Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
203 - Adalah Kebanggaan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Tinju Dewa Besi!"


*Booooommmm…!!!


*Booooommmm….!!!


Dengan sorot mata dingin, Razak melancarkan dua tinju dengan kedua tangannya. Melepas teknik Tinju Dewa Besi yang berselimut Serbuk Besi pekat Iron sang Bunga Udumbara.


Dua tinju Razak. Mendarat tepat di wajah dua Tetua Eleanor Tribe. Memusnahkan tanpa sisa dua kepala dalam sekali sesi serangan.


"Hooooaaarrgggghhhh….!!!"


"Wuoooohhhhh….!!!"


"Maju…! Ikuti Tuan Razak!"


Aksi Razak, segera memecah gelombang dahsyat yang sedari tadi sudah membuncah di dalam dada setiap anggota kelompok Bandit Serigala sayap kanan. Pasukan Bandit Serigala yang sebelumnya sudah menderita banyak luka, seperti tak lagi merasakan rasa sakit. Didorong oleh semangat bergelora, maju menerjang kedepan.


"Hmmmm… Bocah ini, memiliki aura pemimpin alami! Tanpa banyak bicara, hanya dengan tatapan mata penuh keteguhan, bisa menggerakkan semangat orang-orang di sekitarnya!" Gumam Hella. Menatap takjub kearah Razak. Sebelum untuk sesaat, menyempatkan melirik kearah dimana Theo berada.


"Baik itu Eleanor Tribe, maupun Barbarian Tribe, kalian benar-benar telah memilih lawan terburuk diantara semua pilihan yang ada!" Lanjut Hella. Saat merasakan aura tak biasa, dengan kedalaman yang juga tak biasa, terus bergelayut di sekitar tubuh Theo.


"White Fang!" Gumam Hella untuk terakhir kalinya.


*Woooshhhh…!!!


*Kraaakkk…!!!


Memanfaatkan teknik menempa tak biasa yang ia dapat dari dunia lain dalam proses menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air, Hella dalam hitungan detik menempa armor Mana Es untuk menyelimuti seluruh tubuh nya dan juga White Fang.


*Tappp…!!!


White Fang melaju kencang memasuki gelombang lautan musuh. Sementara Hella yang menunggang pada punggung White Fang, mulai membuat kuda-kuda teknik Tombak.


"Roh Naga Es, aku memanggilmu!" Gumam Hella.


'Grrrrr….!!!!'


Suara erangan lirih, segera terdengar begitu Hella selesai bergumam. Bersama dengan suara tersebut pula, wujud Tombak Es milik Hella, mulai berubah. Ujung tajam Tombak Es, berubah menjadi semakin besar. Memancarkan aura Mana Es intens. Sementara di belakang punggung Hella, sesosok bayangan kepala Naga, juga mulai terbentuk.


*Woooshhhh…!!!


*Booooommmm…!!!


*Booooommmm…!!!


*Booooommmm….!!!


White Fang terus melaju semakin dalam menembus garis formasi musuh. Bersama laju sang Sabertooth Salju, Hella juga terus melancarkan serangan teknik tombak dahsyat yang meluluh-lantakkan sekitar.


Secara resmi, Kelompok Bandit Serigala yang dipimpin oleh Razak dan Hella, mengumandangkan tantangan nyawa pada lautan musuh dari armada besar Eleanor Tribe.


Sementara disisi lain, pihak Aliansi 7 Lautan tampak belum membuat pergerakan. Seluruh pasukan, hanya memandang kearah Sinbad. Menunggu intruksi darinya.


"Hahhahahah…!!!"


Dibawah tatapan mata seluruh anggotanya, Sinbad yang sebelumnya hanya diam menatap kearah aksi Kelompok Bandit Serigala, tiba-tiba tertawa begitu lantang.


"Dante! Kau lihat itu? Satu mendapatkan Qilin Besi! Sedangkan satunya mendapat roh item Naga Es! Benar-benar para pemikul takdir sejati!" Ucap Sinbad.


"Berhenti menikmati! Kami menunggu intruksi!" Gumam Dante. Sudah menggenggam erat gagang Katana. Juga telah berubah bentuk dalam mode Meridian Knight Qilin Petir.


"Intruksi? Bukankah sudah jelas? Ikuti kawan Aliansi kita! Mari bergabung dalam kemeriahan!" Seru Sinbad lantang. Bersama dengan itu, ia menarik Tremor Sword dan Blazing Sword dari dalam sarungnya. Berubah cepat kedalam wujud Soul Knight sebelum dalam satu kedipan mata, sosoknya menghilang.


"Kalian sudah dengar dengan cukup jelas, maju tanpa keraguan!" Gumam Dante. Sosoknya, juga ikut menghilang.


Dipimpin dua sosok terpenting dalam kelompoknya, pasukan Aliansi 7 Lautan, tak lagi mempertahankan formasi bertahan. Bergerak dalam gelombang menerjang bersamaan.


Bandit Serigala bersama Aliansi 7 Lautan, menerjang membawa semangat membara. Disisi lain, pada pihak berlawanan, armada Eleanor Tribe, jelas masih memiliki kunggulan mutlak dalam hal jumlah pasukan yang begitu mencolok.


**** 


(Kapal perang yang hampir karam. Lokasi Guan Zifei)


Dalam keriuhan suasana medan pertempuran, Theo tampak mengambil posisi duduk bersila menghadap tepat di depan Guan Zifei.


