Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
46 - Dekapan Api Ganas


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hmmmmm….!!!"


Dengan mata sepenuhnya berubah menjadi merah darah. Theo menatap tajam tubuh Zota. Kemudian secara tiba-tiba melakukan gerakan mengayunkan tangan. Bersamaan dengan gerakannya tersebut, semburat aliran Mana Cahaya yang berbentuk benang-benang panjang, kini tercipta dalam sekejap. Mulai bergerak untuk melakukan proses memilin Serbuk Besi pada otot-otot lengan Zota.


"Sebenarnya, Element Seed macam apa yang ia miliki? Dan jenis teknik pendorong potensi apa itu?" Gumam Sasi. Menatap dengan pandangan tak menentu kearah punggung Theo.


Sedari awal pertemuannya dengan Theo, Sasi sebenarnya sudah sangat penasaran dengan jenis Element Seed yang dimiliki oleh sosok yang kini telah menjadi tuannya tersebut.


Bagaimana tidak, bahkan di realm yang lebih tinggi pun, tempat dimana Sasi berasal, Sang Goblin sama sekali tak pernah melihat atau menjumpai satu ras yang memiliki Element Seed dengan kendali atas segala jenis atribut Mana seperti yang bersemayam di dalam ranah jiwa Theo.


Ditambah lagi dengan teknik aneh yang selalu di eksekusi Theo ketika ia sedang dalam posisi terpojok atau tertekan. Satu teknik tak biasa yang menyebabkan penggunanya, bisa secara tiba-tiba meledakkan seluruh potensi yang ada di dalam tubuh, benar-benar membuat Sasi menjadi semakin heran dengan sosok Theo.


Meskipun memang, teknik pendorong potensi macam ini sebenarnya cukup banyak ada di realm yang lebih tinggi. Namun, semua teknik-teknik tersebut, akan memiliki efek yang sangat buruk bagi para penggunanya. Dimana biasa akan membuat yang mengeksekusi teknik tersebut, mati ketika efek teknik telah berakhir.


Oleh karena itu, teknik dengan jenis pendorong potensi macam ini, biasanya hanya akan digunakan pada situasi tak ada harapan. Dimana sang pengguna sudah siap untuk mati dan berniat jatuh dengan memberi satu dampak buruk atau kerusakan parah pada lawan-lawannya.


Sebuah situasi yang tampaknya tak berlaku untuk Theo, karena semenjak pertama berjumpa, Sasi melihat Tuannya ini telah beberapa kali mengeksekusi teknik yang sedang ia praktekkan sekarang. Dan semuanya berakhir seperti tak sedang terjadi apa-apa. Theo hanya akan kehilangan beberapa tingkatan kultivasi.


"Jika saja orang-orang dari realm yang lebih tinggi mengetahui tentang keberadaan teknik ini, maka bisa dipastikan akan terjadi perang besar untuk memperebutkannya! Perang dalam skala yang sama dengan ketika di temukan Logam Surgawi!" Gumam Sasi.


"Dan yang lebih membuat heran, orang ini juga sungguh beruntung karena memiliki simpanan Logam Surgawi cukup banyak!" Lanjut Sasi. Kini membayangkan Theo sedang berjalan di suatu sudut realm yang lebih tinggi. Satu sosok yang bagaikan gudang harta berjalan.


"Master, apa yang sedang kau bicarakan?" Tanya Razak, secara kebetulan mendengar semua gumaman Sasi, karena memang berada pada posisi yang cukup dekat dengan sang Goblin.


"Bukan apa-apa! Lupakan saja! Tak penting!" Jawab Sasi.


*Woooshhhh….!!!


Bersamaan dengan jawaban Sasi, aliran berbagai atribut Mana yang memancar keluar dari dalam tubuh Theo, secara tiba-tiba melonjak semakin intens.


"Hmmmmm…??"


Melihat kejadian tersebut, Sasi kembali bergumam, menampakkan ekspresi wajah cemas yang sebelumnya sempat mereda di wajahnya. Hal yang sama juga terjadi pada Razak. Ia bahkan sudah tak tahan lagi ingin maju. Meskipun memang tak tahu harus berbuat seperti apa, tapi bocah ini entah kenapa memiliki satu perasaan bersalah karena hanya berdiri diam dan menonton. Tak bisa melakukan apapun untuk membantu.


Sampai kemudian, masih di bawah tatapan cemas Sasi dan Razak, intensitas lonjakan aliran Mana yang memancar keluar dari dalam tubuh Theo, secara perlahan mulai menyusut.


"Sudah selesai! Semua prosesnya sudah selesai!" Gumam Theo. Dengan raut wajah pucat pasih. Bibirnya sepenuhnya putih.


Tubuh Theo yang masih berdiri tegak, tiba-tiba mulai bergetar. Seperti telah kehabisan seluruh tenaga, kedua kaki Theo terlihat tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.


*Buuugggg….!!!


Theo terhuyung mundur jatuh kebelakang, namun dengan tanggap, Sasi dan Razak bergerak cepat menopang.


"Kau terlalu memaksakan diri!" Ucap Sasi. Tapi, meski mengatakan kalimat dengan intonasi nada khawatir, sang Goblin tak bisa menyembunyikan ekspresi heran di wajahnya.


Bagaimana tidak, tak seperti sebelum-sebelumnya, meskipun memang kini Theo tampak benar-benar kehabisan tenaga, namun ia sama sekali tak mengalami penurunan tingkat kultivasi. Dimana biasanya akan selalu menjadi efek buruk dari tiap kali Theo mengeksekusi teknik Rage buatan Absolute.


