
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
----------
Theo masih sibuk mencoba untuk menguasai teknik mengolah daging Demonic Beast yang ia pelajari dari salah satu buku perpustakaan gelang ruang-waktu. Sampai tiba-tiba, Gugio yang membaca peta, menghentikan langkah.
*Tapp…!!!
Dan bersama dengan langkah Gugio yang terhenti, Hunter kelas tinggi Paviliun Harta dimana sebelumnya mendapat tugas untuk menyisir wilayah sekitar, juga melakukan pendaratan ringan di tengah rombongan. Berlutut di hadapan Theo.
"Tuan! Kita sepertinya memasuki wilayah sarang seekor Demonic Beast kelas tinggi!" Ucap sang Hunter.
"Tuan muda, yang dikatakan orang ini sepertinya tepat! Karena dalam peta, juga terdapat satu tanda khusus titik merah kecil!" Sahut Gugio.
"Hmmmm… Apa kau tahu jenis Demonic Beast ini?" Tanya Theo. Pada Pion Hunter pertama yang tadi sempat melakukan penyisiran wilayah.
"Mohon maaf! Aku tidak tahu! Tekanan aura kuat dari sang Demonic Beast, membuatku segera melangkah mundur!" Jawab Pion pertama.
"Jika kau yang merupakan Hunter Gerbang Merah bahkan merasa tertekan, maka jelas Demonic Beast ini memiliki tingkatan paling rendah setara dengan Hunter Gerbang Hitam awal!" Tanggap Theo.
"Itu benar! Oleh karena itu, aku menyarankan agar kita mengambil jalan memutar! Menyisir tepi-tepi batas wilayah sarang Demonic Beast ini!" Ucap Pion pertama, memberi saran.
Theo menaikkan salah satu sudut alisnya untuk beberapa saat. Sebelum ganti melihat kearah Gugio.
"Gugio, seberapa jauh lagi kita dari Lembah Demonic Beast tujuan pertama?" Tanya Theo.
"Tak jauh! Itu berada tepat di belakang wilayah sarang Demonic Beast ini! Dan dugaanku, Demonic Beast kelas tinggi yang ada di depan, merupakan penghuni Lembah Demonic Beast yang membangun sarang sedikit keluar dari wilayahnya!" Jawab Gugio.
"Begitu!" Gumam Theo.
"Hanya akan membuang waktu jika mengambil jalan memutar!"
"Sebaiknya bereskan saja Demonic Beast yang ada di depan! Lagipula, kebetulan aku juga mulai kehabisan daging untuk dijadikan obyek percobaan!" Lanjut Theo. Sembari memasang senyum tipis.
Mendengar kata-kata Theo, raut wajah setiap orang segera berubah buruk.
"Tuan muda, itu adalah Demonic Beast kelas tinggi yang setara dengan Hunter Gerbang Hitam!" Ucap Gugio.
"Hmmm… Aku sudah tahu! Bukankah tadi aku sendiri yang menyampaikan itu?" Tanya Theo.
"Kau tunggu saja disini bersama Gris! Aku akan masuk kedalam bersama dua orang ini!" Lanjut Theo. Sebelum dengan lirikan, memberi intruksi pada Pion pertama dan Pion kedua, untuk mengikutinya.
Lirikan Theo sendiri, disambut dengan raut wajah takut oleh Pion pertama dan Pion kedua, bagaimanapun juga, Demonic Beast yang membangun sarang di wilayah depan, jelas diluar kemampuan keduanya untuk dapat di tangani.
Bahkan seorang Hunter dengan kelas yang sama, yakni Gerbang Hitam, pasti akan kewalahan menghadapi Demonic Beast tersebut.
Demonic Beast, merupakan makhluk yang sangat ganas. Hanya Hunter dengan tingkatan benar-benar diatas tiap Demonic Beast yang bisa mengalahkan mereka.
Oleh sebab itulah, Pion pertama dan Pion kedua, merasa bahwa tindakan Theo kali ini, adalah misi bunuh diri. Tiga Hunter Gerbang Merah, melawan Demonic Beast setara dengan Hunter Gerbang Hitam.
Namun begitu, meski keduanya tampak takut, baik itu Pion pertama atau Pion kedua, sama sekali tak berani membantah intruksi dari Theo. Dua orang ini melangkah kedepan secara otomatis saat melihat Theo sudah bergerak.
***
(Wilayah sarang Demonic Beast)
Theo bersama Pion pertama dan Pion kedua, berjalan menyusuri wilayah padang pasir yang memiliki permukaan menanjak.
Setiap langkah yang di buat kelompok tiga orang ini, dibarengi dengan aura berat yang begitu menekan, memancar dari puncak gundukan tanah berpasir.
Namun, dengan Theo berjalan paling depan, aura menekan tersebut bisa sedikit di redam. Situasi ini, menyebabkan baik itu Pion pertama atau Pion kedua, tak henti menatap takjub kearah punggung Theo. Mengagumi kedalaman aura milik Theo yang jelas sangat jauh melebihi kedalaman aura milik keduanya, padahal dua orang ini juga merupakan sesama Hunter Gerbang Merah.
