Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
218 - Siksaan Kejam


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Nona muda, tolong, tolong segera selesaikan! Kumohon, bunuh saja aku!" Ucap Jongha. Seolah tak mendengar kata-kata terakhir Gerel. Mulai memohon dan mengiba.


Kondisi Jongha sendiri, saat ini tampak sungguh mengenaskan. Aura penuh dominasi yang selama ini selalu terpancar dari dalam tubuhnya, telah benar-benar padam.


Sorot mata penuh kepercayaan diri dan juga penuh kebanggaan sebagai ketua satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe, juga telah lenyap, diganti dengan sorot mata kosong.


Sosok Jongha, saat ini bagai seonggok daging tak penting. Tergeletak dengan banyak luka dan tulang patah dimana membuat bentuk tubuhnya tak lagi proposional seperti layaknya manusia.


Pada beberapa bagian tubuh, juga tampak luka koyakan menganga, dimana seperti berasal dari cakar atau terkaman para Demonic Beast penghuni dunia kecil Istana Emas.


Jongha, hanya masih bisa bertahan hidup karena memang Theo memberi intruksi pada Sasi agar tak sampai membiarkannya mati.


*Baaammmm…!!!


Sebuah tendangan keras yang tertancap tepat pada salah satu luka daging terkoyak Jongha, menjadi jawaban dari Gerel atas permohonan mengiba yang sempat diucapkan ketua satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe tersebut.


"Uhuuukkk….!!!"


Jongha, memuntahkan banyak sekali darah segar. Menekan erat kucuran darah dari luka yang sempat menjadi target tendangan Gerel.


Pria malang tersebut, merasakan rasa sakit teramat sangat pada lukanya. Rasa sakit yang sebenarnya merupakan satu dari banyak rasa sakit lain yang mendera puluhan luka di banyak tempat pada tubuhnya.


Begitu parah rasa sakit yang dirasakan Jongha, itu bahkan menyebabkan ia tak mampu lagi berteriak kesakitan. Berakhir hanya bisa mengerang penuh penderitaan. Menatap dengan pandangan kosong, memohon pada Gerel yang kini kembali berjalan mendekat.


"Bukankah sudah kukatakan, jangan lagi pernah berbicara denganku!" Gumam Gerel. Hawa membunuh intens, kini menyebar tak tertahan dari dalam tubuhnya.


Gerel kembali teringat bagaimana Jongha membunuh Meirin dengan keji tepat di depan matanya. Juga kembali terbayang senyum terakhir Isaa saat gadis tersebut, mengorbankan diri hanyut dalam lautan musuh untuk menyelamatkan dirinya keluar dari situasi penyiksaan para Knight satuan elite penjaga Khan Barbarian Tribe. Situasi yang jelas merupakan intruksi langsung dari Jongha.


"Kau ingin aku segera membunuhmu?" Tanya Gerel. Dengan nada yang sepenuhnya ditekan penuh amarah.


"Yahhh…! Kumohon! Bunuh aku! Bunuh aku!" Jawab Jongha cepat.


*Baaammmm….!!!


Jawaban, yang kembali ditanggapi oleh Gerel dengan melancarkan tendangan keras. Kali ini menyasar mulut Jongha. Merontokkan seluruh giginya.


"Ummmm….!!!"


Jongha, tak lagi bisa mengucapkan kalimat apapun, dengan satu tangan yang masih tersisa, menggenggam erat rahang berdarahnya. Tak hanya gigi rontok, rahang Jongha, hancur.


*Baaammmm….!!!


Jongha masih bergumam dengan suara aneh dari tenggorokan, sampai tiba-tiba, tanpa belas kasih sama sekali, Gerel untuk ketiga kalinya melepas tendangan, menyasar leher.


Kali ini Jongha hanya bisa menggeliat secara menyedihkan diatas tanah saat tenggorokannya, juga hancur.


"Bahkan mendengar suara eranganmu, aku tak sudi!" Gumam Gerel. Berdiri tepat dihadapan tubuh mengenaskan Jongha.


"Kau ingin segera mati? Jangan harap!" Bentak Gerel.


*Baaaaammmm…!!!!


Menginjak hancur sampai putus satu tangan Jongha yang masih tersisa. Membuat pria malang tersebut, kini kehilangan kedua tangannya. Buntung.


"Kau akan mati perlahan! Bahkan dewa kematian sekalipun, tak akan bisa menentukan kapan kau akan mati! Dia hanya akan menunggu sampai aku selesai dan mengijinkan ia mengambil nyawamu!" Ucap Gerel.


Selesai mengucapkan kalimat terakhir, Gerel mengeluarkan senjata cakram kembar.


*Slaaaassshhh…!!!


Menebas putus seluruh jari-jari kaki Jongha. Tindakan yang dibalas Jongha, dengan melebarkan mata untuk beberapa saat. Sebelum kembali memasang sorot mengiba.


*Slaaaassshhh…!!!


Sorot mata, yang disambut oleh Gerel, kembali menebas. Kali ini pergelangan kaki.


Seperti seorang psikopat gila, Gerel melanjutkan untuk menyiksa perlahan Jongha.


Disisi lain, Theo yang sedari tadi hanya diam mengamati di lokasi semula ia mendarat, tampak tak terlalu peduli dengan aksi kejam Gerel. Justru mulai menyiapkan sebuah tabung aneh, memasang beberapa garis-garis formasi segel nan rumit pada permukaan tabung.


