
Cahaya mentari dari balik gorden mengusik tidur seorang Zaky. Pria tampan itu mengerjapkan matanya karna terganggu dengan sinar yang membuat matanya silau.
Dia bangun menatap sekeliling. Tangannya terulur memegang kepalanya yang terasa nyeri. "Ini apartemen ya? Kok aku di sini? Bukannya terakhir kali aku ada di----"
"Aku tidak bisa menunggu lagi milea!" Rintih Zaky mengurung Milea ketembok lift. Matanya berubah sayu, menampakkan bahwa dia sudah sangat tersiksa.
"Saya mohon bertahanlah sedikit lagi tu---- ummmpp" Milea membulatkan matanya sempurna saat sebuah benda kenyel menempel kasar di bibirnya.
Perlahan dia mulai ******* dan semakin memperdalam ciuman, membuat Milea kewalahan karna tangan Zaky mulai bergerilya kemana mana, dan mulai tak terkondisikan.
"Astaga apa yang sudah aku lakukan?!" Teriak Zaky menjambak rambutnya prustasi, mencoba mengingat ingat kembali apa yang terjadi setelah itu.
Perlahan bibir itu mulai ******* dan semakin memperdalam ciuman, membuat Milea kewalahan karna tangan Zaky yang mulai bergerilya kemana mana, dan mulai tak terkondisikan.
Nihil. Memori terakhir yang dia ingat hanya saat dia mencium paksa Milea di dalam lift. "Arrrggghh apa yang terjadi setelah itu?! Mengapa aku tidak ingat apa apa?!" Erang Zaky mengacak acak rambutnya prustasi.
Sejenak dia menghentikan aksinya. Menatap tubuhnya yang telanjang dan hanya memakai celana boxer. Lalu matanya membulat menatap lurus kedepan dengan ekspresi tidak percaya.
"Aku tidak mungkin memperkosanya bukan?" Lirihnya sekali lagi mengacak acak rambutnya kasar. Dia segera menyibak selimut dan berjalan keluar dengan cepat.
Cklek
Sesaat pintu kamar dibuka, hanya sunyi yang menyapa. Apartemennya terasa sama seperti dulu saat pertama kali dia tinggali. Sepi, tidak ada suasana kehidupan sama sekali. Berbeda saat Milea hadir yang membuat apartemennya terasa lebih berwarna.
"Bau ini...?" Hidung Zaky tak sengaja mengendus bau masakan dari arah dapur. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju dapur yang letaknya tak jauh dari kamar miliknya.
Hening... tidak ada siapa siapa di sana. Hanya ada semangkuk sup ayam yang terlihat masih mengepul panas, seolah olah sup itu baru saja dimasak oleh seseorang. Fokus Zaky kini beralih pada sebuah note kecil yang tertempel di samping mangkuk. Dengan hati hati dia mencabut kertas itu dan mulai membacanya.
Dear Zaky...
Makanlah sup itu untuk menghangatkan tubuh anda tuan... :)
Zaky terdiam memandangi note kecil itu, lalu beralih menatap sup panas di depannya. Dia menarik kursi lalu mulai menyeruput kuah.
"Sama seperti hari hari biasanya. Makananmu sangat lezat Milea," gumam Zaky tersenyum kecut dan kembali memakan sup buatan Milea itu.
***
Di tempat lain, Milea masih meringkuk di atas kasur sebelum akhirnya dering ponsel membuatnya terpaksa bangun dengan malas dan menyambar ponsel itu.
"Hallo? Siapa?"
"Milea gawat!! Segera ke Jogja!! Kondisi Nenek kritis!!" Teriak seseorang dari balik sana panik. Mendengar itu Milea memaksa matanya untuk terbuka sempurna. Dilihatnya nama yang tertera di sana. 'Malvin'.
"Jangan bercanda vin. Kamu gak lagi ngeprank aku kan? Bukankah kondisi Nenek kemarin baik baik saja? Kenapa tiba tiba kritis?" Sangkal Milea.
Milea termenung sebentar sebelum akhirnya menyambar mantel, tas dan beberapa barang barang penting lainnya untuk dimasukkan kedalam tas, sedangkan ponsel masih ia apit di antara pipi dan bahu.
