
"Tiga!"
Milea membuka gulungan kertas itu dengan hati yang berdebar debar, berharap nama yang ada di sana sesuai dengan nama yang ada di hatinya saat ini.
"Ayo buat yang cewek, sesuai harapan tidak? Ayo ayo! hampiri pasangan kalian sesuai nama yang ada ya!" Seru MC.
Zaky menatap Milea tersenyum lebar saat di rasa gadis itu berjalan menghampirinya, apalagi saat tatapan mereka bertemu membuatnya semakin yakin bahwa nama yang ada di kertas itu adalah namanya.
Namun, ekspektasi tak sesuai realita. Nyatanya, saat gadis itu sudah hampir sampai justru malah berbelok dan berdiri di hadapan pria di sampingnya. Reynand. Pria yang ia tahu adalah keponakan Roy, pengusaha kaya yang dulunya pernah bekerja menjadi asisten pribadi Kakeknya dan sahabat dari pamannya.
"Nama om, Zaky 'kan?" Pandangan Zaky kini beralih pada gadis berhijab yang tinggi sebatas lehernya. Gadis itu menundukkan kepalanya karna untuk pertama kalinya bermain permainan tanpa memandang wanita ataupun pria. Santiara Jubair. Putri pertama dari Ali Jubair, dan putri tiri Sri Rahma.
"Hm." Mata Zaky sedari tadi sibuk melirik kesamping dengan tangan mengepal kuat. Apalagi saat melihat tatapan Reynand yang menyimpan ketertarikan pada Milea, pengawal cantiknya.
"Oke... sekarang silahkan kalian pindah ketempat yang lapang ya. Karna permainan ini akan menggetarkan hati dan jiwa..."
"Ayo!"
Milea membulatkan mata sempurna saat tiba tiba Rey meraih tangannya berjalan bersama menuju ketempat lapang. Dia menoleh kebelakang dan melihat Zaky memandanginya dingin dengan tatapan menusuk.
Zaky mendengus kesal lalu melirik kesamping di mana pasangan permainannya itu sedari tadi hanya menunduk menyembunyikan wajah cantiknya. Tiba tiba sebuah ide muncul di otaknya. Tanpa meminta persetujuan, Zaky menggenggam erat tangan Santi dan menariknya berjalan mendahului pasangan Milea-Rey.
"Astagfirullahalazim om! Lepasin om, bukan muhrim!! Dosa!!" Teriak Santi tanpa sadar terus memukuli tangan kekar Zaky.
"Diamlah!"
"Tapi om---"
"Diam!!" Santi langsung terdiam dengan kepala menunduk dalam saat Zaky membentaknya. Pria itu melirik sinis Rey dan berjalan mendahului keduanya bergabung dengan pasangan yang lain.
"Baiklah. Di depan kalian saat ini sudah ada benang tipis sepanjang dua meter dan sebuah batang besi sepanjang dua kaki yang digantung memanjang. Tugas kalian adalah, melilitkan benang itu dari dua sisi kebatang besi dengan menggunakan mulut. Dengan syarat, tidak boleh lepas atau putus dan harus bisa melilitnya serapi mungkin. Jika ada yang ketahuan menggunakan tangan untuk merapikannya, maka akan didiskualifikasi. Waktunya hanya 1 menit. Dan permainan ini ada hadiahnya loh..." ucap MC menjelaskan permainan.
Milea mendengarkan dengan seksama sesekali mengangguk paham. Ekor matanya tak sengaja menangkap Zaky yang terus menatapnya dengan pandangan sulit diartikan, membuatnya gugup sekaligus salah tingkah karna ditatap seperti itu.
"Baiklah, dalam hitungan ketiga permainan akan dimulai. Bersiap siaplah!" Semua pasangan langsung mengambil masing masing ujung benang dan menggitnya bersiap siap untuk mulai.
"Satu... Dua... TIGA!!"
Semua pasangan langsung melancarkan aksi mereka untuk melilit benang itu kebatang besi. Meskipun susah, tapi itulah keseruan dari tantangan malam ini.
"Ayo! Kak Zaky sama Kak Ara pasti bisa!" Sang pemilik pesta nampak bersorak girang menyemangati Kakak kesayangannya dan Kakak yang selalu menjadi teman mainnya kala waktu senggang.
"Kak Lea juga semangat!" Tambahnya.
Milea agak sedikit kesulitan melilit benang itu agar rapi dan muat di batang besi yang hanya sepanjang dua kaki.
"Sulitkah?" Tanya Rey sedikit tidak jelas karna sedang mengigit benang.
"Sedikit," jawab Milea terus melilitkan benang. Rey melirik Milea lalu tangannya terulur menepuk puncak kepala gadis itu sambil berkata.
"Semangat!"