Sekarang keduanya mulai mengerti, kenapa di perjumpaan awal, mereka tak memiliki kesempatan sama sekali saat bertarung melawan Theo. Berakhir dibantai habis-habisan.
*Tap…!!
Masih di bawah tatapan terpukau Pion pertama dan Pion kedua, langkah kaki Theo terhenti saat mencapai puncak gundukan tanah berpasir. Sebuah lubang berukuran cukup besar, berada tepat di hadapan Theo.
"Tuan, sekarang bagaimana? Apa kita harus masuk?" Tanya Pion kedua, dengan wajah pucat melihat kedalam lubang. Sangat berharap Theo akan membatalkan niatnya dan memilih untuk mengambil jalan memutar.
"Yah, tentu saja masuk!" Jawab Theo.
"Tapi bukan kita! Kalian yang akan masuk kedalam!" Lanjut Theo.
"Ka-kami?" Gumam Pion pertama. Dengan nada bergetar.
"Kalian jelas tak tuli! Bisa mendengar kata-kataku dengan cukup jelas!" Tanggap Theo. Dengan nada dingin. Menyebabkan Pion kedua yang hendak ikut berbicara, segera menelan lagi kalimat yang sempat akan ia keluarkan.
"Bertarung didalam sarang Demonic Beast adalah hal yang cukup bodoh! Karena mereka jelas akan memiliki keunggulan mutlak! Oleh karena itu, kalian berdua masuk kedalam! Pancing agar Demonic Beast ini bergerak keluar!" Ucap Theo.
"Itu saja tugas kalian! Buat diri kalian berguna!"
"Setelah Demonic Beast terpancing keluar, sisanya akan kuurus sendiri!" Tutup Theo.
Kata-kata Theo, disambut oleh Pion pertama dan Pion kedua, dengan saling tatap satu sama lain untuk beberapa saat. Sebelum dengan wajah pucat pasih dan langkah berat, keduanya melompat masuk kedalam lubang. Sama sekali tak berani membantah.
***
(Beberapa menit berlalu)
Theo yang menunggu diatas lubang, menghabiskan waktu dengan duduk bersila, kembali melakukan eksperimen mengolah daging Demonic Beast.
Sesekali mata Theo melirik kedalam lubang ketika mendengar suara teriakan dan juga getaran-getaran.
Sampai kemudian, getaran-getaran yang awalnya terasa cukup jauh, semakin lama semakin mendekat. Bersama dengan itu, Theo menghentikan aktivitasnya. Melompat mundur beberapa langkah kebelakang.
*Woooshhhh…!!!
Sembari memasang raut wajah serius, Api Surgawi menyala pada telapak tangan kanan Theo.
*Tappp…
Dengan tubuh penuh luka dan lumuran darah, Pion kedua menjadi yang pertama melompat keluar dari dalam lubang. Segera jatuh terhuyung begitu kedua kakinya mendarat pada tanah berpasir.
*Boooommmm…!!!
Dan detik berikutnya setelah Pion kedua keluar, ledakan keras terjadi. Menghancurkan lubang sarang Demonic Beast.
Bersama dengan ledakan itu, tubuh Pion pertama, terlempar tinggi menerobos gundukan berpasir. Mendarat dengan hujaman keras dalam posisi sudah tak sadarkan diri. Sebuah luka sayatan parah, menghiasi punggung pria malang tersebut.
Theo sendiri, tampak tak peduli dengan kondisi Pion pertama dan Pion kedua. Tatapan matanya, masih fokus pada lokasi dimana lubang sarang Demonic Beast tadi berada.
*Boooommmm…!!!
Sampai kemudian, ledakan lainnya kembali terjadi. Seekor Demonic Beast raksasa berbentuk ayam dengan tanduk panjang pada ujung kepala, melompat keluar sembari berteriak nyaring memekakkan telinga. Menyebar aura dahsyat dari aliran Chi Api liar yang bercampur Chi Kegelapan pekat.
Namun…
ketika Demonic Beast Ayam bertanduk masih dalam posisi melompat tinggi di udara…
*Tappp…!!!
Theo menerjang maju, tak memberi kesempatan untuk sang Demonic Beast bahkan sempat memijak tanah. Dengan derak Api Surgawi berwana emas berkobar di tangan kanan. Theo menghujamkan pukulan keras pada tubuh sang Demonic Beast.
*Woooshhhh…!!!
*Boooommmm…!!!
Sang Demonic Beast, segera kehilangan seluruh momentum aksi penuh dominasinya saat ia terpental jauh akibat pukulan Theo. Mendarat dengan keras pada tanah berpasir sembari berteriak kesakitan.
*Tukkk…!!!
*Bzzzzzttt…!!!
Tak melewatkan momentum sama sekali, Theo melanjutkan aksi dengan mengetuk ujung sepatu kilat. Listrik Merah berderak untuk sepersekian detik sebelum kembali menghilang. Membawa sosok Theo bersamanya.