Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
210 - Apa Itu Cukup?


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


Situasi Medan Pertempuran, seketika berubah hening. Setiap orang, terdiam untuk memandang kearah pemimpin masing-masing.


Pasukan Eleanor Tribe, menatap sang Khan dengan sorot mata agak ragu. Karena menurut mereka, jelas pihak Eleanor Tribe masih merupakan yang memiliki keunggulan dalam jalannya pertempuran.


Sesekali para pasukan Eleanor Tribe, khususnya para Tetua, melirik kearah Iris, nona muda mereka yang entah sejak kapan dan bagaimana caranya, telah berada di lokasi pertarungan antara Theo dan Khan. Begitu tertarik dan penasaran dengan wujud senjata aneh yang sedang di genggam gadis tersebut.


"Wah, Mode Murka Aqua Sword!" Gumam Sinbad, menatap penuh minat pada sosok penjelmaan Kung-Peng. Sementara Blazing Sword dan Tremor Sword pada kedua genggaman tangannya, dari tadi tak berhenti berdenyut, seolah ikut tertarik pada sosok Kung-Peng.


Bagaimanapun juga, itu adalah hal yang cukup wajar, karena baik itu Gryphon dan juga Vermilion Bird yang bersemayam di dalam Blazing Sword dan Tremor Sword, adalah ras yang sama dengan Kung-Peng. Ras Nefilim, penghuni abad kekosongan yang sama.


Sinbad, hanya terus memandang kearah Iris. Mengabaikan tatapan setiap anggota Aliansi 7 Lautan yang kini sedang terfokus kepadanya, menunggu untuk intruksi.


Sementara seluruh anggota kelompok Bandit Serigala, tentu saja hanya memandang kearah Theo. Dipimpin oleh Razak dan Hella, seluruh pasukan, tak akan mempertanyakan apapun itu intruksi lanjutan yang nantinya akan keluar dari dalam mulut Boss Besarnya tersebut.


Keheningan medan pertempuran, bertahan untuk waktu yang cukup lama karena tiga sosok pemimpin pihak yang saling bertempur, masih diam dan tak memberi intruksi apapun.


Suara yang terdengar, kini hanya hembusan-hembusan nafas, serta suara bising nan jauh yang terdengar dari jalannya medan pertempuran lain antara kelompok Bandit Serigala dan Barbarian Tribe.


Dalam keheningan total, hawa sekitar juga berubah menjadi agak berat. Pasukan dari semua pihak, meskipun telah menarik diri beberapa langkah mundur dari lawan masing-masing, masih mempertahankan sikap waspada.


Bagaimanapun juga, hanya perlu satu kalimat intruksi dari salah satu tiga orang yang menjadi pusat tatapan mata tiap pihak yang sedang bertempur, itu akan cukup untuk kembali menggetarkan Medan Pertempuran.


Sampai kemudian, setelah bertahan dalam situasi berat untuk waktu yang cukup lama, Khan Eleanor Tribe, menjadi yang pertama menarik seluruh auranya. Tindakan tersebut, segera sedikit memecah ketegangan yang terjadi.


Pertempuran antara Pihak Bandit-Perompak melawan Eleanor Tribe, tampak seperti akan selesai dengan jalan tengah dimana kedua belah pihak, menarik mundur pasukan masing-masing.


Akan tetapi, dalam situasi yang sudah mulai tenang, Theo secara tiba-tiba mengucapkan kalimat yang memecah keheningan.


"Hei Iris! Kau tak berfikir, bahwa hanya akan berakhir seperti ini saja bukan?" Ucap Theo.


Mendengar kata-kata Theo, raut wajah Khan Eleanor Tribe, dan juga seluruh pasukannya, segera berubah dingin. Menatap tajam kearah Theo.


"Apa maksudmu?" Tanya Khan Eleanor Tribe, dengan intonasi nada tajam. Sedikit kembali membocorkan aura yang tadi sempat telah ia tarik. Merasa bahwa Theo sudah melangkah melebihi batas, seperti belum cukup puas dengan hasil akhir pertempuran yang hendak tercapai.


Bagaimanapun juga, sang Khan sudah bersedia menahan langkah untuk tak terus maju dalam situasi kelompoknya yang jelas masih berada dalam kondisi unggul dalam jalannya medan pertempuran.


Namun, sebelum Theo sempat menjawab pertanyaan Khan Eleanor Tribe, Iris mendahului untuk bertanya.


"Apa syarat yang kau inginkan agar bersedia menarik mundur kelompokmu?" Tanya Iris. Menatap dingin kearah Theo.


"Iris!" Bentak Khan Eleanor Tribe.


"Nona muda! Itu sudah berlebihan!"


"Benar! Sudah bagus kita mau menahan diri!"


"Para sampah ini sungguh tak tau diri!"


Suara-suara keluhan tak terima dari para Tetua Eleanor Tribe, terdengar saling sahut tepat setelah sang Khan membentak dengan nada marah.


Hanya saja, suara-suara tersebut, tampak sepenuhnya diabaikan oleh Theo dan Iris, Theo bahkan tak melihat sama sekali kearah Khan Eleanor Tribe. Mempertahankan tatapan pada Iris.


"Aku ingin melihat wajah orang-orang yang sebelumnya membunuh para wakil pemimpin divisi Kelompok Bandit Serigala! Terutama orang-orang yang melukai Guan Zifei! Karena jelas, Fairley tak akan mampu membunuh Guan Zifei seorang diri tanpa bantuan!" Ucap Theo.


