
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Sederhana saja! Serahkan seluruh uang dan sumberdaya yang baru saja kalian beli!"
"Terutama daging Chimera!" Ucap sang penyergap. Memasang raut wajah menyeramkan.
Bersama dengan itu, dari berbagai arah berbeda, sembilan orang lain, yang sepertinya adalah Hunter kelas tinggi Paviliun Harta, melangkah keluar dari balik kegelapan.
"Apa dia benar-benar memiliknya?" Daging Chimera!" Tanya salah satu Hunter penyergap.
"Yah, aku melihat dengan mata kepala sendiri list laporan dari sumberdaya apa saja yang ia beli di lantai 3!" Jawab pria yang pertama muncul.
"Daging Chimera termasuk dalam list! Tak hanya itu saja! Pemuda ini juga hampir sepenuhnya menguras seluruh sumberdaya di lantai 3!"
"Bisa dibilang, dia saat ini adalah pohon harta berjalan! Kita tinggal mengetuk beberapa kali agar harta-harta tersebut berjatuhan! Hahahhaha…!"
Mendengar kalimat yang diucapkan pria ini, raut wajah seluruh Hunter kelas tinggi yang sedang mengepung, segera berubah menyeramkan. Sorot penuh keserakahan, terlihat jelas pada mata tiap-tiap dari mereka.
Disisi lain, Gugio dan Gris kini semakin tenggelam hatinya. Merasa bahwa peluang mereka, itu adalah 0% untuk bisa mempertahankan harta.
"Tuan muda, kita turuti saja! Nyawa lebih berharga! Sementara sumberdaya, bisa di cari lagi!" Ucap Gugio, mencoba untuk berfikir logis.
"Sial…!" Bentak Gris. Merasa tak terima. Namun, jelas tak memiliki ide lain.
"Hmmmm… Tak bisakah kalian lihat situasinya?" Ucap Theo.
"Kalian berfikir, masih bisa tetap hidup hanya dengan menyerahkan harta?" Tanya Theo.
"Memang sebuah perjudian! Tapi tetap ada peluang!" Tanggap Gugio.
"Tidak! Mereka tak ada niat untuk membiarkan kita keluar dari situasi ini dalam keadaan masih membawa nyawa!" Jawab Theo.
"Hahahha…! Pemuda cerdas!" Tanggap orang yang memimpin kelompok penyergap begitu mendengar kata-kata Theo.
Bagaimanapun juga, dengan para penyergap yang merupakan sekelompok Hunter kelas tinggi Paviliun Harta, dimana setiap dari mereka saat ini bahkan tak memakai penutup wajah dalam melancarkan aksinya, maka akhir dari situasi penyergapan sudah sangat jelas bagi Theo.
Orang-orang ini, tak memiliki niat untuk melepaskan satu orangpun bertahan hidup. Melenyapkan semua korban agar bisa tetap mempertahankan reputasi mereka.
"Ohhh… Tak perlu cerdas hanya untuk bisa menangkap jalan pikiran orang-orang seperti kalian!" Ucap Theo.
"Lagipula, siapa aku? Orang yang mengumpulkan sekolompok Bandit bajin*ngan dalam satu panji!" Lanjut Theo, kini mulai memasang seringai lebar.
"Gugio, Gris! Ini akan menjadi pelajaran bagus bagi kalian! Orang-orang yang sepertinya terlalu sering berada dalam situasi nyaman di desa kecil!"
"Tuan muda?" Tanya Gris. Masih tampak belum paham.
"Cukup diam saja disini!" Ucap Theo. Seraya mengaktifkan teknik Ice Projection, membuat keberadaan kelompoknya, seketika lenyap.
"Kemana?" Ucap pemimpin kelompok Hunter penyergap.
Meskipun pada dasarnya teknik Ice Projection milik Theo hanya berfungsi sebagai penyamaran, tak benar-benar melenyapkan keberadaan tiga orang yang berada di dalam ruang lingkup teknik tersebut, namun tetap saja, situasi menghilangnya sosok tiga orang, tentu membuat para pengepung menjadi sangat terkejut.
"Kita periksa!" Ucap pemimpin kelompok penyergap.
Tapi, belum sempat para Hunter kelas tinggi Paviliun Harta ini bahkan melakukan langkah pertama…
*Bzzzzzttt…!!!
Derak listrik berwarna merah, muncul berkerlip untuk sepersekian detik pada lokasi dimana keberadaan Kelompok Theo sebelumnnya menghilang.
*Bzzzzzttt…!!!
Detik berikutnya, derak listrik merah yang sempat menghilang, kembali muncul, kini tepat di hadapan wajah orang yang memimpin kelompok penyergap. Kemunculan derak Listrik Merah tersebut, ternyata juga membawa sosok Theo bersamanya.
Sosok Theo yang masih memasang seringai lebar menyeramkan, menatap tajam pria di hadapannya untuk sesaat. Sebelum derak Listrik Merah, untuk sekali lagi kembali muncul. Kini pada sarung tangan kilat di lengan kanan Theo.
*Bzzzzzttt…!!!
*Boooommmm…!!!
Darah seketika menyiprat kesegala arah. Sebagian besar mengenai wajah Theo saat kepala orang tersebut, hancur berantakan.
