Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
212 - Menyerukan Intruksi


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Mau kabur kemana lagi sekarang kau Bandit sialan!" Dengus anggota satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe yang sedang menerjang kearah Darsa.


Seruan pihak lawan, disambut Darsa dengan mengerutkan kening. Wajah menyeramkan penuh tattonya, memasang raut seolah sedang berhadapan dengan sekumpulan orang bodoh.


"Justru sebaliknya! Kalian cukup bodoh untuk dengan konyol menurunkan kewaspadaan dan terpancing masuk pada areaku!" Gumam Darsa. Seraya membuat gerakan segel tangan cepat. Bersama dengan itu, tatto-tatto segel pada beberapa bagian tubuhnya, mulai menyala terang.


"Aku bahkan tak pernah bilang hanya bisa memanggil tiga Beast kontrak!" Gumam Darsa.


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh….!!!!


Empat Demonic Beast ber-aura ganas, melompat keluar dari dalam tatto segel. Tiga menerjang cepat kearah tiap lawan yang dihadapi oleh Darsa, sementara satu dimana memiliki bentuk Semut bersayap, mendarat tepat dihadapan Darsa. Menunduk penuh penyembahan kepada sang Master.


Sebelumnya, ketika Darsa masih berada di kelas King, ia secara maksimal cuma bisa memanggil keluar 4 Demonic Beast kontrak, meskipun sebenarnya, Demonic Beast yang terkontrak dalam ranah jiwa Darsa, berjumlah lebih dari itu.


Kini, setelah berhasil menerobos ke kelas Emperor, batasan dalam jalan True Knight yang ia ambil, secara perlahan terbongkar.


Darsa, memegang perlahan kepala Demonic Beast kontrak semut bersayap yang menunduk di hadapannya untuk sesaat, sebelum dengan gerakan cepat, melakukan lompatan. Mendarat pada punggung sang makhluk.


Mengepakkan sayapnya dengan bunyi berdengung cukup berisik, Demonic Beast kontrak berbentuk Semut milik Darsa, terbang tinggi keatas langit.


Darsa yang terbang menunggang Semut bersayap, melanjutkan aksi pertempuran dengan melakukan koordinasi pada 7 Demonic Beast kontrak yang ia keluarkan. Para makhluk ganas tersebut, bergerak liar menyerang para anggota pasukan Barbarian Tribe yang menjadi targetnya masing-masing.


Selain para Demonic Beast kontrak yang telah ia keluarkan, Darsa juga tampak telaten terus mengarahkan dan juga mengatur divisi Thousand Beast yang tersebar diatas medan pertempuran, agar bergerak penuh koordinasi. Secara efisien sedikit demi sedikit mengeliminasi pasukan pihak lawan.


Situasi yang diberikan Darsa bersama Divisi Thousand Beast diatas medan pertempuran, tentu saja berimbas pada terguncangnya mental pihak lawan. Bagaimanapun juga, menghadapi Demonic Beast yang memiliki atribut kegelapan, adalah sebuah situasi yang benar-benar menyiksa, membuat frustasi. Dan kini, itu bukan hanya satu atau dua yang harus pasukan Barbarian Tribe hadapi. Tapi puluhan sekaligus.


Bagai seorang panglima perang, Darsa yang baru menyelesaikan untuk membunuh beberapa anggota satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe dimana sempat mengepung, melanjutkan aksi dengan terbang melintas beberapa titik wilayah medan pertempuran. Membawa intruksi terstruktur pada setiap wilayah yang ia lewati.


Darsa dengan divisi Thousand Beast yang ia komandoi, kini bagaikan gelombang ombak ganas yang bergerak pada setiap sudut medan pertempuran. Disegala penjuru, akan tampak Demonic Beast kontrak milik anggota divisi Thousand Beast, sedang mengamuk liar.


****


(Dek Glory Land Warship)


*Tappp…!!!


Satu sosok mendarat dengan pendaratan ringan. Dalam diam mengamati situasi dek Glory Land Warship yang saat ini penuh dengan anggota kelompok Bandit Serigala sedang terkapar.


Kedatangan sosok tersebut, segera disambut oleh para anggota yang ada di atas dek, baik itu tim medis ataupun mereka yang sedang terluka, dengan memasang wajah penuh syukur.


"Boss…!" Ucap salah satu pria tua anggota divisi medis.


*****


(Lokasi pertarungan Sasi-Cassio, melawan Kelompok inti satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe pimpinan Jongha)


Jongha, masih berada dalam situasi pertarungan sengit melawan Sasi. Benar-benar tak mampu mengambil momentum untuk bergerak mengungguli sang Goblin meskipun jelas ia seharusnya memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi.


Sementara Cassio, masih dengan santai sembari terus memasang senyum lebar, melancarkan serangan tebasan-tebasan tajam pada para anggota satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe yang ada di sekitar, beberapa tebasan Cassio, bahkan menagih anggota tubuh pihak lawan.


Aksi dan ekspresi wajah Cassio, kini semakin menegaskan kenapa ia selama ini di kenal dengan julukan Sang Penjagal.