Mendengar kata-kata Theo, bukan Iris yang menanggapi, itu justru beberapa Tetua Eleanor Tribe, tepatnya tiga orang Tetua, melompat untuk maju kedepan. Mendekati posisi Iris dan Theo.


"Aku yang telah membunuh salah satu wakil pemimpin kelompok Bandit Serigala! Nenek tua rentah yang menyedihkan!"


"Jadi, kau mau apa?" Ucap satu dari tiga Tetua yang maju kedepan. Tampak memandang rendah kearah Theo.


"Yah…!!! Itu benar! Kau mau apa?"


Dua Tetua tersisa, mengkonfirmasi perannya dalam situasi terakhir Guan Zifei.


Kata-kata penuh ejekan dan juga tatapan mata merendahkan yang ditujukan tiga Tetua kepada Theo, tentu saja segera disambut oleh para anggota kelompok Bandit Serigala di sekitar, dengan memasang raut wajah memerah. Tampak benar-benar marah. Jelas tak terima saat Boss Besar nya, direndahkan oleh pihak lawan.


Razak dan Hella, bahkan sudah mulai menghimpun aliran Mana dalam Element Seed masing-masing. Hanya kediaman Theo yang saat ini menjadi alasan dua orang tersebut, tak segera maju menerjang kedepan.


Sementara Sinbad dan Dante, dua orang terpenting pihak Aliansi 7 Lautan, hanya dalam diam terus memandang kearah Theo. Menunggu momen selanjutnya dari situasi panas nan tegang yang secara tiba-tiba kembali tersaji.


"Hmmmm… Jadi kalian…" Gumam Theo. Mulai mengucapkan beberapa patah kata. Beberapa patah kata yang segera memperberat hawa lingkungan sekitar.


Namun, Theo bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sampai peristiwa tak terduga, tiba-tiba terjadi.


*Woooshhhh…!!!


*Slaaaassshhh….!!!


Menggunakan aliran Mana Air intens dari Mode Murka Aqua Sword, Iris, melancarkan satu serangan tebasan cepat. Sebuah serangan yang seketika membuat Kelompok Bandit Serigala, melangkah kedepan. Hella dan Razak, bahkan sudah menerjang untuk mengambil posisi di hadapan Theo. Memasang kuda-kuda bertahan melindungi Boss Besar mereka.


Namun, serangan tebasan Iris, secara tak terduga, ternyata tak menyasar kearah Theo. Hanya dalam satu kali gerakan menebas, Iris justru menebas tiga kepala Tetua Eleanor Tribe yang sedang berdiri dihadapannya. Dengan wajah datar, membunuh tiga orang tersebut dalam sekali jalan.


Aksi Iris, tentu saja segera disambut oleh tiap orang yang ada disekitar, dengan memasang wajah terkejut. Bahkan Theo sendiri, tampak tak menduga bahwa situasi akan berkembang menjadi seperti ini.


"Nona muda! Apa yang kau lakukan?"


"Nona muda!"


"Apa yang ia lakukan?"


Kalimat-kalimat bernada tak percaya, keluar dari dalam kelompok besar pasukan Eleanor Tribe.


"DIAM…!"


Suara ribut, hanya terhenti ketika Khan Eleanor Tribe, berseru lantang. Memerintahkan pasukan Eleanor Tribe menutup mulut masing-masing. Sang Khan, menatap tajam kearah punggung Iris.


"Apa itu sudah cukup?" Tanya Iris kepada Theo. Dengan nada tenang nan datar.


"Yang perlu kau tahu, kami juga menderita kerugian dalam pertempuran ini! Bahkan nyawa Tuan Muda Pertama Eleanor Tribe, telah melayang di tanganmu!" Lanjut Iris.


"Baik! Cukup!" Jawab Theo singkat. Menatap tajam kearah Iris.


"Ibu! Kita pulang!" Ucap Iris. Begitu mendengar jawaban Theo. Gadis ini menarik Mode Murka Aqua Sword. Sebelum berjalan pergi.


Bersama kata-kata Iris. Khan Eleanor Tribe, menuruti permintaan tersebut, menarik mundur seluruh pasukan untuk kembali bergerak dalam gelombang besar menuju wilayah Laut Putih.


Theo sendiri, hanya dalam diam memandang pergerakan pasukan Eleanor Tribe untuk beberapa saat. Khususnya pada punggung Iris. Sebelum mulai mengalihkan pandangan pada lokasi lain medan pertempuran.


"Sinbad! Kau bisa mengistirahatkan serta mengatur ulang Kelompok Aliansi 7 Lautan untuk sekarang! Kita bahas lebih lanjut tentang Aliansi setelah aku menyelesaikan urusan yang ada disana!" Ucap Theo.


"Ohhh… Tak perlu bantuan?" Tanya Sinbad.


"Tak perlu! Hanya sekumpulan sampah lain!" Jawab Theo.


--------


Note :


Wah, tumben sudah hari kamis masih bertahan di posisi 20an ranking hadiah, biasa uda terhempas 30an wkwkw.


Jadi sekalian minta dukungan vote poin-nya dong kawan-kawan, sekali-kali dalam setahun nulis, saya sebagai Author, pengen liat SDC bisa nangkring di posisi 20 besar.


Sekedar harapan saja, semoga terkabul. ^^