
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
"Jika memang tak ada jalan, maka tinggal buat sendiri jalannya!" Gumam Theo. Aliran Mana Besi padat nan murni, mulai terhimpun pada sekitar tubuhnya saat ia membuat kuda-kuda.
"Teknik Kedua Dosa Kemalasan!"
*Wuuungg….!!!
Dengunan keras terdengar, otot-otot lengan Theo, membesar seketika. Satu peristiwa yang segera membuat Razak menatap penuh minat. Setiap teknik kekuatan tubuh fisik, akan menarik minat bocah ini.
"Sikap Dunia tanpa gerakan!" Seru Theo. Seraya melempar keras palu raksasa Belphegor yang kini penuh akan derak padat Mana Besi, untuk menghujam langit-langit ruangan yang runtuh.
*Wuuungg….!!!
*Woooshhhh….!!!
Dengungan keras kembali menggema bersama gerak melempar Theo, Palu Raksasa Belphegor, terlempar dalam putaran cepat menyongsong keatas.
*Booooommmm….!!!
Membentur keras bebatuan langit-langit ruangan.
Bebatuan yang awalnya runtuh kebawah, kini tersentak kembali keatas. Hancur berantakan mengikuti arah terjangan Palu Raksasa Belphegor.
Palu raksasa Belphegor sendiri, tak berhenti menerjang keatas. Terus bergerak menghancurkan bebatuan. Membuka satu jalan khusus.
"Razak! Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan para pasukan mayat hidup yang telah kau tangkap! Taruh semua fokus untuk mempertahankan teknik serbuk besi!" Ucap Theo. Kembali memberi intruksi pada Razak.
Mendengar itu, Razak membalas dengan anggukan singkat. Mengeraskan kepalan tinju dimana merupakan satu kunci pengendalian serbuk besi Iron sang roh Bunga Udumbara.
Disisi lain, melihat anggukan Razak, Theo kembali fokus melihat kearah atas. Dimana Palu Raksasa Belphegor masih terus melaju. Sampai pada akhirnya, Palu Raksasa Belphegor, menembus permukaan.
Cahaya matahari mulai terlihat pada visi Theo, dilanjutkan dengan lahar panas gunung berapi, bergerak memasuki serta mengisi lubang yang telah tercipta dari laju teknik kedua Dosa Kemalasan.
*Bzzzzzttt….!!!
Masih dengan tatapan tajam, Theo membuat Kuda-kuda menarik dua tangan sedikit kebelakang. Deru aliran Mana Mutasi Listrik Merah, berderak pada dua kepalan tinju Sarung tangan kilat.
*BLAAAAAAAZZZZTTTT….!!!
Derak Mana Mutasi Listrik Merah yang telah terhimpun, dilepas Theo dengan menyentak dua pukulan kearah atas. Membersihkan sisa-sisa reruntuhan, serta luberan lahar panas gunung berapi yang mulai memasuki lubang jalan keluar. Tak hanya itu, terjangan Mana Mutasi Listrik Merah, juga membuat ukuran jalan keluar, menjadi lebih lebar.
Jalan keluar berupa lubang yang berukuran cukup luas, kini telah sepenuhnya tercipta. Melihat hal itu, Theo segera melanjutkan aksi. Tak ingin membuang terlalu banyak waktu sampai lahar akan kembali memenuhi lubang. Memanfaatkan situasi sebaran Mana Mutasi Listrik Merah tersisa dimana menahan lahar panas.
"Sekarang!" Gumam Theo. Seraya membuat gerakan tangan mengayun singkat.
"Groooooaaaahhh….!!!"
Raja Naga Hitam, melompat keluar dari dalam Gelang ruang-waktu.
*Tapp…!!!
Theo melompat untuk duduk pada singgasana, diikuti oleh Razak yang tanggap dengan perkembangan situasi dari rencana Theo. Melompat untuk berdiri pada sisi Theo sembari menarik para mayat hidup yang terikat rantai serbuk besi.
"Bergerak!" Gumam Theo. Memberi intruksi kepada Raja Naga Hitam.
"Groooooaaaahhh….!!!"
*Woooshhhh….!!!
Raja Naga Hitam, mengepakkan sayap perlahan beberapa kali, sebelum memanfaatkan momentum gerakan yang ia ciptakan, sang Raja langit, melaju dalam gerakan tajam menerjang kearah atas.
*Woooshhhh….!!!
Raja Naga Hitam baru separuh jalan menerobos lubang, sampai tiba-tiba, sisi-sisi lubang yang tak stabil mulai runtuh. Lahar panas, juga kembali memasuki lubang dari arah atas karena sisa sebaran Mana Mutasi Listrik Merah, perlahan menghilang.
Melihat hal itu, Theo sendiri sebenarnya tak terlalu khawatir, karena dari awal, ia tak begitu memperhitungkan lahar panas. Tubuh fisiknya, serta tubuh fisik Razak, jelas mampu bertahan.
Hanya saja, situasi akan berbeda bagi para mayat hidup yang kini sedang di tarik oleh rantai-rantai serbuk besi Razak. Meskipun memang memiliki jiwa sisa yang kuat, berkelas Emperor. Tapi tubuh fisik yang dimiliki para pasukan mayat hidup, tidaklah terlalu kuat. Bagaimanapun juga, mayat-mayat hidup ini telah tersegel begitu lama di dalam sumur. Perlahan semakin membusuk dimakan oleh aliran waktu.
"Tuuu….!!!"
Theo masih memikirkan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah keamanan para mayat hidup, sampai suara Joy Kecil yang sedari tadi bertengger di pundak kanannya, terdengar.
