Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
191 - Hadiah Tantangan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Hahhahhahhaa….!!!"


Kung-Peng tertawa lantang setelah memamerkan senyum mengerikan untuk beberapa saat. Kali ini sama sekali tak menyembunyikan sorot mata penuh ketertarikannya pada Theo. Mengekpos secara terang-terangan.


"Manusia! Kau jelas memiliki maksud tertentu dengan meminta bertatap muka langsung denganku!"


"Katakan! Apa yang kau inginkan! Kebetulan aku sedang dalam suasana hati cukup baik!" Ucap Kung-Peng.


"Sebenarnya tak ada yang istimewa, aku hanya sekedar ingin mengobrol denganmu!" Jawab Theo.


"Mengobrol?" Tanya Kung-Peng.


"Yahh, hanya mengobrol! Untuk masalah hadiah dari tantangan yang telah berhasil kuselesaikan, atau kelayakan memanggul Aqua Sword, bisa dilakukan nanti!" Jawab Theo.


"Ahhh… Menarik! Harus kuakui, kau adalah jenis manusia yang cukup menarik! Tak heran ada 4 jenis Ancient Thing yang garis takdirnya tertarik kearahmu! Ditambah kontrak Hell Orb, bisa dikatakan bahwa hampir seluruh jenis Ancient Thing, saat ini bersemayam dalam tubuhmu!" Ucap Kung-Peng.


"Sejujurnya, aku tak sedang ingin mengangkat topik itu dalam obrolan!" Tanggap Theo.


"Hahahhaha…! Baiklah! Silahkan membuka topik! Hanya saja, aku tak bisa terlalu lama menemanimu! Jadi langsung saja potong semak belukar!" Ucap Kung-Peng.


"Abad kekosongan, aku ingin tahu lebih banyak tentang abad kekosongan! Terlebih lagi, yang paling utama tentang satu eksistensi bernama Sage Lord Salomon!" Ucap Theo. Langsung pada topik utama yang ingin ia bahas.


Menyadari ia memiliki kesempatan bertatap muka secara langsung dengan salah satu sosok penghuni asli abad kekosongan, Theo tentu tak menyia-nyiakan untuk menggali informasi sebanyak mungkin.


Pertanyaan Theo sendiri, nyatanya disambut oleh Kung-Peng dengan memasang raut wajah menimang. Terlihat sedikit ragu untuk menjawab.


"Manusia, hal-hal yang ingin kau ketahui, sebenarnya masih terlalu dini untuk dapat kau terima!" Jawab Kung-Peng.


"Kau masih terlalu lemah! Dan bisa dikatakan masih pada pijakan awal perjalanan panjang dari garis takdir yang mengikatmu!" Lanjut Kung-Peng.


"Semua pertanyaanmu, kelak akan terjawab dengan sendirinya seiring berjalannya waktu! Kau harus terus bertambah kuat, setahap demi setahap terus mendaki dari realm kelas rendah ini, menuju realm utama!"


"Disana semua jawaban akan menanti! Disana semua pertanyaan akan terurai!" Tutup Kung-Peng. Secara tak langsung, menolak untuk menjawab pertanyaan Theo.


"Hmmmm… Jawaban yang terus terulang! Itu juga keluar dari mulut orang yang kukenal!" Gumam Theo. Merujuk pada sosok Masternya, Tiankong. Dimana selalu menjawab dengan jawaban retoris yang sama. Seperti Kung-Peng.


"Hahhahaha… Aku sungguh tak enak hati sudah membuat raut wajahmu berubah tertekan seperti itu!" Sahut Kung-Peng.


"Tapi bagaimanapun juga, setidaknya ketika awal kau memasuki Kastil Raja Dewa Air, proyeksiku sudah sempat menuturkan beberapa kisah, dan kisah tersebut memang nyata! Terjadi di abad kekosongan! Dimana juga mengandung beberapa informasi tentang Sage Lord Salomon!"


"Itu seharusnya sudah cukup untuk saat ini!" Tutup Kung-Peng.


"Sage Lord Salomon, telah menghancurkan beberapa Semesta dalam periode tertentu, dan semesta terakhir, atau bisa disebut Abad kekosongan terakhir, adalah periode waktu kau, ras Nefilim hidup, tepat di belakang periode waktu semestaku saat ini! Benar begitu?" Tanya Theo.


"Benar sekali!" Jawab Kung-Peng.


"Baiklah! Terimakasih atas obrolan kosong-nya!" Lanjut Theo.


"Hahahhaha… Kalimat sarkasme yang sungguh menghibur!" Tanggap Kung-Peng, begitu mendengar kalimat terakhir bernada sarkas yang di ucapkan Theo.


"Sudahlah! Kau hanya membuang waktuku!" Ucap Theo.


"Sumberdaya? Kau tak berfikir akan bisa membawa oleh-oleh dari Tartarus Land bukan? Hahahahahha..!" Jawab Kung-Peng. Tertawa lantang.


