
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
"Jika memang ingin mencapai puncak tertinggi, yang pertama harus kau lakukan, adalah percaya bahwa dirimu adalah seorang naga! Makhluk buas yang berdiri pada puncak ekosistem! Kau harus percaya bahwa dirimu adalah halilintar! Hal yang membawa ketakutan pada sudut tedalam jiwa setiap makhluk hidup!" Tutup Theo.
Kalimat yang disambut oleh Razak dengan mengangguk cepat. Mengeraskan kepalan tangannya.
'Naga dan Halilintar!' Gumam Razak. Dadanya mulai bergetar tak beraturan. Entah kenapa, kata-kata yang disampaikan oleh Theo. Selalu dapat dengan mudah masuk begitu dalam pada sudut jiwanya.
*Gruuuuu….!!!
Bersama Theo menyelesaikan kalimatnya, getaran hebat mulai menderu sekitar. Langit-langit ruangan yang pada awalnya memang sudah retak dan hancur di beberapa bagian, kini mulai runtuh.
Efek dari bentrok antara kandungan Mana Ruang Logam Mulia Ruang Angkasa dengan Mana Gravitasi milik Theo, memberi kerusakan yang cukup parah pada ruang tempat terjadinya benturan.
Ditambah dengan menghilangnya Mana Ruang karena Logam Mulia Ruang Angkasa telah seluruhnya dipindah Theo kedalam Gelang ruang-waktu, kini tak ada lagi struktur bahan dasar energi yang mampu mempertahankan formasi sumur misterius.
Sumur misterius, mulai runtuh. Ratusan lorong, bergetar hebat.
"Hmmmm… Sepertinya tempat ini adalah fondasi utama yang menopang seluruh mekanisme formasi! Dengan hancurnya struktur formasi pada lokasi utama, itu tak akan lama lagi sampai sumur misterius ini sepenuhnya menutup dan runtuh!" Gumam Theo, sembari memandang dengan tatapan mata menyapu pada garis-garis mekanisme formasi di dinding-dinding ruangan. Dimana saat ini memang sebagian besar telah hancur.
*Wuuungg…!!!
Dengan satu kedipan mata, Theo mengaktifkan Eye of Agamoto. Teknik pinjaman dari Gusion, sang Iblis Keempat Hell Orb yang telah terikat kontrak dengannya.
"Razak…! Kembali bergerak! Saatnya naik kepermukaan!" Ucap Theo. Tanpa menunda bergerak cepat untuk menyusuri salah satu lorong.
Menggunakan Eye of Agamoto yang bisa melihat segala, Theo mencari rute tercepat serta paling aman untuk melakukan perjalanan kembali kepermukaan. Bagaimanapun juga, meski distorsi ruang telah lenyap, masih membutuhkan usaha keras menentukan rute dari sekian banyak lorong sempit di dasar sumur, karena memakai rute awal dimana merupakan jalan yang ia pakai menuju lokasi saat ini, itu sudah tidak memungkinkan lagi. Beberapa lorong, telah hancur dan tidak mungkin untuk dilewati.
*Tapp…!!
*Tapp…!!!
*Tappp….!!!
Theo bergerak menggunakan teknik gerakan langkah siput, tanpa ragu memakai aliran Mana Gravitasi karena memang masalah distorsi ruang tak lagi menjadi pengganggu. Sementara Razak, bergerak dengan teknik andalannya. Dewa Besi menjelajah Bumi. Menempel tepat dibelakang punggung Theo. Mengikuti tanpa ragu kemanapun Boss Besar nya melangkah.
"Hmmmm… Sangat disayangkan! Padahal aku awalnya berencana memakai jalur yang sama untuk kembali! Menyempatkan untuk mengambil beberapa jiwa sisa lain dalam segel ruang yang tertanam pada pasukan mayat hidup!" Gumam Theo. Sedikit menyesalkan karena ia tak lagi bisa memakai rute awal.
*Tappp…!!!
*Tappp….!!!
Theo dan Razak masih melangkah dengan gerakan cepat, berlomba melawan waktu sampai seluruh lorong yang ada di dasar sumur benar-benar runtuh. Hingga kemudian ketika keduanya bahkan belum sampai di setengah jarak untuk bisa mencapai permukaan…
"Hmmmm….!" Theo bergumam dengan kening mulai berkerut begitu melihat bahwa satu lorong yang sedang ia tuju, dimana merupakan jalan satu-satunya yang masih terbuka, pada akhirnya juga ikut runtuh.
"Boss! Kita sepenuhnya terjebak!" Ucap Razak. Begitu melihat lorong di depan, telah runtuh.
Sementara Theo, dimana kini berhenti melangkah, hanya menyambut kata-kata Razak dengan mulai memicingkan mata. Memandang kearah reruntuhan lorong.
"Masih bisa! Reruntuhan tersebut tak terlalu padat! Kita bisa membuka jalan!" Gumam Theo. Seraya kemudian, kembali memanggil keluar Baal dari dalam Tatto segel Dosa Kerakusan.
*Wuuungg…!!!
*Bammmmm…!!!
Tongkat Logam Baal, melayang cepat, sebelum mendarat pada genggaman tangan Theo dengan satu suara benturan keras. Kenaikan kelas Theo ke Emperor, sepertinya juga menaikkan kekuatan Baal. Bobotnya bertambah menjadi beberapa kali lipat lebih berat.
Dengan Tongkat Logam Baal telah berada digenggaman, Theo mulai membuat satu Kuda-kuda. Terlihat akan mengeksekusi teknik pertama Dosa Kerakusan, Sikap Memakan Tubuh.
Namun, sebelum Theo sempat menghimpun aliran Mana Tanah dalam aktivasi Sikap Memakan Tubuh….
