Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
156 - Teknik Pengolahan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Desa Teria)


Tepat di depan pintu gerbang desa, Theo bersama Gugio dan Gris, tampak sedang di temani oleh pak tua Gaho. Segala urusan telah selesai, sekarang adalah waktunya perjalanan menuju lokasi pertama Lembah Demonic Beast, akan di mulai.


"Gugio, aku harap kau benar-benar menepati janjimu untuk selalu memasang mata pada Gris! Jangan biarkan gadis sembrono ini bertindak sembarangan!" Ucap pak tua Gaho.


"Hmmmm… Kau bisa memegang janjiku!" Jawab Gugio singkat.


"Kakek! Lebih baik sudahi sikapmu itu! Bagaimanapun juga, aku adalah gadis yang telah dewasa! Berada di sekitarmu, selalu saja membuat seolah segala hal yang menyangkut denganku, tampak sangat dramatis!" Ucap Gris.


Kata-kata tajam yang keluar dari mulut Gris, tak mendapat reaksi berlebihan dari pak tua Gaho. Raut wajahnya masih tampak tenang.


"Coba katakan kalimat yang kau sampaikan tadi pada dirimu sendiri kelak ketika sudah mempunyai anak atau cucu!" Tanggap pak tua Gaho.


"Aku yakin 100%, kau hanya akan sama saja denganku!" Lanjutnya kemudian. Sembari ganti mengalihkan tatapan kearah Theo.


"Oe Gugio, aku juga pesan satu hal penting lain!" Ucap pak tua Gaho. Tanpa melihat kearah Gugio. Masih fokus menatap Theo dengan sorot mata tak suka.


"Awasi pemuda ini! Jangan biarkan dia mengambil keuntungan apapun pada cucuku! Mengerti?" Tutup pak tua Gaho.


Permintaan kedua dari pak tua Gaho, kali ini mendapat balasan kerutan kening di dahi Gugio.


'Apakah pak tua ini buta? Atau ia hanya sengaja menolak untuk menerima kenyataan? Dalam masalah ini, jelas sekali itu bukan Tuan muda Theo yang perlu diawasi! Tapi malah Gris sendiri!' Gumam Gugio dalam hati. Merasa justru Gris yang nantinya akan terus mencari kesempatan untuk mendekati Theo.


Walau begitu, Gugio yang tak ingin terlalu repot berdebat dengan pak tua Gaho, akhirnya memutuskan untuk mengiyakan saja permintaan sang kepala desa.


Disisi lain, Gris yang tentunya juga mendengar pesan lanjutan sang kakek kepada Gugio, hanya mulai memasang raut wajah cemberut. Benar-benar jengah dengan sikap terlalu protektif pak tua Gaho. Malas untuk menanggapi lebih lanjut.


"Jika sudah selesai, akan lebih baik segera berangkat!"


Theo yang dari tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba angkat suara.


"Ingat! Jangan macam-macam!" Ucap pak tua Gaho untuk terakhir kalinya. Seraya menyerahkan peta tua yang memiliki lokasi Lembah Demonic Beast kepada Gugio.


Ancaman terakhir dari pak tua Gaho, hanya di balas Theo dengan senyum tipis sederhana.


Tepat ketika matahari siang berada di puncaknya, rombongan Theo, berangkat meninggalkan desa Teria. Berjalan menyusuri wilayah padang pasir luas.


Tak lupa juga, Theo menyempatkan untuk menjemput dua pion tambahan, Hunter kelas tinggi Paviliun Harta yang sebelumnya ia pasang segel Kontrak Tuan-hamba, dimana sengaja ditempatkan Theo agar menunggu pada lokasi agak jauh dari wilayah desa Teria.


***


(3 hari kemudian, wilayah padang pasir)


Rombongan Theo berjalan normal. Tampak tak terlalu bergegas. Memimpin di depan, tentu saja adalah Gugio sebagai pemegang peta. Sementara dua tikus Paviliun Harta, satu ditugaskan Theo untuk bergerak lebih dahulu menyisir wilayah sekitar. Sementara satu lainnya, berjaga di belakang rombongan.


Belum lagi ditambah ancaman dari Demonic Beast kelas tinggi. Demonic Beast jenis ini, akan sangat protektif jika ada makhluk yang memasuki radius tertentu wilayah sarangnya.


Oleh karena itu, Theo merasa perlu memanfaatkan sebaik mungkin dua pion Hunter kelas tinggi miliknya. Dengan begitu, ia akan bisa sedikit santai selama perjalanan. Tanpa harus repot memasang mata setiap waktu.


Alasan kenapa Theo ingin sedikit santai? Itu karena ia saat ini sedang sibuk dengan beberapa eksperimen.


