
Setelah kepergian Ranti, Anna langsung berlari kepinggir kolam saat melihat tubuh Milea yang terapung tak sadarkan diri. Dengan sekuat tenaga dia menarik tubuh Milea kepermukaan dan langsung melakukan pertolong pertama dengan menekan nekan dadanya.
"Uhuk uhuk uhuk" berhasil. Gadis itu mengeluarkan cukup banyak air dari dalam perutnya. Saat dia membuka mata, seseorang dengan cepat memeluknya sambil terisak.
"Hiks hiks maafin Anna hiks hiks. Ini semua salah Anna, hiks kalo Milea gak nolongin Anna, Milea gak mungkin seperti ini tadi," sesal Anna.
Milea memasang wajah datar tak tahu harus berbuat apa. Marah atau... Bukankah itu keinginannya yang ingin menolong gadis polos seperti Anna ini? Jadi apa berhak dia marah dengan keputusannya?
"Ck apaan sih? Berat tahu!!" Decak Milea mendorong kuat tubuh Anna untuk menyingkir dari atas tubuhnya.
"Hiks maafin Anna," Milea memutar bola mata jengah melihat Anna yang menurutnya terlalu polos dan cengeng. Dia perlahan bangun menatap Anna dengan tatapan dinginnya.
"Heh!! Aku yang pingsan kenapa kau yang nangis?! Cengeng banget sih jadi orang! Gimana kamu bisa tahan di rumah neraka ini kalo kamunya cengeng gitu ha?!" Gerutu Milea sedikit membentak, jari telunjuknya mendorong dorong kening Anna.
"Anna hiks minta maaf..." untuk kesekian kalinya Milea menghela nafas saat mendengar hanya kata maaf yang terus terusan di ucapkan gadis lugu ini.
"Sekarang kamu sudah tau bukan kenapa aku menyuruhmu untuk pergi dari rumah ini?! Sebelum ini terjadi lagi, sebaiknya kamu pergi. Aku bisa membantumu untuk keluar dari sini. Kamu tahu? Kamu masih terlalu polos untuk mengenal dunia yang kejam ini!!" Tawar Milea.
"Dan ninggalin kamu di sini sendiri gitu? Ninggalin kamu yang disiksa terus terusan di sini iya? Aku gak mau!! Aku gak mau ninggalin kamu sendiri di sini, apalagi lihat tante jahat itu nyiksa kamu!!" Tolak Anna dengan cepat menghapus air matanya.
Tersenyum sinis, "heh. Kamu mengasihani ku? Sayangnya aku tidak butuh belas kasihan darimu!! Sebaiknya kamu turuti kata kataku untuk pergi dari rumah ini!" Tegasnya dengan cepat bangun dan menarik pergelangan tangan Anna untuk membawanya pergi.
Plak
Anna dengan cepat menepis tangan Milea. "Kenapa? Kenapa kamu terus terusan mengusirku?! Apa aku tidak boleh tinggal di sini bersamamu?!" Teriak Anna dengan nafas yang naik turun.
"Tidak!!"
"Tapi kenapa?!!"
Milea menghela nafas membuang pandangan kearah lain. "Kamu tidak akan mengerti Anna!! Kamu tidak bisa tinggal di sini. Terlalu berbahaya untukmu!! Mereka yang berbuat kasar padamu tadi akan kembali berulah sebelum kamu benar benar pergi dari sini. Jadi, sebelum kamu mendapatkan penyiksaan yang jauh lebih sakit dari ini, sebaiknya kamu pergi ketempat asalmu. Kamu terlalu lugu untuk berhadapan dengan kenyataan hidup yang menyakitkan!!" Jelas Milea penuh penekanan.
"Kalau begitu ayo kita pergi bersama!!" Ajak Anna membuat Milea terdiam. Dia menatap gadis itu lekat lekat dan sulit untuk diartikan.
"Tidak bisa. Ini rumahku! Aku tidak akan meninggalkan rumahku!" Tolak Milea membuang pandangannya. Dapat Anna lihat, sudut mata gadis itu sudah berair. Seolah mendapat dorongan, Anna menarik tubuh Milea dan memeluknya.
"Kalo begitu Anna juga gak akan pergi. Anna gak mungkin ninggalin teman Anna di sini sendirian," lirih Anna.
Milea tertegun. "Teman?" Tanyanya ragu. Anna mengangguk cepat lalu melepas pelukannya dan menatap Milea tegas.
"Kenapa kamu ingin berteman denganku?" Tanya Milea dengan pandangan kosong lurus kedepan.
Dengan senyum hangat, Anna menjawab. "Karna kau orang yang baik." Milea menatapnya dingin. Terharu? Tentu saja. Hanya saja dia orang yang sulit menunjukkan ekspresi kepada orang lain. Bisa dikatakan, dia adalah seorang introvert.
"Terserah. Aku mau ganti baju." Milea memutar balik tubuhnya, hingga sedetik kemudian, senyumnya mengembang sempurna. Ini untuk pertama kalinya dia merasa memiliki semangat hidup, dan itu berkat seorang gadis ceria bernama Anna Angkasa.
"Ikuttt!" Rengek Anna bergelayut manja di lengan Milea. "Kamu ingin mengintip aku ganti baju?" Sewotnya.
"Enggak gitu! Maksudnya Anna ikut kamu, tapi nanti tunggu di luar," jelas Anna cepat. Sudut bibir Milea berkedut merasa lucu sendiri saat mengerjai si polos ini.
"Bilang aja mau ngintip!"
"Enggak ih! Anna gak ngintip! Orang bentuknya sama juga!"
"Cih, polos polos tapi mesum!"
"Ihhh Anna gak mesum!! Emang kenyataannya kan emang gitu?! Kalo gak percaya kita bisa cek!!"
"Tuhkan! Kamu beneran mesum ternyata! Nyari nyari kesempatan dalam kesempitan!!"
"Ihhh enggakkkk!! Ahhh Milea nyebelin!!"
"Hahaahaa"
Sebenarnya dia gadis yang baik, hanya saja lingkungan yang membuatnya seperti itu. Buktinya, meski sering bersikap kasar, dia selalu ada untuk menolongku. Sekarang aku mengerti apa maksud di balik kata:
"Terkadang berbuat jahat demi kebaikan itu lebih baik dari pada berbuat kebaikan demi kejahatan."
Dia berbuat kasar padaku untuk melindungiku. Dia mengusirku karna tidak ingin aku terluka. Aku menyayangimu Milea...
Bugh
Zaky menutup kasar buku itu setelah dia baca beberapa halaman yang menceritakan pengalaman pertamanya bertemu dengan Milea.
"Jadi... selama ini Milea yang menjagamu di sana? Dan sekarang, setelah kamu pergi, dia menjaga diriku pula? Arrrrggghhh!!" Zaky berteriak kuat sembari mengacak acak rambutnya.
"Maafkan aku Milea... ku mohon kembalilah..."