Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Bertemu Wilqy


Di bagian snack berada, seorang pemuda berumur 16 tahun nampak tengah memasukkan beberapa bungkus ciki ciki kedalam troli. Tak lupa beberapa minuman kaleng pun ikut ia masuk 'kan kedalamnya lalu pergi menuju kasir untuk membayar.


"Semuanya jadi 305.000 mas," pria dengan nama Wilqy Arsond itu pun mengeluarkan tiga lembar uang merah dan satu lembar uang biru lalu memberikannya pada mbak kasir.


"Kembaliannya buat lu aja," setelah itu Wilqy pergi dengan menenteng kantong kresek menghampiri motornya yang terparkir rapi di tempat parkir.


Tuk tuk


Wilqy mengurungkan niatnya memasang helm saat melihat seorang bocah sebatas perutnya tengah berdiri malu malu di sampingnya.


"Apa? Mau minta foto? Kuylah! Orang ganteng mah, fansnya di mana mana. Ampe bocah kek lu aja bisa malu malu kucing gitu," cerocos Wilqy turun dari motor dengan gaya songongnya.


"Ih siapa yang minta foto sama om sih?! Suci cuma pengen bilang kalo kaos kakak kebalik!" Tunjuk Suci pada kaos oblong milik Wilqy yang terbalik.


"Hah?" Dalam sekejap Wilqy memutar tubuhnya membelakangi Suci untuk memeriksa kebenarannya. Dan benar! Anak kecil tidak pernah bohong. Kaosnya memang terbalik, ini pasti akibat buru buru tadi. Dia mengatur mimik wajah agar tidak malu maluin di depan seorang bocah SD.


"Gimana om? Benar 'kan kata Suci?"


"Ini gak kebalik, emang gini bajunya. Ini itu namanya treen zaman sekarang! Lo mana tahu yang begituan. Dasar bocah!" Sangkal Wilqy dengan hati yang malu setengah mati.


"Aku bukan bocah! Sebentar lagi aku bakal ulang tahun!" Ucap Suci tak terima saat dikatakan bocah.


"Gak nanya tuh." Dengan gaya tubuh di lenggak lenggokkan.


"Emang siapa yang bilang om nanya? Akukan cuma bilangin aja!" Mendengus sebal Suci melipat tangan di dada dengan pipi menggembung. Dan entah mengapa Wilqy sangat gemas melihatnya.


"Bilangin apa? Bilangin satu, bilangin dua, atau bilangin cinta?" Goda Wilqy membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan bocah kecil itu.


"Ihhh itu mah bilangan!!"


"Hahaa ternyata tau ya. Gue kira lo masih bocah ternyata enggak," Wilqy tertawa gemas lalu mengacak acak pucuk kepala Suci sehingga membuat bocah itu mencak mencak karna kerudungnya berantakan.


"Emang bukan bocah!"


"Iya bukan bocah. Tapi, anak kecil,"


"Ihhh om nyebelin!!"


"Hahaa..." tertawa lepas. Sungguh, Wilqy baru pertama kali ini bisa tertawa lepas dengan tulusnya. Dan entah mengapa, menjahili bocah yang baru pertama kali ia temui ini benar benar menyenangkan.


"Anna!!" Wilqy dan Suci menoleh secara bersamaan kearah sumber suara. Di sana Zaky langsung memeluk tubuh kecil Suci dengan penuh kekhawatiran.


"Kak Zaky?"


Melepas pelukan, tangan Zaky langsung menangkup kedua pipi tembem Suci khawatir. "Kamu gak apa apa 'kan? Kamu gak diapa apain sama dia 'kan?!" Pandangan Zaky langsung beralih pada Wilqy dengan tatapan intimidasi.


"Apa salahku?" Gumamnya merasa merinding melihat aura intimidasi dari kakak bocah itu.


"Kak, om itu nyebelin. Masa aku di bilang bocah, kan Suci udah gak bocah lagi!" Adu Suci dengan mulut bersungut sungut sebal.


