Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
64 - Letupan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Pergi!" Tutup Theo. Seraya membuat gerakan mengayunkan tangan.


Dalam sekejap, dan tanpa menunggu jawaban apapun, menendang keluar wujud kesadaran Fairley dari dalam Ranah Jiwa.


*Woooshhh…!!!


*Wunngggg…!!!


Dengan diiringi oleh sebuah suara dengungan, kesadaran Fairley secara paksa di lempar keluar oleh Theo.


Menyebabkan Fairley yang mendapat dorongan kuat ketika kesadarannya terhujam masuk lagi kedalam kepala, segera terdongak menatap langit-langit. Seperti baru mendapat sebuah ketukan keras nan kasar pada kening.


"B*jingan sialan! Sungguh tak sopan!" Bentak Fairley. Memasang ekspresi wajah sangat marah sembari menggosok keningnya yang masih terasa sakit.


"Apa yang terjadi?" Tanya Tuan Leluhur. Sangat terkejut melihat tubuh Fairley yang beberapa waktu sebelumnya masih diam mematung, tiba-tiba kembali bergerak dengan kondisi tak biasa.


Sementara Sasi, kembali memasang raut wajah curiga. Menatap tajam punggung Fairley.


Disisi lain, Fairley yang mendapat pertanyaan Tuan Leluhur, tak segera memberi jawaban. Hanya terus memandang kesal kearah tubuh Theo. Sebelum dengan gerakan mengayunkan tangan, Tuan muda pertama Eleanor Tribe tersebut menarik aliran Mana Tanaman pekat yang menyelubungi seluruh ruangan.


Tindakan yang menyebabkan seluruh Bunga Purnama yang mekar di sekitar, tiba-tiba layu dalam sekejap.


"Apa yang kau lakukan? Dengan kemampuan salah satu Demon Fruit, terutama Nature Fruit yang memiliki kelebihan dalam hal energi kehidupan, jangan bilang kau tak bisa melakukan apapun? Menyerah hanya dalam sekali percobaan!" Dengus Sasi. Begitu melihat Fairley menarik aliran Mana Hijau disekitar yang sebelumnya sempat ia keluarkan.


"Hmmmm… Cukup mengejutkan kau ternyata tahu tentang Demon Fruit!" Ucap Fairley. Sedikit menoleh kebelakang untuk melirik kearah Sasi.


"Tapi harus kukatakan, urusanku disini memang sudah selesai!" Lanjut Fairley. Dengan intonasi nada dingin yang seakan tak peduli lagi. Namun meski begitu, ia jelas tak bisa menyembunyikan ekspresi kesal yang masih tersisa di raut wajahnya.


Kalimat yang di lontarkan Fairley sendiri, hanya disambut oleh Sasi dengan kerutan kening.


Sementara disisi lain, Tuan Leluhur sebenarnya merasa penasaran dengan Demon Fruit yang sempat di ucapkan oleh Sasi.


Namun, karena merasa pertanyaan pertama yang ia lontarkan diabaikan oleh Fairley, dimana sang pemuda justru memilih menjawab pertanyaan Sasi, Tuan Leluhur yang di butakan oleh perasaan gengsi, benar-benar tak ingin di posisikan lebih rendah dari sang rival. Segera memasang ekspresi wajah tak sedap.


"Anak muda! Jawab pertanyaanku! Sebenarnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba membatalkan semua prosesnya?" Bentak Tuan Leluhur.


"Diam!" Bentak Fairley balik dengan cepat.


"Jika kau ingin bertanya? Maka arahkan pertanyaanmu pada orang itu sendiri!" Lanjut Fairley, sembari menatap tajam kearah tubuh Theo yang masih terbaring menutup mata. Kembali di kuasai oleh perasaan kesal saat mendengar pertanyaan Tuan Leluhur.


Jawaban Fairley, tentu saja menyebabkan Tuan Leluhur memasang ekspresi wajah tak mengerti. Jika saja tubuh Tuan Leluhur tak terbuat dari Logam Surgawi, ia pasti sudah membuat ekspresi kerutan wajah seperti halnya yang dilakukan oleh Sasi.


"Cihh…!!!"


Sampai akhirnya, Fairley yang merasa tak tahan dengan tatapan Tuan Leluhur dan Sasi yang seolah meminta penjelasan lebih, segera mendengus kesal. Sebelum memutuskan untuk akan memberi penjelasan agar dua makhluk aneh di hadapannya itu, tak terus menatap dengan tatapan tak menyenangkan.


Selain itu, ia juga ingin agar bisa segera keluar dari ruangan tersebut. Semakin lama melihat Theo, Fairley hanya akan semakin kesal.


Bagaimana tidak, masih segar di otak Fairley saat dimana Theo menatapnya dengan tatapan seolah ia adalah makhluk tak penting. Pengganggu yang bisa disingkirkan kapan saja sebelum dengan ayunan tangan, benar-benar menendangnya keluar dari dalam Ranah Jiwa.


"Kalian berdua! Makhluk tak jelas! Dengarkan ini baik-baik!" Ucap Fairley.


"Itu tak perlu untuk mencemaskan orang ini! Karena sebenarnya…"


*Woooshhhh…!!!


