Pengawal Cantik

Pengawal Cantik
Merona


"Oh ya? Apa?" Tanya Zaky menarik tubuh mendekat pada Milea untuk mendengarkan rencananya.


"Sebenarnya, ada satu orang lagi yang bisa membuat dia sakit, sesakit sakitnya jika mendengarnya," ucap Milea melirik Zaky dengan pandangan tak terbaca.


"Siapa?"


"Saya,"


"Kamu?!" Kaget bukan main. Zaky mundur memandang Milea kaget sekaligus tak percaya.


"Iya. Anda tidak mungkin lupa bukan kalau saya ini Milea Rahardian Kusuma? Saya adiknya. Dan saya adalah, adik kesayangannya," jawab Milea tenang.


"Lalu, bagaimana caranya kita melakukannya?"


Milea tersenyum kecil, "mula mula, kita bertengkar untuk menarik perhatiannya. Jika dia sudah mendekat, saya akan memaki, menyalahkan dan mengatakan bahwa saya membencinya. Dan selesai." Jawab Milea.


"Sesimple itu? Kamu yakin rencana ini akan berhasil?" Zaky mengerut ragu dengan rencana simple dari Milea, pengawal cantiknya.


"85% rencana kita akan berhasil, itu juga kalau dia masih menyayangi saya?" Ada getaran di bibir Milea saat mengucapkannya. Di sini dia bisa mengetes apakah Kakak tirinya itu masih menyayanginya ataukah sudah lupa.


"Baiklah, tidak ada salahnya kita coba. Dia menyakiti adikku, jadi tidak ada salahnya bukan jika aku juga membalasnya dengan menyakiti adiknya balik?" Meskipun aku tidak bisa melakukan itu. Terlanjur jatuh cinta. Lanjut Zaky dalam hati.


"Ma-hiks Maaf," Zaky tersadar dari lamunan saat merasakan Milea melepas pelukannya. "Tidak apa. Ini sapu tangan," melirik kain itu, Milea menyambutnya lalu mengelap bekas air mata dan air hingusnya.


"Te-terima kasih. Saya simpan untuk dicuci dulu," cicit Milea merasa malu dengan diri sendiri karna begitu lemah di hadapan majikannya sendiri.


"Tidak apa,"


Suasana berubah hening dan canggung. Milea dan Zaky sama sama salah tingkah dengan suasana yang tiba tiba terasa awkward.


"Emm... ngomong ngomong, aku baru sadar sewaktu kamu marah marah sama Satria, kamu sempat mengatakan disakiti orang yang kamu cintai. Berarti itu aku dong?" Dengan lirikan jahil, Zaky menatap wajah merona Milea dengan alis terangkat sebelah.


"It-itu... itu.. itu tu refleks! Spontanitas karna terbawa suasana," sewot Milea gugup. Wajahnya terasa memanas, dan dia yakin, wajahnya saat ini pasti sudah seperti kepiting rebus.


"Kata orang refleks itu adalah tidak sengaja mengatakan apa yang ada di hati saat itu, atau bisa dikatakan, keceplosan. Jadi benar dong? Kamu suka sama aku?" Suka melihat wajah malu Milea, Zaky semakin gencar menggodanya dengan mengikis jarak di antara mereka.


"It-itu..." Milea sudah tidak bisa berkata kata saat wajah Zaky sudah ada di hadapannya dengan jarak tak lebih dari 5 centi dari permukaan wajah.


Glek


Milea meneguk saliva kasar melihat Zaky semakin mencondongkan tubuh, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis. Otak Milea berpikir keras bagaimana caranya kabur, karna tubuhnya benar benar tak dapat digerakkan akibat kungkuhan Zaky yang mengurung tubuh kecilnya.


Aha!


"Kecoaaaa!!!"


"Mileaaaaaa!!!"


Milea menyandarkan tubuh lemas di dalam mobil. Menutup matanya, Milea memcoca menetralkan degupan jantungnya yang berpacu kencang.


Maaf tuan, saya belum siap. Ketakutan akan perasaan ini benar benar menghantui saya. Saya tidak akan sanggup jika suatu hari harus berpisah dengan kekecewaan.


Bug


Pintu ditutup kasar, membuat Milea membuka matanya dan melirik Zaky manyun, merajuk.


"Kemana tujuan kita selanjutnya, tuan?"


"Kantor."


Tak ingin basa basi, Milea mulai memacu laju mobil menuju perusahaan yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat terakhir yang mereka datangi.


Tok tok


"Masuk!"


Seseorang di balik pintu tersebut masuk membawa sebuah surat, lalu menyerahkannya kepada Zaky.


"Apa ini?" Tanya Zaky melirik surat dan wanita itu secara bergiliran. Membenarkan letak kaca matanya, Zaky mulai membaca isi surat tersebut.


"Surat pengunduran diri?" Mengangkat alis sebelah, Zaky melepaskan kaca matanya dan menatap serius wanita yang berdiri tegap di hadapannya.


"Iya pak, saya ingin mengundurkan diri." Jawab wanita tersebut.


"Bisa kata 'kan, alasan apa yang membuat kamu mengundurkan diri?" Tanya Zaky menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja ruangannya.


Wanita itu terdiam, membuat Zaky semakin yakin bahwa permasalahan pengunduran diri ini karna permasalahan pribadi dengan atasannya. "Maaf, saya tidak bisa menerima surat pengunduran diri kamu, karna saya bukan atasan kamu. Jika kamu ingin mengundurkan diri, ajukan surat ini pada atasanmu!" Tolak Zaky tegas, menyadarkan tubuh dengan tangan bertaut.


"Saya mohon tuan, saya ingin mengundurkan diri. Ada banyak alasan yang membuat saya tidak bisa bertemu dengan atasan saya," ucapnya menghiba.


Cklek


"Nala? Sedang apa kamu di sini? Kenapa wajah kalian terlihat sangat serius?" Milea masuk membawa secangkir teh, dan meletakkannya di meja sambil melirik wajah keduanya secara bergantian.


"Kalau begitu sebut 'kan alasannya!" Tak mengindahi pertanyaan Milea, Zaky berfokus pada sekretaris Haikal yang tiba tiba mengajukan surat pengunduran diri.


Nala diam sejenak, melirik Milea dan Zaky secara bergantian. "Karna saya akan segera menikah,"


"APA?!" Teriakan menggema di pintu, membuat semua orang menoleh kesana. Haikal berdiri dengan wajah pucat, memusatkan pandangan tak percaya pada tambatan hatinya yang dengan mudah berkata akan segera menikah.