
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Medan pertempuran utama)
Sinbad tampak mengerutkan kening, menatap langit hitam yang tiba-tiba muncul dan menjatuhkan hujan lebat lengkap dengan deru petir dahsyat tak henti menjilati medan pertempuran. Sampai tiba-tiba…
*Sriing…!!!
*Sriingg…!!!
*Sriing…!!!
Tiga Pisau Lempar Mammon, melaju cepat kearahnya.
*Traaanggg…!!!
*Traaanggg…!!!
*Jleepp…!!!
Sinbad yang sempat teralihkan fokusnya, hanya mampu menangkis dua Pisau Mammon, sementara satu lainnya mendarat pada pundak.
"Dalam situasi seperti ini, aku cukup kagum dengan keberanianmu membagi fokus kearah lain!" Ucap Theo. Tampak sama sekali tak peduli dengan pergantian cuaca yang terjadi secara tiba-tiba di sekitar.
"Tindakan yang menurutku tak cocok denganmu!" Lanjut Theo.
*Taaakk…!!!
Menutup aksinya, dengan kembali menarik salah satu Pisau Lempar Mammon yang menancap pada pundak Sinbad menggunakan tali Mana pada ujung jari.
"Hmmmmm… Ini bukan kejadian alam biasa!" Ucap Sinbad, seraya mengalirkan Mana Air penyembuh pada luka di pundaknya.
Kapten Kelompok Perompak Naga Laut tersebut, terlihat seperti pernah melihat kejadian alam yang sedang terjadi diatas medan pertempuran.
Fokusnya benar-benar terpecah, tak bisa melepaskan tatapan mata kearah awan hitam diatas langit.
Disisi lain, Theo yang mendengar kata-kata Sinbad, hanya mulai menaikkan salah satu alisnya.
"Yahh, aku jelas bisa merasa bahwa kejadian alam seperti ini, tentunya tak biasa! Namun apa pentingnya! Hal aneh seperti ini akan selalu muncul di hadapan sosok dengan garis takdir besar! Terlebih lagi, untuk sekarang, kumpulan orang dengan takdir tak biasa, sedang berada di satu lokasi yang sama!" Ucap Theo.
"Jadi, jika tak ingin mati secara konyol, kusarankan untuk kembali fokus pada duel! Karena setelah kalimat ini, aku tak akan memberi ruang kosong apapun!" Tutup Theo, seraya mulai kembali memainkan jari-jarinya. Aliran enam atribut Mana, berderak liar dalam luapan intens dari dalam tubuhnya.
"Hmmmmm… Saran lain! Jika jadi kau, maka aku akan bersiap untuk menyambut garis takdir, dimana sebentar lagi akan menawarkan kekuatan besar di hadapan kita!" Jawab Sinbad. Membuat Kuda-kuda serangan dengan dua Mighty Sword ditangan kanan dan kirinya. Sembari menambah kepadatan dari aliran Mana Mutasi yang menyelimuti seluruh tubuh. Aliran Mana Mutasi Debu Panas yang membentuk sosok Demonic Beast Kura-kura.
"Hmmmmm… Menarik! Kita tunggu hal apa yang akhirnya akan muncul di balik peristiwa aneh ini! Tentu sembari meneruskan duel!" Ucap Theo. Tanpa menunda lagi segera melakukan gerakan mengayun tangan kedepan. Melempar keenam Pisau Mammon.
Serangan Theo, nyatanya disambut oleh Sinbad dengan gerakan menghindar. Ia tak lagi berusaha menangkis atau melakukan serangan balik. Terlihat jelas sedang berusaha menyimpan tenaga sembari memulihkan diri.
"Kau bisa-bisa mati bahkan sebelum apapun itu yang sedang kau nanti, akhirnya muncul!" Gumam Theo. Semakin mempercepat gerakan memainkan jari-jarinya.
Sementara itu, saat Theo dan Sinbad kembali meneruskan duel. Dilokasi lain yang cukup dekat dengan dua sosok ini melakukan pertarungan, gelombang ledakan aliran Mana Kuno, terus bergelora dan semburat ke berbagai arah.
"Groooooaaaahhh…!!!"
Joy Kecil dengan Mana Kuno Besi dalam tubuhnya yang memadat begitu kokoh, meraung liar.
Sementara Neve, sang White Condor, tak mau kalah dengan berteriak keras. Memancarkan aliran Mana Es kuno berintensitas tinggi. Menyebabkan lautan beku meluas dalam jarak yang sangat jauh.
*Booommmm…!!!
*Boooommmm…!!
*Boooommmm…!!!
Dua Guardian Beast yang telah berada dalam mode Tranformasi, memiliki ukuran tubuh raksasa, terus bentrok satu sama lain. Saling melemparkan teknik-teknik berdaya ledak dahsyat.
Situasi ini menyebabkan lokasi dimana Sinbad dan Theo sedang bertarung, menjadi kosong. Hanya ada kedua pemimpin bersama dua Guardian Beast miliknya yang bertarung di tempat tersebut.
