Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
179 - Sungguh Berisik!


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


(Lembah Demonic Beast ke-empat)


*Draaaakkk….!!!


Bersama Theo selesai mengubah Lembah Demonic Beast ke-empat menjadi Kuburan massal Demonic Beast, menara misterius kembali muncul pada wilayah pusat bagian paling tengah Lembah tersebut. Dimana sekarang sudah hancur berantakan penuh bangkai Demonic Beast kelas tinggi, berserakan sepanjang mata memandang.


"Uhuuukkk…!!! Sialan! Roh mesum! Persiapkan dirimu!" Ucap Theo, begitu melihat menara misterius, terus meninggi.


'Apakah kau benar-benar yakin soal ini? Akan lebih baik jika langsung kabur saja! Kondisimu sangat kacau!' Tanggap Ernesto. Seraya mulai menghimpun aliran Mana Mutasi Listrik Merah.


"Kau pikir, kabur akan semudah itu?" Jawab Theo. Sembari menggertakkan dengan keras gigi-giginya. Bahkan sebelum menara misterius muncul dengan sempurna, aura Mana Kegelapan sangat pekat, sudah memberi tekanan yang begitu berat pada tubuh Theo.


'Bocah, lalu apa tujuanmu menahan untuk tak menggunakan Sepatu dan Sarung tangan kilat sedari tadi? Bertahan melawan ratusan Demonic Beast kelas tinggi dan 4 Boss Lembah hanya dengan kekuatan sendiri, khususnya tubuh fisik!" Ucap Ernesto. Mulai bernada cemas, imbas tekanan aura Kegelapan ganas yang menyebar dari arah menara misterius, kini juga perlahan memasuki inti Sarung tangan kilat, tempat Ernesto bersemayam.


Seperti kata Ernesto, dalam proses mengubah Lembah Demonic Beast ke-empat menjadi kuburan massal Demonic Beast, Theo hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya sendiri. Tanpa mengaktifkan Sarung tangan maupun Sepatu kilat sama sekali.


Akibat dari cara bertarung tersebut, tubuh Theo berakhir menderita banyak sekali luka parah. Kondisi paling buruk selama ia menyelesaikan Lembah-Lembah Demonic Beast.


Hanya saja, berkat kenaikan level garis-garis Meridian, tubuh fisik Theo mampu menahan semua luka agar tak berkembang hingga menyebabkan ia sampai kehilangan kesadaran.


"Roh mesum, cukup ikuti saja intruksi yang sebelumnya kuberikan padamu! Persiapkan Mana Mutasi Listrik Merah!" Gumam Theo. Dengan suara lirih yang tertahan.


Aura yang semakin berat beriringan dengan semakin meningginya menara misterius, menyebabkan hanya untuk mengucap beberapa patah kalimat, itu sudah merupakan perjuangan keras bagi Theo.


'Hmmm… Terserahlah! Apapun itu!' Dengus Ernesto. Menjadi tak peduli lagi. Segera mempercepat aliran Mana Mutasi Listrik Merah untuk bergerak pada satu titik saja. Sepenuhnya terhimpun dengan intensitas tinggi, hanya pada Sarung Tangan Kilat.


*BZZZZZTTT….!!!


*BZZZZZTTT….!!!


*BZZZZZTTT….!!!


Luapan Mana Mutasi Listrik Merah, berderak dengan begitu dahsyat. Menyala terang pada dua kepalan tinju tangan Theo, menari-nari disekujur Sarung tangan kilat.


"Hoooooaaaarrrrgggg….!!!"


Theo sendiri, seketika berteriak lantang, tampak tersiksa menahan gejolak rasa sakit di segala luka pada tubuhnya yang kini semakin terbuka dan bertambah parah pasca derak listrik merah milik Ernesto, mulai memberi tekanan tambahan pada sekujur tubuhnya.


"TAMBAH LAGI!" Seru Theo lantang. Memaksa untuk berteriak, dimana semakin membuat luka-luka pada tubuhnya, menyemburkan banyak darah segar.


'Bocah…! Kau serius…?' Tanya Ernesto, dengan nada ragu. Jelas sekali melihat tubuh Theo bisa tumbang kapan saja jika situasi ini terus dilanjutkan. Apalagi sekarang Theo meminta agar Ernesto, membantunya menambah intensitas derak aliran Mana Mutasi Listrik Merah.


Pertanyaan ragu Ernesto, nyatanya hanya disambut oleh Theo dengan mempertahankan tatapan penuh ketajaman kearah puncak menara. Meskipun Theo sudah tak mampu menjawab pertanyaan Ernesto, bahkan dengan pikiran, namun sorot mata serta ekspresi wajah Theo, sudah cukup menyampaikan jawaban yang jelas.


'Bosan sudah aku mengataimu sebagai bocah tolol yang sembrono!' Dengus Ernesto. Tak punya pilihan lagi selain mengikuti arahan Theo. Menambah intensitas derak aliran Mana Mutasi Listrik Merah pada dua sisi sarung tangan kilat.


*BZZZZZTTT….!!!!


*BZZZZZTTT….!!!!


Sementara Theo yang harus memikul gejolak liar tersebut pada dua tangannya, saat ini tampak mulai tak bisa menjaga keseimbangan tubuh, akan jatuh kedepan.