Situasi pertempuran berkembang menjadi cukup menyusahkan bagi kelompok inti satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe pimpinan Jongha ketika mereka hanya harus menghadapi dua orang, yakni Sasi dan Cassio. Meskipun memang belum bisa sepenuhnya dikatakan dalam tekanan karena baik itu Sasi dan Cassio juga menerima beberapa luka parah dalam jalannya pertarungan, namun kondisi tersebut tak bertahan untuk waktu yang lama.


Karena bersama datangnya gelombang pasukan tambahan Kelompok Bandit Serigala, Tuan Leluhur, memimpin pasukan dalam jumlah besar, untuk bergerak memberi dukungan kepada Sasi dan Cassio.


*Woooshhhh…!!!


*Baaammmmm….!!


Melompat dari atas dek salah satu kapal perang, Tuan Leluhur melancarkan serangan beratribut Mana Besi padat pada lokasi pendaratannya.


"Buka jalan!" Seru Tuan Leluhur, dengan intonasi nada penuh martabat. Menyebar luapan Mana Besi pekat yang terasa begitu murni dan kuno.


Bersama seruan Tuan Leluhur, ratusan anggota kelompok Bandit Serigala yang bergerak mengikuti menggunakan kapal-kapal perang di belakang, melakukan lompatan tinggi. Mendarat diatas laut beku. Sebelum mulai bergerak memasuki medan pertempuran dengan terjangan penuh semangat sembari meneriakkan seruan-seruan perang.


Disisi lain, Jongha yang menyadari bahwa situasi berkembang menjadi tak baik untuk kelompoknya, segera melakukan lirikan cepat penuh pengamatan, sembari terus menahan serangan-serangan Sasi. Sebelum kemudian….


*Bammmm…!!!


Jongha melancarkan serangan tinju keras pada Sasi, memanfaatkan momentum untuk membuat jarak tertentu antara dirinya dan Sang Goblin.


"Ini buruk!" Gumam Jongha, sembari menatap tajam kearah sosok Tuan Leluhur.


Tatapan Jongha, dibalas oleh Tuan Leluhur dengan mulai memasang senyum seringai lebar. Menunjukkan gigi-gigi metaliknya yang tajam nan mengerikan.


Senyum lebar Tuan Leluhur, seolah ia sedang menyampaikan salam pada Jongha. Dimana sebelumnya memang keduanya sempat bertatap muka dan berduel satu sama lain di wilayah Laut Merah.


"Makhluk aneh itu lagi!" Gumam Jongha. Mulai merasa tertekan dengan kemunculan sosok-sosok kuat dari kelompok Bandit Serigala.


*Booooommmm…!!!


Jongha hanya kembali fokus pada pertarungan melawan Sasi, saat satu serangan tinju dari sang Goblin, terlepas menyasar area dada. Serangan yang dengan tanggap mampu ditahan oleh Jongha pada detik terakhir.


Sembari melanjutkan tukar tinju dengan Sasi, Jongha terus memikirkan langkah terbaik apa yang harus ia ambil dalam mengatasi perubahan drastis jalannya alur pertempuran. Sampai tiba-tiba, ketika Jongha bahkan belum menemukan langkah tepat apapun dalam pemikirannya…


*Wuuungg….!!!


Suara dengungan keras, dimana membawa aura menekan yang begitu intens, terdengar dari suatu arah.


Jongha yang mendengar suara tersebut, segera melirik kearah lokasi sumber suara. Lirikan Jongha, nyatanya disambut dengan sebuah pemandangan yang segera membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Pemimpin satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe tersebut, hanya bisa menghirup udara dingin begitu melihat moncong meriam raksasa Glory Land Warship, saat ini sedang berderak liar dalam intensitas Mana Tanah bercampur Cahaya padat. Sepenuhnya terarah pada titik dimana sebagian besar pasukan Barbarian Tribe sedang berkumpul, tersudut oleh gelombang serangan divisi Thousand Beast.


*BOOOOOMMMM….!!!


Detik berikutnya, meriam raksasa tak tertahan lagi. Menembakkan sebuah serangan dahsyat yang meluluh-lantakkan lokasi targetnya. Gumpalan daging berterbangan, darah segar menderu seperti layaknya hujan deras. Hampir separuh jumlah pasukan Barbarian Tribe, mati seketika dengan tubuh tak lengkap. Berceceran di segala penjuru medan pertempuran.


"BANDIT SERIGALA!"


Guncangan hebat imbas tembakan dahsyat meriam Glory Land Warship bahkan belum sepenuhnya mereda, sampai tiba-tiba, satu sosok yang berdiri tegak diatas ujung dek Glory Land Warship, menyerukan suatu kalimat.


"Jangan sisakan satupun anggota Barbarian Tribe yang ada di tempat ini, untuk bertahan hidup! Habisi seluruhnya tanpa tersisa!"


Sosok tersebut, tentu saja adalah Theo. Memberi intruksi khusus yang segera disambut oleh seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang mendengarnya, dengan seruan-seruan perang membahana.


Bersama seruan Theo pula, dari arah belakang, gelombang besar pasukan sayap kanan Bandit Serigala, ditambah armada pasukan San Juan, bergerak memasuki medan pertempuran.


Situasi, segera berubah mencekam bagi pihak Barbarian Tribe. Bahkan Jongha yang beberapa saat lalu masih memasang raut penuh percaya diri, kini berubah pucat wajahnya.