
"Selamat datang Pak." Sapa ramah dari satpam penjaga gerbang sebuah rumah minimalis di sebuah komplek perumahan indramayu.
Pria di dalam mobil itu tidak membalas sapaan, dia terus melajukan mobilnya lalu memasukkan kedalam garasi.
"Bapak eta kenapa? Gak biasanya gitu." Gumam satpam itu geleng geleng memilih segera menutup pagar rumah.
"Mas pulang..." seorang wanita yang tengah duduk di sofa ruang tamu seketika menoleh dan tersenyum melihat suaminya sudah pulang.
"Mas udah pulang? Sini biar Khansa bawain tasnya, mas mandi gih. Tadi Khansa udah siapin air panasnya." Tutur wanita bernama Khansa itu lembut.
Satria tersenyum menatap lekat istrinya yang sedang berbadan dua itu. Tanpa segan dia langsung menarik tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya. Menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu memabukkan.
"Temenin mas ya..." rengek Satria manja. Khansa memukul bidang dada Satria kuat, meski akhirnya diapun menganggukan kepala mengiyakan.
Keduanya segera naik kelantai dua tempat kamar mereka berada. Setelah menyelesaikan rituan mandi, keduanya kini terbaring di atas kasur dengan Khansa yang memeluk erat tubuh telentang suaminya.
"Mas lagi ada masalah ya?" Tanya Khansa merasa heran dengan sikap Satria yang tidak biasanya lebih banyak diam. Biasanya setiap pulang ada saja kelakuan aneh sang suami yang selalu membuat hatinya berbunga bunga.
"Kayaknya aku emang gak bisa nyembunyiin apa apa ya dari kamu." Dengan gemas Satria mencubit hidung mancung istrinya.
Sesaat hening. Khansa masih setia menunggu cerita dari suaminya. Satria melirik istrinya ragu, apa dirinya harus menceritakan perihal kejadian di masalalu itu?
"Aku pernah cerita bukan tentang adik tiriku yang bernama Milea?" Khansa mengangguk ragu sembari mencoba mengingat ingat.
Satria menghela nafas mencoba menguatkan dirinya. "Aku sudah bertemu dengannya."
"Bagus dong mas! Bukannya itu yang kamu inginkan sedari dulu?" Seru Khansa antusias.
"Iya, memang. Di satu sisi mas merasa senang karna bisa bertemu dengan adik mas Milea. Tapi, di sisi lainnya, mas ragu. Entah mengapa mas takut dia ada di sini. Apalagi jika sampai papa dan mama mengetahuinya. Mas tidak ingin kejadian yang dulu dulu terjadi lagi." Lirihnya.
Khansa menatap prihatin suaminya yang memiliki masalalu yang begitu rumit, dengan keluarga yang rumit pula.
"Memangnya kenapa kalo papa sama mama tau soal ini mas? Bukankah seharusnya mereka juga senang karna bisa bertemu dengan anak mereka lagi? Terlebih lebih papa. Adikmu itu tetap darah daging papa jugakan."
"Iya memang. Masalahnya. Jika papa sampai tau tentang Milea, dia pasti akan memaksanya untuk kembali kerumah. Dan kau juga tahu bukan? Mama sama Bian itu sangat membenci Milea. Aku tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi. Apalagi aku sudah tidak ada di sana untuk melindungi atau sekedar membelanya." Jawab Satria gusar.
"Sudahlah mas. Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih bisa pikirkan itu lain waktu. Sebaiknya mas istrihat. Pasti mas lelah setelah pulang bekerja." Tutur Khansa.
Satria menatap istrinya lalu membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Mencari kehangatan dan kenyaman hingga pada akhirnya merekapun tertidur dengan pulasnya.
Di tempat lain, seorang wanita berlari tergesa gesa memasuki lorong rumah sakit. Di belakangnya terlihat seorang pria ngos ngosan karna tidak bisa menyeimbangi langkah seribu dari sang wanita.
Cklek
"Papa!!" Nala berlari menghampiri brankar Wendi yang terbaring tak berdaya di atasnya dengan selang infus dan alat bantu nafas.
"Nala..."
"Iya pah?" Nala menyambut tangan Wendi yang ingin menyentun wajahnya. Meski sedikit kesal pada papanya, tak dapat dipungkiri bahwa dia sangat menyayangi papanya ini.
