
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Gurun Purba. Markas Barbarian Tribe)
*Baaammm…!!!
Dengan raut wajah marah, Sanghis, Khan dari Barbarian Tribe, menendang sampai hancur meja pertemuan yang ada di hadapannya.
Sebelumnya, Sanghis sedang menjalankan rapat tertutup dengan beberapa tetua Barbarian Tribe. Membahas tentang agenda Simposium yang sudah semakin dekat.
Tepat ketika pertemuan berlangsung semakin serius, seorang anggota Barbarian Tribe, memasuki ruang pertemuan untuk menyampaikan kabar bahwa armada yang di kirim ke wilayah Thousand Island guna mencari kabar atau keberadaan armada besar pimpinan Jongha, kembali pulang dengan menderita luka-luka serius.
Sanghis, begitu frustasi saat tak kunjung juga mendapat kabar dari para satuan elite penjaga Khan miliknya.
Bagaimanapun juga, Jongha bersama satuan elite penjaga Khan yang ia pimpin, adalah salah satu elemen penting kekuatan Barbarian Tribe. Kumpulan Knight yang bisa di percaya sepenuhnya oleh Sanghis.
Menyadari hal buruk mungkin terjadi karena Jongha bersama pasukan yang ia pimpin tak kunjung kembali, ditambah fakta bahwa beberapa pasukan Bandit Serigala yang harusnya sedang berperang di wilayah Laut Ungu justru telah kembali menempati Pulau Serigala, Sanghis bisa menduga bahwa beberapa hal tak terduga telah menimpa Kelompok pasukannya tersebut.
Segala ketidakpastian yang cenderung mengarah pada hal buruk, membuat Sanghis tentu berada dalam suasana hati buruk beberapa hari belakangan.
Fokusnya terpecah pada menyiapkan Barbarian Tribe dalam agenda Simposium, dengan mencari tahu nasib Jongha bersama seluruh anggota satuan elite penjaga Khan miliknya.
"Ini benar-benar tak bisa dibiarkan terus berlanjut!" Gumam Sanghis. Dengan nada berat yang tertahan. Memasang wajah yang sangat mengerikan.
"Tetua Pertama! Tetua Kedua! Siapkan pasukan! Aku akan memimpin sendiri untuk melakukan pergerakan!" Bentak Sanghis.
"Tuanku! Kurasa itu bukan tindakan yang bijaksana!" Ucap Tetua Pertama.
"Itu benar! Wilayah Thousand Island masih dalam situasi sepenuhnya tak terduga! Akan sangat beresiko jika anda pergi kesana!" Tambah Tetua Kedua.
"Diam…!" Bentak Sanghis.
*Bammmmm…!!!
Seraya melayangkan tinju ganda pada Tetua Pertama dan Tetua Kedua yang sedang dalam posisi bersebelahan.
*Braakkk…!!!
*Braakkk…!!!
"Uhuuukkk…!!"
Tubuh Tetua Pertama dan Tetua Kedua Barbarian Tribe, segera terhujam pada sisi dinding ruangan. Menghancurkan dinding tempat pendaratan tubuh keduanya sembari memuntahkan darah segar.
"Berani sekali kalian menyanggah perintahku! Kalian pikir aku cukup bodoh dengan bergerak ke wilayah Thousand Island?" Bentak Sanghis. Dengan wajah marah yang semakin menjadi. Luapan hawa membunuh intens, mulai menyebar dari dalam tubuhnya bersama intensitas aliran Mana Lumpur liar.
"Segera siapkan pasukan! Aku akan memimpin untuk pergi ke markas Bandit Menara Langit!" Bentak Sanghis.
"Si J*alang Bianca, jelas telah menjalin hubungan dengan Kelompok Bandit Serigala! Dia pasti punya beberapa informasi yang bisa kita pakai!" Lanjut Sanghis.
"Akan kubuat ia mengatakan semua yang ia tahu!" Tutup Sanghis. Dengan luapan hawa membunuh semakin berat menerjang dari dalam tubuhnya. Luapan hawa membunuh yang segera menyebabkan semua tetua yang hadir, mulai bergidik ngeri. Merasa dingin hatinya.
Mendengar intruksi Sanghis, Tetua Pertama dan Tetua Kedua yang kini jelas tak berani membantah, segera berdiri dengan menekan area dada masing-masing. Sembari menahan sakit pada luka dari pukulan Sanghis, dua Tetua bergerak meninggalkan tempat. Melaksanakan perintah untuk menyiapkan pasukan.
Sanghis terdiam dalam gejolak amarah intens, untuk beberapa saat hanya menatap punggung dua Tetua-nya yang telah meninggalkan tempat. Sampai kemudian, ia tiba-tiba melirik ke suatu sudut arah tertentu.
"Sampai kapan kau akan terus mengawasi? Pergi saja mencari keberadaan cucu kesayanganmu itu! Aku sudah tak peduli lagi!" Bentak Sanghis. Seraya melempar hawa menekan berat pada arah yang sedang ia lirik.
*Woooshhhh….!!!
*Booooommmm….!!!
Sampai kemudian, setelah benturan aura mulai mereda, hawa keberadaan menekan yang sebelumnya sempat terasa dari sudut lirikan Sanghis, tiba-tiba lenyap begitu saja.