Namun, tepat ketika ia sudah mulai jatuh, Theo segera menahan agar tak sampai pada situasi lutut menyentuh tanah. Sebisa mungkin mempertahankan harga diri dengan memakai dua kepalan tangan berderak liar, sebagai tumpuan. Bagaimanapun juga, Theo masih memegang teguh prinsip yang diajarkan oleh sang Master. Dibawah lutut seorang lelaki, itu adalah gunung emas.


Tindakan keras kepala Theo dalam mempertahankan prinsip serta harga diri tersebut, tentu saja semakin memberi dampak kerusakan berat pada lingkungan sekitar. Derak listrik merah yang menyentuh tanah, tersebar luas merasuk kebagian dalam tanah yang di pijak Theo. Menyebabkan tubuh Theo sedikit terperosok ketika tanah yang ia pijak, mulai runtuh.


Dalam situasi yang terlihat begitu buruk, dimana Theo menerima dua tekanan sekaligus, satu dari aura kegelapan intens menara misterius, kemudian satu lagi dari derak Mana Listrik Merah yang sengaja ia himpun pada satu titik, pergerakan meninggi menara misterius, kini juga mulai melambat. Seperti akan sampai pada ketinggian maksimum-nya.


*Wuuungg…!!!


Sampai akhirnya, menara misterius yang telah benar-benar berhenti meninggi, mengeluarkan sebuah bunyi dengunan keras tepat ketika portal tak stabil, terbentuk pada puncak menara tersebut.


Dengunan yang terdengar memekakkan telinga, ternyata tak hanya membawa suara berisik, namun juga tekanan nyata aura dahsyat dari sesosok makhluk puncak yang kini kembali terlihat di balik portal.


Mendapat tambahan tekanan dari Demonic Beast puncak, Theo yang bahkan sudah tak sanggup lagi berteriak, akhirnya hanya mampu mempertahankan sorot mata tajam penuh keteguhan pada dua mata.


Meskipun memang seluruh tubuh Theo kini terlihat berada pada situasi yang sangat mengenaskan, darah segar membasuh setiap bagian tubuh, berasal dari luka-lukanya yang terbuka semakin lebar, ditambah dengan derak listrik merah yang juga mulai menyebar tak beraturan, namun terlihat jelas Theo masih benar-benar tak menunjukkan rasa takut apapun pada sosok yang ada di balik portal.


Sosok Theo, kini justru berubah bagai seorang manusia yang baru merangkak keluar dari neraka paling dasar. Mengenaskan, namun juga mengerikan disaat bersamaan.


Sementara itu, dibalik portal, Demonic Beast kelas puncak yang melihat kondisi sosok Theo, terlebih tatapan matanya yang penuh ketajaman dimana terarah tepat dan tanpa cacat padanya, terlihat sedikit tertegun untuk beberapa saat.


"BOCAH MANUSIA…!!!"


Sampai kemudian, Sang Demonic Beast puncak akhirnya mulai mengucapkan kalimat pembuka.


"BUKANKAH SUDAH KEPERINGATKAN SEBELUMNNYA, JANGAN LAGI KAU…"


"Sungguh Berisik!"


Belum sempat sang makhluk penuh dominasi tersebut menyelesaikan kalimatnya, Theo yang masih dalam kondisi penuh tekanan dan menahan gelombang rasa sakit tak tertahan pada sekujur tubuh, tiba-tiba menggumamkan satu kalimat dalam nada lirih. Hampir tak terdengar.


*BRAAAKKKKK…!!!


*BZZZZZTTT…!!!


Dan tepat ketika Theo selesai bergumam, menggunakan sisa tenaga terakhir yang ia miliki, Theo membuat gerakan menyentak kaki kanan. Mengangkat paksa tubuhnya. Aksi Theo ini, diiringi dengan derak Mana Listrik merah, semakin bergeliat liar tak beraturan kesegala arah.


*BZZZZZTTT…!!!!


*BZZZZZTTT….!!!!


*BZZZZZTTT….!!!!


Derak listrik merah, menjilat-jilat. Menghancurkan apapun yang berada pada arah sebarannya sampai kemudian, dengan wajah pucat pasih menahan gejolak yang mendera seluruh tubuh, Theo menghujamkan dua kepalan tangan kearah atas.


*BLAAAAAAAZZZZTTTT….!!!!


Gelombang Mana Listrik Merah maha dahsyat yang sedari tadi di tahan oleh Theo, melaju lurus. Sepenuhnya mengunci portal ruang tak stabil dipuncak menara misterius. Bersama melajunya serangan Listrik Merah pula, tubuh Theo akhirnya benar-benar tumbang. Jatuh tak sadarkan diri.


Sementara disisi berlawanan, raut wajah Demonic Beast kelas puncak yang ada di balik portal, kembali berubah tertegun saat melihat aksi terakhir yang dilakukan bocah manusia dihadapannya tersebut.


*BOOOOMMMM….!!!!


Demonic Beast kelas puncak, tak memberi reaksi apapun ketika serangan Theo, akhirnya mendarat tepat pada portal ruang. Menghancurkan portal tersebut bersama dengan menara misterius yang menopangnya.