Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Masuk kediaman


Tin tin


Bunyi klakson mobil dari luar pagar membuat seorang security sedikit kaget dan segera melihat siapa gerangan mobil yang terparkir di luar.


Tok tok


"Siapa?" Tanya security itu mengetuk kaca pintu mobil. Perlahan tapi pasti, kaca itu mulai turun dan menampakkan wajah dingin seseorang yang memandang lurus kedepan.


"Non Lea...?!!!"


"Buka pagarnya!" Titah Milea membuat kesadaran pria itu kembali. Dengan gelagapan security membukakan pagar dan membiarkan majikannya memasuki halaman luas perumahan keluarga Rahardian.


Bugh


Ben menutup pintu mobil setelah Milea keluar dari sana. Di samping Milea satu buah koper berdiri. Dia menatap sekeliling lalu mendongak melirik seorang wanita paruh baya yang melotot tak percaya kearahnya.


"IBU!!!" Melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria sedikit menyeringai tanpa diketahui.


Ranti yang berada di balkon lantai dua langsung beranjak menuruni anak tangga dengan cepat dan berjalan kehalaman depan untuk membuktikan bahwa penglihatannya salah.


"Kamu...!!" Sangat disayangkan, Ranti tak percaya bahwa penglihatannya tidak salah. Perempuan yang ia anggap hama kini datang kembali.


"Ada apa mah....?!! MILEA?!!" Sama dengan Ranti, raut wajah terkejut dari Bianka-pun tidak dapat disembunyikan. Seingatnya, Milea telah menghilang bak ditelan bumi setahun lalu, dan mengapa dia bisa kembali?


"Ibu... kakak... lama tidak bertemu. Apa kalian merindukan ku?" Jiwa acting yang luar biasa. Milea mampu mengubah mimik wajah sesuai kondisi. Sedang Ranti dan Bianka dibuat semakin tak percaya saat dengan berani Milea memeluk mereka lalu tersenyum manis seolah olah mereka adalah anggota keluarga sesungguhnya.


"Ngapain lagi kesini hah?! Siapa yang suruh kamu kesini?! Rumah ini dilarang dimasuki oleh hama seperti kamu!!" Tersadar, Ranti menatap tajam Milea yang justru bersikap tenang.


"Oh benarkah? Tapi papa yang nyuruh aku pulang. Emang papa gak ngasih tau ibu? Bukannya ibu itu istrinya papa ya?" Jawab Milea berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat darah Ranti mendidih seketika.


"Atau jangan jangan papa udah gak sayang lagi sama ibu, dan lebih milih wanita muda yang bisa diandalkan. Bukan menyusahkan," lanjutnya lalu kembali tersenyum polos seolah olah tidak terjadi apa apa.


Bianka diam menatap Milea dingin, sejenak terdiam lalu masuk tanpa berkata. Entah apa yang terjadi dengan perempuan itu, tapi itu tidak penting juga bagi Milea.


"Sebaiknya kamu pergi sekarang atau saya panggilkan security untuk mengusir kamu hah?!" Usir Ranti nafas naik turun.


"Oh ibu... jangan galak galak dong. Entar makin keriput, dan papa gak akan sayang lagi." Terdiam sejenak. "Lagipun. Aku maunya tinggal di sini, sekalipun ibu panggil security buat ngusir aku juga bakalan tetap ada di sini." Memandangi rumah berlantai tiga itu dengan pandangan dinginnya.


"Oke. Jadi kamar aku yang mana bu?" Kembali kesikap ceria, Milea menerobos tubuh Ranti dan masuk kedalam rumah yang luasnya mencapai 500 meter persegi.


"Kamar? Heh. Siapa yang bilang kamu dibolehkan tinggal di sini hah?!" Bentak Ranti menarik bahu Milea agar menatapnya.


"Aku."


Milea dan Ranti menoleh bersamaan kearah sumber suara. Rahardian. Pria itu masuk bersama dengan sekretarisnya Reno menghampiri kedua wanita yang tengah bersitegang itu.


"Aku yang memintanya untuk tinggal di rumah," lanjut Rahardian memperjelas ucapannya. Ranti menatap tajam suaminya penuh emosi. Sejak Rahardian menikah dengan Rikha, hubungan mereka memang merenggang, bahkan sampai sekarang. Dia kira setelah ketiadaan Rikha di rumah ini mampu membuat cinta Rahardian untuknya kembali utuh, nyatanya cinta itu justru diturunkan Rahardian pada putri bungsunya.


Sedang Milea saat bertemu tatap dengan Rahardian hanya menatapnya dingin sambil mengangkat alis sebelah. Entah mengapa pria itu menolongnya, yang pasti dia harus bisa memasuki rumah ini apapun yang terjadi. Karena di rumah inilah semua bukti terkumpul.


"Kamu gila ya mas!! Buat apa kamu nyuruh si anak hama ini tinggal di sini hah?!!" Geram Ranti.


Mendelik tajam. "Jangan sekali kali kamu menyebutnya anak hama. Karena dia adalah putriku. Sampai kapanpun tetaplah putriku. Dan sebagai putriku, maka rumahku juga rumahnya. Tempatku tinggal, tempatnya juga. Jadi, aku tidak peduli dengan responmu bagaimana, tapi yang pasti. Milea akan tinggal di rumah ini!!" Tutur Rahardian penuh penekanan.


"Bi Ayu!"


"Iya tuan?"


"Antarkan nona muda kekamar atas lantai dua." Titah Rahardian berlalu dan berhenti di samping Ranti, meliriknya cuek dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Baik tuan,"


Berbalik cepat. "Papa!" Panggil Milea membuat langkah Rahardian terhenti lalu berbalik menatap Milea bingung.


"Aku butuh satu kamar lagi untuk asistenku tinggal. Yah... anggap saja aku butuh seorang pelindung," terdiam sejenak. "Bukankah aku tetap harus berjaga jaga. Takut kenangan pahitku di rumah ini terulang lagi?" Lanjutnya tersenyum sendu sambil mengepalkan tangannya.


Rahardian menatap Milea dingin lalu melirik bi Ayu. "Siapkan satu kamar tamu untuk asisten nona muda!" Titah Rahardian berlalu pergi dengan perasaan yang tak dapat dibaca.


"Baik tuan. Mari non, den." Ajak bi Ayu berjalan lebih dahulu menaiki anak tangga menuju lantai dua diikuti Milea dan Ben di belakangnya.


Ranti melirik tajam kepergiaan Milea dengan sejuta rasa benci yang tertanam sejak Rahardian menikahi Rikha. "Heh. Jika ibunya saja dapat aku singkirkan, kenapa anaknya tidak sekalian aku singkirkan untuk menemani ibunya?!" Gumam Ranti penuh tekat.