Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Lempar batu


"Lepaskan Anna!"


Milea terdiam seketika. Benarkah dia mengatakan itu? Apa mimpi buruk yang ia alami tadi malam benar benar membuatnya sampai mengigau?


"Maksudnya apa? Kenapa ada Anna? Apa kamu melihat Anna di dalam mimpi mu?" Cecar Zaky penuh harap akan jawaban dari Milea.


"Itu bukan mimpi,"


"Bukan mimpi? Maksudnya?"


Pandangan kosong. "Itu nyata. Di malam itu semuanya nyata! Saya pernah berharap, kalau itu hanya mimpi. Tapi nyatanya, dunia saat itu benar benar berputar," lirihnya.


"Apa maksudnya Lea? Aku tidak pa---"


"Saya adalah saksi di mana kehormatan Anna direnggut paksa oleh iblis bajingan itu!!" Potong Milea sebelum Zaky menghabiskan pertanyaan.


"Hiks. Kenapa pada saat itu harus Anna? Kenapa bukan saya? Hiks harusnya waktu itu saya tidak menyuruh Anna untuk menunggu di dalam kamar. Seharusnya kami membuka pintu itu sama sama. Seharusnya itu semua tidak terjadi jika saya mempercayai firasat buruk saya. Aaaarrrrghhhh KENAPA HARUS TERJADIII?!!!"


Haruskah penyesalan itu hadir di akhir? Zaky benar benar menyesali pertanyaannya jika tahu Milea akan meraung raung tidak jelas seperti ini. Apakah Milea sempat mengalami depresi? Setahunya jika hanya mengingat masalalu kelam, paling tidak hanya akan menangis, tidak sampai seperti orang gila begini.


"Milea tenang hei! Milea tenang! Kamu gak salah! Semua itu terjadi bukan atas kehendakmu. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri!!" Zaky dengan sigap menarik tubuh Milea kedalam pelukannya, agar wanita itu tidak melukai dirinya sendiri.


"Aku percaya kamu orang yang baik!"


Aku percaya kamu orang yang baik!


Aku percaya...


Seolah sihir, Milea mulai tenang dan tanpa sadar terlelap dalam pelukan Zaky. Pria itu mengusap rambutnya, perlahan mengangkat tubuh kecil itu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar yang terletak di lantai dua.


Zaky membaringkan tubuh Milea keatas kasur perlahan, menutupi tubuh kecil gadis itu dengan selimut tebal. Zaky duduk di samping Milea, mengusap lembut telapak tangan gadis itu.


"Sebegitu menyesalnya kah kamu?" Gumam Zaky menatap lekat lekat wajah sembab itu.


***


"Kemana kamu ingin membawaku?"


"Kesuatu tempat!"


Nala diam membiarkan Haikal mengendarai motor scopy itu di jalanan. Tak tahu hendak dibawa kemana, ia hanya berharap pria ini tidak akan melakukan hal aneh yang berujung membuat dirinya malu.


Kurang lebih 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya motor scopy berwarna biru muda itu pun berhenti di sebuah danau kecil dengan sebuah perahu yang terikat di titi kayu.


"Tempat apa ini?" Tanya Nala turun dari motor diikuti Haikal yang ikut turun sambil melepas helm bergambar tedy bear, panda, dan doraemon. Beragam warna, satu saudara.


"Danau,"


"Ya aku tahu ini danau. Tapi, ngapain ngajak aku kesini? Kamu gak mau macam macamkan?" Memicing curiga, Nala memasang ancang ancang menutupi bagian dadanya dengan tangan menyilang.


Ctak


"Gak usah mikir terlalu jauh! Aku gak bakal apa apain kamu kok. Paling iya iyain kamu waktu udah halal nanti." Ujar Haikal menjitak kening Nala pelan, berjalan mendekati titian kayu yang ada di sana.


"Siapa yang mau nikah sama situ?!" Sinis Nala mengikuti langkah Haikal menuju titian kayu itu.


"Kamu,"


"Ihhh, siapa yang bilang?"


"Terserah!"


Haikal tersenyum kecil melirik Nala sekilas, dan beralih memandangi hamparan luas danau yang ditumbuhi beberapa teratai.


Nala melirik Haikal yang tiba tiba berjalan pergi ketepi danau sambil mengutipi sesuatu. Setelah mendapatkannya, pria itu kembali menghampiri Nala.


"Nih!"


Gadis itu mengangkat alisnya sebelah, memandangi batu batu kecil yang Haikal kutip di tepi danau.


"Udah ambil!!" Menarik telapak tangan Nala, Haikal meletakkan beberapa batu kecil di sana.


"Batu buat apa?" Mengambung ambung 'kan satu batu ke udara lalu kembali menangkapnya, begitu pula seterusnya.


"Buat ini,"


Dalam hitungan detik, Haikal melempar batu itu dengan posisi badan sedikit condong kebawah. Batu itu memantul dari air sekitar dua tiga nada, membuat Nala mengerjap erjap kagum.


"Gimana?" Tanya Haikal mengulum senyum melihat Nala membuka mulutnya lebar saking kagumnya. Sesuai dugaannya, Nala terlalu kaku dan tidak pernah melempar batu kedanau.


"Woaahh kok batunya bisa mantul gitu?" Tersadar, pandangannya beralih menatap Haikal penasaran.


"Itu disebabkan oleh daya air yang mendorong batu keatas, dengan daya lontar yang terlalu besar. Batu akan terpantul terlalu tinggi dan akan kembali turun pada sudut yang tajam dan kemudian batu akan tenggelam," jelas Haikal sekenanya yang ia ketahui.


"Ohh gitu ya?"


"Makanya, kalo guru lagi nerangin itu diperhatiin. Bukannya malah tidur!" Sindir Haikal kembali melempar satu batu, namun kali ini hanya satu loncatan yang mampu batu itu lakukan.


"Yee itu mah kamu!" Cibir Nala fokus memperhatikan cara Haikal melempar, dan mencobanya.


Pluk


"Ihh kok gak mantul sih?!" Gerutu Nala saat batu lemparannya langsung tenggelam tanpa memantul meski hanya satu.


"Lemparnya harus kuat, trus posisi badannya juga harus pas! Sini aku ajarin!" Mengambil kesempatan dalam kesempitan, itu lah yang dilakukan Haikal saat ini. Kapan lagi coba pegang tangan doi tanpa ditabok.


"Posisi kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang. Tubuh agak sedikit membungkuk, dengan tangan berada sekitar 10 centi ke belakang dari pinggang. Dan bersiap untuk melempar!!"


Mendengar kata lempar, Nala langsung melempar batu itu sekuat tenaga sesuai instruksi dari Haikal.


Tuing


Tuing


Tuing


Batu itu berhasil melompat dengan hitungan loncat sebanyak tiga kali. Benar benar hasil yang menggembirakan hati.


"Aaahhh berhasil!! Ikal, Lala berhasil!!" Teriak Nala melompat lompat girang sambil menggenggam tangan Haikal.


Pria itu tersenyum. Bukan karna Nala dapat melempar batu itu, atau berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia tersenyum karna nama panggilannya sewaktu kecil itu kembali disebut setelah sekian lama tidak pernah ia dengar lagi.


"Hah... ternyata seru juga ya main di sini!!" Nala melepas tangan Haikal beralih memandangi air danau yang ditumbuhi bunga teratai yang cantik.


Haikal tersenyum. "Iya." Ikut berdiri di samping Nala, memandangi hamparan air danau yang luas membentang sekitar dua puluh meter kedepan.