"Asal kau tahu, jarak antara Gaia Land dengan Tartarus Land, meskipun sama-sama berada di realm kelas rendah, itu sangatlah jauh." Lanjut Kung-Peng.


"Sehingga tepat ketika kau memasuki portal ruang, distorsi yang terjadi imbas jauhnya lokasi ujung lain portal, menyebabkan kebengkokan pada aliran waktu!"


"Karena bagaimanapun juga, ruang dan waktu, adalah dua energi alam yang berhubungan dekat satu sama lain! Saling mempengaruhi!


"Jadi, jauhnya jarak yang di tempuh pada portal ruang, menyebabkan kau akan terlempar ke periode masa yang berbeda dengan waktu Tartarus Land saat ini!"


"Kau bisa saja mendarat di ribuan tahun masa depan, atau ribuan tahun masa lampau Tartarus Land!"


"Satu fakta yang harus kau pahami agar tak mengharapkan apapun dari Tartarus Land! Kau tak akan bisa membawa pulang apapun selain kultivasi! Semua Sumberdaya, akan lenyap bersama distorsi ruang dan bengkoknya alur waktu!" Tutup Kung-Peng.


Mendengar jawaban panjang lebar Kung-Peng, Theo segera memasang kerutan pada keningnya.


"Benar-benar tak berguna! Obrolan kosong tak berguna!" Dengus Theo. Seketika menjadi kesal. Bagaimanapun juga, ia sudah berniat membagi Sumberdaya yang sempat ia kumpulkan di Tartarus Land, kepada anggota tertentu Kelompok Bandit Serigala.


Kini, mendengar bahwa semua Sumberdaya telah lenyap, Theo jelas menjadi sangat kesal.


"Hhaahhahaha….!"


Keluhan kesal Theo, hanya disambut Kung-Peng dengan tawa lantang.


"Baik! Sekarang langsung saja selesaikan! Kita ke topik hadiah tantangan! Kau boleh pergi dan biar proyeksimu kembali mengurus sisanya!" Dengus Theo.


"HAHHAHAHAHHAHAH….!!!!"


Kung-Peng kembali tertawa lantang, kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. Sampai kemudian, sosoknya perlahan menghilang.


Proyeksi Kung-Peng palsu, kembali muncul di hadapan Theo. Tempat dimana sebelumnya Kung-Peng asli menampakkan diri.


"Hadiah bagi pemenang tantangan Kastil Raja Dewa!" Ucap Proyeksi Kung-Peng. Segera setelah kemunculannya.


"Setiap Kastil Raja Dewa, saling terhubung satu sama lain, memiliki simpanan beberapa hadiah yang akan di berikan pada yang sukses menyelesaikan tantangan!"


"Kami, Ras Nefilim yang mengatur tiap-tiap jenis Kastil Raja Dewa, akan menyediakan tiga pilihan opsi hadiah bagi para penyelesai tantangan! Opsi-opsi ini, disesuaikan dengan kebutuhan paling mendasar bagi kalian!"


"Kau bisa memilih satu dari tiga pilihan opsi tersebut, dimana telah tersedia diatas altar batu!" Lanjut Proyeksi Kung-Peng.


"Pilihan pertama, adalah sebuah senjata dengan roh item…"


"Aku memilih Buah Apel Ranah Jiwa!"


Proyeksi Kung-Peng bahkan belum selesai dalam menjelaskan tiap-tiap opsi hadiah, sampai Theo tiba-tiba memotong. Tampak telah memutuskan hadiah yang hendak ia ambil.


"Kau yakin?" Tanya Proyeksi Kung-Peng, memastikan untuk terakhir kalinya.


"Yakin!" Jawab Theo singkat. Tatapan matanya, dari awal tak pernah berpindah. Hanya menatap tajam pada salah satu dari tiga opsi hadiah diatas altar batu. Sebuah Sumberdaya berbentuk apel berwarna cyan. Dimana terus memancarkan aura aneh.


"Baik! Sumberdaya Apel Ranah Jiwa, menjadi milikmu! Segera serap ketika kau keluar dari ruang hampa ini! Karena kau tak akan bisa membawa hadiah tersebut keluar dari Kastil Raja Dewa Air!" Tutup proyeksi Kung-Peng. Bersama dengan itu, Apel Ranah Jiwa melayang menuju telapak tangan Theo.


Theo sendiri, hanya menatap untuk beberapa waktu pada Apel Ranah Jiwa yang kini telah ia genggam. Sebelum senyum tipis tersungging di wajahnya.


"Tentu aku akan segera menyerapnya! Sebuah Sumberdaya yang berasal dari realm lebih tinggi, dimana tak seharusnya ada di realm kelas rendah, jelas tak bisa bertahan di dunia luar!"


"Apel Ranah Jiwa ini sempurna! Benar-benar sesuai dengan kebutuhanku!" Gumam Theo untuk terakhir kalinya. Sebelum melompat, bergerak memasuki portal ruang yang terbentuk dilokasi proyeksi Kung-Peng tadi berada.