"Nala... mungkin umur papa udah gak lama lagi. Uhuk uhuk, sebelum papa meninggal, papa ingin melihat kamu menikah..." lirih Wendi pucat.
"Enggak!! Papa jangan ngomong yang aneh aneh dong!! Papa kuat! Papa pasti bisa sembuh!! Jadi Nala mohon jangan ngomong gitu. Jangan bikin Nala takut pah..." geleng Nala kuat, hingga tanpa terasa air matanya mengalir melihat kondisi papanya yang kerap kali masuk rumah sakit akibat penyakit jantungnya kumat.
"Sudahlah Nala. Terima saja perjodohan ini..." bujuk Kirana pada putri sulungnya itu.
"Mah.. Nala gak bisa." Tolak Nala dengan nada gusar saat harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya masih dipaksa menerima perjodohan dengan mantan laknatnya itu.
"Tapi kenapa nak? Raka orang yang baik sayang... papa yakin dia bisa menjadi suami yang bisa membimbing kamu..." timpal sang papa.
"Itu di depan papa. Nyatanya! Raka itu adalah mantan pacar Nala sewaktu SMP yang mencampakkan Nala dengan berselingkuh dengan sahabat Nala sendiri. Bahkan sampai sekarang dia masih suka ngehina Nala, bilang kalo Nala ini orang munafik yang jual mahal karna tidak mau dia sentuh." Nyess.. plong rasanya saat Nala menceritakan semuanya. Awalnya dia tidak menceritakan ini karna tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa, tapi karna sekarang dia masih dipaksa menerima perjodohan itu membuatnya mau tidak mau harus membuka kedok busuk mantan pacarnya Raka itu.
"Orang yang udah bikin kamu hampir bunuh diri itu?!" Kaget Kirana dan Wendi kompak. Tak menyangka orang yang hampir membuat mereka kehilangan putri satu satunya ini adalah Raka. Orang yang ingin mereka jodohkan.
"Iya." Wendi menggeram dalam hati. Dia tidak menyangka hampir menjerumuskan putrinya kedekapan orang seperti Raka. Rasanya dia merasa tidak pantas menjadi orang tua lantaran hal seperti inipun dia tidak tahu. Pantas saja putrinya itu bersikeras ingin menolak perjodohan ini.
"Kamu tenang saja sayang. Sekarang juga papa akan membatalkan perjodohan itu. Maafkan papa yang tidak tahu apa apa dan malah ingin memberikanmu kepada orang yang salah." Sesal Wendi.
"Gak apa apa kok pah. Nala bisa ngerti kok. Makasih karna papa mau ngertiin Nala." Kirana tersenyum melihat kedua orang yang ia sayangi kini telah berbaikan. Adem rasanya melihat keluarganya kembali utuh seperti semula.
"Tapi... keinginan papa untuk menikahkanmu segera masih ada ya!" Seru Wendi mencubit kedua pipi putrinya.
"Ihhh papa kok inget aja sih! papa masih mau jodohin Nala?!" Ketus Nala menepis cepat tangan Wendi dari pipinya.
"Kali ini beda. Papa tidak akan memaksamu untuk menerima pilihan papa lagi. Tapi, sebagai gantinya. Dalam waktu sebulan ini papa ingin kamu bisa datang membawa calonmu untuk di perkenalkan dengan papa." Jawab Wendi tersenyum puas.
"Hah? Sebulan?! Papa yang bener aja?! Papa pikir cari jodoh itu kayak nyari makanan di warteg? Semuanya serba komplit. Papa jangan ngaco deh!" Gerutunya tak terima.
"Ya terserah kamu sih. Mau jodohnya dipilihin, atau nyari sendiri? Silahkan kamu pilih." Ucap Wendi santay.
"Gak dua duanya. Bye!!" Nala bangkit berjalan keluar. Saat ingin membuka pintu, pintu itu terbuka lebih dulu. Menampakkan wajah tampan Haikal yang terlihat kelelahan karna tertinggal oleh Nala.
"Loh Nala? Mau kemana?" Heran Haikal. "Mau kekantin! Minggir lu!" Haikal langsung menepi saat Nala dengan kasar menerobos keluar.
Kini matanya melihat kedalam ruangan tersebut. Seketika kedua matanya membola saat mengetahui siapa orang yang tengah berbaring di atas brankar rumah sakit itu.
"OM WENDI?!"