
"Ba-bagaimana bisa a-anda berkata seperti itu tuan?! Ma-maksud anda apa dengan menjadikan saya sebagai alat untuk menghancurkan keluarga saya?!"
"Kamu putri bungsu dari Rahardian, dan adik dari Satria. Coba saja kamu pikir! Seorang putri keluarga Rahardian datang secara cuma cuma masuk menjadi pengawal, sayang bukan tidak dimanfaatkan?"
"Brengsek!! Anda jahat! Yang jahat keluarga saya, kenapa saya yang anda sakiti?!"
"Karna kamu. Anggota keluarga mereka,"
"Ada apa Mas?" Tanya Khansa menelisik arah pandang suaminya yang fokus pada meja nomor 4 yang terlibat perdebatan sengit antar dua pemuda.
Tak mengindahi pertanyaan istrinya, Satria bangkit menghampiri dua orang yang menjadi pusat perhatian karna bertengkar di depan umum.
"Milea? Pak Zaky? Ada apa dengan kalian? Ke-kenapa kalian bertengkar?" Tegur Satria melirik secara bergantian.
"Masih bertanya kenapa?!" Milea berdiri tegap menghadap Satria dengan air mata yang lolos jatuh membasahi pipi mulusnya. "Ini semua karna kamu Satria Rahardian Kusuma! Semua ini karna kamu dan Ayah bajinganmu itu! Karna kalian, aku yang tidak tahu apa apa harus menjadi pelampiasan dendam oleh orang yang aku cintai! Dan itu semua karna siapa? Karna kamu Satria! Kamu!" Teriak Milea menggebu gebu.
"Milea aku Kakakmu! Dan Ayah yang kamu sebut bajingan itu adalah Ayahmu! Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?!" Berang Satria setengah tak percaya dengan adik kecilnya yang mulai berani membentak.
"Kamu memang Kakak, dan dia memang Ayahku. Tapi apa kamu tau? Apa penyesalan terbesar dalam hidupku?" Berdiri memposisikan tubuh menatap Satria menantang. "Lahir di keluarga Rahardian adalah penyesalan terbesar dalam hidupku!" Ucap Milea berlari pergi meninggalkan tubuh terpaku Satria.
"Milea?"
Tap
Langkah Milea terhenti saat melihat orang yang sangat ingin ia hindari datang tiba tiba di sana. "Papa..." lirih Milea tanpa sadar. Kali ini air matanya turun bukan sebagai buaya, tapi tulus turun dari pelupuk matanya.
"Kamu apa 'kan adikku?! Kenapa dia bisa seperti itu ha?! Apa yang sudah kamu lakukan terhadap adikku!! JAWAB ZAKY!!" Satria sigap menarik kerah baju Zaky penuh dengan emosi.
"Kamu bertanya apa yang sudah aku lakukan terhadap adikmu? Tanya 'kan pada dirimu sendiri! Apa yang telah kamu lakukan terhadap adikku!" Zaky menepis kasar tangan Satria dan berlalu pergi sambil membenarkan kerahnya yang berantakan.
"Kamu bertanya apa yang sudah aku lakukan terhadap adikmu? Tanya 'kan pada dirimu sendiri! Apa yang telah kamu lakukan terhadap adikku!"
"Adik?"
"Mas, kamu gak apa apa?" Tepukan lembut di lengan kiri menyadarkan Satria dari lamunannya. Ditatapnya wanita cantik yang tengah hamil muda itu dengan gusar.
"Aku sedang tidak baik baik saja. Adikku Milea, nampaknya sangat membenciku. Terlalu banyak yang aku lalui hari ini, aku benar benar sedang tidak baik sayang," lirih Satria, menjatuhkan kepala di bahu istrinya.
"Kamu masih kenal papa 'kan nak?" Tanya Rahardian penuh harap. Di hadapannya saat ini ada wanita muda yang tak lain adalah Milea putri bungsunya. Wajahnya yang cantik benar benar mengingatkan Rahardian pada Rikha, istri keduanya.
"Milea. Ingat pesan Ibu! Seperti apapun perlakuan papa sama kamu, jangan pernah berniat ingin membalasnya. Sejahat dan seburuk apapun perlakuan papa, tetaplah menjadi gadis penurut dan sabar. Ibu berharap kamu tidak akan pernah membenci apalagi tidak mengakui papa karna tidak pernah memberikan kasih sayang padamu. Karna walau bagamainapun juga, dia tetaplah papa kamu. Pria yang membuatmu dapat hadir melihat dunia yang indah ini," Tutur seorang wanita muda bernama Rikha sembari mengelus pucuk kepala putrinya yang baru berusia 5 tahun.
"Iya Bu,"
"Masih," jika bukan karna ingat nasehat Ibunya, mungkin Milea tidak akan seramah ini menganggapi ucapan pria paruh baya yang tak lain adalah Papanya.
"Kamu kemana saja selama ini? Kamu tahu? Papa sangat khawatir dengan keadaan kamu, begitu banyak orang suruhan papa mencarimu tapi tidak pernah ketemu. Sekarang saat kamu sudah ada di Jakarta, kenapa tidak pulang kerumah?" Cecar Rahardian nampak bersungguh sungguh.
Benarkah khawatir? Kenapa aku merasa ini hanya sebuah kebohongan indah yang papa karang?
"Rumah? Rumah siapa? Saya tidak pernah punya rumah, jadi rumah siapa yang anda maksud. Pak Rahardian Kusuma?" Tutur Milea bersandar pada kursi sambil melipat tangannya aroggant.
"Huft. Sudahlah, kita akhiri dulu pembicaraan kita. Papa harap, kamu akan pulang kerumah. Rumah papa adalah rumah kamu juga!" Rahardian bangkit menatap putrinya datar, meski matanya penuh sekelibat rasa bersalah yang begitu mendalam.
"Anda salah tuan. Rumah anda, adalah rumah anda. Jadi saya rasa, saya tidak pantas tinggal di rumah anda," tolak Milea setia dengan aura tenang dan aroggantnya.
"Sudahlah Lea, papa sedang tidak ingin berdebat. Setelah ini papa ada rapat penting, papa masih berharap kamu mau pulang kerumah," tutur Rahardian berlalu pergi meninggal 'kan Milea yamg setia pada posisinya.
Brak
"Arrrrggghhhh!!" Milea mengerang prustasi bercampur rasa putus asa di tempat umum, membuat beberapa pengunjung yang datang memusatkan perhatiannya pada Milea. Namun sedetik kemudian, mereka kembali pada kesibukan masing masing, meninggal 'kan Milea yang menangis dengan wajah disembunyikan di lipatan tangan di atas meja.
Kreeet
Brukh
Seseorang entah datang dari mana tiba tiba menarik tubuh Milea kedalam dekapannya, membuat Milea meronta minta dilepaskan.
"Tenanglah. Ini aku," bisik orang itu. Perlahan tapi pasti, Milea membalas pelukannya dan meraung raung melampiaskan amarah di dada bidang pria bernama Zaky itu.
Seharusnya aku tidak mengikuti rencanamu jika tahu akan seperti ini jadinya. Milea, maafkan aku.