Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
220 - Pendulum Utara


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


(Beberapa jam kemudian)


Telah lewat enam jam pasca Theo yang memakai tubuh Joy Kecil, memasuki sumur misterius.


Tuan Leluhur yang mulai cemas, beberapa kali berjalan mendekat pada bibir kawah untuk memindai permukaan sumur. Pemindaian yang sebenarnya cukup tak membuahkan hasil. Karena sumur misterius, sepertinya memiliki kedalaman yang tak terukur, karena bahkan Tuan Leluhur, tak bisa memindai sampai dasar.


Sementara disisi lain, Sinbad dan Dante, tampak agak santai. Memilih minum-minum sembari menatap sumur misterius. Razak sendiri, dari awal tak pernah meninggalkan tempat. Berdiri menjaga tubuh Theo.


*Woooshhhh…!!!


Situasi bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian, sosok mungil Joy Kecil, akhirnya terbang cepat keluar dari dalam lubang sumur misterius.


Melihat kemunculan Joy Kecil, Tuan Leluhur, Sinbad, dan juga Dante, segera beranjak dari lokasi untuk mendekat kearah tubuh Theo.


*Tappp…!


Joy kecil, mendarat pada pundak kanan Theo, bersama dengan itu pula, tubuh Theo yang sebelumnya masih dalam kondisi duduk bersila memejamkan mata, kini akhirnya kembali membuka kedua mata.


"Bagaimana? Apa yang membuat kau begitu lama?" Tanya Sinbad cepat. Tak bisa menahan rasa penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut, Theo tak segera menjawab, ia menyempatkan untuk berdiri, sebelum mulai menarik Joy Kecil yang terlihat memasang wajah kelelahan pasca kesadarannya diambil alih oleh Theo, untuk kembali masuk kedalam tatto segel.


"Yang agak merepotkan adalah aliran Mana Ruang akan menjadi kacau ketika kita mulai masuk semakin dalam!" Jawab Theo.


"Mana Ruang?" Tanya Sinbad.


"Akan kujelaskan masalah itu nanti!" Jawab Theo cepat.


"Yang jelas, akibat pekatnya Mana Ruang di dalam sana, itu membuat pergerakan kita terganggu!"


"Untuk turun sampai kedasar, akan memerlukan waktu kurang lebih tiga jam! Begitu pula mendaki naik lagi! Hal inilah yang menyebabkan aku cukup lama! Padahal ketika telah sampai di dasar, aku hanya sekedar melakukan pemindaian singkat!" Lanjut Theo.


"Jadi, apa yang ada di dalam sana?" Tanya Tuan Leluhur.


"Ruangan yang cukup luas! Bukan hanya luas, itu memiliki ratusan lorong membentuk seperti labirin!" Jawab Theo.


"Yang paling menjadi masalah, adalah aliran Mana Ruang sungguh pekat di dasar sana! Menyebabkan tak hanya labirin yang menanti kita! Juga jebakan distorsi ruang! Itu muncul dan hilang secara acak di berbagai titik! Akan memindahkan kita ke lokasi lain secara acak di dalam labirin jika terperangkap oleh distorsi ruang tersebut!"


"Distorsi ruang inilah yang membuat aku tak berani diam terlalu lama! Karena bagaimanapun juga, aku sedang menggunakan tubuh Joy Kecil!" Lanjut Theo.


"Hmmmm… Jika yang kau katakan itu benar! Berarti di dalam sana, adalah labirin tak berujung!" Tanggap Sinbad.


"Itu benar!" Jawab Theo.


"Jadi, sudah diputuskan, itu terlalu berbahaya masuk kedalam sana!" Sahut Dante.


"Benar sekali! Resikonya terlalu besar! Kita bahkan tak tau manfaat apa yang bisa diambil! Bisa jadi tak ada apapun selain labirin kosong bersama distorsi ruang tak berakhir! Jebakan yang sungguh mengerikan! Bisa memperangkap kita selamanya di dalam!" Ucap Tuan Leluhur. Mendukung pendapat Dante.


"Hei! Kalian berdua ini kenapa?" Sahut Sinbad. Menatap kesal kearah Tuan Leluhur dan Dante.


"Semakin berbahaya dan menantang, itu jelas menyimpan sesuatu yang luar biasa juga!" Lanjut Sinbad. Kini kembali menyala raut wajahnya. Menatap kearah sumur misterius.


"Sin…!! Bukan begitu prinsipnya! Kau selalu saja gila! Tak selamanya akan tersimpan hal berharga di dalam tempat berbahaya!" Dengus Dante.


"Dante! Sejujurnya, memang ada hal berharga di dalam sana! Sangat berharga! Sumberdaya yang akan membuat Aliansi Serigala dapat berkembang cukup pesat!" Sahut Theo.


"Wahhh…!!! Jadi sudah di putuskan!" Ucap Sinbad.


"Tuan Leluhur, aku bisa memimpin jalan! Kontrak dengan Hell Orb, menyebabkan aku memiliki satu teknik yang bisa digunakan untuk mendeteksi dan menghindari distorsi ruang!"


"Selain itu, bisa digunakan untuk melihat tempat tujuan utama, sehingga labirin tak menjadi masalah!" Jawab Theo. Tentu saja merujuk pada teknik pinjaman Gusion. Eye Of Agamoto yang bisa melihat segala. Dengan Theo yang telah naik ke kelas Emperor, jangkauan serta ketajaman Eye of Agamoto, jelas juga telah meningkat.


