Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
Spin off : Jasia - Kalina (Jurang Misterius) 1


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(2 Tahun yang lalu, dari alur waktu cerita utama. Petualangan awal Jasia-Kalina memasuki Jurang Misterius dan bertemu dengan dua sosok misterius)


"Kalina, jangan bergerak terlalu jauh!" Ucap Jasia, saat melihat Kalina berjalan cepat menyusuri lorong sempit pintu masuk gua misterius dengan langkah tergesa. Tampak sangat antusias.


"Yah kak…!" Jawab Kalina. Namun jawabannya tersebut berbanding terbalik dengan tindakannya. Ia kini justru semakin mempercepat larinya.


"Wahhh… Gambar formasi segel yang sangat indah!" Ucap Kalina, sambil melihat dengan pandangan takjub pada dinding gua yang berada tak jauh dari hadapannya.


Merasa entah kenapa ada sesuatu yang seperti sedang memanggil dirinya, Kalina memiliki dorongan untuk maju dan menyentuh gambar formasi rumit tersebut.


*Ding….!!!


Sebuah suara dentingan ringan, segera terdengar begitu Kalina mengusapkan tangannya pada gambar formasi.


"Terdengar nyaman sekali!" Gumam Kalina saat suara dentingan menggema ringan.


*Ding…!!!


Kalina yang merasa suara dentingan entah kenapa terdengar menyenangkan di telinganya. Segera mengusapkan tangan pada gambar formasi untuk kedua kalinya.


"Heheheh….!!!"


Suara dentingan kedua, membuat Kalina terhanyut oleh rasa nyaman di dadanya. Melanjutkan menyentuh dinding bergambar penuh formasi. Kali ini tak sekedar mengusap, melainkan menempelkan seluruh telapak tangannya.


*Ding….!!!


*Ding….!!!


*Ding….!!!


Suara dentingan ringan kembali terdengar. Namun kali ini tak hanya sekali, itu terus menggema berulang kali. Suara dentingan yang terdengar juga semakin lama semakin mengeras. Kini mulai terdengar menyeramkan.


Kalina yang mendengar hal ini, tentu saja menjadi takut. Ia hendak menarik tangannya dan menjauh dari dinding penuh gambar formasi dihadapannya. Tapi sekuat apapun ia berusaha menarik tangan, gambar formasi segel seperti memiliki kehidupan dengan menarik balik tangan Kalina, mencegahnya untuk meninggalkan tempat. Cahaya merah terang kini juga mulai menyala pada sisi-sisi gambar formasi segel.


"Kalina, apa itu? Cepat menjauh!" Teriak Jasia. Saat akhirnya bisa menyusul Kalina.


Jasia sendiri sudah mulai cemas saat pertama mendengar suara dentingan aneh. Langkah kaki Jasia yang pada mulanya masih bergerak santai menyusuri lorong sempit. Berganti dengan langkah kaki tergesa, berusaha menyusul Kalina.


Dan begitu berhasil menyusul, ia dibuat begitu khawatir saat melihat kondisi Kalina yang saat ini tampak sedang di selimuti cahaya merah aneh.


"Kakak…! Tolong aku! Tanganku terjebak! Ini tak mau melepaskanku!" Seru Kalina, dengan raut wajah ketakutan.


"Sialan!"


Mendengar kata-kata Kalina, tanpa menunda, Jasia segera berubah kedalam mode Soul Knightnya. Menerjang maju kedepan.


*Bang….!!!


Namun, hanya beberapa langkah Jasia maju menerjang, sebuah aura pelindung aneh, tiba-tiba muncul dan menghadangnya. Membuat langkah menerjang maju Jasia seketika terhenti.


"Apa lagi sekarang?" Gumam Jasia. Kemudian mulai mengalirkan Mana atribut api miliknya pada kedua tangan. Membuat semburan api raksasa yang dilontarkan tepat kearah pelindung misterius.


*Woooshhhh….!!!


Suara derakan api terdengar keras bersamaan dengan Jasia mengeksekusi tekniknya.


Namun, sekeras apapun Jasia berusaha mengalirkan serangan api terkuatnya, usahanya ini tampak sia-sia karena pelindung misterius terlihat tak mendapat efek apapun. Bahkan tak menunjukkan sedikit getaran. Sama sekali tak bergeming.


Merasa serangan normalnya tak menunjukkan hasil, Jasia tanpa ragu kini mengeluarkan senjata cambuk miliknya. Mana api yang semula di fokuskan pada kedua tangan. Kini mengalir dengan intens pada ujung campuk api miliknya.


*Cetar….!!!


Suara sabetan cambuk membelah udara yang diakhiri dengan suara benturan keras, menggema pada seluruh ruangan gua sempit tempat Jasia dan Kalina sekarang berdiri saat Jasia melancarkan serangan cambuknya pada pelindung misterius.


"Sialan! Aku masih terlalu lemah!" Dengus Jasia, sambil memasang ekspresi wajah penuh kecemasan begitu serangan cambuknya juga tak memberi efek apapun pada pelindung yang ada di hadapannya.


