Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Malam mencekam


Tok tok tok


Bunyi pintu diketuk menyita perhatian dua orang gadis yang saat ini tengah bercerita di atas ranjang yang sama. Keduanya menatap satu sama lain bingung.


"Siapa yang malam malam datang kekamar kita?" Gumam gadis berambut panjang bergelombang menatap temannya yang berambut panjang lurus.


"Gak tahu."


"Jangan jangan itu Ibu kejam lagi? Le.. Anna takut.." cicit gadis bernama Anna sambil memeluk lengan Milea gemetar.


"Gak usah takut! aku di sini. Kamu tetap diam di sini oke? Biar aku yang buka pintunya," bisik Milea tersenyum tipis sembari menatap Anna meyakinkan.


Bug bug bug


Milea segera beranjak dari kasur saat seseorang di balik pintu itu semakin menggebrak pintu kuat. Dengan keberanian tingkat tinggi, dia berjalan pelan menghampiri pintu itu.


"Hati hati le!" Ucap Anna memandangi punggung sahabatnya di atas kasur.


Glek


"Huft..." Milea mengambil nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Tangannya kini sudah berada di gagang pintu. Tangannya gemetar, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Dia menoleh kebelakang, di mana adik kesayangannya gemetaran di atas kasur kecil itu.


Cklek


Pintu terbuka secara perlahan, sejenak hening menyapa, sedetik kemudian seseorang di baliknya langsung mendorong pintu kuat, membuat tubuh Milea ikut terdorong hingga terjerangap di lantai.


"Lea!!"


"Sssttt..." Milea meringis kesakitan. Dia menoleh kearah Anna, dan seketika dia membulatkan mata sempurna melihat Anna sudah dalam kungkungan seseorang.


"Leaaa!! Tolongin Annaaa!! Hiks hiks Leaaa Anna takuttt!!" Teriak Anna berusaha melepaskan diri dari pria iblis yang berusaha mengecup bibirnya.


"Lepasin ANNA!!" Milea bangkit dengan sejuta amarah. Dia menarik tubuh lelaki iblis itu untuk bangkit. Saat berbalik menghadapnya, dia tertegun sejenak.


"Kak Ria...?"


Brukh


Dengan sekali sentak, Milea terjatuh dengan kepala yang membentur ujung meja membuat darah segar mengalir di kepalanya.


"Arrrgghh brengsek!! Hiks lepasinnn!! Lepasinn Annaaa!! Tolonggg!!" Anna terus memukul pria yang tak lain dan tak bukan adalah Satria yang sudah dipengaruhi minuman keras dan obat perangsang kuat yang teman temannya berikan.


Saat ini tubuhnya hampir tidak memakai sehelai benangpun saat dengan kejinya pria itu merobek bajunya dan membuangnya kesembarang arah.


Milea memegangi kepalanya mencoba bangun dengan tangan bertumpu pada kursi belajar miliknya. Dia melihat sekeliling untuk mencari benda yang dapat ia pakai agar membuat pria tak waras itu tak sadarkan diri.


Namun sayangnya, kamar mereka benar benar minim akan barang barang berharga. Yang ada di sana hanyalah buku buku pelajaran sekolah mereka, meja belajar, dan satu buah lemari pakaian.


Bugh bugh bugh bugh


Milea terus memukul kepala Satria dengan buku tebal itu hingga dia terjatuh tak sadarkan diri di atas tubuh Anna dengan tubuh yang baru saja melakukan penyatuan.


"Hiks hiks hiks.."


Milea dengan kuat mendorong tubuh Satria hingga pria itu terjatuh dari atas kasur. Dengan sigap Milea melilitkan selimut menutupi tubuh polos Anna dan menarik gadis itu kedalam dekapannya.


"Hiks hiks Lea... hiks hiks Anna.. Anna udah gak perawan hiks lagi.. hiks hiks gimana nantinya Anna.. hiks jelasin sama suami.. Anna nanti... hiks hiks," Anna memeluk Milea dengan tubuh gemetar, membuat Milea tanpa sadar menitikkan air matanya karna gagal menjaga adik kecil yang sangat ingin ia jaga.


