Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Masuk rumah sakit


Tok tok


"Masuk!!"


Cklek


"Papa memanggilku?" Tanya Bianka menatap malas papanya. Sikapnya benar benar berubah derastis setelah Zaky mencampakkannya kala itu.


"Kamu yang memberikan vidio itu pada Zaky Alexander bukan?" Tuduh Rahardian tanpa basa basi.


"Maksud papa apa? Bianka gak paham." Ucap Bianka malas. Benar benar tidak minat berbicara dengan papanya saat ini.


"Jangan berpura pura tidak tahu Bianka! Papa tahu kamu yang mengirim vidio bukti di pengadilan itu pada Zaky Alexander!!" Geram melihat putrinya yang bersikap membangkang padanya.


"Ya kalau udah tahu, ngapain nanya? Papa udah buang buang waktu Bianka tahu gak!" Dengus Bianka sambil bersidekap dada.


"Milea itu adik kamu Bianka! Bagaimana bisa kamu mendorong adikmu kepenjara, sedang pelaku sebenarnya adalah kamu!!" Bentak Rahardian.


"Adik? Maaf, saya tidak pernah punya adik. Terserah jika anda ingin memiliki putri dari perempuan manapun, tapi yang pasti. Mereka bukan siapa siapa Bianka. Apalagi menganggapnya saudara. Bianka gak sudi!!" Sarkas Bianka berjalan keluar.


"Bianka!! Bianka kembali kamu!! BIANKAAA!!!" Teriak Rahardian lalu terduduk lemas karena energinya yang terkuras habis akibat bertengkar dengan kedua putrinya yang kini membenci dirinya akibat kesalahannya.


Dengan lemah, Rahardian mengambil foto dalam laci meja kerjanya. Ditatapnya lamat lamat wajah cantik wanita muda yang ada di dalam foto. "Aku telah mendapatkan karma akibat perbuatanku yang selain menghamilimu, mengabaikanmu, bahkan membiarkanmu berjuang sendiri merawat putri kita. Sekarang, putri ku dan putri kita, sama sama membenciku. Rikha. Aku benar benar menyesal. Maafkan aku..." lirihnya meneteskan air mata demi air mata dari pelupuk matanya.


Bianka keluar dari gedung perusahaan papanya dengan penuh emosi. Masuk kedalam mobil, dia mengambil ponsel dari dalam dasbord lalu mengetik angka demi angka di sana. "Hallo? Bisa kita bertemu sekarang? Di danau dekat jalan sidoardjo. Bye..." setelah selesai menelfon seseorang, Bianka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat tujuan. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan nyawa, hatinya telah dibuat kecewa dan sakit oleh papanya sendiri. Lelaki yang dulu ia anggap hiro keluarganya. Namun sekarang, justru menjadi rayap dalam keluarganya.


"Siapa?" Tanya Edwark mengambil minum di dispenser dalam apartemen yang di tinggali Milea, dan Ben.


"Bianka. Kayaknya ini waktu yang tepat untuk melancar aksi berikutnya. Soalnya lusa kita sudah harus kembali kepengadilan, sedang kita sangat butuh bukti yang Bianka pegang untuk membebaskan tuduhan dari tuan muda Alexander itu," jawab Erickh.


"Yaudah, semangat my little brother." Lalu meminum air dari dalam gelasnya.


"Oh god my brother. You are the most annoying man!" Dengan kesal Erickh mengambil mantelnya dan pergi meninggalkan kembaran menyebalkannya.


Sampai di danau, Bianka mengambil duduk di dermaga kecil yang ada di danau sambil memandangi hamparan luas danau yang menyejukkan.


"Hai, sudah lama menunggu?" Sapa Erickh mengambil duduk di samping Bianka.


"Tidak, aku juga baru saja sampai." Jawab Bianka tersenyum lembut lalu mengalihkan pandangannya kedepan.


"Beautiful lake," ucap Erickh.


