
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Hari penyerangan. Wilayah perbatasan Laut Putih dan Laut Nila)
"Apa belum ada kabar juga dari kawanan Bandit itu?" Tanya Khan Eleanor Tribe. Dimana sekarang sedang berdiri diatas dek kapal perang. Menatap tajam kearah wilayah Laut Nila yang ada di hadapannya.
"Belum ada kabar apapun yang mulia! Terakhir kali menyampaikan pesan, mereka mengatakan bahwa akan mulai bergerak ke wilayah Laut Biru hari ini!" Jawab Tetua Pertama Eleanor Tribe.
"Hmmmm…!!!" Dengus Khan Eleanor Tribe. Sedikit mengerutkan kening.
"Yang Mulia, dalam pesannya, Boss Besar kelompok Bandit Serigala memang menyatakan bahwa ia sengaja untuk menggerakkan seluruh armada di detik terakhir!"
"Dengan begitu, serangan gabungan dua arah yang kita lakukan bersama mereka, tak akan mudah terbaca oleh pihak lawan!" Lanjut Tetua Pertama.
"Hmmmm… Jadi dengan kata lain, ia bersama armada besar kelompok Bandit Serigalanya, mengambil peran sebagai unsur kejut? Ingin kita melakukan pergerakan terlebih dahulu?" Ucap Khan Eleanor Tribe.
"Sepertinya begitu!" Jawab Tetua Pertama.
"Mencurigakan!" Tanggap Fairley tiba-tiba. Setelah dari tadi hanya mendengarkan di samping sang ibu.
"Bagaimana mencurigakan? Kelompok Bandit Serigala sudah menempatkan seluruh pasukan mantan Kelompok Perompak Laut Hijau yang telah mereka taklukkan, dipimpin langsung oleh San Juan, Kapten Perompak Hiu Pembunuh yang terkenal, untuk menjaga perbatasan Wilayah Laut Biru dan Nila?" Tanya Iris. Melirik kearah Fairley.
"Bukankah kau sudah tau tentang informasi tersebut bahkan sebelum kita kembali ke Tribe? Zhou Kang sudah memberi kabar langsung berkenaan situasi Laut Biru!" Tambah Iris.
"Tetap saja, apa kau bisa menjamin kumpulan Bandit rendahan itu, tak sedang merencanakan sesuatu yang tersembunyi?" Tanggap Fairley. Melirik balik kearah adiknya.
"Bagaimanapun juga, mereka adalah kawanan Bandit! Satu golongan menjijikkan, sama halnya dengan para Perompak!" Tutup Fairley.
"Kalian berdua, lebih baik diam!" Dengus Khan Eleanor Tribe. Begitu mendengar dua anaknya kembali berdebat.
"Jika masih terus berseteru tanpa alasan yang jelas seperti ini, maka akan lebih baik untuk kuperintahkan beberapa tetua menyeret kalian kembali ke Tribe!"
"Benar-benar mengganggu!" Tutup Khan Eleanor Tribe. Sudah merasa jengah dengan perseteruan tak jelas dari dua anaknya.
Situasi segera menjadi hening ketika sang Khan sudah buka mulut. Keheningan bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian baru terpecah ketika ia melanjutkan untuk memberi intruksi.
"Tetua pertama, kau memimpin sayap kanan! Pergi sekarang juga untuk memberi komando pada kapal induk nomer dua!" Ucap Khan Elaenor Tribe.
"Baik…!" Jawab Tetua Pertama singkat. Pria tua berkelas Emperor tahap Langit ini menyempatkan untuk memberi salam tangan dengan gerakan menundukkan kepala kepada Sang Khan, sebelum akhirnya melakukan gerakan cepat, menuju kapal induk kedua yang tadi dimaksud oleh pemimpinnya.
"Tetua kedua! Kau ambil sayap kiri!" Lanjut Khan Elaenor Tribe, ganti memberi intruksi pada wanita tua berkelas Emperor tahap Langit lainnya yang berdiri dalam posisi menunduk di belakangnya.
"Saya laksanakan!" Jawab Tetua kedua. Segera melompat pergi untuk menuju kapal induk nomer tiga yang saat ini berada di sayap kiri.
"Ibu…! Bagaimana denganku? Sayap kanan atau kiri?" Tanya Fairley, jelas ingin ikut mengambil peran penting dalam pertempuran besar yang akan terjadi.
Mendengar jawaban sang ibu, Fairley segera memasang ekspresi wajah tak puas.
"Disini sudah ada kau yang memimpin! Aku akan lebih berguna di sayap kanan atau kiri!" Ucap Fairley. Merasa berada di kapal yang sama dengan ibunya, bukanlah hal yang bagus. Menyebabkan ia tak bisa mengambil peran besar. Menaikkan reputasi.