"Eh, gak adil banget lu! Gue yang baby fice ini di panggil om, sedang 'kan dia yang udah keliatan tua di panggil Kakak?! Ini sungguh tidak adil!!" Omel Wilqy tak terima saat di panggil om.


"Hehee becanda kak. Peacee!!"


"Ayo kita pulang!" Tanpa menghiraukan Wilqy, Zaky dengan cepat menggendong tubuh Suci di punggungnya dan satu tangannya lagi menggandeng Milea masuk kedalam mobil.


"Benar benar merasa terabaikan gue. Ah udahlah! Sebaiknya gue balik, yang ada si bocil ama sohib gue marah lagi gara gara ngapel dulu di pinggir jalan." Mengangkat bahu cuek, Wilqy naik keatas motornya lalu membawa motor ninja itu dengan kecepatan sedang menuju rumah peninggalan kedua orangtuanya.


"Anna, kalo mau kemana itu izin dulu!! Jangan main pergi aja kayak tadi. Kamu tau Kakak itu khawatir banget sama kamu? Gimana kalo ketemu orang jahat? Siapa yang repot?!" Sepanjang jalan menuju rumah, Zaky tak henti hentinya menggerutu kesal dengan adiknya Suci.


Suci yang mendengar itu hanya mampu menundukkan pandangan dengan mata berkaca kaca. "Maaf kak hiks,"


Milea yang berada di kursi penumpang dengan lembut membawa tubuh Suci kedalam pelukannya mencoba untuk menenangkan. "Sudahlah kak. Suci tau dia salah, gak usah diomelin lagi. Malam ini adalah hari bahagianya, jadi jangan bikin hari bahagia ini harus dibanjiri air mata kesedihan." Tutur Milea mencoba mengingatkan agar Zaky tidak marah berlebihan.


Zaky melirik di kaca spion dengan perasaan bersalah. Benar kata Milea, dia tidak boleh membuat Suci sedih di hari bahagianya ini. Pria itu mulai membelokkan setirnya lalu berhenti di depan sebuah toko ice cream.


Dia turun lalu membukakan pintu untuk adiknya. "Anna sayang. Maafin Kakak ya? Kamu mau ice cream? Kakak yang traktir, tapi Anna jangan sedih seperti ini ya," bujuk Zaky, tapi nihil. Bocah itu benar benar merajuk, dia semakin mempererat pelukannya pada Milea dan tidak ingin menoleh sedikitpun pada Zaky.


"Anna..."


Milea mengangkat tangannya sebelah memberi isyarat agar Zaky diam dan membiarkan dirinya yang membujuk.


"Cia sayang.. kamu marah ya sama Kak Zaky? Cia... Kak Zaky ngelakuin itu karna dia khawatir. Dan kalo orang khawatir itu tandanya sayang. Masa iya Cia marah sama orang yang udah nyayangin Cia sepenuh hati ini?" Lirih Milea sembari mengelus elus puncak kepala Suci.


"Kamu mau ice cream gak? Kalo mau nanti kita suruh Kak Zaky buat beliin. Gimana? Hm?!"


Milea tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh kecil lalu menatap Zaky yang nampak ketar ketir menunggu. "Gimana?" Cecar Zaky. Khawatir adiknya marah dan tak mau memaafkannya.


"Hehe Cianya tidur Kak. Jadi sia sia aja kita bujuk kalo orangnya tidur," kekeh Milea merasa lucu karna berbicara dengan orang yang tertidur sangat pulas.


"Huft... syukurlah. Kalo gitu kita pulang."


"Tunggu kak!"


"Ada apa?" tanya Zaky mengurungkan niat untuk pergi.


"Hehee beliin Ice creamnya!!" Rengek Milea dengan memasang wajah seimut mungkin agar Zaky mau membelikannya.


"Huft. Merepotkan saja!!"


Bug


Pintu tertutup, Zaky langsung pergi sembari memegang dada kirinya yang berdegup sangat kencang. "Apa benar aku menyukainya?"


***



mampir ya guys di novel baruku...