Hening sesaat, keduanya sama sama menikmati alam yang ada. Erickh sendiri merupakan pencinta alam bebas, hanya saja masih belum bisa meninggalkan rokok itu saja. Dan untuk minum, tidak ada satupun dari keluarganya yang bisa minum. Kalaupun ke club, mereka hanya bisa minum soda atau cola, bukan anggur.


"Kenapa kamu mengajakku kemari?" Tanya Erickh sadar bahwa waktunya telah terbuang banyak.


"Tidak ada. Aku hanya butuh teman saja saat ini. Kehidupanku benar benar kacau, sejak kehadiran adikku," ujar Bianka memandang sendu kedepan.


Sadar bahwa adik Bianka adalah Milea, Erickh mulai tertarik untuk mendalami informasi yang Bianka punya, siapa tahu dapat ia jadikan bukti. "Memangnya kenapa dengan adikmu itu?" Tanya Erickh.


"Dia sebenarnya bukan adikku, karena kami lahir bukan di rahim yang sama. Sulit bagiku menerimanya ada dalam keluargaku. Ya memang, seharusnya yang aku benci adalah papaku, hanya saja aku terlalu egois dengan menaruh benci padanya dan menganggapnya hanya hama pengganggu," jawab Bianka.


"Apa kamu menyesal?"


"Menyesal? Iya jika saja dia tidak bersekongkol dengan Zaky untuk menjatuhkanku. Maka aku akan sangat menyesal. Tapi, benci itu semakin besar karena papa dan kak Satria lebih membelanya, bahkan Zaky hampir menbunuhku hanya untuk membelanya. Aku marah. Aku iri karena kehadirannya benar benar membuatku tersisihkan." Ucap Bianka.


"Apa salah jika aku membencinya? Sedang kehadirannya telah menghancurkan hidupku." Lanjutnya.


"Adikmu tidak salah. Tidak ada yang ingin dilahirkan menjadi anak dari istri kedua. Jikalau bisa memilih, aku sangat yakin dia lebih memilih lahir di keluarga miskin yang harmonis dari pada keluarga kaya yang broken home. Kamu tidak bisa menyalahkannya karena yang menjadikannya seperti itu adalah ayahmu sendiri," bela Erickh tentu saja.


"Aku tau. Hanya saja aku terlanjut kecewa dengan persekongkolannya dengan Zaky untuk menjatuhkanku." Ucap Bianka menunduk sendu.


"Jangan mencoba mencari celah keburukannya karena itu akan membuatmu semakin membencinya. Tapi carilah keburukan apa yang telah kamu lakukan sehingga dia melakukan itu padamu," jawab Erickh. Entah mengapa kali ini dia bisa bersikap dewasa. Biasanya tidak.


Bianka memandangi Erickh yang juga menatapnya penuh ketegasan. Sesaat Bianka seolah terhipnotis dengan tatapannya yang membuat jantungnya berpompa dengan cepatnya.


Drrttt drrrtt ddrrrt


Dering ponsel menghentikan aksi tatap tatapan keduanya. Erickh merogoh ponselnya dan mengeryit bingung saat Edwark kakaknya menelfon, padahal kakaknya itu tahu kalau saat ini dia sedang bersama dengan Bianka.


"Hm?"


"Kerumah sakit sekarang!! Milea pingsan!"


"APA?!!" Erickh bangkit dengan pupy eyes yang melebar. "Kemarilah cepat. Ini aku dan yang lainnya juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit,"


"Oke oke. Aku segera kesana!" Tut... Erickh berjalan cepat menghampiri mobilnya yang terparkir bergegas hendak pergi kerumah sakit.


"Ada apa? Kamu mau kemana?" Cegat Bianka bingung sekaligus penasaran.


"Maaf, aku ada urusan mendesak. Lain kali saja lagi kita bertemu. Bye bye..." cup. Dengan tak tahu dirinya, Erickh memberikan kecupan singkat di kening Bianka dan berlalu pergi meninggalkan anak orang yang sedang mematung dalam cintanya.