*Tapp…!!!


Theo mendarat di sebelah Gerel.


"Wah, kau sangat kejam!"


"Jika sudah puas, tolong beri sedikit ruang!" Ucap Theo.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Gerel.


"Melanjutkan siksaan!" Jawab Theo. Sembari memasang seringai lebar mengerikannya yang khas. Seringai lebar bak penjahat jalanan.


Kata-kata Theo, tentu saja disambut kerutan kening oleh Gerel. Bagaimana melanjutkan siksaan saat pihak lawan sudah mati. Begitulah pertanyaan yang terlintas di benak Gerel.


Hanya saja, Gerel memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut, bergerak menjauh sesuai intruksi Theo.


"Baiklah, kita coba, apakah dengan kenaikan tingkat kultivasi ke kelas Emperor, aku bisa menerapkannya pada jiwa manusia yang masih segar!" Gumam Theo. Seraya membuat segel tangan cepat.


*Sraaaakkkk…!!!


Tepat ketika Theo menyelesaikan segel tangan, sebuah rantai cahaya, terlontar dari dalam Element Seed, terus bergerak untuk menembus dada. Melayang ke dunia luar.


Rantai cahaya yang tersambung pada dada Theo, melayang lembut di udara untuk sementara waktu. Sebelum mulai bergerak cepat begitu sorot mata Theo yang memancarkan ketajaman tiada tara, seperti berhasil melihat sesuatu.


*Klaanggg….!!!


"Arrrrggghhhh….!!!"


Sebuah suara benturan keras, terdengar saat rantai cahaya menghujam ke suatu arah. Diiringi dengan teriakan keras seperti orang yang sedang sangat kesakitan.


Gerel, secara otomatis menambah kerutan keningnya begitu mendengar sebuah teriakan dari udara kosong. Karena jelas teriakan tersebut, sangat ia kenali. Tak lain adalah suara teriakan Jongha.


"Wahhh… Berjalan cukup lancar!" Ucap Theo. Semakin melebarkan seringainya saat ia mulai kembali membuat gerakan segel tangan cepat.


Bersama gerakan segel tangan yang di lakukan Theo, rantai cahaya mulai memancarkan kemilau yang sangat megah. Dari dalam kemilau cahaya, satu sosok berbentuk transparan, juga mulai terlihat.


Kali ini, melihat sosok transparan tersebut, bukan kerutan yang menghiasi wajah Gerel. Melainkan tatapan terkejut. Benar-benar tak bisa mempercayai apa yang tersaji di hadapannya.


"Roh? Apakah itu roh Jongha?" Gumam Gerel lirih. Sebelum dengan cepat mengalihkan pandangan pada Theo.


"Teknik segel apa itu sebenarnya? Apa yang ia rencanakan?" Ucap Gerel. Saat melihat seringai lebar Theo yang berkembang semakin mengerikan.


Dibawah tatapan tak percaya Gerel, Theo yang selesai membuat segel tangan, melanjutkan aksi dengan melempar keluar dari dalam gelang ruang-waktu sebuah tabung yang sebelumnya sempat ia siapkan.


*Sraaaakkkk….!!!


Menggunakan telunjuk jari tangan kanan, Theo menggerakkan rantai cahaya yang telah mengikat roh Jongha, untuk terhujam keras pada tabung.


Bersama hujaman keras tersebut, Roh Jongha, secara paksa dimasukkan kedalam tabung formasi aneh. Lebih tepatnya, terserap masuk.


*Bammmm…!!!


Theo menutup aksi, dengan memukul keras ujung permukaan tabung. Menciptakan garis formasi tambahan yang segera mengunci serta menenangkan tabung yang sempat bergetar hebat.


"Selesai!" Gumam Theo, seraya menarik teknik rantai cahaya. Mengambil tabung formasi yang tergeletak di tanah. Memainkan tabung tersebut seperti seorang bocah yang mendapat mainan baru.


"Apa itu tadi?" Tanya Gerel. Tak bisa untuk tak menjadi begitu penasaran.


"Hahahah…! Hanya uji coba! Tak kusangka akan berhasil! Dengan ini, aku bisa memanfaatkan roh orang itu untuk dijadikan mainan baru!" Jawab Theo.


Mendengar jawaban Theo, dimana jelas menyatakan punya rencana terhadap roh Jongha, tak membiarkan orang tersebut bisa beristirahat dengan tenang bahkan setelah mati, Gerel tentu segera memandang Theo dengan tatapan bergetar. Merasa dingin hatinya.


'Sempat mengatakan aku kejam! Lalu apa sebutan yang tepat untukmu?' Gumam Gerel dalam hati. Sejujurnya sedikit takut pada Theo yang kini sedang memainkan tabung berisi roh Jongha sembari terus memasang seringai lebar mengerikan.


*Tappp….!!!


Gerel masih memandang ngeri kearah Theo, sampai tiba-tiba, sosok Sasi muncul dari udara kosong.


"Tuan, Kapten Perompak Naga Laut, mengatakan ingin bertemu denganmu! Ada sesuatu hal penting yang ingin ia tunjukkan!" Ucap Sasi.


"Ohhh… Dimana dia sekarang?" Tanya Theo.


"Menunggu di atas dek!" Jawab Sasi.