"Aku tau yang sedang kau pikirkan! Tapi sayangnya, aku tetap tak bisa menggunakan teknik ini terlalu sering! Meskipun kini tak menjatuhkan tingkat kultivasi, ada harga mahal lain yang harus di bayar!" Ucap Theo. Menjawab pertanyaan bisu yang terpampang pada ekspresi wajah Sasi.


"Ahhh… Maafkan saya! Benar-benar tak ada maksud untuk terlalu ingin tahu ataupun menyelidik dengan tidak sopan!" Ucap Sasi cepat. Segera merasa tak enak hati.


"Jangan terlalu serius! Bukankah kau sama sekali tak mengajukan pertanyaan? Jadi itu bisa di hitung bahwa aku yang telah mengambil inisiatif untuk menjelaskan!" Tanggap Theo.


"Boss…! Lihat!"


Theo dan Sasi masih melakukan satu obrolan ringan, sampai tiba-tiba, suara Razak terdengar.


"Hmmmm….?" Mendengar kata-kata Razak, Sasi dan Theo segera melihat kearah yang sedang ditatap bocah tersebut. Sebelum akhirnya, satu senyum mengembang di wajah Theo.


"Bagaimana kondisi tubuhmu saat ini? Apa kau merasa ada sesuatu yang masih tak beres?" Tanya Theo. Menatap kearah Zota yang entah sejak kapan, sudah mengambil posisi duduk.


Zota sendiri, tak segera menjawab pertanyaan Theo, masih dengan tatapan bergetar melihat secara bergantian pada lengan kanan dan kaki kiri barunya.


"Boss…! Apa yang telah kau lakukan? Aku benar-benar tak layak mendapatkan ini!" Gumam Zota. Justru memasang ekspresi wajah sedih.


"Kenapa kau berfikir seperti itu? Jika kau tak layak, maka diantara semua anggota kelompok Bandit Serigala, siapa lagi yang layak?" Jawab Theo. Merasa dedikasi Zota pada kelompok, memiliki tingkat dan level berbeda jika dibandingkan dengan seluruh anggota yang lain. Hanya beberapa orang yang mungkin bisa di sejajarkan dengannya.


Yang pasti, Theo sudah menganggap bahwa Zota adalah salah satu pilar terpenting Kelompok Bandit Serigala.


"Hmmmm... Bahkan aku tak bisa melakukan apapun saat Yaseya…." Gumam Zota, tak bisa meneruskan kalimatnya. Karena itu adalah hal terkahir yang sempat ia lihat sebelum jatuh tak sadarkan diri. Hal yang sangat buruk untuk menemaninya sekarat meregang nyawa.


"Kita tak bisa mengatur nasib setiap orang! Itu sudah jalan takdir! Jadi…."


"Uhuuukkkk….!!!"


Theo terlihat ingin memberi satu nasehat untuk kembali menaikkan moral Zota. Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, satu dorongan misterius yang sangat kuat, tiba-tiba mengguncang ranah jiwanya.


"Uhuuukkkk….!!!" Theo terbatuk darah untuk kedua kalinya, sembari menekan erat dada.


"Boss…!!"


"Tuan…!!!"


Ucap Sasi dan Razak serentak.


"Boss…!! Kau kenapa?" Melihat kondisi Theo, Zota juga segera melompat dari ranjang medis. Dengan ekspresi wajah sangat cemas, mendekat dan ikut menopang tubuh Theo. Merasa sangat bersalah karena menganggap situasi yang sedang dialami Theo, adalah salah satu imbas dari apapun itu yang tadi sedang Boss Besarnya lakukan untuk menyelamatkan hidupnya.


*Kraaakkkk….!!!


*Kraaakkkk….!!!


Namun, tepat ketika Zota baru menopang pundak Theo, derak aliran Mana Api, secara tiba-tiba mulai keluar dari dalam tubuh Theo.


*Wooossshhhh…..!!!


Sampai kemudian, derak Mana Api yang sebelumnya masih berupa percikan-percikan kecil, secara tiba-tiba berubah menjadi gelombang liar yang begitu besar. Sepenuhnya membungkus tubuh Theo. Menyebabkan Sasi, Razak, dan juga Zota yang menopang tubuh Theo, segera menerima efek hempasan hebat yang membuat ketiganya terpental membentur keras dinding ruangan.


"Hoooaaarrhhhh…..!!!!"


Diselimuti oleh aliran Mana Api ganas. Theo berteriak keras dengan mata terbuka lebar. Terus berteriak sampai suaranya terdengar serak. Terlihat sangat menderita dan kesakitan.


Bagaimanapun juga, dari awal kondisi tubuh Theo sudah sangat lemah dan tak memiliki sisa tenaga sama sekali. Kini, ketika secara tiba-tiba aliran Mana Api liar yang begitu ganas menyerang Ranah jiwanya, Theo tentu saja tak punya daya apapun untuk melawan. Hanya bisa berteriak keras menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Ja… Jasia…!!!" Dalam teriakan penuh penderitaan, Theo dengan susah payah menyebut nama Jasia.


---


Note :


Yang ingin lihat lebih jelas ilustrasi wujud dari perubahan mode Soul Knight, silahkan follow akun SDC. Kedepan akan ada 2 wujud lain serta pengenalan karakter-karakter penting beserta ilustrasinya.