"Benar juga! Kau bisa membantu!" Jawab Theo. Saat Joy Kecil, menawarkan bantuannya.
*Tappp…!!!
Joy Kecil melompat dari pundak Theo. Terjun turun menuju lokasi para mayat hidup sedang tertarik kasar oleh rantai serbuk besi Razak. Beberapa kali membentur sisi-sisi dinding lubang yang mulai hancur. Akibat benturan keras yang terjadi, beberapa bagian tubuh mayat hidup hancur dan terlepas.
Namun dalam situasi kehilangan tangan atau kaki, para mayat hidup ini masih menggeliat, menatap tajam kearah Razak dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
*Wuuungg….!!!
Joy Kecil yang hinggap pada salah satu rantai serbuk besi, dimana berada pada posisi dekat dengan sekumpulan mayat hidup, mengeksekusi aura pelindung. Membekap seluruh mayat hidup dalam naungan aura pelindungnya.
*Woooshhhh…!!!
Raja Naga Hitam, terus melaju. Perjalanan untuk naik kepermukaan, ternyata cukup panjang.
Sampai akhirnya, luberan Lahar panas benar-benar memasuki lubang. Memenuhi lubang sepenuhnya.
*Bammmm…!!!
*Bammmm…!!!
Theo mengeksekusi teknik Iron Fist. Menyebar luberan lahar panas yang ada di hadapannya. Sekedar cuma agar ia tetap mendapatkan visi pada ujung lubang.
Sementara Razak, hanya menerima luberan lahar. Menjadikan lahar panas yang kini mengalir deras pada tubuhnya, sebagai sarana latihan menempa tubuh fisik. Bocah tersebut justru tampak menikmati situasi mandi lahar panas. Mengolah aliran Mana Besi pada setiap garis-garis Meridiannya.
Untuk para mayat hidup? Mereka aman dalam dekapan aura pelindung Joy Kecil. Menjadi hal yang menurut Theo adalah harta tambahan dalam perjalanan menyusuri sumur misterius.
*Woooshhhh….!!!
*Blaaaaarrr….!!!
Dinding-dinding lubang, telah sepenuhnya runtuh. Namun, bersama dengan itu, Raja Naga Hitam yang melaju dalam gerakan tajam, melakukan manuver memutar. Melebarkan sayap-sayap berdurinya untuk menciptakan ruang berukuran tertentu. Diakhiri dengan satu gerakan mengibas ekor, Raja Naga Hitam menghujamkan Gada Raksasa pada ujung ekornya, membuka jalan keluar.
*BLAAAARRR…!!!
*Woooshhhh….!!!
Raja Naga Hitam, terbang menembus lahar panas. Menyongsong tinggi keatas langit.
"Groooooaaaahhh….!!!"
Pada langit diatas gunung berapi, sang Raja, berteriak lantang begitu liar. Seolah sedang menyerukan bahwa tak ada jalan buntu yang mampu menghadangnya.
*Woooshhhh….!!!
Dalam sekali kepakan sayap, Raja Naga Hitam membuat gerakan menukik tajam. Kembali turun untuk kemudian mendarat pada sisi tebing kawah gunung berapi.
*Bammmmm….!!
Pendaratan keras tercipta. Tepat di lokasi tak jauh dari Tuan Leluhur, sedang menunggu.
"Akhirnya kalian keluar! Aku sudah mulai khawatir saat melihat sumur tersebut runtuh dan tertelan masuk kembali kedalam lahar panas!" Ucap Tuan Leluhur.
*Sraaaakkkk…!!!
*Sraaaakkkk….!!!
*Sraaaakkkk….!!!
*Bammmm…!!!
*Bammmmm….!!!
*Baaammmm….!!!
Hanya saja, tepat ketika Tuan Leluhur baru menutup mulut serta memasang raut lega pada wajah metaliknya, suara gemerincing rantai-rantai terdengar keras. Diiringi dengan hujamam beberapa tubuh makhluk yang berwujud mengerikan.
"Makhluk-makhluk apa itu?" Tanya Tuan Leluhur. Memasang wajah heran. Cenderung ngeri saat melihat bentuk tubuh menyeramkan para mayat hidup.
*BOOOOOMMMM….!!!!
Akan tetapi, belum sempat Tuan Leluhur mendapat jawaban dari Theo atau Razak, sebuah suara ledakan keras, terdengar menggema. Begitu memekakkan telinga.
Suara ledakan tersebut, berasal dari arah kawah gunung berapi lain.
"Hahahhahaha….!!!"
"Hahhahahaha….!!!"
Tinggi diatas langit kawah gunung berapi tempat sumur misterius lainnya muncul, sosok Sinbad yang sedang menunggang Neve, sang White Condor, tampak tertawa lantang. Memasang raut wajah begitu cerah.
Sementara Dante yang juga ada dipunggung Neve, memasang raut wajah berkebalikan dengan Sinbad. Sedang sangat kesal.
Pada ujung tangan Sinbad sendiri yang kini terangkat keatas, tampak sebuah bongkahan Logam Mulia Ruang Angkasa, dalam kondisi sepenuhnya terbungkus Mana Es padat nan intens. Jelas merupakan Mana Es milik Neve. Sang Guardian Beast.
Meskipun memang bongkahan Logam Mulia Ruang Angkasa yang berhasil di dapat Sinbad tak terlalu besar jika dibandingkan dengan yang di dapat Theo, itu tetap harta berharga dalam ukuran di luar normal Logam Mulia Ruang Angkasa pada umumnya.
"KWAAAKKK….!!!!!"
Neve yang telah dalam wujud transformasi berukuran raksasa, berteriak lantang dengan nada ceria. Raut wajah Neve, tak jauh beda dengan Masternya, Sinbad.