*Klang…!!!
*Klang….!!!
*Klang….!!!
Dari arah dinding-dinding ruang berukuran sederhana tempat ia saat ini berada, beberapa mekanisme formasi, tiba-tiba aktif. Peti-peti mati, menjorok keluar dari lubang yang tercipta instan pada dinding.
*Bammm…!!
*Bammmm…!!!
Puluhan peti mati terbuka, pasukan mayat hidup, melompat keluar. Menerjang kearah Theo dan Razak sembari membawa hawa membunuh intens.
"Hmmmmm…!!!!" Gumam Theo. Segera mengalihkan kuda-kuda serangan, kearah beberapa pasukan mayat yang menuju kearahnya.
*Booooommmm….!!!
Satu ayunan Tongkat Logam Baal, menghancurkan tubuh beberapa pasukan mayat sekaligus.
Razak disisi lain, juga mampu bertahan menghadapi sergapan puluhan pasukan mayat. Mengeksekusi teknik penempaaan tubuh yang baru ia pelajari, tubuh Razak membesar beberapa kali lipat ukuran normal. Tampak berusaha memanfaatkan situasi yang terjadi, untuk semakin menyesuaikan diri dengan teknik baru yang ia temukan.
'Bocah…!! Kau masih bisa bergerak menerjang kedepan! Membuka jalan pada reruntuhan lorong! Kenapa malah mengurusi para mayat hidup ini!' Ucap Ernesto tiba-tiba. Merasa tindakan yang diambil Theo kali ini, kurang bijak.
Ucapan Ernesto, sepenuhnya diabaikan oleh Theo. Ia masih meneruskan untuk meladeni para mayat hidup. Dalam setiap aksinya, Theo tampak mempertajam tatapan mata. Melihat sudut-sudut tertentu ruangan.
'Bocah! Kau cuma menghabiskan waktu! Ini akan segera berakhir dalam situasi kau sepenuhnya terkubur hidup-hidup dalam sumur jika terus berlanjut!' Ucap Ernesto sekali lagi. Kini dengan nada membentak.
'Kau bisa diam tidak? Bagaimana aku hanya pergi saat tumpukan harta, secara sukarela mendatangiku!' Gumam Theo. Seraya memasang seringai lebar tepat ketika tatapan matanya, seperti telah menemukan sesuatu. Memandang tajam pada langit-langit ruangan yang kini telah memiliki retakan memanjang.
Ruang yang sedang ia tempati, jelas juga akan berakhir runtuh beberapa waktu kedepan.
"Razak…!!! Persiapan Serbuk Besi!" Seru Theo kemudian.
*Bammmm….!!!
Tanpa banyak bicara, Razak menyambut intruksi dengan memukul kedua ujung tinju Gauntlet ganda. Menghimpun Serbuk Besi milik Iron. Tak memperdulikan beberapa pasukan mayat yang saat ini masih berusaha menerjang kearahnya. Sepenuhnya percaya pada intruksi Boss Besarnya.
"Joy Kecil…!!!"
Saat Razak mulai menghimpun Serbuk Besi, dan saat beberapa pasukan mayat sudah membuka mulut serta menaikkan lengan, bersiap menggigit atau mencakar sang bocah, Theo memanggil keluar Joy Kecil.
"Tuuuu….!!!"
Sang Silver Turtle, segera menangkap situasi begitu ia melompat keluar. Tanpa menunda menciptakan aura pelindung yang mencakup wilayah Theo dan Razak.
*Bammm…!!!
*Bammmm…!!!
Para pasukan mayat hidup, berakhir membentur dinding transparan aura pelindung Joy Kecil.
"Baal kembali! Belphegor, aku memanggilmu!"
Disisi lain, ketika sudah berada dalam dekapan aura pelindung Joy Kecil, Theo melanjutkan aksi dengan menarik kembali Tongkat Logam Baal. Ganti memanggil keluar Palu Raksasa Belphegor.
*Bangg….!!!
Dengan dua tangan, Theo memanggul Palu Raksasa Belphegor pada bahu. Masih sepenuhnya menatap tajam pada langit-langit ruangan.
"Razak…!!! Gunakan Serbuk Besi untuk sekali lagi menangkap para mayat hidup sebanyak yang kau bisa!" Ucap Theo.
*Wuoooosssshhhhh….!!!
Razak, dalam diam segera melepas serbuk besi Iron yang sedari tadi telah ia himpun. Menyebar dalam bentuk rantai-rantai besi yang membelenggu puluhan mayat hidup.
*Draaaakkk….!!!
Bersama aksi Razak, langit-langit ruang yang sedari tadi di tatap Theo, pada akhirnya benar-benar runtuh.
'Bocah! Apa rencanamu sekarang?' Seru Ernesto. Dengan nada panik. Merasa pada saat ini, Theo dan Razak telah jatuh dalam situasi buntu, tanpa jalan keluar dan akan segera terkubur hidup-hidup.
"Jika memang tak ada jalan, maka tinggal buat sendiri jalannya!" Gumam Theo. Aliran Mana Besi padat nan murni, mulai terhimpun pada sekitar tubuhnya saat ia membuat kuda-kuda.
"Teknik Kedua Dosa Kemalasan!"
*Wuuungg….!!!
"Sikap Dunia tanpa gerakan!" Seru Theo. Seraya melempar keras palu raksasa Belphegor yang kini penuh akan derak padat Mana Besi, untuk menghujam langit-langit ruangan yang runtuh.
-----
Note :
Ehhh... Peringkat hadiah turun ke 20! Apakah SDC mampu bertahan di 20 besar pada akhir bulan? Jangan sungkan untuk lempar-lempar poin! ^^