Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
180 - Tatapan Tak Biasa


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


(Satu hari kemudian)


Kesunyian, menjadi satu-satunya suasana yang membekap Kuburan Demonic Beast. Kesunyian yang tercipta imbas dari pertempuran dahsyat sehari sebelumnya dalam proses Theo membantai seluruh ekosistem Lembah.


Aura pertempuran intens yang menyebar bersama hawa membunuh pekat bertumbuk menjadi satu pada lokasi yang sama, menyebabkan tak ada Demonic Beast liar yang berani mengganggu sang kesunyian. Menjadikan ia sebagai penguasa tunggal diatas seluruh wilayah Kuburan Demonic Beast untuk saat ini.


*Braaakkkkk….!!!


Kuasa mutlak sang kesunyian, hanya berakhir ketika dari dalam sebuah reruntuhan tanah sudut tertentu Kuburan Demonic Beast, sesuatu terlihat berusaha mendaki keluar. Memecah kuasa mutlak kesunyian dengan suara-suara berisik yang ia timbulkan dalam usahanya tersebut.


*Braaakkkkk…!!!


Sebuah hentakan terakhir dari satu pukulan keras yang membawa sebuah tangan mencuat keluar dari balik reruntuhan tanah, menjadi pertanda bahwa sang kesunyian, benar-benar telah kehilangan tahtanya. Seorang pemuda, merangkak keluar dari balik reruntuhan.


Itu adalah Theo yang merebut tahta sang kesunyian. Berdiri dengan kaki bergetar diatas reruntuhan tanah. Dalam kondisi tubuh yang sungguh mengerikan. Penuh luka yang hanya tertutup oleh darah kering pada sekujur tubuh.


Hampir seluruh pakian yang ia kenakan terkoyak habis, bahkan Jubah Merah Darah Lord Satan yang terpasang dipundaknya, hanya tersisa setengah bagian. Jubah compang-camping tersebut berkibar tertiup angin bak bendera perang lusuh yang kembali bersama rombongan tentara dari medan pertempuran dahsyat.


"Hmmmm…. Level Meridianku naik ke kelas King tahap Bumi Puncak!" Gumam Theo. Untuk pertama kali setelah hanya diam beberapa saat.


'Level Meridian? Jadi itu yang pertama kali kau periksa setelah semua kekacauan yang terjadi?' Ucap Ernesto.


'Aku memang sudah lelah memakimu, tapi kau sepertinya memang manusia yang terlahir hanya untuk dimaki!' 


'Dasar gila!' Tutup Ernesto. Tak tahan untuk kembali memaki.


Ernesto benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran serta hal-hal nekat yang selalu dilakukan Theo di Tartarus Land ini. Itu seperti Ernesto sedang berhadapan dengan sosok yang sama sekali berbeda dari Theo yang selama ini ia tahu di Gaia Land. Mengingat sepak terjang Theo yang memang selalu penuh langkah mendalam. Selalu menyimpan rencana di dalam rencana.


"Hmmmm… Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku tak akan menyia-nyiakan kunjungan ke dunia aneh ini? Setidaknya, bersama dengan menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air, Level Meridianku harus bisa berada pada puncaknya. King tahap Surga!" Gumam Theo, seraya membuat gerakan langkah kaki perlahan, bahkan sedikit menyeret menahan sakit untuk mencari lokasi nyaman memulihkan kondisi tubuh.


"Setelah Meridian, ketika nanti sudah kembali ke Gaia Land, aku hanya perlu mencari cara atau sumberdaya tertentu untuk meningkatkan kualitas Ranah Jiwa ke level yang sama!"


"Menyeimbangkan Meridan dan Ranah Jiwa dengan Element Seed, kemudian mencoba untuk mendobrak ke kelas selanjutnya, Emperor tahap awal!" Tutup Theo. Mengambil posisi duduk bersila ketika sampai di lokasi yang menurutnya nyaman.


Theo mengeluarkan beberapa Pill obat, memakan secara bersamaan dalam sekali teguk, sebelum kemudian menutup mata. Jatuh dalam kondisi meditasi mendalam.


'Hmmmm… Terserah saja! Aku cuma bisa berdoa supaya kau tak mati di dunia ini dalam prosesnya!' Dengus Ernesto.


******


(Satu minggu kemudian)


Diselimuti oleh aliran Mana Kegelapan di sekujur tubuh, Theo bergerak dengan langkah senyap.


Sembari mencari keberadaan kelompok Gugio, Theo terus melatih kendali akan Mana Kegelapan. Memanfaatkan luapan Mana Kegelapan yang seperti tanpa ada habisnya di Tartarus Land, sebagai sarana latihan. Menyerap gelombang besar Mana Kegelapan, untuk kemudian coba dikendalikan sampai pada titik tertentu, menekan serta menstabilkan liarnya Mana Kegelapan tersebut hanya untuk berfungsi membekap tubuh.


Dan seiring berjalannya waktu yang dihabiskan Theo di Tartarus Land ini, bisa dikatakan bahwa level pengendalian akan Mana Kegelapan milik Theo, berkembang menjadi diatas rata-rata Assassin Dark Guild kelas tinggi pada umumnya.