Seluruh anggota pasukan dari kedua belah pihak, baik itu Aliansi 7 Lautan maupun Bandit Serigala, memilih bergerak menjauh. Tak ingin berada di sekitar lokasi dua pemimpinnya melakukan duel. Dimana jelas telah menjadi zona merah yang sangat berbahaya.
Karena bukan hanya efek pertarungan antar dua pemimpin, tapi benturan aliran Mana kuno dari tubuh raksasa Joy Kecil dan Neve, juga amatlah sangat dahsyat. Menyebabkan kerusakan berat dimanapun dua sosok makhluk raksasa ini bergerak dalam pertarungannya.
***
(Agak jauh dari lokasi medan pertempuran, sisi Laut Ungu yang berbatasan dengan Laut Hijau)
Dua kapal perang yang pada tiang layar masing-masing berkibar bendera milik dua organisasi netral, Gaia Son Paviliun dan Dark Guild, saat ini sedang dalam diam menatap pertempuran besar agak jauh dihadapan mereka.
"Gejolak alam yang aneh! Ini seperti bahkan langit sedang mengamati jalannya pertempuran antara Aliansi 7 Lautan melawan Kelompok Bandit Serigala!" Ucap salah satu Knight kelas tinggi yang merupakan tentara bayaran Gaia Mercenaries. Dimana sekarang sedang berada pada dek kapal perang Gaia Son Paviliun.
"Tuan Muda ketiga House Alknight ini benar-benar sosok yang tak biasa! Kemanapun ia bergerak, itu seperti badai besar akan selalu mengikuti!" Tanggap Knight lain yang berdiri disamping orang sebelumnya.
"Yahhh…! Siapapun pemenangnya, hasil akhir dari pertempuran dua kelompok, jelas akan kembali membawa gelombang perubahan besar dalam tatanan konstalasi kekuatan kelompok Knight di muka Gaia Land!"
Seluruh anggota kelompok Tentara bayaran Gaia Mercenaries yang sedang berdiri diatas dek kapal perang, saat ini fokus menatap langit medan pertempuran yang sedang maraung-raung dengan kilatan halilintar dahsyat.
Sementara disisi lain, pada dek kapal perang milik Dark Guild yang terlihat berukuran sederhana. Situasi terlihat dalam kondisi sepenuhnya sunyi. Para Assassin kelas tinggi Dark Guild yang mendapat tugas untuk mengamati jalannya pertempuran, hanya dalam diam menatap medan pertempuran.
Situasi sunyi baru sedikit terpecah ketika Assassin berkelas Emperor yang memimpin pada ujung paling depan dek kapal perang, membuat gerakan melirik kearah orang di sebelahnya.
"Sampaikan situasi terkini berkenaan perubahan alam mendadak di medan pertempuran kepada Lord!" Ucap Assassin berkelas Emperor.
"Baik…!!"
Mendapat intruksi dari pemimpinnya, anggota Assassin segera menjawab singkat. Sebelum mulai melakukan gerakan segel tangan untuk memanggil keluar Iblis kontrak Hell Orb.
Seekor makhluk berbentuk manusia kerdil dengan sayap gagak, keluar dari dalam formasi segel. Sebelum dengan cepat menghilang saat sang Assassin yang memanggilnya, selesai berbisik lirih tepat di telinga makhluk tersebut.
***
(Lokasi lain, perbatasan wilayah Laut Nila dan Laut Ungu)
Satu kapal perang dengan bendera Eleanor Tribe, bergerak dengan kecepatan penuh memasuki wilayah Laut Ungu.
"Hmmmmm… Benar-benar para Perompak keras kepala!" Ucap Fairley, yang berada diatas dek kapal perang. Seraya melempar tubuh tak bernyawa dari seorang anggota Perompak. Membuang tubuh tersebut kedalam laut.
Sebelumnya, Kelompok Satuan Elite penjaga Khan Eleanor Tribe pimpinan Fairley yang mendapat tugas dari Khan mereka untuk bergerak ke wilayah Laut Ungu, disambut dengan hadangan bertubi dari pasukan bantuan Aliansi 7 Lautan yang berada di wilayah perbatasan Laut Nila.
Para Perompak ini jelas berniat untuk tak membiarkan kapal perang Eleanor Tribe bergerak memasuki wilayah Laut Ungu.
Namun, setelah sempat tertahan untuk beberapa saat, kapal perang yang membawa seluruh pasukan elite penjaga Khan Eleanor Tribe, akhirnya mampu menerobos penjagaan. Berhasil memasuki wilayah Laut Ungu.
"Tetap pertahankan kecepatan! Bagaimanapun juga, kita harus segera sampai dan memberi pelajaran pada sekelompok sampah Bandit maupun Perompak!" Lanjut Fairley. Menutup kalimatnya dengan sebuah intruksi.
Kapal perang Eleanor Tribe, membelah lautan dalam kecepatan tinggi.
Sementara diatas dek kapal, Iris yang juga ikut serta dalam gerakan kelompok memasuki wilayah Laut Ungu, dari tadi terlihat hanya diam menatap kedepan. Pandangan matanya, cenderung kosong.