Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
228 - Gejolak Liar Mana Ruang


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


Theo dan Razak yang telah bergerak kesisi lain tepat ketika distorsi ruang muncul, kembali mempertahankan posisi saling memunggungi untuk melindungi satu sama lain.


Hanya saja, karena jumlah pasukan mayat hidup telah berkurang drastis, dimana puluhan dari mayat tersebut secara aneh kini berhenti bergerak setelah menerima hujaman teknik rantai Cahaya milik Theo, situasi Razak berkembang tak terlalu kerepotan. Karena hanya menahan mayat dalam jumlah sedikit yang tersisa.


Memanfaatkan situasi tersebut, Theo memfokuskan Eye of Agamoto untuk mencari lorong yang tepat. Berusaha menemukan arah tujuan selanjutnya sebelum peti-peti mati lainnya mulai kembali terbuka.


"Razak! Arah sini!" Gumam Theo.


*Bammmm….!!!


Bersama gumaman tersebut, Theo melepas teknik Iron Fist. Menghancurkan satu mayat hidup yang menghadang. Membuka jalan untuk memimpin Razak bergerak kearah yang tepat.


*Tappp…!!!


*Tappp….!!!


Theo bergerak dalam langkah hati-hati, memasuki lorong yang menurut gambaran Eye of Agamoto, adalah jalan yang paling tepat. Sementara Razak, dalam diam mengikuti di belakang. Sesekali melepas tinju pada pasukan mayat hidup yang masih mencoba mengejar.


"Baik…! Kita berhasil lepas dari lorong sialan itu!" Gumam Theo. Saat lorong yang sedang ia susuri saat ini. Tak lagi memiliki peti-peti mati yang muncul pada sisi-sisi dindingnya.


'Bocah! Sebenarnya apa yang tadi kau lakukan pada puluhan pasukan mayat hidup?' Tanya Ernesto. Merujuk pada aksi teknik Rantai Cahaya Theo sebelumnya. Tampak jelas masih cukup penasaran.


'Hahhaha… Hanya sekedar menambah simpanan hal berguna yang dapat digunakan untuk memperbanyak simpanan hal lain dibalik lengan baju!' Jawab Theo.


Kata-kata penuh maksud tersembunyi yang disampaikan Theo, tentu saja membuat Ernesto tak puas.


'Bocah…'


Ia hendak kembali bertanya, sampai Theo memotong untuk mendahului.


'Sebaiknya kau tak perlu terlalu ingin tahu! Yang jelas, aku berterima kasih pada informasi tentang keberadaan ruang khusus yang menyimpan jiwa sisa pada formasi segel yang terpasang pada pasukan mayat hidup tadi!'


'Jika kau masih terus bersikeras ingin mengetahui apa yang kulakukan, bisa kupastikan itu hanya akan menyebabkan kau menjadi cemas!' Lanjut Theo.


'Karena hal yang tadi kulakukan pada jiwa sisa para mayat hidup, mungkin suatu saat bisa saja kulakukan juga padamu!' Tutup Theo. Seraya mulai kembali memasang seringai lebar.


Seringai lebar yang untuk sekali lagi membuat perasaan Ernesto menjadi tak nyaman.


'Apapun itu yang sedang kau rencanakan, jangan harap dapat berjalan dengan mudah!' Gumam Ernesto. Dengan intonasi nada yang ditekan.


'Hahahahha… Sama halnya denganmu! Apapun itu yang kau rencanakan dengan menjadi parasit, kupastikan tak akan pernah terlaksana!' Tanggap Theo.


'Lagipula, dengan terus menempel padaku sebagai roh item sarung tangan kilat, cepat atau lambat kau juga akan tahu tentang apa yang nantinya kulakukan pada semua yang tadi kutangkap untuk dimasukkan dalam tabung segel!'


'Bahkan mungkin saat ini kau sudah memiliki gambaran! Gambaran yang jelas menyebabkan kau menjadi cemas! Itu hanya tinggal beberapa langkah sampai aku bisa mempraktekkannya padamu!' Tutup Theo. Semakin melebarkan seringainya.


'Jangan harap!' Balas Ernesto. Seketika lenyap hawa keberadaannya. Bergerak masuk kedalam sudut terdalam ruang roh sarung tangan kilat.


'Hahahah… Semua berkembang menjadi perlombaan waktu! Lagipula kau tak akan bisa mengabaikanku sepenuhnya! Kau jelas memerlukan untuk aku tetap bertahan hidup!' Gumam Theo.


"Razak! Lorong sebelah kanan!" Lanjut Theo. Kini berbicara untuk memberi intruksi pada Razak.


Bersama kata-kata Theo, sesosok mayat hidup menerjang dari lorong yang ia maksud.


*Bammmm…!!!


Razak, menyelesaikan tanpa berkedip.


*Tappp….!!!


Sementara Theo, memfokuskan Eye of Agamoto untuk beberapa waktu, sebelum bergerak kearah lorong lain untuk melanjutkan perjalanan.


Theo berhasil mempertahankan ritme perjalanan. Menghindari lorong-lorong berbahaya dalam prosesnya. Sampai kemudian, setelah menghabiskan beberapa jam perjalanan, ia menangkap sebuah ruang yang berada pada ujung salah satu lorong.


*Tapp…!!


"Hmmmm…!!!"


