam tampak tak peduli, ia semakin gigih berusaha melepas ikatan rantai emas.


Sampai akhirnya, Theo melakukan tindakan yang bisa dibilang cukup keji, mengayunkan tangan kanan dan kiri beberapa kali, Theo menggerakkan beberapa gelombang rantai emas lain untuk membelenggu kedua tangan Banteng Hitam. Seolah masih kurang, Theo melanjutkan dengan membelenggu kedua kaki sang Demonic Beast dengan rantai-rantai emas yang masih tersisa.


"Groooooaaaahhh…!!!"


Banteng Hitam, satu dari tiga Boss Lembah Demonic Beast, dimana memiliki tingkatan yang sudah akan memiliki kecerdasan, berakhir dalam situasi yang sangat mengenaskan. Melayang di udara dalam posisi sepenuhnya terikat rantai-rantai emas yang seiring berjalannya waktu, juga mulai membakar bagian-bagian tubuhnya.


"Hmmmmm… Tanpa Gada itu, bagaimana sekarang kau akan menstabilkan aliran Mana tak beraturan dalam tubuhmu?" Gumam Theo, berjalan dengan langkah perlahan mendekat.


Banteng Hitam yang tak menggenggam Gada Raksasa, ternyata hanya memiliki tingkatan sekelas Emeperor tahap Bumi. Satu kelas yang sama dengan kebanyakan Demonic Beast lain penghuni Lembah yang telah dibantai habis oleh Theo.


"Sekarang aku hanya perlu menunggu sampai tubuhmu meledak dengan sendirinya! Hahahhaha…!" Tutup Theo.


Bersama tawa lantang Theo, Banteng Hitam yang sempat melemah pergerakannya, mulai kembali menggila saat merasakan aliran Mana milik Banteng Hitam lain yang pernah ia makan, mulai bergejolak hebat dalam ranah jiwanya, tak memiliki sarana untuk disalurkan keluar.


Sang Demonic Beast, merontah sejadi-jadinya sembari menatap penuh harap kearah dimana senjata Gada Raksasa tergeletak.


Sementara Theo, hanya terus memandang dengan tatapan seolah sedang menikmati pertunjukan yang sangat menghibur, seringai lebar di wajahnya, juga semakin mengembang setiap waktu.


"Penempa gentayangan mesum! Sekarang saatnya!" Ucap Theo, seketika membuat gerakan mengetuk ujung sepatu kilat.


*Bzzzzzttt…!!!


*Woooshhhh…!!


Sosok Theo lenyap. Diiringi juga dengan tubuh terikat Banteng Hitam, tertarik begitu cepat kesuatu arah. Sang Demonic Beast, memasang raut wajah sangat menderita dalam tarikan kencang rantai emas.


Dan bersamaan dengan menghilangnya sosok Theo…


*Boooommmm….!!!


*Boooommmm….!!!


Dua serangan berdaya hancur dahsyat, menghujam keras pada lokasi dimana ia sebelumnya berdiri. Dalam sekejap meluluh-lantakkan lokasi tersebut.


"KIIIIEEEKKKKKKKK..!!!"


"ROOOOOOAAAAARRRRR…!!!"


Dua Demonic Beast, berteriak lantang begitu selesai melancarkan serangan.


Satu berbentuk Semut Merah raksasa yang berdiri dengan enam kaki, serta dua kaki berfungsi sebagai tangan dimana menggenggam sebuah senjata seperti tali dengan ujung-ujung capit panjang, sementara satu lagi berbentuk Badak yang berdiri dengan dua kaki, memikul senjata tombak panjang dengan ujung tombak berupa cula raksasa.


Dua Demonic Beast yang baru datang ini, tentu saja adalah dua Boss lain dari Lembah Demonic Beast. Makhluk yang memiliki tingkatan setara Emperor tahap Langit. Seperti Banteng Hitam, sudah selangkah untuk mencapai kondisi mendapat kecerdasan layaknya manusia.


Dua Boss Lembah, masih memasang wajah marah begitu selesai berteriak liar. Segera menyebar aura untuk mencari keberadaan Theo. Tatapan dua makhluk ini, seketika tertuju pada satu arah tertentu. Tampak berhasil menangkap aura Theo.


"KIIIIEEEKKKKKKKK….!!!"


*Woooshhhh….!!!


Boss Lembah yang memiliki wujud Semut Merah, tanpa menunda sama sekali, langsung bergegas menerjang untuk sampai ketempat dimana aura Theo berhasil ia kunci.


"ROOOAAARRR….!!!"


*Bammmm…!!!


*Bammmm…!!!!


*Baaammmm…!!!


Sementara Boss Lembah berwujud Badak raksasa, bergerak dalam langkah berderap menyusul dibelakang. Memiliki kelincahan yang tak mampu mengimbangi Semut Merah.


Dua makhluk ini bergerak dengan cara yang sangat mendominasi dan sungguh mengerikan meskipun memang memiliki kecepatan yang berbeda, Semut Merah menebas apapun dalam laju terjangannya yang begitu cepat, sedangkan Badak raksasa menghancurkan apapun dengan dua kaki dalam derap langkahnya yang tak terlalu cepat.


Akan tetapi, dibawah aura menekan yang penuh dominasi dari dua Boss Lembah Demonic Beast, satu peristiwa tak terduga, tiba-tiba terjadi….


*Bzzzzzttt…!!!!


Ketika jarak tertentu sudah mulai tercipta antara dua Boss yang bergerak dalam kecepatan berbeda, derak listrik merah kembali muncul.


Bersama kemunculan listrik merah tersebut, sosok Theo mendadak hadir dihadapan Boss Lembah berbentuk Badak raksasa. Masih mempertahankan seringai lebar, Theo membuat gerakan Kuda-kuda cepat, menarik dua ujung tangan kebelakang.


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt…!!!


Dua derak liar listrik merah menyala terang pada masing-masing kepalan tinju tangan Theo.


*BOOOOOMMMM….!!!!


Tanpa berkedip, Theo menghujamkan pukulan dahsyat sarung tangan kilat pada perut Badak raksasa. Pukulan yang segera melempar tubuh sang Boss Demonic Beast agak jauh kebelakang.


Sementara disisi lain, Semut Merah yang kini menyadari Theo telah kembali berpindah posisi, dengan cepat membuat gerakan memutar.


Namun, gerakan sang Semut ini, bertepatan pula dengan rantai-rantai emas tertarik mengikuti pergerakan Theo, membawa tubuh Banteng Hitam yang terlihat sudah penuh luka bakar parah.


Semut Merah bahkan belum sempat membuat gerakan maju, sampai secara tiba-tiba, Theo melakukan gerakan tangan menunjuk kedepan.


Rantai-rantai emas, mengayun penuh tenaga untuk beberapa saat, sebelum dengan sentakan keras, melempar tubuh tak berdaya Banteng Hitam kearah Semut Merah.


*Woooshhhh….!!!!


Tubuh Banteng Hitam terlempar kencang sementara Semut Merah disisi berlawanan, seperti tak peduli akan kondisi Banteng Hitam, makhluk ini menerjang balik dengan niat menebas tubuh Banteng Hitam.


Namun, tepat ketika Semut Merah sudah akan menebas tubuh Banteng Hitam….


*BOOOOOMMMM….!!! 


Tubuh Banteng Hitam, meledak dalam ledakan dahsyat berintensitas aliran Mana Kegelapan pekat.