Milea tersenyum dan mengangguk. Dia tidak tahu saja, di sampingnya ada yang tengah kebakaran jenglot melihat adegan yang menurutnya mesra itu. Dia tidak peduli pada Santi yang nampak berusaha melilit benang dengan sangat kesusahan, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rasa cemburu melihat pengawalnya yang bermesraan dengan pria selain dia.
Demi melampiaskan rasa kesalnya, dia memutar benang itu melilitnya kebatang besi dengan sangat cepat, membuat Santi yang berdiri di depannya melongo. Untungnya benang yang ia gigit tidak terlepas dan kembali ia lilitkan karna tidak ingin kalah dari Zaky yang ia panggil om itu. Karna memang usia mereka terpaut cukup jauh. Usianya saat ini baru 18 tahun, sedang 'kan Zaky berusia 26 tahun. Beda jauh bukan?
Milea, Rey, Haikal, Nala, Zaky dan Santi merupakan peserta yang tersisa. Ketiganya begitu semangat untuk memenangkan perlombaan meskipun ada satu peserta yang terbakar amarah cemburu saat memainkannya.
"3, 2..."
Duk
"1"
"Awh" Santi sampai tepat waktu, meski tanpa sengaja dia terjedot kening Zaky karna saat ujung benang mereka seharusnya di ujung batang besi, keduanya malah berada di tengah tengah sehingga tanpa sengaja wajah keduanya berdekatan.
Pandangan Zaky kini beralih menatap partner mainnya yang tengah mengelus elus dahi yang tak sengaja menghantam keningnya. Zaky akui wanita ini memang sangat cantik, hanya saja dia akui lagi bahwa hatinya sepenuhnya telah dimiliki pengawal cantiknya.
"Selamat untuk pasangan Zaky-Santi karna telah memenangkan permainan malam ini. Hadiahnya gantungan kunci coulpe..." teriak MC heboh. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
MC lalu memberikan kotak berisikan gantungan couple sederhana dengan motif koala berwarna biru muda. Santi menerimanya dengan senang hati karna bentuknya yang imut. Sedang 'kan Zaky justru menatap Rey dan Milea yang nampak begitu akrap berbicara meski keduanya kalah dalam permainan.
"Om. Ini punya---"
"Untukmu saja!" Zaky berlalu meninggalkan Santi yang terpaku saat ingin memberikan gantungan itu. Jujur saja hati kecilnya tersakiti, namun dia tidak ingin memaksa. Biar hadiah ini dia saja yang simpan sebagai kenang kenangan.
Acara berlanjut hingga sampai pukul 11 malam, acara selesai karna sudah banyak anak kecil yang tertidur karna tidak terbiasa tidur larut malam. Sang punya pestapun juga sudah tertidur pulas di pangkuan sang Ibu.
Setelah acara selesai, Milea berjalan lebih dulu ingin masuk kedalam kamar di rasa tubuhnya terasa lelah. Saat ingin membuka knop pintu, seseorang lebih dulu menariknya menuju rooftop yang hanya di ketahui Bagas, Maulida dan dirinya.
"Kak, kemana anda ingin membawa saya?" Tanya Milea bingung tapi tetap mengikuti langkah besar pria itu tanpa membantah.
Zaky diam, hingga sampailah mereka di rooftop baru Zaky melepaskan genggaman tangan itu lalu berjalan pelan kedepan dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku.
Milea menatap punggung kekar itu diam di tempat. Namun, perlahan dia melangkah mendekati Zaky hingga berdiri tepat di belakangnya.
"Ada apa Kakak membawa saya kesini?"
Zaky masih diam tanpa menoleh sedikitpun, membuat Milea bingung harus berbuat apa, ditambah angin malam yang membuat tubuhnya mengigil kedinginan.
"Kak---" Milea terdiam seketika saat tiba tiba Zaky berbalik dan langsung menarik tengkuknya mencium bibirnya hangat.
Mengerjap beberapa kali, Milea langsung mendorong tubuh Zaky tersadar saat apa yang dilakukan pria itu tidaklah benar. Dia kaget, belum siap sama sekali.
"Apa yang anda lakukan tuan?!" Bentak Milea mundur beberapa langkah. Sekelabat bayangan di malam itu tiba tiba muncul membuat kepalanya tiba tiba terasa berat dan pusing.
"A-aku..." bingung. Zaky bingung harus menjawab apa, dia mencium pengawalnya refleks karna amarah. Sungguh dia tidak berniat ingin membuat gadis itu ketakutan.
Kepala Milea semakin terasa berat, sekujur tubuhnya tiba tiba gemetar. Rekaman adegan di malam mencekam itu terus berputar di otaknya seolah seperti kaset rusak.
Di matanya kini wajah Zaky tiba tiba berubah menjadi sosok pria iblis di malam itu. Dia mencengram kepalanya erat saat pusing semakin melanda kepalanya.
"Milea? Kamu kenapa?" Tanya Zaky khawatir saat melihat Milea yang terlihat berdiri sempoyongan.
"Satria..."
Brukh