Fairley belum sempat menyelesaikan kalimat yang hendak ia ucapkan, sampai tiba-tiba, satu aliran Mana Api ganas, secara tiba-tiba meluap keluar dari dalam tubuh Theo yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Kejadian tiba-tiba tersebut, tentu saja menyebabkan Tuan Leluhur dan Sasi, mulai memasang ekspresi wajah cemas, sembari melakukan gerakan melompat mundur beberapa langkah kebelakang.


Keduanya tentu saja khawatir jika kejadian ledakan Mana Api dahsyat yang seperti sebelumnya, akan terulang kembali.


Hanya Fairley yang terlihat masih sedikit tenang. Menatap tajam kearah Theo yang sedang dalam posisi duduk bersila menutup mata.


"Tak ada masalah apapun pada Ranah Jiwa orang ini! Itu dia sendiri yang menyuruh para makhluk aneh yang ada di dalam sana, untuk tak membiarkan siapapun menyadarkannya!" Ucap Fairley. Meneruskan penjelasan yang sempat terpotong.


"Sementara dia sendiri, orang yang sedang sangat kalian cemaskan, malah dengan santai melakukan proses kultivasi!" Tutup Fairley. Kembali memasang raut wajah kesal.


Penjelasan Fairley, nyatanya tak membuat Tuan Leluhur ataupun Sasi menurunkan ekspresi cemas di wajah masing-masing. Masih terlihat sangat waspada terhadap aliran Mana Api yang keluar dari dalam tubuh Theo.


*Woooshhhh…!!!


Kekhawatiran Tuan Leluhur dan Sasi, baru mereda ketika melihat luapan Mana Api yang sempat membesar, dengan cepat terserap masuk kembali dalam tubuh Theo.


Dan pada detik berikutnya, saat Mana Api telah sepenuhnya terserap, Theo secara tiba-tiba membuka mata, menyala terang dengan ketajaman yang seperti tanpa batas.


*Wuuungg…!!!!


Bersamaan dengan terbukanya mata Theo, satu suara dengungan keras terdengar nyaring. Diiringi dengan letupan aura enam atribut Mana yang menerjang ke segala arah.


*Baaaammm…!!!


*Bammmm…!!!!


*Baaammmm…!!!


Letupan enam atribut Mana tersebut, menyebabkan tubuh Tuan Leluhur, Sasi, dan juga Fairley, terhempas keras membentur dinding ruangan.


"Uhuuukkk…!!! Sialan!" Maki Fairley, seraya mulai kembali mengeluarkan aliran Mana Tanaman untuk melindungi tubuhnya.


Berusaha menahan terjangan dan tekanan kuat letupan aura berbagai jenis atribut Mana yang masih memancar dengan sangat ganas tak terkendali dari dalam tubuh Theo.


"Naik tingkat!" Gumam Tuan Leluhur. Dalam posisi tersudut pada dinding ruangan, tak henti mengagumi aliran enam atribut Mana yang terus membungkus tubuh Theo. Memberi satu pemandangan yang sangat indah.


"Tuan naik tingkat ke kelas King tahap Surga!" Ucap Sasi.


"Musibah yang dengan cerdas diubah menjadi satu pijakan! Pijakan yang justru berbalik menguntungkan dirinya sendiri! Luar biasa!" Tambah Sasi.


Tuan Leluhur dan Sasi masih tampak mengagumi kenaikan tingkat kultivasi Theo, sampai Fairley yang mendengar, merasa tak tahan lagi.


"Sialan! Kenaikan tingkat macam apa yang menyebabkan letupan aura begitu ganas seperti ini!" Bentak Fairley.


"Jika itu kenaikan kelas, dari King ke Emperor, akan masih cukup masuk akal! Tapi ini cuma naik tingkat!" Lanjut Fairley.


"Dan lagi, bagaimana bisa ada orang yang memiliki semua jenis atribut Mana dalam tubuhnya!" Tutup Fairley, semakin tertekan dengan banyaknya hal membingungkan yang menjejali otaknya.


*Wuuungg…!!!


Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut Fairley, nyatanya hanya disambut oleh satu dengungan keras lainnya yang memancar keluar dari dalam tubuh Theo. Menyebar untuk beberapa saat, sebelum dengan cepat tertarik masuk kembali kedalam tubuh Theo.


Dengungan terakhir, menjadi pertanda dari proses kenaikan tingkat kultivasi Theo, telah selesai.


Gejolak letupan enam atribut Mana yang tadi sempat menekan seluruh ruangan, kini sepenuhnya mereda bersamaan dengunan terakhir yang tertarik masuk kedalam tubuh Theo.


"Hmmmm… Akhirnya selesai juga!" Ucap Theo. Masih di selimuti riak-riak sisa letupan Mana pada sekujur tubuh, mulai mengambil posisi turun dari ranjang perawatan.


---


Note :


Bagi kawan-kawan pembaca yang ingin memberi lemparan Mutiara Mana, tapi masih bingung bagaimana caranya, bisa Follow akun Instagram SDC. @sevendeadlychild.


Nanti tinggal klik link di bio. Kalaupun masih bingung, bisa DM langsung. Bisa juga PM langsung disini bagi yang sudah saling follow sama saya.


Sekian, terimakasih..!! ^^