Dengan hanya sekali pandang, melihat sisa-sisa sulur tanaman yang masih sedikit menancap pada dada Guan Zifei, Theo bisa tau siapa orang yang telah memberi serangan terakhir dimana merusak Ranah Jiwa dari salah satu orang kepercayaannya tersebut.


Hanya saja, Theo memilih untuk menekan rasa marah di dalam dadanya. Memberi penghormatan kepada Guan Zifei yang sedang berada diambang batas.


Theo hanya diam. Memandang wajah Guan Zifei untuk beberapa saat.


"Terimakasih, karena tak mengucapkan kata maaf atau sejenisnya kepadaku!" Ucap Guan Zifei lirih. Pada akhirnya anggota Klan Guan ini, menjadi yang pertama memecah keheningan.


"Jelas kau tak memerlukan kata-kata macam itu! Ini adalah jalan yang telah kau pilih!" Ucap Theo.


Permintaan maaf, hanya akan membuat Theo tak menghormati semua perjuangan yang telah di lakukan Guan Zifei dalam memimpin medan pertempuran sayap kanan.


"Bergabung di bawah panji-panji Kelompok Bandit Serigala, adalah sebuah kebanggaan! Aku berterimakasih kepada langit karena mengijinkan terikat takdir denganmu!" Ucap Guan Zifei. Dengan suara yang semakin lirih.


Sementara Theo, tak memberi tanggapan apapun. Hanya diam mendengarkan.


"Hanya ada beberapa penyesalan dalam hidupku yang singkat ini! Satu masalah Klan Guanku! Sementara satu lagi yang terbesar, aku tak akan ada disana saat kau kelak meraih puncak tertinggi, Boss!" Tutup Guan Zifei. Seraya membuat satu senyum sederhana.


Bersama senyum sederhana tersebut, Guan Zifei, salah satu wakil pemimpin Divisi Kelompok Bandit Serigala. Satu dari sedikit orang yang begitu di percayai oleh Theo. Menghembuskan nafas terakhir. Gugur dalam medan pertempuran sembari membawa kebanggan. Tersenyum disaat terakhirnya.


Theo tetap terdiam saat nyala dalam Ranah Jiwa Guan Zifei, perlahan mulai padam. Sampai kemudian, ketika Ranah Jiwa Guan Zifei telah benar-benar padam. Theo melakukan gerakan tangan mengayun. Mengeluarkan dua buah cangkir arak. Menuang sampai penuh masing-masing cangkir.


Aksi Theo, dilanjutkan dengan ia memasang sorot mata tajam, sebelum dengan gerakan lembut, meraih dua cangkir arak yang telah penuh. Mengangkatnya tinggi-tinggi keatas langit untuk sementara waktu.


"Guan Zifei!" Gumam Theo lirih. Secara cepat menuang dua cangkir arak kedalam mulut.


*Bammmmm…!!!


Tak seperti saat mengambil cangkir arak dimana dilakukan dengan gerakan lembut, Theo membanting keras hingga hancur dua cangkir tepat setelah mengosongkannya.


"Asmodeus! Keluar!"


"Iblis Petir!"


*Wuoooosssshhhhh…!!!


Memanggil keluar pedang kembar Asmodeus yang indah, Theo segera mengaktifkan teknik ketiga Dosa Nafsu. Surga Penuh Gairah. Tepat ketika Pedang Kembar Asmodeus mendarat pada genggamam tangannya.


*BLAAAARRR….!!!


*BLAAAARRR….!!!


*BLAAAARRR….!!!


Bersama aktifnya Surga Penuh Gairah, fenomena alam aneh, kembali menggelayuti langit medan pertempuran. Langit menghitam, jilatan-jilatan Halilintar dahsyat berwarna ungu, menderu keras.


Medan pertempuran yang sebelumnya sangat riuh, untuk sekali lagi menjadi hening. Setiap orang menatap dengan pandangan bergetar keatas langit.


Hanya satu orang yang saat ini tak melihat kearah langit. Itu adalah Iris. Nona muda Eleanor Tribe yang sejak terlempar keluar dari dalam Kastil Raja Dewa Air belum membuat langkah apapun tersebut, menatap tajam kearah sosok Theo yang wujudnya telah berubah menjadi seperti Iblis Petir.


Iris jelas bisa melihat, kemana tatapan penuh nafsu membunuh Theo saat ini terarah.


Tatapan Theo, sepenuhnya tertancap pada sosok Fairley yang berada agak jauh dari wilayah medan pertempuran. Masih dilindungi oleh Tetua Pertama dan Tetua Kedua.


Iris, hanya bisa mengambil nafas dalam saat melihat sosok Theo, secara tiba-tiba menghilang. Membawa deru aliran Mana Listrik Ungu dahsyat dalam sentakan kaki sebelum sosoknya lenyap.


*Woooshhhh…!!!


Secepat yang ia bisa, Iris bergerak menyusul. Menarik sebuah pedang indah berwarna dominan biru yang terikat di pinggangnya.


"Oe, gadis muda! Apapun yang sedang ingin kau lakukan, itu akan percuma, bahkan dengan meminjam kekuatanku, kau tak akan mampu menghentikan orang itu!"


Suara Kung-Peng, terdengar dari dalam pedang yang sedang digenggam Iris. Pedang dengan bilah memancar aura Mana Air intens. Tak lain adalah Aqua Sword.