"Kalina! Bagaimana keadaanmu?" Teriak Jasia kemudian.


"Formasi segel ini mulai menyerap Mana di dalam tubuhku kak!" Seru Kalina, tanpa menoleh kearah Jasia.


Mendengar jawaban Kalina, ekspresi cemas di wajah Jasia kini semakin menjadi.


"Bagaimana ini! Bagaimana?" Ucap Jasia, sambil menggenggam erat cambuk api di tangannya. Benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri yang masih terlalu lemah.


*Woooshhhh….!!!


Saat Jasia masih bingung dengan situasi buntu yang dihadapinya. Sebuah suara semburan keras tiba-tiba terdengar. Suara semburan ini berasal dari gambar formasi segel yang saat ini masih menarik tangan Kalina.


Suara ini tentu membuat Jasia yang sangat cemas, menatap dengan pandangan nanar kearah dinding formasi. Dimana sekarang mulai mengeluarkan riak-riak Mana api kecil beriringan dengan cahaya berwarna merah yang semakin menyala dengan sangat intens.


"Kalina….!!!" Teriak Jasia parau. Begitu melihat riak-riak api kecil, saat ini mulai membungkus tubuh Kalina.


Dalam kepanikannya. Jasia kembali menerjang maju. Melancarkan serangan cambuk puluhan kali kearah pelindung misterius. Ekspresi wajahnya sendiri, menunjukkan ia sedang sangat putus asa dan marah di saat yang bersamaan.


*DING….!!!!


Bersamaan dengan riak-riak Mana api selesai membungkus tubuh Kalina sepenuhnya. Suara dentingan kembali terdengar. Kali ini cuma sekali, namun sangat amat keras. Begitu keras sampai-sampai membuat dinding gua di sekitar sedikit bergetar.


*Woooshhhh….!!!


Tubuh Kalina yang saat ini diselimuti riak-riak Mana api sendiri, terlihat mulai terbakar membara bersamaan dengan menggemanya dentingan suara keras terakhir.


"Kalina…!!! Arrggghhhh….!!! Kenapa jadi begini!" Teriak Jasia. Benar-benar sudah sangat putus asa ketika melihat kondisi adiknya.


*Kraaakkkk….!!!


"Kraakkkk….!!!


*Kraaakkkk….!!!


Disisi lain, ketika Jasia masih berteriak dan melancarkan serangan cambuk dengan membabi-buta pada pelindung misterius. Kalina yang saat ini tubuhnya terbakar oleh api membara. Tiba-tiba mulai membuka mata. Sorot mata tajam bercahaya menjadi penghias mata Kalina saat ia pertama kali membuka matanya.


"Kakak, berhenti khawatir, api-api ini tak menyakitiku sama sekali, malah mulai merasuk dan membuat Element Seed ku tumbuh lebih kuat!" Ucap Kalina, sesaat setelah membuka mata.


Mendengar kata-kata yang disampaikan Kalina, Jasia kini mulai menghentikkan serangan-serangan cambuknya. Menatap balik kearah Kalina dengan tatapan ragu. Tak tahu harus menjawab seperti apa.


"Kau benar-benar tak terluka?" Tanya Jasia pada akhirnya. Setelah hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Yahh… Aku tak apa-apa! Dua senior yang ada disini hanya ingin membantuku menjadi lebih kuat!" Jawab Kalina. Bersamaan dengan kalimat yang ia ucapkan. Dua sosok berwujud api merah terang, kini mulai keluar secara perlahan dari dalam gambar formasi segel.


"Tapi kak, hanya satu dari mereka berdua yang bisa meleburkan diri denganku dan membuat Element Seed ku tumbuh lebih kuat, berkembang satu level ketingkat yang lebih tinggi!"


"Sementara satu dari mereka, tak bisa melakukan hal yang sama padamu karena garis darah kuno yang tertanam pada Element Seedmu, masih terlalu lemah!" Ucap Kalina. Tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tak bisa dipahami oleh Jasia.


"Hanya saja, kau sangat beruntung kak! Karena menurut mereka, ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam perutmu, dimana bisa digunakan sebagai penyalur untuk memperkuat garis darahmu!"


Saat Jasia masih bingung dengan maksud kata-kata Kalina diawal, adiknya ini tiba-tiba menambahi beberapa kalimat lagi yang sama sekali tak bisa ia pahami.


*Kraakkk….!!!


*Kraaak….!!!!


*Woooshhhh….!!!


*Woooshhhh….!!!


Tanpa memberi penjelasan apapun lagi, Kalina hanya mulai menutup mata, dan bertepatan dengan tindakannya tersebut, dua sosok berwujud api merah terang, terbang kearah masing-masing dari kedua. Salah satu memasuki tubuh Kalina melalui ujung kepala, sementara satu yang lain terbang melewati pelindung misterius dan dengan cepat memasuki perut Jasia.