Tak hanya Mana Kegelapan, imbas dari Theo yang terus membantai ratusan Demonic Beast kelas tinggi selama menjalankan tantangan Kastil Raja Dewa Air, pengendalian Theo akan Mana Cahaya, juga berkembang ke level yang lebih tinggi.


Terutama dalam hal teknik serangan dan pertahanan. Karena selama ini, Theo lebih sering memakai atribut Mana Cahaya yang ia miliki, hanya untuk proses Alchemy ataupun Segel.


Ditambah dengan kendalinya akan Api Surgawi yang juga menjadi semakin ahli, dimana merupakan hal yang sungguh berguna di berbagai bidang, entah itu pertarungan, proses Alchemy, dan tentu saja proses Penempaan, Theo mulai merasa kunjungan di Tartarus Land yang mana sebenarnya hanya untuk menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air, ternyata telah memberi banyak manfaat tak terduga. Bahkan sebelum Theo menerima hadiah utama tantangan dari Kung-Peng sendiri.


"Hmmmm… Teknik pengolahan daging Demonic Beast yang berguna untuk menempa garis-garis Meridian, tentu akan berguna saat nanti kembali ke Gaia Land, Razak atau Thomas pasti sangat cocok dalam hal ini! Membuat tubuh fisik mereka, bisa berkembang semakin lebih kuat lagi!" Gumam Theo, berbicara pada dirinya sendiri. Sebelum visi-nya, mulai menangkap keberadaan aura Pion pertama dan Pion kedua di kejauhan.


****


(Beberapa minggu kemudian)


Memerlukan waktu hampir satu bulan sampai kelompok Theo yang menunggang Demonic Beast Tikus Tanah, akhirnya sampai juga di Kota Zordan.


Berbagai sorot mata dengan banyak maksud tertentu, segera tertuju pada kelompok Theo begitu mereka memasuki kota.


Ada yang memandang penuh minat, ada pula yang memandang penuh kewaspadaan saat kelompok Theo, berjalan di tengah kota dengan tetap menunggangi Demonic Beast Tikus Tanah.


Tatapan setiap orang, hampir seluruhnya tertuju pada Boss Tikus Tanah yang sedang ditunggangi Theo. Hal ini cukup wajar, karena bagaimanapun juga, Boss Tikus Tanah tersebut, memiliki tingkat kekuatan yang setara dengan Hunter Gerbang Hitam Tiga Pintu, atau untuk ukuran tingkat kultivasi Gaia Land, adalah Emeperor tahap Bumi.


Bahkan Boss Tikus Tanah yang kini sepenuhnya telah menekan aura, itu tetap memberi perasaan tak nyaman bagi setiap orang yang menatap kearahnya.


"Hmmmm… Apakah menunggang Demonic Beast adalah hal yang spesial?" Tanya Theo. Saat menyadari bahwa selama ini tak pernah melihat ada Hunter Tartarus Land yang memanfaatkan para Demonic Beast sebagai alat transportasi. Padahal jumlah mereka cukup melimpah. Sama halnya dengan Spirit Beast di Gaia Land.


Mendengar pertanyaan Theo, Pion pertama segera tanggap menjawab.


"Tuan muda, sebenarnya menjinakkan Demonic Beast, adalah hal yang masih cukup jarang mampu dilakukan oleh Hunter penghuni Benua Azure ini! Karena itu memerlukan teknik tertentu yang biasanya hanya mampu dilakukan oleh para Hunter kelas tinggi Benua Leluhur!" Jawab Pion pertama.


"Ahhhh… Tak heran kenapa tiap orang memiliki tatapan aneh!" Gumam Theo. Merasa sedikit tak beruntung saat bukan hanya ia terlempar di Tartarus Land yang secara umum merupakan dunia cukup tertingal. Juga tempat ia keluar, adalah di Benua Azure, lokasi yang juga tertinggal dalam skala Tartarus Land sendiri.


"Tuan muda, sebenarnya jika itu hanya menjinakkan Demonic Beast, orang-orang tak akan menatap sedemikian rupa, karena memang beberapa kali Hunter kelas tinggi Benua Leluhur, sempat berkunjung ke Benua Azure dengan menunggang Demonic Beast!" Tanggap Pion kedua, kini ganti menyampaikan beberapa fakta kepada Theo.


"Lalu?" Tanya Theo.


"Yang menjadikan kita tak biasa, itu adalah tingkatan para Tikus Tanah ini! Bahkan Hunter kelas tinggi Benua Leluhur, biasanya hanya bisa menjinakkan Demonic Beast sekelas Gerbang Merah! Gerbang Hitam, itu bisa dikatakan mustahil!" Ucap Pion kedua.


Penjelasan Pion kedua, hanya disambut oleh Theo dengan lirikan singkat. Theo tak memberi tanggapan apapun karena bersama Pion kedua menyelesaikan kalimatnya, kelompok Theo juga telah sampai di depan pintu gerbang Paviliun Harta.


"Selamat datang Tuan Muda, aku sempat mendengar dari anggota kami di luar kota bahwa rombongan kalian akan sampai!" Manajer Paviliun Harta, ternyata sudah menunggu untuk menyambut rombongan Theo di depan pintu gerbang.