Tepat ketika Theo sampai di lokasi tujuan, yang menyambut adalah sebuah ruang yang berukuran sangat luas. Aliran dari Mana Ruang yang tak kasat mata, terasa menjadi begitu pekat.


"Boss…!! Apa itu?" Tanya Razak. Saat melihat sesuatu yang berada pada bagian paling tengah ruangan.


Razak sendiri, sedari menginjakkan kaki di dalam ruangan, tak henti memasang sikap waspada.


Hembusan Mana Ruang yang begitu pekat, menyebabkan satu rasa asing nan dingin mendera dada Razak. Rasa yang akan mendera hati setiap manusia saat sedang menghadapi sesuatu yang terasa begitu besar, namun tidak dapat ia pahami.


Rasa dingin di hati Razak, berkembang semakin menjadi saat ia melihat sesuatu yang berada di bagian paling tengah ruangan. Sebuah batu berwarna sepenuhnya hitam pekat berukuran raksasa, hampir sebesar bukit. Begitu besar hingga ujung dari batu raksasa tersebut, menyentuh atap ruang yang menjulang tinggi.


"Benda itu adalah tujuan utama kita melakukan perjalanan ini!" Ucap Theo. Sembari memasang senyum lebar.


"Disebut dengan Logam Mulia Ruang Angkasa!" Tambah Theo. Seraya mulai melangkah kedepan.


"Logam yang berasal dari ruang kosong diatas langit! Ruang kosong yang menjadi pembatas antar realm!"


"Logam ini, secara alami menyimpan kandungan dari sebuah Mana unik yang disebut Mana Ruang!" Tutup Theo, sebelum langkah kakinya, mulai melambat saat aliran Mana Ruang yang ada disekitar, menjadi lebih pekat begitu posisinya semakin dekat dengan Logam Mulia Ruang Angkasa.


Sementara Razak, dimana sebelumnya mengikuti Theo melangkah kedepan, saat ini sudah tertingal cukup jauh beberapa langkah di belakang. Tak mampu menggerakkan kaki untuk terus maju kedepan.


"Logam Mulia Ruang Angkasa, adalah bahan dasar langka yang digunakan untuk menempa Spacial Ring! Juga merupakan bahan dasar pembuatan Portal Ruang yang ada di beberapa aula transportasi kota-kota penting!"


"Keberadaan Logam ini, sangatlah jarang! Satu hal yang menyebabkan harga Spacial Ring, begitu tinggi! Meskipun hanya memerlukan sedikit pecahan dari Logam Mulia Ruang Angkasa sebagai bahan dasar pembuatannya!"


"Jadi, coba kau bayangkan apa yang bisa kita buat atau lakukan dengan Logam Mulia Ruang Angkasa sebesar yang ada di hadapan kita saat ini!"


"Aliansi Serigala, benar-benar mendapat sumberdaya luar biasa untuk membangun fondasinya!"


"Setelah ini, kita akan melangkah ke level selanjutnya!" Tutup Theo. Bersama kata-kata terakhir yang ia ucapkan, ia kini sepenuhnya terhenti. Sudah benar-benar tak bisa lagi melangkah maju kedepan. Sepenuhnya tertekan oleh luapan Mana Ruang yang begitu pekat.


"Baal, aku memanggilmu!" Seru Theo.


Tatto segel Dosa Kerakusan, menyala terang bersama panggilan yang di serukan Theo.


*Woooshhhh….!!!


Tongkat Logam Baal, melompat keluar dari dalam tatto segel sembari menyebar aliran Mana Tanah pekat. Menahan tekanan dari Mana Ruang pekat di sekitar.


*Bammmm….!!!


Mengangkat tangan kanan, Theo menangkap Tongkat Logam Baal yang sempat melayang diudara, sebelum terhujam keras pada genggaman tangannya.


'Master! Sudah lama kau tak memanggil! Apakah waktunya makan?' Ucap Baal. Suaranya menggema di dalam kepala Theo.


'Ya, bisa dibilang seperti itu!' Balas Theo. Seraya mulai membuat Kuda-kuda.


"Sikap pertama Dosa Kerakusan!" Gumam Theo.


*Wuuungg….!!!


Aliran Mana Tanah padat, bergerak dalam derak keras terfokus pada Tongkat Logam Baal. Tongkat Baal, bergetar sangat keras.


Hanya saja, dalam getaran Tongkat yang semakin menjadi, Theo tak segera mengeksekusi Sikap Mamakan Tubuh Dosa Kerakusan. Ia hanya terus menahan getaran hebat untuk beberapa waktu.


Sampai kemudian….


*Wuuungg….!!!


Medan Gravitasi, tercipta di bawah kaki Theo. Bersama Medan Gravitasi terbentuk, aliran Mana Ruang yang sebelumnya hanya memenuhi ruangan dalam kepekatan padat, kini mulai bergejolak hebat. Seperti merespon medan Gravitasi yang di keluarkan Theo.


*Baggg….!!


Razak, jatuh terjerembab saat aliran Mana Ruang, bergerak menjadi liar. Bocah tersebut menggertakkan gigi-giginya, mencoba untuk kembali berdiri. Hanya saja, yang mampu ia usahakan, adalah sedikit mengangkat wajah untuk melihat kearah punggung Theo.


"Luna! Mode Sintesis!" Gumam Theo.