"Sekali lagi kau membantah, aku akan mematahkan tangan dan kakimu!" Gumam Khan Eleanor Tribe. Dengan nada dingin yang sangat mencekam. Tanpa melihat kearah Fairley sama sekali. Sepenuhnya fokus menatap wilayah Laut Nila yang sebentar lagi akan ia gempur dengan gelombang serangan besar.
Dan tepat ketika sudut mata Khan Eleanor Tribe menangkap gerakan pada lokasi yang cukup jauh, dimana Kapal-kapal para Perompak Laut Nila bergerak mendekat untuk melakukan patroli, menyisir wilayah perbatasan, ia tanpa menunda segera membuat gerakan mengangkat tangan. Diteruskan dengan mengayunkan tangan untuk menunjuk kedepan.
Gerakan isyarat tangan yang di lakukan oleh Khan Eleanor Tribe, menjadi pertanda bagi Armada besar kapal-kapal perang Eleanor Tribe, mulai bergerak dalam kecepatan penuh untuk menerjang masuk kedalam wilayah Laut Nila.
"Bersiap memasuki pertempuran besar! Ingat untuk selalu mendengar intruksiku! Jangan bertindak sebelum ada arahan!" Ucap Khan Elaenor Tribe. Memberi peringatan terakhir kepada dua anaknya.
***
(Wilayah Laut Hijau, 2 jam pasca penyerbuan Armada besar Eleanor Tribe ke wilayah Laut Nila)
"Boss…!!! Pesan khusus dari San Juan!" Ucap Guan Zifei. Begitu sampai di hadapan Theo yang terlihat sedang meracik beberapa Pill obat di dalam ruang Alchemy sederhana Glory Land Warship.
"Eleanor Tribe sudah menyerang wilayah Laut Nila?" Tanya Theo, sebelum bahkan Guan Zifei memberi laporan.
"Yahh… 2 jam yang lalu, mereka sudah memulai pergerakan besar untuk memasuki wilayah Laut Nila, saat ini sedang dalam situasi pertempuran sengit di wilayah Laut tersebut!" Jawab Guan Zifei.
Laporan Guan Zifei, ditanggapi Theo dengan menghentikan kegiatan meracik obat. Menoleh kearah lawan bicaranya.
"Hmmmm… Baiklah! Sekarang juga, intruksikan semua wakil pemimpin, untuk menyiapkan pasukan divisi masing-masing!"
"Aku ingin seluruh anggota kelompok Bandit Serigala, sudah siap untuk situasi pertempuran dalam 30 menit dari sekarang!" Lanjut Theo.
"Baik!" Jawab Guan Zifei singkat. Sebelum dengan gerakan cepat, pergi meninggalkan ruangan untuk segera melaksanakan intruksi Theo.
'Sasi, bagaimana dengan Razak?' Tanya Theo kemudian. Menanyakan situasi Razak kepada Sasi yang sedang menemani sang bocah dalam pelatihan.
'Tuan, Razak sedang dalam proses penstabilan ranah jiwa! Dia masih memerlukan beberapa waktu tambahan!' Jawab Sasi.
'Namun, itu telah aman untuk membiarkan ia menyelesaikan prosesnya sendiri! Jadi, aku bisa kembali mengambil peran sebagai juru mudi Glory Land Warship!' Lanjut Sasi. Paham betul bahwa kelompok Bandit Serigala, akan segera melakukan pergerakan.
'Baik! Kupercayakan kepadamu!' Jawab Theo. Seraya kemudian, melakukan gerakan mengayunkan tangan. Menyapu puluhan Pill obat dihadapannya untuk dimasukkan ke dalam Gelang Ruang-Waktu.
Puluhan Pill obat ciptaan Theo sendiri, jelas bukanlah Pill obat biasa. Karena terus memancarkan aura dari aliran berbagai jenis atribut Mana dengan sangat pekat.
'Wahhh… wahhh…!!! Pertunjukannya akan segera di mulai ya?' Ucap Ernesto tiba-tiba. Dari dalam Sarung Tangan Kilat.
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ernesto, salah satu sudut alis Theo mulai naik.
'Kau boleh antusias untuk sekarang, karena dalam pertempuran kali ini, mungkin aku akan sering menggunakan Sepatu, atau Sarung Tangan Kilat!' Tanggap Theo.
'Hahahhaha…!!! Kau! Bocah biadap tak punya sopan santun! Tak perlu bagimu membuat pernyataan! Aku sudah tau itu!' Jawab Ernesto. Tertawa lantang. Terdengar sangat puas.
'Hmmm… Sekumpulan parasit dalam tubuhku, sepertinya akan mendapat banyak manfaat!' Gumam Theo. Dengan nada datar. Jelas menujukan kata-kata tersebut kepada Ernesto dan Lord Satan, dimana masing-masing bersemayam di dalam perangkat-perangkat yang sedang ia kenakan. Sarung Tangan Kilat, dan Jubah Merah Darah.
Menunggu suplai energi kehidupan yang akan otomatis mereka serap, begitu Theo menggunakan teknik-teknik yang berhubungan dengan dua perangkat tersebut.