"Kumpulan b*etina pembangkangan!" Dengus Sanghis.
****
(Kota Gurun Zordan. Death Arena)
"Aliansi Serigala?"
"Hahahhaha… Tuan Muda Theo memang sesuatu! Kau benar-benar berada di luar segala ekspetasi! Aku bahkan tak menduga kau justru bergerak ke arah ini! Aliansi dengan Sinbad? Hahahhaha…!"
"Sungguh mengguncang!" Ucap Delario. Tetua Dark Guild yang bertanggung jawab pada Death Arena Kota Gurun Zordan.
"Sungguh layak patungmu menjadi hiasan di depan Death Arena!" Lanjut Delario. Dengan intonasi nada dan juga raut wajah begitu puas menatap patung Theo dari jendela ruang kerjanya.
"Harus kuakui Lord Santiago memiliki pandangan mata yang tajam! Ia bahkan sudah membangun hubungan mendalam dengan orang ini saat ia masih belum menjadi sosok apapun! Tuan Muda biasa dari House yang juga tak terlalu mencolok!" Tutup Delario. Selain pada Theo, ia juga semakin kagum pada sosok Lord nya saat ini.
Kabar mengenai hasil akhir dari Perang Besar Laut Ungu yang melibatkan Bandit Serigala dengan Aliansi 7 Lautan, memang belum sepenuhnya menyebar ke kalangan umum Gaia Land. Hanya saja, dua organisasi netral yang mengamati langsung jalannya pertempuran, tentu menjadi yang pertama mengetahui bagaimana hasil akhir dari pertempuran tersebut.
Delario, mendapat informasi hasil akhir pertempuran beberapa hari setelahnya. Meskipun memang Kota Gurun Zordan tempat Delario berada memiliki jarak yang lebih dekat, namun jaringan informasi Dark Guild, tentu mengutamakan laporan pada Lord terlebih dahulu. Baru setelah itu menyebar di internal sosok-sosok penting Guild. Termasuk sampai pada meja kerja Delario dalam bentuk gulungan kertas laporan.
"Hmmmm…!!!"
Delario yang entah kenapa begitu puas dengan hasil yang dicapai oleh Theo, menghabiskan waktu dengan menikmati arak untuk beberapa saat. Sampai kemudian, mulai mengambil posisi berdiri.
"Dengan agenda Simposium yang semakin dekat, aku sepertinya punya cukup banyak waktu luang! Sudah saatnya mengunjungi keponakan keras kepala itu!" Gumam Delario. Seraya berjalan meninggalkan ruangan.
Agenda Simposium, menyebabkan Dark Guild yang mendapat peran sebagai penjaga keamanan, untuk sementara waktu menghentikan segala aktivitas Guild. Termasuk juga penyelenggaraan Death Arena.
Santiago sebagai Lord, memutuskan untuk menarik semua anggota yang tersebar di seluruh Gaia Land. Menyisakan beberapa orang penting untuk menjaga aset. Delario, ditugaskan untuk tinggal dan mengawasi Death Arena meskipun sedang tak beroperasi.
Situasi yang membuat Delario memiliki lumayan banyak waktu luang sampai agenda Simposium selesai dan Dark Guild kembali beraktivitas secara normal.
Delario, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke wilayah Gurun Purba. Mengunjungi keponakannya, Bianca Black. Boss Besar kelompok Bandit Menara Langit.
******
(Sumur misterius, lokasi Theo)
*Booooommmm….!!!
*Booooommmm…!!!
*Booooommmm…..!!!
Theo dan Razak, sedang melakukan penyusuran pada salah satu dari ratusan lorong yang ada di dasar sumur. Sampai tiba-tiba, sekelompok makhluk aneh melompat keluar dari beberapa kotak yang tampak seperti peti mati.
"Boss…!!! Apa sebenarnya mereka?" Ucap Razak. Memasang wajah sengit. Melepas beberapa pukulan pada sosok-sosok makhluk aneh yang menerjang kearahnya.
Sementara Theo, bergerak dalam langkah hati-hati, menggunakan teknik Iron Fist untuk melempar beberapa makhluk ke sudut jauh. Dalam setiap gerakannya, dibarengi dengan Theo mengamati para makhluk yang sedang mengepung.
Makhluk-makhluk aneh yang sedang menyerang Theo dan Razak sendiri, sepenuhnya memiliki bentuk tubuh layaknya manusia. Namun sudah dalam kondisi membusuk di beberapa bagian tubuhnya.
Mayat termumifikasi yang bisa bergerak dan menyerang.
"Razak, tak perlu terlalu cemas! Mereka hanya kumpulan tubuh yang tersegel dengan jiwa sisa! Kau hanya perlu menghancurkan formasi segel yang terukir pada tubuh mereka!" Seru Theo. Setelah melakukan pengamatan untuk beberapa saat.
*Wunggg…!!!
Bersama seruan Theo, sebuah distorsi ruang mendadak muncul di belakangnya. Namun, berhasil dihindari tepat waktu.
"Hmmmmm… Distorsi ruang menjadi masalah lain!" Gumam Theo.
"Razak! Jangan terlalu melebar! Ambil posisi dekat denganku!" Seru Theo kemudian. Sembari mempertajam Eye of Agamoto.