Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
pengawal vs depkoleptor


"Ah? Oh... dia pengawal Zaky bun,"


Olak


Satu tamparan melayang ke lengan Zaky dengan kencangnya. "Kamu kalo becanda aneh aneh aja, masa iya cantik cantik gitu pengawal," bunda Dina enggan percaya, karna di banding menjadi pengawal, gadis itu lebih cocok menjadi pacar Zaky.


"Ish bunda, beneran itu pengawal Zaky. Bunda gak percayaan deh!" Kesal zaky sambil mengelus elus lengannya yang terasa panas.


"Ah masa? Cantik gitu juga, jangan jangan dia pacar kamu ya? Udah ngaku aja, pake malu malu segala." Zaky mendengus sebal karna bundanya masih tetap tidak percaya bahwa Milea pengawalnya.


"Beneran bun, Zaky gak boong. Namanya Milea, dia baru sebulan ini jadi pengawal pribadi Zaky. Cuma penampilannya aja yang terkesan santay agar tidak membuat kecurigaan orang lain kalo Zaky punya pengawal. Bunda tahu 'kan kalo dunia bisnis itu merupakan dunia penuh kekejaman. Banyak orang yang selalu ingin menjatuhkan hanya untuk bisa menduduki posisi pertama." Jelas Zaky serinci rincinya.


"Ohh jadi benar dia pengawal kamu? Bukan pacar 'kan?" Zaky menghela nafas sejenak lalu mencubit pipi bunda Dina gemas.


"Iya bundaku sayang yang bawel!"


"Tapi dia cantik loh, yakin kamu gak bakal jatuh hati sama dia?" Goda bunda menyikut pelan lengan putranya.


Zaky melirik bunda Dina sejenak lalu beralih menatap tawa Milea yang mempesona. "Untuk sekarang sih belum bun, gak tahu nanti." Tidak seperti kebanyakan orang yang gengsi mengakui perasaannya sendiri, Zaky jika sudah berhadapan dengan bundanya dia akan selalu menjawab apa adanya tanpa ada yang ditutup tutupi.


"Udah. Kalo dia emang jodoh kamu, gak akan kemana kok. Tenang aja.."


Di lain sisi, Milea masih asik bercengkrama dengan Akbar yang menurutnya sangat cadel dan menggemaskan. Entah bagaimana teganya orang tuanya menelantarkan anak semanis akbar di panti asuhan ini.


"Woi!!" Milea sedikit terkesiap saat mendengar teriakan seseorang. Akbar juga langsung memeluknya takut, dilihatnya tiga orang pria mendatangi panti asuhan dengan sikap tengilnya. Membuat tangan Milea gatal sendiri ingin memukul wajah sok tengil itu.


"Akbar mereka siapa?" Tanya Milea mencoba mencari tahu siapa gerangan ketiga pria itu.


"Meleka olang jaat!! Akbar nda cuka meleka!! Meleka selalu asar ama unda dan akak yang lain." Adunya hingga tangisnya pecah, membuat Milea segera bangkit menghampiri bunda Dina dan juga Zaky.


"Bunda..."


"Sini biar Akbar sama bunda..." bunda Dina segera mengambil alih Akbar dan menyerahkannya kesalah satu anak panti yang sudah berumur sekitar 10 tahun untuk membawa adiknya masuk.


"Ada apa ada apa!!" Brak. Milea dan Zaky terdiam melihat preman itu menendang kursi yang diduduki Zaky tadi hingga patah.


"Orang itu belum bayar cicilan tanah!! Udah nunggak berapa bulan ini ha?!" Teriak preman nomor 1 menunjuk muka bunda Dina.


"Maaf, waktu itu kami masih belum mendapatkan donatur. Tapi sekarang.."


"Halah alasan!! Kalau kau tidak bisa bayar hari ini juga kami akan menjual tanah ini kepada para investor lain untuk dikelola sebagai diskotik!!" Milea membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan preman itu.


"Beraninya dia...!!" Milea ingin maju, tapi tertahan karna Zaky mengangkat tangannya melarang Milea untuk bertindak gegabah. Mau tak mau Milea kembali tegak meskipun tangannya sedari tadi sudah gatal ingin menonjok para preman itu.


"Nerapa cicilan yang tersisa?" Tanya Zaky dingin. "Berapa? Memangnya kau siapa?" Tanya si preman nomor 2 menantang.


Bug


"Jawab saja berapa!!" Bukan Zaky, melainkan Milea. Dia sudah tidak tahan untuk menonjoknya. ketiganya terdiam melihat Milea marah, mereka saling lirik lalu mengatakan nominalnya.


"10 juta!"


"Heh segitu doang? Nih!! sekarang hutangnya lunas, jadi saya harap anda tidak pernah mengganggu panti asuhan ini lagi." Zaky mengeluarkan cek dari dalam sakunya lalu menuliskan nominal sebesar 20 juta, lebih agar orang orang itu berhenti mencari gara gara dengan panti asuhan ini.


"Oke!!" Melihat angka lebih membuat mereka bersorak ria dalam hati. Setidaknya mereka bisa membagi uang sepuluh juta itu dan menyerahkan sepuluhnya kepada bos mereka.


"Hei tunggu!!"


Bug


sebelum ketiganya pergi, Milea menyempatkan diri menghajar ketiganya hingga jatuh tersungkur ketanah. Diinjaknya punggung preman ke 3 lalu berjongkok untuk mengatakan sesuatu, dengan pistol di atas kepala preman itu.


"Setidaknya, sebelum kalian pergi aku ingin memberi kalian hadiah salam perpisahan. Ingat!! Jika kalian berani lagi datang kesini, kursi yang patah itu akan sama seperti kaki kalian yang patah. Dan jika atap genteng pecah, kepala kalian juga akan pecah. Mengerti?!" Ancam milea.


"Iya. Iya kami mengerti!" Takut ketiganya. Milea segera bangun dan membiarkan ketiganya berlari kuat meninggalkan panti asuhan ini.