Ini kegagalan kedua yang ia lakukan. Pertama dia menyesal karna hanya bisa diam saat Ibunya disiksa hingga meninggal di rumah ini. Dan sekarang, karna kelalaiannya Anna harus merasakan penderitaan seperti ini.


"Anna sayang.. tenanglah oke? Suami Anna nanti pasti bakal ngerti kok. Jika dia memang tulus mencintai Anna, dia pasti menerima semua kekurangan Anna. Tenangnya..." tutur Milea. Dia mengerti perasaan Anna yang begitu menjaga kesuciannya untuk suaminya kelak. Dan semua itu harus sirna di malam mencekam yang tiba tiba datang.


Milea membaringkan tubuh Anna yang tertidur dengan isakan yang masih tersisa, membuat hatinya terasa tercabik cabik karna gagal melindungi adik kesayangannya.


Dia berjalan mendekati tubuh tak sadarkan diri Satria yang kini berada di bawah katil ranjang tempat Anna terlelap sekarang. Tangannya mengepal, entah datang dari mana keberaniannya. Tangannya hendak mencekik leher pria itu, namun panggilan Anna membuatnya seketika tersadar.


"Lea... hiks,"


Milea bangkit menatap tubuh iblis itu dengan tangan mengepal. Dengan cepat dia menarik tubuh Satria mengeluarkannya dari dalam kamar lalu mengunci pintu rapat rapat agar kejadian tadi tidak terulang lagi.


Milea memandangi wajah ketakutan Anna meski sudah berada di alam mimpi. Dia segera ikut berbaring di atas kasur memeluk Anna agar gadis itu bisa tenang dan melupakan sejenak kelakuan bejat yang dilakukan Satria padanya.


Heh. Milea tidak pernah menyangka, bahwa pria yang ia anggap adalah satu satunya yang menerima mereka di rumah ini tak ayal seperti malaikat berhati iblis. Karna yang namanya iblis, akan tetap iblis meski tubuhnya malaikat sekalipun. Dan itu terbukti dari kelakuannya di malam ini yang membuat Milea menaruh rasa benci dan kekecewaan yang mendalam.


"Maafkan Lea na.. Lea gagal menjagamu. Lea bukan teman dan kakak yang baik untukmu," gumam Milea ikut terlelap dalam mimpi berharap esok hari semuanya berakhir, meski itu rasanya mustahil.


Milea perlahan membuka matanya saat merasa cahaya mentari masuk di indra penglihatannya. Dia melirik sekeliling dan pandangannya kini berhenti pada pria Kakak dari mendiang sahabatnya Anna tengah terlelap di sampingnya dengan tangan memegangi keningnya yang terletak sebuah handuk basah.


Dia mengangkat tangan Zaky pelan pelan agar pria itu tidak bangun, namun justru usahanya gagal saat mata lentik pria itu mengerjap erjapkan matanya dan seketika bangkit saat melihat Milea telah sadarkan diri.


"Kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Maafkan aku soal tadi malam. Aku sungguh menyesal melakukannya, apalagi saat tahu kamu demam. Aku sungguh khawatir le," Milea dapat melihat semburat penyesalan tercetak jelas dari raut wajah tampan bosnya itu. Hanya saja, dia lebih terfokus pada kata..


"Aku sungguh khawatir le,"


Dan entah mengapa mendengar itu detak jantung tiba tiba berdetak begitu cepat, pipinyapun kita terasa panas. Dia yakin saat ini wajahnya sudah memerah.


"Le? Kenapa wajahmu merah? Apa demammu belum turun? Apa perlu kita kerumah sakit sekarang?" Cecar Zaky menyentuh kening Milea dengan telapak tangannya untuk mengetahui suhu tubuh gadis itu. Dia tidak tahu saja, perlakuaannya itu semakin membuat Milea gugup dan merasakan perasaan aneh yang tiba tiba datang.


"Sa-saya tidak apa apa kak. Sungguh!" Ucap Milea mencoba meyakinkan Bosnya dan mencoba menyingkirkan adegan manis ini yang bisa membuat kembang api dalam hatinya bisa meletup kapan saja.


"Sungguh?"


"Sungguh!"