"Kamu di Jakarta?"
"Iya. Kita baru aja sampe di Jakarta. Pengen istirahat sebentar, sekalian nungguin kamu sebelum akhirnya nanti kita bareng bareng ke kota Jogja." Jawab Malvin.
"Ya udah, setengah jam lagi aku sampe di bandara. Aku tutup dulu. Bye!"
Semuanya telah selesai ia kemas. Dengan cepat dia keluar, dan saat membuka pintu dia tak sengaja berpapasan dengan Nala yang juga baru bangun.
"Lea? Kamu mau kemana? Kok bawa bawa tas segala?" Tanya Nala heran sekaligus penasaran, hendak kemana sahabatnya ini pergi?
"Aku ada keperluan mendadak. Mungkin beberapa hari kedepan gak akan pulang, jadi kamu gak perlu nungguin aku di apartemen atau nyari aku di apartemen tuan Zaky." Jawabnya cepat bahkan hampir tak berjeda sama sekali saking khawatir dan paniknya.
"Emangnya kamu mau keman--- na.." Nala menghembuskan nafas kecewa melihat Milea sudah lebih dulu pergi tergesa gesa tanpa sempat dia bertanya mau kemana. Tapi, tak apalah. Toh Milea sudah bilang dia ada urusan mendadak.
Milea keluar dari lift dan berjalan kearah pintu lobi apartemen. "Taksi!!" Lambainya pada taksi yang baru lewat.
"Ke bandara ya pak!"
"Siap neng." Supir itu menjalankan mobil tanpa banyak bertanya. Sekitar tiga puluh menit sesuai perkiraannya, merekapun sampai di bandara Seokarno Hatta.
Setelah membayar taksi, dengan langkah seribu dia menghampiri pria muda yang nampak tengah berdiri menunggu dirinya.
"Nenek kenapa hiks?" Isak kecil mulai terdengar kala Milea langsung menghamburkan pelukannya pada pria yang sudah dia anggap seperti Kakaknya itu.
"Udah jangan nangis. Ayo, yang lain udah nunggu di pesawat." Pria bernama Malvin itu segera membawa tas berisikan pakaian Milea sembari merangkul tubuh Milea berjalan menuju lapangan lepas landas bandara.
"Selamat datang, tuan muda dan nona muda." Dua orang pramugari cantik menyambut kedatangan mereka saat akan memasuki jet pribadi milik keluarga Malvin itu.
Tanpa membalas sapaan, Malvin menggiring Milea masuk menghampiri empat orang pria lain yang sudah duduk manis di tempatnya masing masing.
Ada Dua orang berwajah identik, bernama Erickh dan Edwark. Di depan si kembar, ada pria yang nampak seumuran dengan Milea bernama Ronald. Di samping Ronald, terlihat seorang pria berwajah tembok bernama Kris. Mereka semua adalah sepupu Milea, termasuk Malvin.
"Duduklah..." Malvin menyuruh Milea untuk duduk di samping Kris yang nampak bodo amat dengan kedatangan sepupunya itu. Tapi, dari gerakannya yang memasangkan earphone ketelinga Milea sudah dapat dimengerti. Dia masih memiliki rasa peduli, meski tidak ditunjukkan dengan kata kata. Karna dia merasa, dengan music seseorang akan merasa tenang. Sama seperti dirinya.
"Kamu hanya perlu ingat. Kami selalu bersamamu..." lirihnya yang masih mampu didengar Milea. Gadis itu tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kris.
Kris tidak keberatan saat Milea bersandar padanya. Tapi, dia risih dengan tatapan tajam sepupu dan Kakaknya yang nampak tidak bersahabat sama sekali saat melihatnya. Karna bagaimanapun, sepupu dan Kakaknya ini sangat menyayangi Milea, namun kesannya seperti bersaing memperebutkan kasih sayang Milea yang memang memiliki sifat cuek bebek.
Milea sendiri memilih bersandar pada Kris karna pria itu tidak banyak tingkah apalagi banyak bicara. Pria itu bisa dibilang introvert, dan karna itulah dia nyaman dekat dengan Kris. Nyaman dengan kedamaiannya, dan yang pasti, dia juga merasa aman di dekat pria itu.