
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Demonic Beast yang kalian incar, bergerak secara berpasangan! Tak adakah diantara kalian yang merasakan hawa keberadaan Kalajengking satunya?" Tanya Theo.
Pertanyaan yang segera disambut oleh setiap orang yang ada dilokasi, dengan mulai saling tatap satu sama lain.
****
(Beberapa saat kemudian)
Malam telah tiba, derak api unggun dari patahan ranting yang terbakar, menjadi melodi malam yang menemani Kelompok pemburu. Dimana saat ini sedang berisitirahat pada sisi wilayah lereng tebing bersama Theo.
"Anak muda! Perkenalkan! Aku adalah Gugio, pemimpin dari tim pemburu ini!" Ucap pria tua. Membuka obrolan dengan perkenalan, memperkenalkan diri dengan nama Gugio pada Theo.
"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu! Jika kau tak memberi uluran tangan, aku benar-benar tak tahu hal buruk apa yang akan menimpa kami!"
"Mungkin saja, beberapa dari orang-orang yang ada disini, tak akan bisa menikmati malam dengan menghangatkan tubuh pada api unggun seperti sekarang!" Tambah Gugio. Memasang ekspresi wajah tulus.
Mendengar itu, Theo segera memasang senyum sederhana.
"Tak perlu berterima kasih! Kita adalah sesama manusia, jadi itu hal yang wajar jika aku memberi uluran tangan saat melihat kalian dalam bahaya! Asal masih dalam kapasitas yang dapat kuatasi, tentu aku tak akan berpangku tangan!" Jawab Theo.
"Sungguh rendah hati!" Tanggap Gugio. Mulai merasa kehangatan tertentu di dalam sudut hatinya begitu mendengar kata-kata Theo.
Tak hanya Gugio, seluruh anggota tim-nya yang saat ini juga sedang berada disekitar api unggun, dimana kebanyakan adalah generasi muda, mulai memandang Theo dengan tatapan penuh kekaguman.
Soul Knight wanita berparas cantik, bahkan dari awal tak pernah melepaskan tatapan matanya kepada Theo.
"Anak muda, melihat kau bahkan bisa membunuh dua Kalajengking Haus Darah sekaligus hanya dengan satu gerakan, jelas dirimu merupakan Hunter kelas tinggi!" Ucap Gugio, melanjutkan obrolan.
"Kalau berkenan, bolehkah kami tahu siapa namamu? Dan dari Klan atau Guild mana kau berasal?" Tanya Gugio.
'Hunter?' Gumam Theo dalam hati. Sebelum dengan cepat menarik kesimpulan.
'Oh… Aku mengerti!'
Di Tartarus Land, manusia yang manapaki jalan kultivasi, tidak disebut sebagai Knight layaknya Gaia Land. Melainkan Hunter.
"Salam! Kalian boleh memanggilku dengan Theo!" Balas Theo.
"Untuk asalku, mohon maaf, itu mungkin akan sedikit rumit jika kujelaskan! Jadi, untuk sekarang anggap saja bahwa aku hanya pengelana dari jauh!" Lanjut Theo.
"Ahhh… Aku mengerti!" Tanggap Gugio, merasa Theo tak ingin identitasnya terungkap.
Bagaimanapun juga, menurut Gugio, itu adalah hal yang cukup wajar bila seorang Hunter kelas tinggi menyembunyikan identitasnya. Terlebih lagi, kedua belah pihak baru saling bertemu satu sama lain.
Hunter berkelas tinggi, jelas berasal dari Klan atau Guild besar. Dan Klan atau Guild besar, pasti memiliki banyak musuh tak sembarangan.
Begitu yang ada di benak Gugio.
"Tuan muda Theo…!"
Gugio masih terdiam, sampai kemudian, wanita berparas cantik ganti membuka obrolan.
"Sebelumnya, perkenalkan aku adalah Gristela, kau boleh memanggilku dengan Gris!" Lanjut sang wanita, memperkenalkan diri.
"Kau ingin menanyakan sesuatu?" Balas Theo. Dari sorot mata sang gadis, Theo segera tahu bahwa ia memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan.
"Emmm…!!!" Gris mengangguk cepat. Tampak sangat bersemangat.
"Kau memiliki kekuatan yang luar biasa! Chi yang kau kendalikan, tampak agak berbeda dari yang selama ini kulihat!" Ucap Gris.
"Bolehkah aku tahu, kau Hunter dengan kelas Gerbang apa?" Tanya Gris.
'Chi? Kelas Gerbang?' Gumam Theo dalam hati.
'Hmmmm… Chi mungkin adalah versi Mana dari dunia ini! Sementara Kelas Gerbang, adalah ukuran kelas kultivasi!' Lanjut Theo, masih bergumam dalam hati.
"Gris! Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, maukah kau menjelaskan tentang Chi dan Kelas Gerbang?"
Pada akhirnya, Theo memutuskan untuk bertanya. Sekedar memastikan dugaan yang ada dalam benaknya.
Namun, pertanyaan Theo tentu saja disambut dengan tatapan aneh oleh setiap orang.
"Menjelaskan tentang Chi dan kelas Gerbang?" Gumam Gris.