Perubahan situasi yang tiba-tiba terjadi, tentu saja membuat suasana berubah menjadi hening. Setiap orang, baik itu dari pihak penyergap, maupun juga Gugio dan Gris yang berada di balik tabir teknik Ice Projection, menatap kearah Theo yang kini menyeringai lebar dengan darah segar di wajahnya. Sosok Theo, bagai seorang iblis.
"Kebetulan sekali aku sudah lama tak membersihkan tikus-tikus kotor dari sebuah organisasi atau kelompok!" Ucap Theo.
"Kalian ini, entah kenapa mengingatkanku pada beberapa tikus yang sempat menggerogoti rumahku!" Tambah Theo.
"Ciihhh…!!! Kenapa begitu sombong hanya karena berhasil melakukan satu serangan menyelinap!" Dengus salah satu penyegap. Merasa benar-benar tak terima dan sangat terhina dengan kalimat tajam yang baru saja keluar dari mulut Theo.
"Bunuh pemuda ini! Serang bersama! Lagipula, meskipun dia seorang Hunter Gerbang Merah, apa yang bisa ia lakukan seorang diri berhadapan dengan kita yang seluruhnya juga adalah Hunter Gerbang Merah!" Teriak penyergap lainnya.
Mendengar kata-kata dua orang ini, Theo justru malah melebarkan seringainya.
"Ohhh… Aku akan menganggap bahwa kalian berdua dengan sukarela mengambil antrian barisan terdepan dari tikus yang harus kubersihkan!" Ucap Theo.
"Ba*jingan!"
"Be*debah!"
Dua orang yang dimaksud oleh Theo, segera terprovokasi. Maju menerjang dengan cepat. Disusul oleh tujuh orang lain.
*Tapp…!!!
Namun, Theo yang di sergap dari berbagai arah, bukan memasang sikap bertahan. Justru ikut maju menerjang. Menuju Hunter pertama yang tadi sempat berbicara.
"Kau yang pertama!" Ucap Theo.
"Seolah kau mampu! Sombong mati saja!" Bentak pihak lawan. Seraya menghimpun aliran Chi Api intens pada kepalan tinju tangan kanan.
Tindakan sang Hunter, disambut Theo dengan melakukan hal yang sama. Namun, yang berderak pada ujung tinju Theo, bukanlah api biasa. Namun kobaran api berwarna emas.
Pihak lawan segera terkesiap untuk sepersekian detik saat menyadari intensitas tak biasa dari api berwarna emas di tangan Theo. Hanya saja, itu sudah cukup terlambat untuk dirinya menarik lagi serangan tinju.
*Boooommmm…!!!
Tinju, bertemu tinju. Satu sisi Theo masih memasang seringai lebar, disisi lain, pihak lawan berakhir hangus kepalan tangannya.
Sampai kemudian, seperti tanpa belas kasih sama sekali, Theo tak memberi kesempatan bagi sang lawan untuk bahkan berteriak kesakitan sebelum tinju berderak Api Surgawi, kembali melayang, kini menghantam keras kepala pria malang tersebut.
Satu orang tambahan dari pihak penyergap, kembali mati tanpa kepala.
*Tapp…!!!
Sosok Theo kembali bergerak. Menuju target selanjutnya.
*Boooommmm…!!!
Tubuh tanpa kepala, untuk ketiga kalinya tergeletak di tanah.
*Booommmm…!!!
*Boooommmm…!!!
*Boooommmm…!!!
Pembantain keji, terus berlanjut.
***
(Beberapa menit kemudian)
Tubuh tanpa kepala, berserakan di sekitar. Dari total 10 orang Hunter yang melakukan sergapan, kini hanya tersisa 3 orang. Dimana ketiganya sekarang tampak sedang berlutut dengan wajah pucat pasih di hadapan Theo. Memohon untuk nyawanya masing-masing.
Gris dan Gugio, keluar dari tabir teknik Ice Projection. Juga dengan wajah pucat. Dua orang desa yang hanya terbiasa membunuh Demonic Beast liar ini, tampak takut pada sosok Theo yang kini berlumuran darah.
Masih segar di dalam otak keduanya pemandangan mengerikan bagaimana Theo dengan keji dan tanpa keraguan, membantai para Hunter penyergap. Dari raut wajahnya, itu jelas sekali bahwa Gris dan Gugio, tak pernah ditempatkan dalam situasi yang mengharuskan keduanya untuk membunuh sesama manusia.
"Jika kalian masih ingin hidup, jangan melakukan perlawanan!" Ucap Theo. Sebelum beberapa saat kemudian, memasang segel Kontrak Tuan-hamba pada tiga orang tersisa.
Dan setelah memasang segel Kontrak Tuan-hamba, Theo tiba-tiba tanpa peringatan apapun, meledakkan ranah jiwa salah satu dari tiga orang. Tindakan yang sengaja ia lakukan untuk semakin meruntuhkan mental dua orang tersisa. Menjadikan dua orang ini, sekarang layaknya budak tanpa jiwa yang hanya akan menuruti apapun itu perintah Theo.
Sebelumnnya, Theo yang berniat tak menyisakan seorangpun dari pihak penyergap, berubah pikiran disaat terakhir. Merasa mungkin kedepan perlu beberapa pion untuk dapat digunakan dalam menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air.
Dan kumpulan tikus tak penting, jelas adalah kandidat terbaik untuk digunakan sebagai pion tersebut. Menjadi sedikit bermanfaat dari pada harus mati dengan cepat.