"Tuan muda, sebenarnya apa yang sedang kau coba lakukan?" Tanya Gris. Menatap penasaran kearah Theo.


Gris menjadi penasaran karena sedari awal perjalanan, Theo tampak sangat sibuk memainkan Chi api pada tangan kanan, sementara tangan kiri, menggenggam potongan daging Demonic Beast kelas tinggi yang sebelumnya sempat ia borong dari Paviliun Harta lantai 3.


Pada awalnya, Gris menduga bahwa Theo sedang mencoba untuk mengolah daging Demonic Beast agar bisa dikonsumsi. Namun, Gris mulai meragukan dugaannya saat melihat bahwa Theo hanya terus membakar daging-daging Demonic Beast kelas tinggi yang berharga, sebelum kemudian segera membuang ketika daging-daging tersebut telah hangus.


"Hmmmm… Hanya mencoba beberapa teknik mengolah daging Demonic Beast!" Jawab Theo. Membenarkan dugaan awal Gris.


Namun, jawaban Theo, segera disambut oleh kerutan kening di dahi Gris.


"Mengolah daging Demonic Beast?" Tanya Gris reflek, memasang sorot mata menyayangkan sumberdaya berharga yang terbuang sia-sia di bakar hingga menjadi hangus oleh Theo sedari tadi.


"Tuan muda, jika ingin mengkonsumsi daging Demonic Beast, bukankah kau hanya perlu menghangatkannya barang sejenak? Setelah itu, akan bisa dikonsumsi secara normal?" Tanya Gris heran.


"Kurang tepat!" Tanggap Theo cepat. Sedikit melirik kearah Gris, sebelum membuang daging hangus dan mengeluarkan satu lagi yang masih segar.


"Menghangatkan dengan api kecil, memang akan membuat rasa dari daging Demonic Beast, menjadi tak terlalu buruk ketika dikonsumsi!"


"Namun, itu hanya akan berhenti pada rasa! Sementara khasiatnya ketika memasuki Meridian, benar-benar jauh dari maksimal!"


"Kalian hanya akan mendapat manfaat sangat minim! Itu seperti memakan kulit buah, sementara dagingnya dibuang!" Lanjut Theo.


"Ahhh…!"


Mendengar informasi baru yang belum pernah ia dengar dari Theo, Gris cuma bisa membuka mulut.


Sementara Gugio dan Hunter kelas tinggi Paviliun Harta yang kebetulan juga mendengar penjelasan Theo, kini mencoba menajamkan telinga masing-masing. Tak ingin melewatkan informasi yang baru disampaikan oleh Theo, sembari sibuk dengan tugasnya.


"Daging Demonic Beast, harus diolah dengan kobaran api yang tepat! Api yang digunakan untuk membakar, harus bisa menyentuh bagian dimana sisa-sisa intisari dari aliran Chi Kegelapan yang sempat di olah oleh sang Demonic Beast ketika masih hidup berada!"


"Oleh karena itu, observasi awal sangat diperlukan sebelum mulai melakukan pembakaran!" Ucap Theo. Kini memfokuskan aliran Mana Cahaya pada kedua mata. Melakukan observasi pada daging di tangan kirinya.


Dan setelah berhasil menemukan yang ia cari, Theo menyalakan derak Mana Api pada tangan kanan. Menyalurkan kobaran Mana Api, pada daging Demonic Beast.


"Setelah menemukan lokasi yang tepat, kita harus bisa menjaga agar nyala api tak merusak sisa-sisa intisari Chi Kegelapan! Ini adalah bagian paling sulit!" Ucap Theo. Melanjutkan penjelasan dengan praktek langsung.


"Karena selagi kita mencoba mengatur dan mengumpulkan sisa-sisa intisari tersebut agar memadat pada satu lokasi sempurna, intisari Chi Kegelapan, secara alami juga akan memberi perlawanan!"


"Terlalu lemah api, maka itu akan terdorong balik dan di mangsa oleh intisari Chi Kegelapan!"


"Namun, jika nyala api terlalu berlebihan, aliran intisari Chi Kegelapan yang berharga, akan rusak!"


*Woooshhhh…!!!


Nyala api di tangan Theo, untuk kesekian kalinya membakar hangus daging Demonic Beast. Percobaan teknik pengolahan yang ia lakukan, kembali gagal. Intisari Chi Kegelapan, rusak.


"Hmmmm…!" Theo menutup penjelasan, dengan mengeluarkan daging Demonic Beast lain. Mengulang proses dari awal.


Sementara Gris, memutuskan tak ingin lagi mengganggu konsentrasi Theo. Hanya mengamati dalam diam.