"Hahhahaha… Anak muda, apakah kau sedang melakukan tes pada anggotaku?" Sahut Gugio. Merasa Theo justru sedang mengetes pengetahuan dasar dari anggotanya.
"Meskipun kami memang hanyalah Hunter Gerbang Kuning yang berasal dari Klan kecil, namun dasar-dasar kultivasi dari para Hunter di Klan kami cukup bagus!" Lanjut Gugio.
"Sebagai yang paling senior, aku akan mengambil alih untuk menjelaskan! Tolong koreksi bila ada yang salah!"
Mendengar itu, Theo hanya membalas dengan anggukan singkat. Sedikit tersenyum tipis.
"Di Tartarus Land ini, manusia yang menapaki jalan sebagai Hunter, memiliki kemampuan untuk memanfaatkan energi alam yang disebut Chi." Ucap Gugio, mulai menjelaskan.
"Sementara dalam tingkatan kultivasi, kualitas Chi dibagi menjadi lima. Disebut dengan lima gerbang Chi!"
"Gerbang paling rendah adalah Gerbang putih, kemudian dilanjut dengan Gerbang kuning, Gerbang Hijau, Gerbang Merah, dan yang paling tinggi adalah Gerbang Hitam!"
"Di dalam kelima gerbang, terdapat enam pintu, setiap Hunter harus mampu membuka keenam pintu ini agar bisa naik ke gerbang yang lebih tinggi!" Tutup Gugio.
'Hmmmmm… Cukup kompleks! Dan cukup berbeda dengan jalan kultivasi yang kutahu!' Gumam Theo. Begitu selesai mendengar penjelasan Gugio.
'Sekarang aku cukup yakin, Tartarus Land ini, merupakan salah satu dunia lain dari 10.000 realm kelas rendah!' Tambah Theo.
Theo tampak merenung untuk beberapa saat, sampai kemudian kembali menatap kearah Gugio.
"Gugio, bisakah kau jelaskan gambaran umum tentang Tartarus Land?" Tanya Theo. Kini menjadi semakin penasaran.
"Gambaran umum?" Tanya Gugio, mengerutkan kening.
"Ya, gambaran umum! Jelaskan tentang wilayah dan juga Kelompok manusia yang tinggal di Tartarus Land!" Ucap Theo.
Mendengar itu, Gugio yang merasa bahwa Theo kembali melakukan tes pengetahuan dasar, tanpa menunda mulai kembali menjelaskan.
"Tartarus Land, di bagi menjadi tiga benua utama. Yakni Benua Neraka Abadi. Tempat dimana Demonic Beast paling mengerikan dan paling kuat tinggal. Tak ada satupun kelompok umat manusia yang tinggal di benua ini!"
"Konon, pada benua Neraka Abadi, hidup sekelompok Demonic Beast yang telah bermutasi. Mampu berfikir layaknya manusia, serta mampu melakukan proses kultivasi. Mereka membentuk kerajaan mereka sendiri!"
Theo segera membelalakkan mata.
'Benar-benar luar biasa! Tartarus Land ini, bisa dikatakan adalah versi purba dari Gaia Land!' Gumam Theo.
Gugio kembali melanjutkan penjelasan setelah Theo meminta.
Menurut Gugio, selain Benua Neraka Abadi. Benua utama yang kedua disebut sebagai Benua Leluhur. Pada Benua ini, meskipun memang tetap di dominasi oleh Demonic Beast kuat yang hidup berkoloni di hutan-hutan atau tempat tertentu lainnya, masih terdapat beberapa peradaban besar umat manusia yang bertahan.
Terdapat tiga peradaban besar umat manusia di benua leluhur. Yakni Kerajaan Baltigore, Kerajaan Mediafall, dan Kerajaan Zarkas. Ketiga kerajaan ini dapat bertahan dalam gempuran gelombang Demonic Beast yang tiap tahun menyerang kerajaan masing-masing.
Kemudian, benua ketiga adalah tempat dimana Theo sekarang berada. Disebut Benua Azure, pada benua ini hanya terdapat Klan-klan kecil yang bertahan hidup. Mencoba membangun peradaban umat manusia.
Disebutkan dalam beberapa catatan lama, manusia yang hidup di benua Azure merupakan pelarian atau mereka yang telah bosan hidup penuh kemiskinan di Benua Leluhur.
Sekelompok orang ini, mencoba peruntungan untuk dapat membangun peradaban sendiri dengan menjelajahi Benua Azure yang masih belum di jamah oleh umat manusia.
Namun, dikarenakan kekuatan mereka yang terbatas, banyak Klan yang baru berkembang akan hancur ketika mendapat serangan gelombang Demonic Beast. Menyebabkan tingkat pertumbuhan peradaban di Benua Azure, sangat rendah.
Belum lagi bila ditambah dengan konflik internal antar sesama umat manusia yang biasanya akan berakhir dengan perang antar Klan, bibit peradaban yang mulai dibangun, hancur ditangan umat manusia sendiri.
Hal inilah yang menjadi penyebab hanya ada Klan-klan kecil di benua Azure. Tertinggal sangat jauh dari peradaban yang ada di Benua Leluhur.
----
Note : Absen jangan lupa :v