"Lagipula, aku tak meminta untuk siapapun ikut! Jika tak ada yang berkenan, aku akan melakukan eksplorasi seorang diri! Melihat lokasi tujuan yang memang cukup berbahaya, itu akan wajar! Bagaimanapun juga, mungkin hanya Sinbad yang tetap akan ikut menjelajah!" Tutup Theo, seraya melirik kearah Sinbad.


"Boss…! Aku ikut!" Jawab Razak singkat. Bocah tersebut yang sedari tadi hanya diam, segera mengajukan diri. Jelas tak akan melewatkan kesempatan untuk menjelajahi tempat yang bahkan diakui oleh Theo sebagai lokasi berbahaya.


Semakin berbahaya, maka semakin baik untuk melatih diri. Itu yang ada dalam benak Razak.


"Baik..! Sinbad dan Razak kalau begitu!" Ucap Theo.


"Tidak!"


Sampai tiba-tiba, Sinbad mengucapkan kalimat yang cukup mengejutkan. Kalimat yang segera disambut oleh Theo dengan tatapan menyelidik.


"Aku tak akan ikut denganmu!" Lanjut Sinbad.


"Seperti yang tadi sempat kukatakan, kau boleh mengambil sumur yang ada disini! Aku akan mengambil sumur di kawah gunung berapi satunya!"


"Sin…! Berhenti bersikap keras kepala! Jika ingin menjelajah, satu-satunya opsi paling masuk akal adalah masuk bersama dengannya!" Dengus Dante. Kini dengan nada sedikit membentak. Benar-benar tak habis pikir dengan sikap Sinbad.


"Kau memiliki sesuatu yang juga bisa dipakai untuk mengatasi semua masalah di dalam sana?"


Saat semua orang masih menatap ragu kearah Sinbad, Theo menanyakan tentang hal lain.


"Hahahha…!"


Pertanyaan Theo, disambut oleh Sinbad dengan tawa lantang, sebelum mulai membuat gerakan segel singkat. Tatto kecil, menyala pada dada kiri Sinbad untuk sementara waktu, sampai sebuah item melompat keluar.


Sebuah pendulum berwarna sepenuhnya putih, melayang jatuh pada tangan Sinbad.


"Ini disebut Pendulum Utara! Item yang kudapat setelah menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air!" Ucap Sinbad.


"Roh Bunga Udumbara!" Gumam Dante dan Razak disaat bersamaan begitu merasa aura tipis yang memancar keluar dari dalam pendulum Sinbad.


Sementara Theo yang juga menyadari aura Bunga Udumbara, hanya memberi lirikan singkat, menunggu untuk Sinbad menjelaskan lebih lanjut.


"Pendulum Utara, memiliki Roh item Bunga Udumbara Bintang Utara bersemayam di dalamnya!" Ucap Sinbad.


"Meskipun memang tak memiliki fungsi apapun dalam situasi pertempuran, namun Roh item Bunga Udumbara Bintang Utara, memiliki fungsi lain yang sangat luar biasa!" Lanjut Sinbad. Raut wajah cemerlangnya, berkembang semakin menjadi saat sampai pada penjelasan terakhir.


"Kau tak akan pernah tersesat!" Ucap Theo singkat, melanjutkan kalimat Sinbad yang sengaja di jeda untuk menciptakan efek suasana dramatis.


"Hei…! Tak bisakah kau tutup mulut? Jangan mengganggu momenku!" Dengus Sinbad. Melirik tajam kearah Theo yang baru memotong penjelasannya.


Dengusan Sinbad, hanya disambut oleh Theo dengan menaikkan dua pundak. Sebelum mulai tak peduli. Karena ia sendiri, bisa menangkap garis besar dari fungsi Pendulum Utara.


"Roh Item Bunga Udumbara Bintang Utara, ketika sudah diaktifkan, akan selalu menunjukkan arah yang tepat dimana memang sesuai kebutuhanku!"


"Dengan kata lain, Pendulum Utara adalah item sempurna untuk mencari harta karun! Hahahhaha…!" Tutup Sinbad. Tertawa lantang dengan begitu puas.


"Yahhh, dengan item itu, tak diragukan lagi kau bisa menjelajah sumur satunya!" Jawab Theo singkat. Sebelum mulai melompat kearah lahar. Diikuti oleh Razak di belakang.


"Aku akan menunggu di luar! Berjaga-jaga jika terjadi hal tak terduga! Juga menyampaikan informasi pada anggota lain yang mencari keberadaan kalian!" Seru Tuan Leluhur.


Bersama seruan Tuan Leluhur, Sinbad bergerak kearah kawah gunung berapi lain. Dante, memutuskan untuk ikut bersama Kaptennya tersebut.


"Hei…!! Kau bisa menunggu bersama Tuan Leluhur yang ada disana!" Ucap Sinbad. Justru tak senang Dante ikut bersamanya.


"Tidak akan!" Jawab Dante singkat.


Dengan sifat Sinbad yang gila akan tantangan, Dante jelas tak bisa membiarkan Kaptennya tersebut bergerak seorang diri. Menjaga agar Sinbad tak melakukan tindakan konyol yang berbahaya dalam penjelajahannya.